Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Bertemu Besan
Flashback
Setelah mengenakan bathrobe, Pak Kades mengambil ponselnya, lalu menekan nomor seseorang.
“Hallo Pak Reza,” ucapnya.
“Iya, Pak Kades. Ada apa?” tanya Reza.
“Nggak … saya cuma mau tanya, berarti saat ini pabrik berada dibawah naungan Mas Reynan, ya?” tanyanya.
“Iya, betul Pak Kades. Kenapa? Apa Pak Kades keberatan?”
“Hahaha … nggak lah, Pak. Saya gak keberatan sama sekali. Mau itu Pak Reza atau Mas Reynan pun, saya gak masalah.”
“Iya … bagus lah,” kata Reza.
Pak Kades berdehem. “Cuma begini, Pak Reza … ada yang ingin saya tanyakan,” ucapnya.
Disana Reza mengerutkan dahinya. “Mau tanya apa?”
“Begini … kemarin Mas Reynan ke pabrik bersama istrinya. Apa Pak Reza tau kalo Mas Reynan udah nikah?” tanyanya.
Reza terdiam.
“Sudah saya duga, kalo Mas Reynan nikah diam-diam. Toh saya tau wanitanya, Pak. Wanita itu harusnya nikah sama lelaki yang bernama Danish, tapi yang saya dengar, pengantin lelakinya gak datang,” ucapnya Pak Kades. Tidak ada sahutan dari Reza, Pak Kades kembali bicara. “Saya rasa, Mas Reynan sama wanita itu selingkuh dan mungkin lagi hamil. Makanya lelaki yang bernama Danish itu gak datang saat pernikahannya,” sambungnya.
“Oh … begitu, ya?” tanya Reza.
“Iya, Pak.” Pak Kades bicara dengan percaya diri.
“Em- begini, Pak. Saya sudah tau dengan pernikahan Reynan dan itu murni hanya ingin menolong saja,” ujar Reza.
Seketika, Pak Kades terdiam.
Respon dari Reza, tidak sesuai dengan harapannya.
“O-oh begitu, ya?” Pak Kades bicara dengan sedikit gugup.
“Iya … Terus apa lagi yang ingin Pak Kades bicarakan?” tanya Reza.
“Itu saja, Pak.”
“Ya sudah kalo begitu. Saya tutup teleponnya, ya. Saya lagi banyak kerjaan,” kata Reza.
“I-iya, Pak. Maaf sudah mengganggu,” ucap Pak Kades.
Panggilan pun terputus.
Pak Kades nampak kecewa, sedangkan dengan Reza, ia murka.
Ia lekas menelpon Reynan, ia ingin tau dan ingin dengar lebih jelasnya dari mulut sang anak.
Sebenarnya, ia baru tau dari Pak Kades tentang pernikahan Reynan.
Namun ia berpura-pura sudah tau, untuk menjaga harga dirinya dan juga Reynan.
***
“Ayo kita pulang, Za.” Reynan langsung beranjak dari duduknya, lalu mengajak Zara pulang. Kala Reza tetap akan menjodohkannya dengan Keysa.
Zara pun ikut beranjak dari duduknya.
“Duduk Reynan!” Suara Reza menggelegar di ruangan itu.
“Ma, Rey pulang.” Pamitnya pada sang Mama.
“Duduk Renan!” titah Reza lagi.
“Nggak, Pah. Rey mau pulang. Toh di sini juga buat apa, jika keputusan Rey gak di dengar.”
“Rey … sebaiknya Duduk dulu. Ikuti dulu apa kata Papa,” ujar Yola. Mama Reynan.
“Nggak, Ma. Rey bukan lagi anak kecil yang harus tunduk dan patuh dengan keinginan Papa,” kata Reynan.
“Rey udah besar. Rey punya keputusan dan keinginan sendiri,” lanjutnya.
“Reynan Ghani Utama, duduk!” Suara Reza kembali terdengar.
Helaan napas keluar dari mulut Reynan, wajahnya terlihat kesal. Namun begitu, ia pun kembali duduk. Begitu juga dengan Zara.
“Apa lagi, Pa? Rey gak bisa, kalo tetap harus dengan Keysa.”
“Karena perjodohan ini sudah kami bicarakan dengan dua keluarga, maka mau tidak mau kita harus kembali bertemu dengan keluarganya dan membicarakan hal ini.” Reza kembali membuka suara.
Reynan berdecak.
“Kita atur jadwal temu dengan Keysa dan keluarganya. Kita bicarakan hal ini dan kamu, harus jujur dengan keluarganya, jika kamu menolak perjodohan ini,” ucap Reza pada Reynan. “Kamu juga ikut,” lanjutnya pada Zara.
“Kalo misal Keysa dan keluarganya tetap melanjutkan perjodohan ini, ya … kamu mau tidak mau harus menikahi Keysa,” ujar Reza lagi.
“Kalo begitu, maaf saya mundur. Saya menolak keras adanya poligami,” ucap Zara.
“Rey pun tetap menolak,” kata Reynan. “Mau Papa memaksa dengan cara apapun, Rey akan tetap dengan pendirian Rey,” lanjutnya. “Mau itu masih ada Zara di sisi Rey, ataupun Zara sudah tidak sama Rey,” sambungnya.
Reza memijat pangkal hidungnya.
“Ya, nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama. Yang terpenting untuk saat ini, kita bertemu dulu dengan Keysa dan keluarganya. Kita kasih tau, jika kamu tidak mau dijodohkan dan kamu sudah menikah,” ucap Reza. Kali ini suaranya lebih rendah dan panggilan pun sudah tidak ‘kau’ lagi.
“Berarti permasalahan ini selesai ‘kan? Kalo gitu, Rey pamit pulang.”
“Apa gak sebaiknya menginap di sini, Rey?” tanya Yola.
“Gak bisa, Ma. Nanti malam ada tahlilan di rumah Zara. Neneknya baru saja meninggal,” ujar Reynan.
“Innalillahi …” ucap Yola. “Turut berduka cita ya, Zara,” lanjutnya.
“Iya, Bu. Terima kasih,” kata Zara.
“Jangan panggil, Bu. Panggil saja Mama, sama kaya Rey. Berarti benar kalian sudah menikah?” tanya Yola.
“Ita, Bu—. Eh, Ma.”
Yola tersenyum simpul. “Kalo begitu, gimana kalo kita adakan resepsi Pah?” tanya Yola pada Reza.
Reza hanya berdehem.
“T-tidak perlu, Ma. Tidak usah repot-repot,” tolak Zara.
“Ya gak bisa gitu. Masa anak menikah tidak ada pesta,” ucap Yola.
“Gak usah lah, Ma. Lagian Papa mana mau,” ujar Reynan.
“Kata siapa?” Reza langsung menyahut.
“Kata Rey, barusan.”
Yola mengulum senyum. Begitulah anak dan suaminya.
Sebenarnya Yola tahu jika Reza pun setuju, untuk mengadakan resepsi. Tapi ya itu, gengsinya selangit.
“Emang iya?” tanya Reza.
“Iya …” Rey menjawab dengan panjang.
Reza menarik napas dengan dalam. “Boleh saja, jika mau buat resepsi. Tapi … kita selesaikan dulu permasalahannya dengan Keysa dan keluarganya,” kata Reza.
“Apapun hasilnya, Rey tetap tidak mau menikah dengan Keysa,” ucap Reynan.
“Ya, kita lihat saja nanti. Jika keluarga Keysa tetap ingin perjodohan ini terjadi, ya mau gimana lagi,” kata Reza.
Reynan berdecak. “Jangan paksa Rey, tuh ada si Rendi.” Tunjuknya pada sang adik.
“Lah, kok jadi gue. Ngaco lo. Lo yang mau dijodohkan kok gue yang kena,” kata Rendi. Ia yang sedang asik main game sedari tadi, kok ikut kena juga. Jelas jika ia tidak terima.
“Sudah … Sudah …” Yola menengahi anak-anaknya.
“Bukannya nanti malam ada tahlilan?” tanya Yola.
“Iya, Ma.” Reynan menjawab.
“Gimana kalo kita ikut Reynan ke sana, Pah? Sekalian kita bersilaturahmi pada besan, gimana?”
Reza diam sebentar, sedangkan Reynan dan Zara saling pandang.