Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima Belas
Pagi ini cahaya matahari masuk ke rumah menyelinap lewat sela tirai besar, jatuh ke lantai marmer yang dingin. Rumah itu selalu sunyi di pagi hari, tapi bagi Alana, kesunyian kali ini terasa berbeda. Bukan lagi sunyi yang menekan, melainkan sunyi yang penuh pikiran.
Alana berdiri di dapur, mengenakan celemek sederhana. Tangannya bergerak otomatis memotong buah, menggoreng telur, menghangatkan sup kecil yang biasanya disukai Revan. Tapi pikirannya melayang jauh.
Kontrak satu tahun. Menikah dengan Arka. Perlindungan dan jarak.
Alana melirik jam di dinding. Masih pagi. Revan sebentar lagi bangun.
Bi Marni masuk membawa nampan kecil. “Nona Alana sudah bangun dari tadi?”
Alana tersenyum tipis. “Iya, Bi. Revan biasanya bangun jam segini.”
Seolah mendengar namanya disebut, langkah-langkah kecil terdengar dari arah lorong. Revan muncul dengan rambut masih berantakan, matanya setengah terpejam.
“Mbak Alana …,” gumamnya sambil mengucek mata.
Alana langsung berjongkok dan membuka tangan. “Sini, bangun tidur langsung nyari makan, ya?”
Revan nyengir dan langsung memeluk Alana. Aroma sabun bayi bercampur wangi roti panggang memenuhi dapur.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk di meja makan kecil khusus Revan. Alana menyuapi bocah itu dengan sabar, seperti biasa.
“Satu sendok lagi,” bujuk Alana lembut.
Revan manyun. “Habis ini boleh main?”
“Boleh,” jawab Alana sambil tersenyum. “Tapi habisin dulu.”
Saat itu, langkah kaki berat terdengar mendekat. Arka muncul di ambang pintu ruang makan, mengenakan kemeja hitam sederhana, lengan digulung sampai siku. Wajahnya datar, tapi matanya langsung tertuju pada Revan dan Alana.
“Pagi,” ucapnya singkat.
Revan langsung berseri. “Om Arka!”
Arka mengangguk kecil. “Pagi.”
Arka duduk di kursi utama. Bi Marni segera menyajikan sarapan untuknya, kopi hitam dan menu yang sederhana, jauh dari kesan mewah yang seharusnya dimiliki seorang pria sepertinya.
Alana berusaha fokus menyuapi Revan, tapi kehadiran Arka membuat dadanya terasa lebih sesak dari biasanya. Ia tahu, pagi ini harus bicara.
“Tuan .…” Alana membuka suara pelan.
Arka mengangkat wajahnya. “Hm?”
“Ada yang ingin saya sampaikan.”
Arka melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali menatap piringnya. “Setelah makan. Tunggu aku di ruang kerja.”
Nada itu bukan penolakan, lebih seperti penetapan jadwal. Alana mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”
Sarapan berlangsung dalam diam. Revan sibuk bercerita soal mimpinya semalam, tentang kapal besar dan monster laut. Alana menanggapi dengan senyum dan anggukan, sementara Arka sesekali ikut menyahut singkat, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Setelah Revan selesai makan, Alana mengelap mulut bocah itu. “Ayo, kita cuci tangan.”
Bi Marni menghampiri. “Biar saya saja, Nona. Nona mau ke mana?”
Alana menatap Revan sebentar, lalu ke Bi Marni. “Bi, tolong jaga Revan sebentar, ya. Saya mau ke ruang kerja Tuan.”
Bi Marni menangkap kegugupan di wajah Alana, tapi tidak bertanya. “Baik, Nona.”
Revan menatap Alana penasaran. “Mbak Alana mau ke mana?”
Alana tersenyum dan mengusap rambutnya. "Mbak mau bicara sebentar sama Om Arka. Nanti balik.”
“Oke,” jawab Revan polos.
Langkah Alana terasa berat saat menyusuri lorong menuju ruang kerja. Setiap langkah seperti menghitung ulang keputusan yang sudah ia buat semalaman. Dia mengetuk pintu pelan.
“Masuk,” suara Arka terdengar dari dalam.
Alana membuka pintu dan masuk. Ruang kerja itu besar, rapi, dan dingin. Arka berdiri di dekat jendela, memunggunginya.
“Kamu mau bicara apa?” tanya Arka tanpa berbalik.
Alana menelan ludah. Ia melangkah masuk lebih jauh dan berhenti di depan meja.
“Saya … sudah memikirkan tawaran Tuan.”
Arka berbalik perlahan. Tatapannya tajam, sulit ditebak. “Dan?”
Alana menarik napas dalam-dalam. Tangannya mengepal kecil di sisi tubuhnya.
“Saya bersedia,” ucap Alana akhirnya. “Saya bersedia menerima pernikahan kontrak itu.” Kalimat itu keluar dengan suara bergetar, tapi jelas.
Arka terdiam. Untuk beberapa detik, ruangan terasa semakin sunyi. Tatapannya tidak bergeser dari wajah Alana, seolah sedang memastikan ia tidak salah dengar.
“Kamu yakin?” tanya Arka pelan.
Alana mengangguk, dan menjawab. “Yakin, Tuan."
Arka menghela napas pelan. Ada sesuatu yang bergerak di balik wajah dinginnya eganya terselubung, mungkin juga rasa bersalah.
“Kalau begitu,” ucap Arka “Ada satu hal yang harus kamu pahami sejak awal.”
Alana mengangkat wajahnya. “Apa itu, Tuan?”
Arka melangkah mendekat, berhenti dengan jarak aman. “Dalam pernikahan ini, jangan libatkan perasaan.” Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, tanpa emosi.
“Ini kontrak,” lanjut Arka. “Kesepakatan. Aku melindungimu, kamu menjadi istriku di atas kertas. Tidak lebih.”
Alana mengangguk pelan, meski dadanya terasa perih. “Saya mengerti.”
“Tidak ada harapan,” Arka menegaskan. “Tidak ada cinta. Tidak ada cemburu. Tidak ada tuntutan.”
Alana tersenyum tipis, pahit. “Sejak awal saya tidak berani berharap.”
Tatapan Arka mengeras sesaat, lalu kembali netral. “Bagus.”
Ia berbalik ke mejanya dan mengambil map tipis. “Reno akan mengurus semuanya. Akad sederhana, tertutup. Identitasmu akan diamankan.”
Alana mendengarkan dalam diam. Kata demi kata seperti membangun dinding tak kasatmata di antara mereka.
“Kamu akan tinggal di rumah ini sebagai Nyonya Arka,” lanjut Arka. “Di depan orang lain, kita pasangan suami istri. Di belakang itu, kamu bebas.”
“Bebas?” ulang Alana lirih.
“Selama tidak melanggar kesepakatan,” jawab Arka.
Alana mengangguk lagi. “Baik.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Kali ini berbeda. Lebih berat.
“Kalau begitu,” Arka menutup map. “Mulai sekarang, kamu harus siap.”
Alana menatapnya. “Siap untuk apa?”
“Untuk masuk ke duniaku,” jawab Arka singkat. “Walau hanya sebagai nama.”
Kabar itu menyebar cepat, bukan ke publik, tapi ke lingkaran orang-orang tertentu. Reno bergerak cepat, seperti biasa. Dokumen disiapkan. Nama Alana dimasukkan ke dalam sistem yang bahkan tidak diketahui keberadaannya oleh hukum biasa.
Sementara itu, Alana menjalani harinya seperti biasa, menemani Revan, mengurus rumah, memasak. Tapi setiap sudut rumah kini terasa berbeda. Semua orang memanggilnya dengan lebih hormat.
“Nyonya,” sapaan itu terdengar asing di telinganya.
Beberapa hari kemudian, akad dilangsungkan di ruang tengah rumah Arka. Tanpa pesta. Tanpa keramaian. Hanya saksi, penghulu, dan beberapa orang kepercayaan Arka.
Alana duduk bersisian dengan Arka. Tangannya dingin, jantungnya berdegup kencang. Ijab kabul diucapkan dengan lancar. Nama mereka kini terikat.
Tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan. Hanya anggukan kecil dari Arka setelah semuanya selesai.
“Selamat, Boss,” ucap Reno.
Arka mengangguk. “Terima kasih.”
Alana masih terdiam, mencoba mencerna kenyataan.
Malam itu, mereka kembali ke rutinitas. Kamar terpisah. Jarak yang disepakati tetap terjaga. Namun hidup tidak pernah sesederhana kontrak di atas kertas.
.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭