NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Sebuah sedan hitam akan menurunkan Alsava Emily Claretta di lobi, sementara sepuluh menit kemudian, Rolls-Royce Phantom milik Garvi Darwin akan berhenti di lobi utama. Sebuah rutinitas yang dijaga ketat selama empat tahun demi menutupi rahasia besar mereka.

Namun hari ini, sejarah baru tercipta.

Rolls-Royce itu meluncur mulus dan berhenti tepat di depan pintu putar lobi utama. Seluruh petugas keamanan dan resepsionis berdiri tegak, bersiap menyambut sang CEO. Namun, mata mereka membelalak saat melihat siapa yang turun dari pintu penumpang yang sama.

Sava melangkah keluar dengan anggun. Ia mengenakan blazer dress berwarna emerald green yang membalut tubuh body goals-nya dengan sempurna. Rambut brunette curly-nya dibiarkan jatuh menjuntai, memberikan kesan wanita karier yang tangguh namun sangat mempesona. Di sampingnya, Garvi turun dengan aura karismatik yang mengintimidasi. Setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap membuatnya terlihat seperti dewa Yunani yang turun ke bumi.

Sava merasa jantungnya berpacu liar. "Mas... ini terlalu berisiko. Semua orang melihat kita," bisik Sava, mencoba melepaskan tangannya saat merasakan jemari kokoh Garvi mulai menyusup di sela jarinya.

Garvi tidak menjawab. Bukannya melepaskan, ia justru mempererat genggamannya. Genggaman yang posesif, seolah-olah ia sedang mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sampingnya tidak boleh disentuh oleh siapapun.

Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer Italia yang mengilap. Suasana lobi yang tadinya bising oleh derap kaki karyawan yang terburu-buru, mendadak hening seketika. Ratusan pasang mata tertuju pada tangan yang saling bertautan itu.

Mr. Garvi dan Miss Sava? Gandengan tangan? bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas jerami kering.

Tepat di tengah lobi, di bawah lampu gantung kristal yang megah, Garvi menghentikan langkahnya. Ia menarik tubuh Sava agar berdiri tepat di sampingnya. Tekanan di tangannya menandakan bahwa pria itu tidak akan membiarkannya lari.

"PERHATIAN SEMUANYA!"

Suara bariton Garvi yang menggelegar memenuhi setiap sudut lobi, membuat beberapa karyawan tersentak kaget. Mereka yang tadinya ingin masuk ke lift, kini berbalik dan berkerumun, membentuk lingkaran besar yang mengelilingi pimpinan mereka.

Sava menunduk, wajahnya terasa panas. Ia adalah wanita yang tegas di ruang rapat, tapi berada di bawah sorot lampu seperti ini sebagai "istri" adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan.

"Selama empat tahun ini, kalian mengenal wanita di samping saya sebagai Miss Sava, COO kalian yang luar biasa," Garvi menjeda kalimatnya, matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan tajam dan penuh kebanggaan.

Garvi mengangkat tangan Sava yang berada dalam genggamannya tinggi-tinggi, menunjukkan sebuah cincin berlian yang berkilau mewah di jari manis Sava—cincin yang baru saja ia pakaikan di kamar mandi tadi pagi.

"Hari ini, saya ingin mengakhiri semua spekulasi. Alsava Emily Claretta bukan hanya rekan kerja saya. Dia adalah istri saya. Istri sah saya selama empat tahun terakhir."

Deg!

Suasana menjadi sangat sunyi, seolah waktu berhenti berputar. Kemudian, sedetik berikutnya, ledakan suara kaget memenuhi lobi.

"Empat tahun?!"

"Jadi selama ini mereka sudah menikah?"

"Pantas saja mereka sangat serasi saat rapat, chemistry-nya luar biasa!"

Garvi tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang jarang diperlihatkan. "Saya meminta kalian semua untuk tetap memberikan dukungan dan doa yang terbaik bagi hubungan kami. Skyline Group bukan hanya milik saya, tapi juga milik istri saya."

Di sudut kerumunan, beberapa staf wanita tampak lemas. Impian mereka untuk memenangkan hati sang Cassanova punah seketika. Begitu juga dengan beberapa manajer pria yang selama ini diam-diam mengagumi kecantikan dan kecerdasan Sava; mereka hanya bisa menelan ludah, sadar bahwa lawan mereka adalah seorang Garvi Darwin yang posesif.

"Selamat, Mr. Garvi! Selamat, Miss Sava!" seru salah satu manajer senior diikuti tepuk tangan riuh yang membahana di seluruh lobi.

Dalam hitungan detik, puluhan ponsel sudah terarah pada mereka. Video pengakuan itu diambil dari berbagai sudut. Jari-jari lincah para karyawan segera menyebarkannya ke grup WhatsApp kantor, Slack, hingga Instagram Story. Tagar #SkylinePowerCouple langsung menjadi tren di kalangan internal perusahaan.

Sava menoleh ke arah Garvi. "Mas... kenapa melakukan ini sekarang?"

Garvi menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Sava hingga napas hangatnya terasa di kulit wanita itu.

"Karena aku tidak ingin Arkan atau pria mana pun berpikir mereka punya celah untuk memilikimu, Ave. Kau milikku, secara hukum, secara batin, dan sekarang... secara publik."

Tepuk tangan dan sorak-sorai pun menggema di lobi itu serta doa terbaik untuk hubungan dua pilar terbaik SkyLine Group.

**

Ruang Rapat Eksekutif Skyline Group, Lantai 50.

Suasana di dalam ruang rapat yang berdinding kaca transparan itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Jika kemarin-kemarin para direksi hanya berani berbisik mengenai kedekatan Mr. Garvi dan Miss Sava, kini mereka semua duduk dengan pandangan yang sulit diartikan. Video pengakuan di lobi tadi pagi telah menyebar seperti api yang membakar seluruh divisi.

Garvi Darwin duduk di kursi kebesarannya, berada di ujung meja panjang berbahan kayu ebony yang mewah. Ia tampak begitu tenang, jemarinya yang kokoh sesekali mengetuk permukaan meja, sementara matanya yang tajam mengawasi presentasi di layar besar. Di sisi kanannya, Sava duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura otoritas yang tak tergoyahkan.

"Saya rasa, ekspansi ke pasar Singapura harus ditunda hingga kuartal ketiga," suara Sava memecah keheningan. Dingin, tegas, dan sangat profesional.

Garvi menoleh, tatapannya bertemu dengan mata cokelat bening milik istrinya.

"Alasannya, Miss Sava? Data menunjukkan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk masuk."

"Resiko fluktuasi mata uang dan ketidakpastian regulasi baru di sana terlalu tinggi, Mr. Garvi. Kita tidak bisa mempertaruhkan likuiditas perusahaan hanya untuk ambisi percepatan," balas Sava tanpa ragu.

Para direksi menahan napas. Mereka mengira setelah status pernikahan terungkap, Sava akan menjadi "pengikut" suaminya. Namun nyatanya, Sava tetaplah sang singa betina Skyline Group yang tak segan berdebat demi kepentingan perusahaan.

Garvi menyandarkan punggungnya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya—seringai yang hanya dipahami oleh Sava sebagai bentuk kekaguman tersembunyi.

"Argumentasi yang tajam. Namun, bukankah resiko adalah bagian dari Skyline?"

"Resiko yang terukur, Mr. Garvi. Bukan kecerobohan," sela Sava dengan nada yang tetap tenang namun menohok.

Perdebatan kecil namun sengit itu berlangsung selama lima belas menit. Tidak ada yang berani memotong. Di meja itu, mereka bukan lagi pasangan suami istri yang baru saja menghebohkan kantor, melainkan dua pimpinan tertinggi yang sedang mengadu kecerdasan. Profesionalisme mereka sungguh berada di level yang berbeda, membuat para direksi hanya bisa melongo kagum.

Setelah rapat ditutup dengan keputusan untuk meninjau ulang data selama satu minggu, Sava dan Garvi keluar dari ruangan. Meski mereka berjalan berdampingan, tidak ada kontak fisik yang berlebihan. Mereka tetap menjaga jarak profesional yang elegan hingga tiba di depan pintu ruangan masing-masing.

Baru saja Sava meletakkan tablet dan tas Hermes-nya di atas meja kerja, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.

"SAVA! GILA! BENAR-BENAR GILA!"

Sava menghela napas panjang tanpa perlu menoleh. Hanya ada satu orang di kantor ini yang berani masuk ke ruang COO tanpa mengetuk pintu dengan gaya seheboh itu: Winata.

Winata langsung menghambur ke kursi di depan meja kerja Sava dengan wajah yang berseri-seri penuh kemenangan.

"Kau tahu? Seluruh grup WhatsApp kantor meledak! Video Mr. Garvi tadi pagi di lobi... Ya Tuhan, itu adalah hal paling badass yang pernah kulihat!"

Sava menyunggingkan senyum tipis, ia duduk di kursi kebesarannya sambil membetulkan letak rambut brunette curly-nya.

"Dia memang impulsif, Winata. Padahal aku sudah mengumumkan pernikahan kami saat konferensi pers beberapa waktu lalu."

"Itu beda, Ave!" Winata memajukan tubuhnya, matanya berbinar. "Konferensi pers itu urusan media, urusan publik. Tapi apa yang dilakukan Garvi tadi di lobi? Itu urusan 'teritorial'!"

Sava mengangkat sebelah alisnya. "Teritorial?"

"Ya! Dengan mengumumkan sendiri di hadapan karyawan, Garvi secara resmi memblokade semua perempuan gatal di kantor ini yang selama ini mencoba tebar pesona di depannya. Dia ingin semua orang tahu bahwa tahta di sampingnya sudah terisi penuh, dan pemiliknya adalah dirimu," Winata terkekeh. "Apalagi melihat bagaimana kau berdebat dengannya di rapat tadi. Para staf laki-laki pun jadi tahu kalau COO mereka bukan hanya cantik, tapi juga predator di ruang rapat. Tidak ada yang berani menggoyahkan posisi kalian sekarang."

"Kau terlalu berlebihan," ujar Sava, meski hatinya sedikit menghangat mendengar penjelasan Winata.

"Tidak berlebihan, Sava. Selama ini kau bergerak di bayang-bayang. Sekarang, setelah dia menarikmu ke cahaya dan mengakui dirimu sebagai ratunya, Skyline Group tidak akan pernah sama lagi. Kau adalah saingan paling berat bagi siapapun yang ingin mendekatinya. Siapa yang berani melawan Alsava Emily Claretta?" Tawa Winata masih menggema di ruangan itu.

***

1
fuadi algifari
bagus
Rahayu Ayu
Penasaran,pengin tau gimana reaksinya Garvin, setelah nanti Winata/ Roy cerita tentang traumanya Alsava
Umi Kolifah
lanjut tor biar garvi tau kalau dia pernah mau punya anak dengan ave
Sri Murtini
tebak aja pil Kb biar sava nggk terbebani mslh pikirnya , tp itu mslh besar dan bikin gavin sadar knp istrinya begitu....
Rahayu Ayu
Gara " pil kontrasepsi, bakal ada kesalah pahaman.
semoga Sava bisa memberikan alasan yg logis yg bisa di terima , tanpa menyalahkan Sava,
dan semoga dengan adanya tragedi pil kontrasepsi, bisa mengawali hubungan kalian lebih mesra tanpa adanya keraguan lagi.
dw granny
perasaan d bab brp ya ada garvi tdr sm cewek lain deh .. bohong lu garvi , jgn percaya ave ... cerai aja cerai... udh d siksa batin 4 thn loh ave .. pisahin thor . sebel sm si garvi
Penta Ning Thiyas
semangat author. 👍😍
stela aza
jeleh
Sri Murtini
ungkapan kesadaran yg tulus semoga samawa Aamiin 😭😭😭
Nda
di tunggu double up-nya thor
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Nda
ditunggu double up-nya thor 😃
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!