Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Sampai didesa sudah tengah malam, lima pemuda merasakan kaki mereka pegal pegal, dua botol air mineral hanya tinggal setengah botol saja.
"Dut, kamu nginep dirumahku dulu, besok baru pulang!" ucap Peno meminta Dadang menginap dirumahnya dulu, sebab desa tempat tinggal Dadang memang masih lumayan jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki.
"siap, lagian aku juga ga berani jalan malam malam sendirian!" jawab Dadang.
"ya wis kita nginep rame rame saja dirumah Peno, besok baru pulang!" usul Maman, lalu berlima menyusuri jalan desa menuju rumah Peno.
Peno mengetuk pintu rumahnya, setelah tiga kali mengetuk pintu baru dibuka, bapak yang keluar membukakan pintu.
"kalian baru sampai!?" tanya bapak saat tahu yang mengetuk pintu adalah Peno dan teman temannya.
"iya pak, ini teman teman mau nginep disini!" jawab Peno lalu mempersilahkan teman temannya duduk istirahat dikursi teras.
"ya wis, gelaran tikar saja didepan tv, kalau dikamarmu ya ga muat No!" kata bapak lalu ikut duduk diteras.
"iya pak, kami selonjoran dulu!" jawab Peno sambil memijat kakinya.
"ya wis, kalau mau bikin kopi ya bikin saja, bapak mau tidur lagi, besok ikan yang dikolam ujung ada yang mau beli, jadi harus dikeringkan pagi pagi!" ucap bapak lalu masuk untuk melanjutkan tidur lagi.
"ini mau ngopi apa langsung tidur?" tanya Peno pada teman temannya yang juga sedang memijat kakinya masing masing.
"kayaknya ngopi enak No, badan cape mau tidur malah ga bisa!" jawab Maman.
"nah iya, setuju aku!" ucap Eko.
"idem!" kata Dimin menambahi.
"aku ngikut saja!" ucap Dadang akhirnya.
Peno masuk kedalam rumah menuju dapur, menyalakan kompor dan merebus air kira kira cukup untuk lima gelas kopi lalu balik keteras sambil membawa tikar.
"gelaran sama tikar saja lebih enjoy Man!" ucap Peno menyerahkan tikar agar digelar oleh teman temannya lalu ia kembali masuk kerumah.
Beberapa menit kemudian Peno keluar dengan membawa lima gelas kopi dengan nampan, diletakannya ditengah tikar lalu ia ikut duduk disana, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"No, tadi itu yang nyerang kita kan yang kamu kalahkan difinal?" tanya Eko membuka obrolan.
"iya, namanya Mikel, anak orang kaya dikota!" jawab Peno singkat.
"ooohh, berarti dia nyerang karena ga terima kalah!" ucap Dadang yang baru tahu.
"ya begitu Dut, aslinya kemampuan main caturnya ga ada, mungkin kalau lawan kamu jiga kalah, tapi dia punya banyak uang, jadi setiap lawannya akan ia bayar untuk mengalah!" jelas Peno menceritakan tentang Mikel pada teman temannya.
"wah, coba kalai dibabak penyisihan ketemu aku, pasti aku sudah punya uang banyak!" ucap Dadang membayangkan ketemu Mikel dibabak penyisihan.
"takkk!"
"aduh, kok dijitak sih Min!?" kata Dadang sambil memegangi kepala bagian atasnya yang sakit karena jitakan Dimin.
"itu namanya kamu mata duitan, tidak menjujung sportifitas, ya harus dijitak!" jawab Dimin.
"ya untungnya ga ketemu kamu Dut, jadi kamu ga makan uang haram, ha ha ha ha.....!" kata Maman ikut mengomentari ucapan Dadang, sementar itu Eko malah sudah terlelap bermimpi entah sampai dimana.
"weeeessss tah, malah sudah molor ini bocah!" ucap Dimin saat menengok kearah Eko disampingnya.
"ha ha ha......,mungkin dia lelah Min, habis tarung satu lawan satu, kamu sih tadi ga bantu!" ucap Peno.
"aku bantu sedikit No!" kata Dimin membela diri dibilang tidak membantu Eko.
Merasa sudah cape ngobrol mereka pun ikut jejak Eko, terlelap dengan posisi masing masing, Dimin yang sejajar dengan Eko mengambil posisi miring meringkuk, Maman memilih tengkurap, Dadang terlentang, sedangkan Peno malah rebahan diatas kursi panjang diteras.
Pagi menjelang, adzan subuh sudah terdengar, semuanya terbangun, kebiasaan anak anak desa yang memang selalu bangun sejak subuh, biarpun nanti setelah sholat bingung mau berbuat apa, karena memang pengangguran.
Berlima menuju mushola didepan rumah mbah Patma, kompak ambil wudhu sekalian cuci muka biar segar, para jamaah satu persatu berdatangan, termasuk bapak, lik Wanto dan yang lainnya.
Setelah Sholat Peno mengajak teman temannya untuk kerumah mbah Patma, sampai disana nampak lik Atin istrinya Wanto sedang menyapu halaman, didekatnya Tono sedang bermain mobil mobilan.
"assalamualaikum lik!" ucap Peno lalu menyalami lik Atin diikuti oleh teman temannya dan kemudian mengganggu Tono yang sedang asik bermain.
"waalaikumsalam, gimana kemarin turnamen caturnya No!?" ucap lik Atin menghentikan kegiatan menyapunya.
"Peno menang lik, juara satu, bulan depan ikut tingkat propinsi!" yang menjawab malahan Dimin, sedangkan Peno malah asik mengganggu Tono.
"wah mantap, hebat kamu No, ayo semaunya silahkan duduk, sebentar lilik bikin kopi dulu!" kata lik Atin lalu masuk kedalam rumah.
Mbah Patma dan lik Wanto pun pulang dari mushola, Peno dan teman temannya pun menyalami keduanya lalu duduk kembali di dua kursi panjang yang ada diteras rumah.
"gimana hasilnya kemarin No?" tanya mbah Patma.
"aman mbah, aku juara, ini lagi nunggu pak Supri ngantar hadiahnya, soalnya semalam pas mau pulang aku titipkan sama beliau!" jawab Peno yang dudul disebelah mbahnya persis.
"takkkk!"
"kok malah dijitak mbah!?" tanya Peno protes.
"biar otakmu tambah encer, he he he he.....!" ucap mbah Patma santai.
"sudah kopyor malahan ini mbah!" gerutu Peno sambil masih memegang kepalanya yang sakit.
"ha ha ha ha..........!" tawa semua teman teman Peno dan lik Wanto pun pecah melihat Peno teraniaya oleh mbahnya sendiri.
Lik Atin datang menyuguhkan kopi, laku ia mengajak Tono pergi kewarung untuk membeli gorengan buat menemani kopi.
"nih Dut, kalau kamu mau jago catur latihannya sama mbah Patma ini!" ucap Eko pada Dadang.
"lah iya, ini siapa, kok aku baru lihat?" tanya mbah Patma.
"saya Dadang mbah, asalnya dari desa runtuk, kemarin ikut mewakili kecamatan tapi kalah sama Peno ini!" jawab Dadang sopan.
"oohh, ya kalau mau latihan datang saja kesini!" kata mbah Patma.
"iya mbah, kapan kapan saya kesini berlatih catur biar jago kaya Peno!" ucap Dadang lagi.
Gorengan datang, lik Atin menyuguhkan dengan piring besar, beraneka macam gorengan ada disana termasuk juga ketupat plastik dan tak lupa cabai rawitnya.
"ayo silahkan ketupat sama gorengannya buat ganjel perut, soalnya lilik belum sempat masak!" kata lik Atin, Tono pun naik kekursi panjang duduk disamping mbah Patma, persis disela sela antara mbah Patma dan Peno.
semua makan dengan lahap, Tono pun juga, tak lama berselang pak Supri datang naik motor berboncengan dengan pka Basuki.
"assalamualaikum!" ucap pak Supri besamaan dengan pak Basuki.
"waalaikumsalam!" jawab semuanya kompak.
"sehat mbah!?" tanya pak Supri menyalami mbah Patma terlebih dahulu lalu lanjut menyalami semuannya diikuti pak Basuki.
"alhamdulillah sehat, lha kamu kan si Supri yang sering nraktir aku kopi diwarungnya si War dulu!?" ucap mbah Patma.
"betul mbah, saya Supri yang selalu kalah sama mbah Patma, ha ha ha ha.....!" jawab pak Supri.