Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Rumah Joglo dan Foto Hitam Putih
Matahari pagi di Kotagede memiliki warna yang berbeda. Sinarnya tidak putih menyilaukan, melainkan kuning keemasan yang hangat, memantul di atap-atap genteng tanah liat dan dinding-dinding bata ekspos yang sudah berlumut.
Seno dan Alya mendorong gerobak menyusuri gang-gang sempit labirin kota tua itu. Alya takjub melihat perubahan suasana. Tadi malam, jalanan ini terasa seperti lorong menuju dunia lain yang mencekam. Sekarang, jalanan ini hidup.
Ibu-ibu dengan jarik menggendong bakul jamu berpapasan dengan mereka.
"Monggo, Pak Seno," sapa bakul jamu itu ramah.
Seno mengangguk dan tersenyum, senyum yang mencapai matanya.
Bapak-bapak penjaga parkir melambaikan tangan.
"Laris, Pak?"
Seno mengacungkan jempol.
Alya memperhatikan interaksi itu.
"Bapak terkenal ya di sini?" tanya Alya sambil ngos-ngosan mendorong gerobak di jalanan yang agak menanjak.
Seno menoleh, lalu mengangkat bahu. Dia tidak terkenal. Dia hanya ada. Seperti tugu di perempatan jalan atau pohon beringin di alun-alun. Warga menerimanya sebagai bagian dari lanskap kota yang tak terpisahkan, meski tak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang sebenarnya dia jual di tengah malam.
Mereka berhenti di depan sebuah warung tenda biru di pinggir Pasar Legi. Warung bubur ayam "Pak Gendut".
Aromanya... oh Tuhan. Aroma kuah kuning kari yang gurih, bercampur dengan aroma cakwe goreng dan suwiran ayam. Aroma kehidupan.
"Dua, Pak Gendut. Satu porsi jumbo buat anak ini," Seno mengangkat dua jari, lalu menunjuk Alya. Tentu saja tanpa suara, tapi Pak Gendut sepertinya sudah paham bahasa isyarat Seno.
"Siap, Mas Seno! Wah, tumben bawa asisten? Cucu po?" canda Pak Gendut sambil menuangkan bubur panas.
Alya tersedak ludahnya sendiri. Cucu? Setua itukah Seno? Wajahnya memang berkerut, tapi badannya tegap. Mungkin dia tipe orang yang awet tua.
Mereka duduk di bangku plastik. Semangkuk bubur panas tersaji di depan Alya. Lengkap dengan kerupuk yang menggunung, kacang kedelai goreng, dan sate usus.
Alya makan dengan lahap. Ini makanan manusia pertamanya setelah sate gagak (ayam cemani) semalam. Rasanya normal. Rasanya aman. Tidak ada rasa emosi aneh-aneh, hanya rasa micin yang nikmat.
Seno makan dengan tenang. Dia memisahkan kacang kedelai di buburnya satu per satu ke pinggir mangkuk. Kebiasaan aneh.
"Pak," Alya bicara dengan mulut penuh. "Saya... saya nggak punya baju ganti. Saya kabur cuma bawa badan sama tas sekolah."
Seno mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah butut. Dia mengambil selembar uang lima puluh ribu. Dia menunjuk ke arah deretan lapak baju bekas (awul-awul) di seberang pasar.
BELI KAOS DAN CELANA SANTAI. SISA KEMBALIANNYA BUAT BELI SABUN MANDI. Seno menulis di tisu dengan pulpen yang selalu dia bawa di saku.
Alya menatap uang itu. Uang asli. Bukan uang koin kuno atau tusuk konde emas.
"Nanti saya ganti, Pak. Kalau saya sudah... um... sukses."
Seno tersenyum geli. Dia mengibaskan tangan. Tidak usah dipikirkan.
Setelah sarapan dan membeli kaos oblong murah, mereka melanjutkan perjalanan.
Mereka berhenti di depan sebuah pagar kayu tua yang tinggi di ujung gang buntu. Di balik pagar itu, tersembunyi sebuah rumah Joglo tua yang halamannya luas namun ditumbuhi ilalang liar yang terawat asal-asalan.
Seno membuka gembok pagar. Engselnya berderit.
Kreeeet...
"Ini rumah Bapak?" tanya Alya takjub. Rumah ini antik, seperti museum yang lupa dikelola. Atapnya tinggi berbentuk limasan, tiang-tiang penyangganya (soko guru) terbuat dari kayu jati utuh yang diameternya seukuran pelukan orang dewasa.
Seno memarkir gerobaknya di pendopo samping. Dia memberi isyarat agar Alya masuk.
Bagian dalam rumah itu gelap dan sejuk. Lantainya ubin tegel kunci bermotif klasik yang dingin di kaki. Perabotannya minim: hanya ada kursi rotan, meja bundar, dan lemari-lemari kaca berisi piring-piring antik.
Tidak ada TV. Tidak ada kulkas. Tidak ada tanda-tanda teknologi modern, kecuali sebuah radio transistor tua di atas bufet.
Hening. Rumah ini terlalu hening.
Bahkan suara kokok ayam di luar seolah teredam saat masuk ke sini.
"Bapak tinggal sendiri?" tanya Alya, suaranya menggema di ruangan besar itu.
Seno mengangguk. Dia berjalan ke arah belakang, membuka sebuah pintu kamar.
Dia menyalakan lampu kamar itu.
Kamar sederhana. Ada dipan besi dengan kasur kapuk, lemari kayu jati, dan jendela yang menghadap ke kebun belakang. Seprai-nya putih bersih, meski agak bau lemari (kamper).
Seno menunjuk kamar itu, lalu menunjuk Alya. Ini kamarmu.
Alya meletakkan tas ranselnya di lantai. "Makasih, Pak. Ini... lebih bagus dari kamar saya di rumah."
Itu bohong. Kamar Alya di rumahnya mewah, ada AC dan Wi-Fi. Tapi kamar ini terasa lebih aman. Di sini tidak ada teriakan ibu atau sindiran ayah tiri.
Seno meninggalkan Alya untuk beristirahat.
Alya menutup pintu. Dia duduk di tepi kasur. Kakinya terasa pegal luar biasa.
Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans.
Baterainya tinggal 15%.
Ada 42 Panggilan Tak Terjawab.
30 dari "Mama".
10 dari "Om Rian" (Ayah tiri).
2 dari nomor tak dikenal (Mungkin wali kelas).
Alya menatap layar itu dengan tatapan kosong.
Jarinya melayang di atas tombol Power Off.
Dia tidak ingin mendengar suara mereka. Dia tidak ingin mendengar permintaan maaf palsu atau amarah mereka.
Klik.
Alya mematikan ponselnya total.
Dunia luar berhenti eksis. Sekarang, dunianya hanya seluas rumah Joglo ini dan warung tenda nanti malam.
Alya merebahkan diri. Matanya memberat. Dia tertidur dalam hitungan detik, dibuai oleh aroma kayu jati tua dan debu.
Alya terbangun karena haus.
Cahaya matahari sudah miring ke barat. Sore hari. Dia tidur lama sekali.
Dia keluar kamar, mencari dapur.
Rumah itu masih sunyi. Seno tidak terlihat di ruang tengah.
Alya berjalan menyusuri lorong menuju dapur. Dia melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka.
Ruang kerja Seno, mungkin?
Alya mengintip.
Di dalam ruangan itu, dindingnya dipenuhi rak buku tua. Ada banyak buku resep masakan kuno, buku primbon Jawa, dan toples-toples berisi bahan aneh seperti yang dilihat Alya semalam.
Seno sedang duduk di kursi goyang menghadap jendela, memunggungi pintu. Dia sedang memegang sebuah bingkai foto kecil.
Bahu Seno merosot. Postur tubuhnya yang biasanya tegap kini terlihat rapuh.
Alya menyipitkan mata, mencoba melihat foto apa yang dipegang Seno.
Dari pantulan kaca jendela yang kusam, Alya bisa melihat samar-samar.
Itu foto hitam putih.
Seorang wanita muda dengan kebaya pengantin zaman dulu, tersenyum manis sambil memegang buket bunga sedap malam.
Dan di samping wanita itu... ada seorang pria muda. Gagah, tersenyum lebar. Pria itu memakai beskap Jawa.
Wajah pria itu... adalah wajah Seno.
Tapi foto itu terlihat sangat tua. Kertasnya sudah menguning dan retak-retak. Mungkin foto dari tahun 1940-an atau 1950-an.
Jika itu Seno saat muda... berarti berapa usia Seno sekarang? Tujuh puluh? Delapan puluh?
Tapi fisik Seno seperti pria lima puluh tahun.
Seno mengelus kaca bingkai foto itu dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu lembut, begitu penuh kerinduan.
Alya melihat tangan Seno bergerak ke dadanya sendiri, mencengkeram kain kaosnya tepat di jantung, seolah menahan rasa sakit yang tak terlihat.
Alya mundur perlahan. Dia merasa tidak sopan mengganggu momen pribadi itu. Dia merasa seperti pencuri yang mengintip harta karun paling berharga milik seseorang.
KREK.
Lantai kayu tua di bawah kaki Alya berbunyi saat dia mundur.
Seno langsung menoleh. Gerakannya cepat dan waspada.
Dia melihat Alya berdiri di ambang pintu.
Dengan cepat, Seno membalikkan foto itu, menutupinya di meja. Wajahnya kembali datar, topeng ketenangannya terpasang lagi. Tapi matanya... Alya sempat melihat kilatan basah di sana sebelum Seno berkedip.
Seno berdiri, berjalan mendekati Alya. Dia tidak marah.
Dia menunjuk perut Alya. Lapar?
Alya mengangguk kaku. "Sedikit."
Seno memberi isyarat tangan. Ayo ke dapur. Kita masak makan malam sebelum berangkat kerja.
Alya mengikuti Seno ke dapur.
Di kepalanya, pertanyaan itu semakin besar.
Siapa wanita di foto itu?
Dan kenapa Seno dikutuk untuk tidak bisa bicara dan harus memberi makan hantu setiap malam? Apakah ada hubungannya dengan wanita itu?
Satu hal yang Alya tahu pasti: Resep masakan Seno mungkin bisa menenangkan hantu, tapi sepertinya tidak ada resep yang bisa menyembuhkan luka hati koki itu sendiri.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.