NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Dua

Pisau di tangan Alana masih terangkat, tapi jemarinya kaku. Detik terasa memanjang, seolah dapur itu kehilangan udara.

“Ada hubungan apa kamu dengan Arka?”

Pertanyaan Mama Ratna masih menggantung di kepala Alana, berputar-putar, menekan.

Alana menelan ludah. Ia tahu, jawaban apa pun yang keluar dari mulutnya akan berisiko. Salah sedikit saja, dampaknya akan fatal. Dia bisa terusir, dan dia belum ada tempat berlindung selain di rumah ini.

Alana meletakkan pisau perlahan di atas talenan. Ia mengusap tangannya dengan lap kecil, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Mama Ratna. Wajahnya tetap sopan, tapi ada ketegangan tipis di rahangnya.

“Bu,” ucap Alana akhirnya, suaranya tenang meski dadanya berdebar, “Coba Ibu tanyakan saja langsung sama Tuan Arka.”

Mama Ratna menyipitkan mata. “Maksud kamu?”

“Apa pun yang beliau katakan tentang hubungan kami,” lanjut Alana hati-hati, “itulah kebenarannya.”

Bi Marni dan para asisten dapur lain saling melirik, lalu dengan isyarat halus menjauh, pura-pura sibuk di sudut lain. Mereka tahu, ini bukan percakapan yang seharusnya didengar banyak telinga.

Mama Ratna meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi pelan, tapi cukup tegas. Tatapannya kini berubah, bukan lagi sekadar menyelidik, melainkan kesal.

“Kenapa aku harus bertanya ke Arka?” suara Mama Ratna naik satu tingkat. Tidak keras, tapi jelas mengandung emosi. “Kamu ada di sini. Kamu yang hidup serumah dengannya. Kamu bisa menjawab sendiri.”

Alana menarik napas panjang. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah lagi. Kali ini matanya jujur, nyaris rapuh.

“Karena saya takut salah jawab, Bu.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa dibuat-buat. Mama Ratna terdiam. Ia tidak langsung membalas. Ia menatap Alana seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajah tenang gadis itu.

“Salah jawab?” ulangnya dingin. “Salah di mana?”

Alana menggenggam ujung celemeknya. “Kalau saya menjawab dengan perasaan saya sendiri, itu bisa keliru. Bisa melampaui batas. Bisa membuat saya terlihat berharap, padahal posisi saya jelas.”

Mama Ratna tertawa kecil, tanpa humor. “Oh, jadi kamu sadar posisi?”

“Iya, Bu,” jawab Alana cepat. “Saya sadar betul.”

Mama Ratna berdiri. Langkahnya pelan, tapi aura tekanannya terasa jelas. Ia berhenti tepat di depan Alana, membuat gadis itu harus mendongak sedikit.

“Dengar baik-baik,” ujar Mama Ratna, nadanya kini dingin dan tegas. “Apa pun hubunganmu dengan Arka, mau itu kontrak kerja, atau apa pun yang kalian sebut, aku tidak mau kamu berharap.”

Jantung Alana mencelos. Dari awal tahu kalau Mama Ratna pasti tak akan merestui hubungannya dengan Arka. Jika dia jujur, kalau mereka telah menikah, entah apa yang akan wanita itu lakukan.

“Jangan menaruh perasaan. Jangan membayangkan masa depan. Jangan bermimpi terlalu jauh,” lanjut Mama Ratna tanpa basa-basi. “Arka itu tidak pantas untukmu.”

Alana mengerjap. Kalimat itu menusuk, meski entah kenapa, bukan dengan cara yang ia duga.

“Bukan saja karena kamu dari keluarga kurang mampu." Mama Ratna menambahkan, seolah membaca pikirannya. “Justru sebaliknya. Hidup Arka terlalu rumit. Terlalu gelap. Terlalu penuh urusan yang tidak seharusnya menyeret perempuan sepertimu.”

Alana membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Mama Ratna melanjutkan, suaranya semakin dingin, semakin pasti. “Dan kalau suatu hari Arka berjodoh, aku pastikan ... bukan kamu orangnya.”

Ucapan Mama Ratna itu seperti pisau menerkam dadanya. Alana merasa dadanya sesak. Tapi anehnya, ia tidak menangis. Ia hanya menunduk, lalu mengangguk pelan.

“Iya, Bu,” jawabnya lirih. “Saya mengerti.”

Mama Ratna menatapnya beberapa detik lagi, seolah memastikan tidak ada perlawanan. Setelah itu, ia berbalik.

“Lanjutkan pekerjaanmu,” ucapnya singkat sebelum melangkah pergi meninggalkan dapur.

Langkah kaki Mama Ratna menjauh, menghilang di lorong.

Begitu wanita itu benar-benar pergi, Alana baru menyadari tangannya gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, lalu kembali memotong bahan masakan seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun ada satu hal yang tidak ia ketahui.

Di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Arka berdiri diam. Ia baru saja turun untuk mencari kopi. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar namanya disebut. Ia tidak berniat menguping. Namun setiap kata yang keluar dari mulut ibunya dan dari mulut Alana—terlalu jelas untuk diabaikan.

Kenapa aku harus bertanya dengan Arka, kamu bisa menjawabnya sendiri.

Aku takut salah jawab. Kalimat itu terus berputar di kepala Arka.

Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Dadanya terasa panas, bukan marah pada Alana, melainkan pada dirinya sendiri.

Ia mendengar semuanya. Setiap kalimat. Setiap penegasan ibunya. Setiap ketenangan Alana yang seperti pisau halus, memotong tanpa suara.

Dan yang paling menyakitkan? Alana tidak membela dirinya sendiri. Tidak membela kemungkinan apa pun. Ia memilih aman. Memilih diam. Memilih menyerahkan kebenaran pada Arka, pria yang selama ini terlalu sering bersembunyi di balik sikap dingin.

Arka menarik napas panjang. Ada sesuatu yang mengeras di rahangnya. Dia tidak jadi masuk dapur. Ia berbalik, melangkah pergi sebelum emosinya terlihat oleh siapa pun.

Siang itu berlalu dengan suasana yang aneh. Alana tetap bekerja seperti biasa. Mengurus Revan, menyiapkan makan siang, memastikan jadwal bocah itu berjalan rapi. Tidak ada yang berubah di permukaan. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergeser pelan.

Ia jadi lebih berhati-hati. Lebih menjaga jarak. Bahkan dengan Arka. Pria itu bukan tak menyadarinya.

Saat makan siang, Alana duduk sedikit lebih jauh. Jawabannya singkat. Sopan. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.

Arka memperhatikannya diam-diam. Tatapan itu tidak lepas, meski wajahnya tetap datar.

“Alana,” panggil Arka akhirnya, ketika Revan sedang sibuk mengaduk supnya sendiri.

“Iya, Tuan?” jawab Alana cepat. Dia terpaksa memanggil pria itu Tuan, karena takut mamanya mendengar.

Arka terdiam sejenak. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Terlalu banyak. Tapi semuanya terasa salah jika diucapkan di sini, di depan anak itu.

“Nanti malam,” ucap Arka akhirnya. “Kita bicara.”

Alana mengangguk. “Baik, Tuan.”

Jawaban itu terdengar formal. Arka mengepalkan tangan di bawah meja.

 

1
ElHi
semogaaa si Revan tantrum sampe sakit mikirin Alana biar keluarga sombong itu tau rasa!!! cerai aja Alana...sama Rafael ajaah...*)ngarep mode on
Tiara Bella
si Arkan kemana dia sampe gk tw klu Alana diusir sm mmhnya dia.....
Patrick Khan
emak arka jahat bgt . 🔥
muhammad ihsan
jangan pisahkan alana dan arka thor
Maria Kibtiyah
semoga si arka tau alana di usir emaknya
Suanti
semoga aja berjodoh sm rafael
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭
astr.id_est 🌻
mewek 😢
astr.id_est 🌻
alana yang malang
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ida Nur Hidayati
semoga Alana ditolong orang baik dan iklas
Cindy
lanjut kak
Radya Arynda
Dasar wanita somboh,angkuh dan jahat,,,,saat revan sudah mulai bahagia malah alana di usir,,,,si pecu dang arka juga habis merkosa peegi dasar iblis,,,,semogah revan sakit parah biar nenek sihir tau rasa....
dyah EkaPratiwi
ditunggu tantrumnya Revan biar arka n mama Ratna pusing
Oma Gavin
rasakan kamu arka dan ratna Revan tantrum ditinggal alana
Salim ah
semoga yg menolong Alana Rafael dan dibawa kerumahnya🙄
Patrick Khan
pasti Rafael itu..
Ilfa Yarni
siapa yg menolong Alana apakah rafael
Radya Arynda
semogah kamu di tolong orang baik,,dan mau merubah mu lebih kuat dan berani jangan lembek lagi
Valen Angelina
alama hamil anak arka...tapi giliran rafael yg jaga wkkwwkkw....biar impaskan 🤣🤣🤣
MomRea
Rafael yg nolong, tapi jodohnya tetap Arka ya Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!