"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suasana di lorong lantai VVIP kembali menegang. Aroma kopi pahit yang dibawa Roy tidak mampu menenangkan kegelisahan yang menyelimuti mereka. Di dalam ruang radiologi, Garvi Darwin sedang menjalani serangkaian tes intensif setelah insiden pingsan yang mengejutkan tadi.
Alsava Emily Claretta berdiri di depan pintu ruang konsultasi dr. Aris. Tangan cantiknya bertaut rapat, kuku-kukunya yang terpoles nude menekan telapak tangan hingga memutih. Meskipun ia dikenal sebagai wanita besi di Skyline Group, melihat suaminya—pria yang paling ia benci sekaligus ia cintai—terkapar tak berdaya untuk kedua kalinya dalam 24 jam, membuat pertahanannya retak.
"Silakan duduk, Nyonya Sava," dr. Aris mempersilakan dengan nada suara yang berat.
Sava duduk dengan punggung tegak, mencoba mempertahankan wibawanya. "Bagaimana hasilnya, Dok? Kenapa kepalanya terasa sangat sakit saat mencoba mengingat?"
Dokter Aris meletakkan hasil CT Scan di atas meja. "Benturan hebat saat kecelakaan itu menyebabkan trauma pada lobus temporal. Mr. Garvi mengalami short-term memory loss atau hilang ingatan jangka pendek. Ada beberapa bagian dari ingatannya—terutama kejadian beberapa bulan terakhir sebelum kecelakaan—yang terhapus atau terkunci rapat di alam bawah sadarnya."
Sava menarik napas tajam. "Apa ingatannya bisa kembali normal?"
"Bisa, tapi butuh waktu. Otak manusia itu misterius. Namun, saya peringatkan satu hal yang sangat penting: sebisa mungkin jangan dipaksa untuk mengingat sesuatu secara mendadak. Tekanan mental untuk mengingat fragmen yang hilang akan memberikan efek buruk pada jaringan sarafnya yang masih dalam proses penyembuhan. Itu bisa memicu pendarahan ringan atau pingsan seperti tadi," jelas dr. Aris panjang lebar.
Sava mengangguk lemah. "Saya mengerti, Dok."
Sava melangkah keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang sulit dibaca. Di luar, Winata dan Roy segera berdiri dari kursi tunggu.
"Bagaimana, Va?" tanya Winata tidak sabaran.
"Hilang ingatan jangka pendek," jawab Sava singkat. "Dia ingat aku, dia ingat kalian, tapi dia tidak ingat apa yang terjadi selama beberapa bulan terakhir. Termasuk... dia tidak ingat siapa Shila atau Victor."
Winata membelalakkan mata. "Pantas saja tadi dia bersikap seperti orang lain! Manja, lembut, bahkan memelukmu di depan kami. Kira-kira ingatannya berhenti di tahun berapa?"
Sava menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tahu pasti. Tapi dr. Aris berpesan, jangan pernah memaksa dia mengingat apapun. Kita harus mengikuti 'alur' yang dia ingat saat ini."
Sava kemudian menatap Roy dengan tatapan COO-nya yang mematikan. "Roy, dengarkan instruksiku. Kabar tentang amnesia Mr. Garvi tidak boleh bocor keluar dari ruangan ini. Sembunyikan semuanya dari dewan direksi. Jika para hiu di kantor tahu CEO mereka tidak ingat kejadian beberapa bulan terakhir, mereka akan menggunakan celah itu untuk menggulingkan posisinya. Skyline Group harus terlihat stabil di bawah kendaliku."
"Dimengerti, Miss Sava. Saya akan memastikan mulut tim keamanan tertutup rapat," jawab Roy dengan sigap.
Saat mereka hendak kembali ke kamar rawat, suara langkah high heels yang nyaring menggema di lorong. Seorang wanita dengan riasan tebal yang kontras dengan suasana rumah sakit muncul. Shila. Ia mengenakan gaun ketat berwarna merah menyala, tampak tidak tahu malu meski baru saja dituduh melakukan perselingkuhan.
"Di mana suamiku?! Aku tahu Mas Garvi sudah sadar!" teriak Shila, mengabaikan tatapan sinis para bodyguard.
Sava menghadang langkah Shila tepat di depan pintu kamar. "Jangan berteriak di sini, Shila. Ini rumah sakit, bukan kelab malam tempatmu biasa mangkal."
Shila tertawa sinis, menatap Sava dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Oh, lihatlah si istri formalitas ini. Masih berani sombong? Aku membawa kabar gembira untuk Mas Garvi. Anak di dalam kandunganku ini sedang merindukan ayahnya."
Sava tersenyum tipis, jenis senyuman yang biasanya ia gunakan sebelum memecat karyawan yang tidak kompeten.
"Anak siapa, Shila? Anak pria asing yang DNA-nya sudah ada di tangan Roy? Atau anak dari salah satu pria yang tidur bersamamu bulan lalu?"
Wajah Shila berubah pucat sejenak, namun ia segera menguasai diri. "Jangan mengarang cerita! Kamu hanya iri karena aku yang mengandung darah daging Garvi!"
Tanpa mempedulikan peringatan Sava, Shila menerobos masuk ke dalam kamar saat seorang suster keluar. Ia langsung menghambur ke arah ranjang Garvi yang baru saja dipindahkan kembali.
"Mas Garvi! Mas... akhirnya kamu bangun!" Shila mencoba meraih tangan Garvi dengan akting tangisnya yang dibuat-buat.
Garvi, yang sedang bersandar di bantal sambil menatap jendela, menoleh dengan dahi berkerut. Matanya yang tajam menatap Shila seolah wanita itu adalah makhluk asing yang menjijikkan.
"Siapa kau?" tanya Garvi dingin. Tidak ada nada manja seperti saat ia bicara pada Sava. Yang ada hanyalah aura CEO yang sombong dan tak tersentuh.
Shila tertegun. "Mas... ini aku, Shila. Ibu dari anak yang aku kandung—maksudku, aku mengandung anakmu! Kamu ingat kan malam itu?"
Garvi menarik tangannya dengan kasar, seolah-olah baru saja disentuh oleh kotoran.
"Anakku? Jangan bercanda. Aku bahkan tidak mengenal wajahmu. Bagaimana bisa aku menyentuh wanita dengan selera berpakaian serendah ini?"
"Mas... kamu pasti masih pusing karena kecelakaan itu," Shila mencoba mendekat lagi, suaranya gemetar. "Sava pasti sudah mencuci otakmu! Dia ingin kita berpisah!"
Garvi menoleh ke arah Sava yang berdiri di ambang pintu bersama Winata dan Roy. Tatapannya melembut sesaat saat melihat Sava, sebelum kembali menjadi es saat menatap Shila.
"Ave," panggil Garvi. "Siapa wanita gila ini? Kenapa dia mengaku-ngaku mengandung anakku? Apakah rumah sakit ini tidak punya keamanan sampai pengemis cinta seperti dia bisa masuk?"
Winata hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pedas Garvi. Cassanova yang biasanya memuja wanita, kini menyebut Shila sebagai "pengemis cinta".
"Mas Garvi, dia bilang dia adalah kekasihmu," ucap Sava datar, ingin melihat sejauh mana Garvi bereaksi.
Garvi mendengus sinis. "Kekasihku? Aku memang mungkin seorang cassanova di masa lalu, tapi aku punya standar. Dan standar pribadiku jauh di atas wanita ini. Shila, atau siapa pun namamu... pergilah sebelum aku menyuruh bodyguard-ku melemparmu keluar dari gedung ini. Semua yang keluar dari mulutmu adalah kebohongan yang memuakkan."
Shila mematung. Rencananya untuk menyerang mental Sava justru berbalik menghancurkan dirinya sendiri. Garvi tidak mengingatnya. Garvi menolaknya mentah-mentah.
"Kamu akan menyesal, Garvi! Kamu akan memohon padaku saat ingatanmu kembali!" teriak Shila sambil menangis frustrasi, berlari keluar ruangan sambil menabrak bahu Winata.
Setelah Shila pergi, ruangan itu kembali sunyi. Garvi menghela napas panjang dan menepuk sisi ranjangnya, memberi kode agar Sava mendekat.
"Ave, kemarilah," pinta Garvi lembut.
Sava melangkah mendekat, duduk di kursi samping ranjang. "Mas tidak perlu emosi seperti itu. Dokter bilang Mas harus tenang."
Garvi menggenggam tangan Sava, mengelusnya perlahan. "Bagaimana aku bisa tenang jika ada wanita asing mengaku hamil anakku di depan istrinya sendiri? Ave... apa di masa 'lalu'-ku itu aku benar-benar seburuk itu? Apa aku benar-benar mengkhianatimu dengan wanita seperti dia?"
Sava terdiam. Ia menatap mata Garvi yang tampak tulus. Ini adalah momen yang aneh. Garvi yang ia kenal akan memanipulasi keadaan, tapi Garvi yang ini... tampak benar-benar merasa bersalah atas sesuatu yang tidak ia ingat.
"Lupakan saja, Mas. Fokuslah pada kesehatanmu," jawab Sava diplomatis.
Garvi menarik tangan Sava, mengecup punggung tangannya lama. "Aku tidak peduli pada ingatanku yang hilang. Selama aku ingat bahwa kamu adalah milikku, itu sudah cukup."
Sava terpaku. Kata-kata "milikku" biasanya terdengar seperti ancaman, tapi entah kenapa pagi ini terdengar seperti janji.
Namun, saat suasana sedang menghangat, ponsel Roy bergetar hebat. Roy melihat layar ponselnya, wajahnya mendadak tegang. Ia mendekati Sava dan membisikkan sesuatu yang membuat darah Sava berdesir dingin.
"Miss Sava... Victor baru saja merilis pernyataan di media. Dia mengklaim memiliki bukti bahwa kecelakaan Mr. Garvi disengaja oleh pihak internal Skyline Group untuk menguasai saham. Dia menyebut nama Anda sebagai tersangka utama karena keinginan Anda untuk bercerai."
Sava berdiri dengan kaget. Posesifitas Garvi yang baru saja terbangun kini dihadapkan pada serangan luar biasa dari luar.
Garvi, yang mendengar kata "bercerai", mendadak mengubah ekspresi wajahnya. Cengkeramannya pada tangan Sava mengerat, matanya berkilat gelap dan penuh selidik.
"Bercerai? Ave... apa yang baru saja Roy katakan? Siapa yang ingin bercerai dariku?"
Sava membeku. Ia lupa bahwa Garvi belum tahu tentang rencana perceraiannya. Dan sekarang, musuh mereka baru saja melempar bom atom di tengah-tengah amnesia Garvi.
***