NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:360.5k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Dia juga menjadi pengasuh dari ponakan Arka, anak dari Rafael.

Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.

Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Setahun kemudian, Alana memutuskan menikah dengan Rafael yang merupakan mantan abang iparnya Arka. Bagaimana perasaan Arka, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Dua

Pisau di tangan Alana masih terangkat, tapi jemarinya kaku. Detik terasa memanjang, seolah dapur itu kehilangan udara.

“Ada hubungan apa kamu dengan Arka?”

Pertanyaan Mama Ratna masih menggantung di kepala Alana, berputar-putar, menekan.

Alana menelan ludah. Ia tahu, jawaban apa pun yang keluar dari mulutnya akan berisiko. Salah sedikit saja, dampaknya akan fatal. Dia bisa terusir, dan dia belum ada tempat berlindung selain di rumah ini.

Alana meletakkan pisau perlahan di atas talenan. Ia mengusap tangannya dengan lap kecil, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Mama Ratna. Wajahnya tetap sopan, tapi ada ketegangan tipis di rahangnya.

“Bu,” ucap Alana akhirnya, suaranya tenang meski dadanya berdebar, “Coba Ibu tanyakan saja langsung sama Tuan Arka.”

Mama Ratna menyipitkan mata. “Maksud kamu?”

“Apa pun yang beliau katakan tentang hubungan kami,” lanjut Alana hati-hati, “itulah kebenarannya.”

Bi Marni dan para asisten dapur lain saling melirik, lalu dengan isyarat halus menjauh, pura-pura sibuk di sudut lain. Mereka tahu, ini bukan percakapan yang seharusnya didengar banyak telinga.

Mama Ratna meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi pelan, tapi cukup tegas. Tatapannya kini berubah, bukan lagi sekadar menyelidik, melainkan kesal.

“Kenapa aku harus bertanya ke Arka?” suara Mama Ratna naik satu tingkat. Tidak keras, tapi jelas mengandung emosi. “Kamu ada di sini. Kamu yang hidup serumah dengannya. Kamu bisa menjawab sendiri.”

Alana menarik napas panjang. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah lagi. Kali ini matanya jujur, nyaris rapuh.

“Karena saya takut salah jawab, Bu.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa dibuat-buat. Mama Ratna terdiam. Ia tidak langsung membalas. Ia menatap Alana seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajah tenang gadis itu.

“Salah jawab?” ulangnya dingin. “Salah di mana?”

Alana menggenggam ujung celemeknya. “Kalau saya menjawab dengan perasaan saya sendiri, itu bisa keliru. Bisa melampaui batas. Bisa membuat saya terlihat berharap, padahal posisi saya jelas.”

Mama Ratna tertawa kecil, tanpa humor. “Oh, jadi kamu sadar posisi?”

“Iya, Bu,” jawab Alana cepat. “Saya sadar betul.”

Mama Ratna berdiri. Langkahnya pelan, tapi aura tekanannya terasa jelas. Ia berhenti tepat di depan Alana, membuat gadis itu harus mendongak sedikit.

“Dengar baik-baik,” ujar Mama Ratna, nadanya kini dingin dan tegas. “Apa pun hubunganmu dengan Arka, mau itu kontrak kerja, atau apa pun yang kalian sebut, aku tidak mau kamu berharap.”

Jantung Alana mencelos. Dari awal tahu kalau Mama Ratna pasti tak akan merestui hubungannya dengan Arka. Jika dia jujur, kalau mereka telah menikah, entah apa yang akan wanita itu lakukan.

“Jangan menaruh perasaan. Jangan membayangkan masa depan. Jangan bermimpi terlalu jauh,” lanjut Mama Ratna tanpa basa-basi. “Arka itu tidak pantas untukmu.”

Alana mengerjap. Kalimat itu menusuk, meski entah kenapa, bukan dengan cara yang ia duga.

“Bukan saja karena kamu dari keluarga kurang mampu." Mama Ratna menambahkan, seolah membaca pikirannya. “Justru sebaliknya. Hidup Arka terlalu rumit. Terlalu gelap. Terlalu penuh urusan yang tidak seharusnya menyeret perempuan sepertimu.”

Alana membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Mama Ratna melanjutkan, suaranya semakin dingin, semakin pasti. “Dan kalau suatu hari Arka berjodoh, aku pastikan ... bukan kamu orangnya.”

Ucapan Mama Ratna itu seperti pisau menerkam dadanya. Alana merasa dadanya sesak. Tapi anehnya, ia tidak menangis. Ia hanya menunduk, lalu mengangguk pelan.

“Iya, Bu,” jawabnya lirih. “Saya mengerti.”

Mama Ratna menatapnya beberapa detik lagi, seolah memastikan tidak ada perlawanan. Setelah itu, ia berbalik.

“Lanjutkan pekerjaanmu,” ucapnya singkat sebelum melangkah pergi meninggalkan dapur.

Langkah kaki Mama Ratna menjauh, menghilang di lorong.

Begitu wanita itu benar-benar pergi, Alana baru menyadari tangannya gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, lalu kembali memotong bahan masakan seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun ada satu hal yang tidak ia ketahui.

Di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Arka berdiri diam. Ia baru saja turun untuk mencari kopi. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar namanya disebut. Ia tidak berniat menguping. Namun setiap kata yang keluar dari mulut ibunya dan dari mulut Alana—terlalu jelas untuk diabaikan.

Kenapa aku harus bertanya dengan Arka, kamu bisa menjawabnya sendiri.

Aku takut salah jawab. Kalimat itu terus berputar di kepala Arka.

Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Dadanya terasa panas, bukan marah pada Alana, melainkan pada dirinya sendiri.

Ia mendengar semuanya. Setiap kalimat. Setiap penegasan ibunya. Setiap ketenangan Alana yang seperti pisau halus, memotong tanpa suara.

Dan yang paling menyakitkan? Alana tidak membela dirinya sendiri. Tidak membela kemungkinan apa pun. Ia memilih aman. Memilih diam. Memilih menyerahkan kebenaran pada Arka, pria yang selama ini terlalu sering bersembunyi di balik sikap dingin.

Arka menarik napas panjang. Ada sesuatu yang mengeras di rahangnya. Dia tidak jadi masuk dapur. Ia berbalik, melangkah pergi sebelum emosinya terlihat oleh siapa pun.

Siang itu berlalu dengan suasana yang aneh. Alana tetap bekerja seperti biasa. Mengurus Revan, menyiapkan makan siang, memastikan jadwal bocah itu berjalan rapi. Tidak ada yang berubah di permukaan. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergeser pelan.

Ia jadi lebih berhati-hati. Lebih menjaga jarak. Bahkan dengan Arka. Pria itu bukan tak menyadarinya.

Saat makan siang, Alana duduk sedikit lebih jauh. Jawabannya singkat. Sopan. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.

Arka memperhatikannya diam-diam. Tatapan itu tidak lepas, meski wajahnya tetap datar.

“Alana,” panggil Arka akhirnya, ketika Revan sedang sibuk mengaduk supnya sendiri.

“Iya, Tuan?” jawab Alana cepat. Dia terpaksa memanggil pria itu Tuan, karena takut mamanya mendengar.

Arka terdiam sejenak. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Terlalu banyak. Tapi semuanya terasa salah jika diucapkan di sini, di depan anak itu.

“Nanti malam,” ucap Arka akhirnya. “Kita bicara.”

Alana mengangguk. “Baik, Tuan.”

Jawaban itu terdengar formal. Arka mengepalkan tangan di bawah meja.

 

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪👍🥰
Kinara Widya
bagus sekali ceritanya..👍🏻👍🏻👍🏻
ina
hahahhaa
Ririn Nursisminingsih
alana kabur kok bawa aoa2 rugi dong
Erlinda Noviyani
qiwwqiwww 🤣
Gintania nia
selalu menarik
Reni Setia
makasih untuk novelnya dan bonus nya 😃
Mama Reni: Sama-sama
total 1 replies
Nani Te'ne
suka
Momcia
Dari pd manggil kak ke suami, lbh bagus mas atuh thor..atau Abang..
christina paya wan
selalu pertanyaan yg bodoh..
Bagong
biar si arka gila g punya keturunan,,,,,apalagi emaknya yg stresss itu,,,,,, trs dikekepin sama Celin
EembuL
Arka dan mama nya * T A I *
EembuL
buat nenek lampir itu tidur dirumah sakit sja.. 👊👊👊👊👊 buat dia tersiksa batin dan fisik
Lilis Yuanita
novelnya bgus tp kok dia apus q dh baca sebagian pdhl masih seru .. pria pilihan suamiku
Nethy Sunny
apa sih maunya c arka ini dulu sok2an mau lindungi pke nikah segala ehh kesininya dia malah gengsi ngakuin
Rina Arie
good
Kautami Firyati
kurang seru kalau tamat sekarang, aku ingin melihat kebahagiaan Arka yg sesungguhnya
Yulia
Ceritanya keren,top markotop pokonya 👍👍👍
antha mom
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
antha mom
makasih thor sukses selalu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!