NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: LANGKAH PERTAMA MENUJU SELAMANYA

Tiga bulan setelah kunjungan ke Jakarta, hidup kami menemukan ritmenya kembali. Seperti sungai yang setelah diterjang badai, kembali mengalir tenang di jalurnya. Tapi tenang itu sekarang berbeda lebih dalam, lebih sadar akan betapa rapuhnya kedamaian bisa jadi.

Suatu pagi di hari Sabtu, ketika kami sedang sarapan, Maya menatapku dengan ekspresi aneh.

“Ada apa?” tanyaku, menyadari pandangannya.

“Kita harus menikah, Raka.”

Bima yang sedang minum susu terbatuk. Kinan menoleh, penasaran. Aku sendiri hampir menjatuhkan sendok.

“Apa?”

“Kita bicarakan ini sejak Aisyah lahir. Tapi selalu ada alasan untuk menunda.” Maya meletakkan tangannya di atas tanganku. “Rangga sudah tidak lagi mengancam hak asuh. Keluarga mulai menerima kita. Dan yang terpenting…”

Dia memandang anak-anak satu per satu. “Mereka butuh kepastian. Bahwa kita keluarga. Benar-benar keluarga.”

Bima mengangguk pelan. “Aku setuju, Ma.”

“Kamu setuju?” tanyaku terkejut.

“Iya. Biar orang tahu kalau Om Raka bukan cuma sepupu yang tinggal di sini. Tapi… ayah kami.”

Kata itu ayah terasa seperti hadiah terbesar yang pernah kuterima.

“Tapi pernikahan sepupu…” aku mulai, tapi Maya memotong.

“Sudah cukup lama kita hidup berdasarkan apa kata orang. Sekarang, kita hidup berdasarkan apa yang benar untuk kita.”

---

Rencana pernikahan sederhana mulai kami susun. Tidak perlu mewah hanya keluarga dekat, di rumah Bibi Sartika. Tapi seperti segala hal dalam hidup kami, tidak ada yang benar-benar sederhana.

Pertama, ayahku.

“Kamu yakin?” tanyanya melalui telepon, suara berat.

“Yakin, Ayah.”

“Orang akan tetap bicara.”

“Biarkan mereka bicara. Yang penting kami bahagia.”

Diam panjang. Lalu: “Aku tidak bisa hadir. Tapi… aku tidak melarang.”

Itu bukan restu, tapi bukan penolakan. Untuk ayah sepertinya, itu sudah hampir seperti berkah.

Kedua, keluarga besar. Beberapa bibi masih mengernyitkan dahi. Beberapa sepupu bertanya-tanya apakah ini “pantas”. Tapi Bibi Sartika, ibu Maya, menjadi benteng kami.

“Mereka dewasa. Mereka tahu apa yang mereka lakukan. Dan yang penting, mereka mencintai,” katanya pada setiap yang meragukan.

Ketiga, yang paling tidak terduga: Rangga.

Dia mengirim pesan seminggu sebelum pernikahan: “Selamat. Semoga kalian bahagia. Dan… terima kasih sudah menjadi ayah yang lebih baik untuk anak-anak saya daripada saya sendiri.”

Pesan itu membuat Maya menangis. Bukan tangisan sedih, tapi tangisan pelepasan. Akhirnya, penerimaan.

---

Hari pernikahan tiba. Tidak ada gaun pengantin mahal hanya kebaya sederhana peninggalan nenek Maya yang diubah sedikit. Tidak ada jas hanya batik yang sama dengan yang kupakai di pernikahan Maya dulu, sebagai penutup lingkaran.

Yang hadir hanya dua puluh orang: keluarga inti, beberapa teman dekat. Tapi yang membuatku tersentak adalah kehadiran Bima dan Kinan, berdiri di samping kami sebagai saksi kecil. Dan Aisyah, dalam gendongan Maya, tidur nyenyak sepanjang upacara.

Ketika penghulu menanyakan, “Apakah kamu menerima Raka sebagai suamimu?” Maya menjawab dengan suara jelas: “Saya terima. Dengan segala kompleksitasnya. Dengan segala sejarahnya. Dengan segala cintanya.”

Dan ketika giliranku, aku berkata: “Saya terima Maya sebagai istri saya. Beserta Bima, Kinan, dan Aisyah sebagai anak-anak saya. Keluarga yang tidak sempurna, tapi keluarga saya.”

Bima tersenyum. Kinan memegang tangan ibunya erat.

Acara sederhana. Makan bersama. Foto-foto. Lalu pulang ke rumah kami kini benar-benar rumah kami.

Malam pertama sebagai suami-istri, kami duduk di teras, menatap bintang.

“Berbeda rasanya,” bisik Maya.

“Apa?”

“Dulu dengan Rangga… pernikahan seperti tugas. Sekarang… seperti pilihan.”

Aku memegang tangannya. “Karena memang pilihan. Dan aku akan memilihmu setiap hari. Setiap pagi ketika bangun. Setiap malam sebelum tidur.”

Dari dalam rumah, terdengar suara Aisyah menangis. Lalu suara Bima yang berkata, “Tenang, Sayang. Kakak di sini.”

Kami saling memandang, tersenyum. Itulah keluarga kami tidak sempurna, saling mengurus, penuh dengan luka tapi juga penuh dengan penyembuhan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa: inilah rumah. Bukan bangunan. Bukan kota. Tapi orang-orang yang memilih untuk saling mencintai, meski dunia berkata sebaliknya.

Pernikahan kami mungkin bukan akhir dari perjuangan. Masih akan ada omongan. Masih akan ada tantangan. Tapi sekarang, kami punya dasar yang kokoh: pilihan. Bukan kewajiban. Bukan kebetulan. Bukan pelarian.

Tapi pilihan sadar, setiap hari, untuk tetap bersama.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!