NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP

​"Tutup terpalnya! Jangan sampai air hujan ngerusak mayatnya lagi! Kalian ini kerja becus nggak sih?"

​Teriakan Kalandra kalah kencang dengan suara guntur yang membelah langit malam. Hujan deras mengguyur Pelabuhan Tanjung Harapan tanpa ampun, seolah alam semesta bersekongkol untuk menghapus jejak si pembunuh.

Kalandra berdiri di bawah tenda darurat, basah kuyup, rambutnya lepek, dan matanya merah menyala menahan amarah.

​Dia akhirnya kembali ke sini. Persetan dengan makan malam keluarga.

Persetan dengan ancaman ayahnya yang tadi menelepon sampai sepuluh kali. Kalandra memutar balik mobilnya di tengah jalan tol tadi demi kembali ke mayat wanita berbaju merah ini.

Dia tidak bisa makan enak sementara ada korban yang menuntut keadilan di tengah badai begini.

​"Ndan, percuma!" Dokter Rudi berteriak, berusaha mengalahkan suara hujan. Dia sudah menyerah, duduk lemas di atas peti kayu. "Hujannya terlalu lebat. Residu kimia di tanah pasti sudah hanyut. Kita nggak bakal nemu apa-apa malam ini. Bubar aja dulu, Ndan!"

​"Enak aja lo ngomong bubar!" Kalandra mencengkram kerah baju Rudi, nyaris melayangkan tinju saking frustrasinya. "Kalau kita pulang, si brengsek itu menang! Pikir pakai otak lo, Rud! Pasti ada yang kelewatan!"

​"WOI! BERHENTI!"

​Teriakan Raka mengalihkan perhatian mereka.

​Dari arah gerbang pelabuhan, sorot lampu putih menyilaukan menerobos kegelapan.

Sebuah sedan hitam mewah—bukan mobil dinas, melainkan jenis mobil Eropa yang harganya setara anggaran kepolisian satu tahun—melaju kencang, menabrak genangan air hingga menyiprat ke mana-mana.

​Mobil itu tidak melambat sedikit pun meski Raka dan dua petugas lain melambaikan tangan.

​Ckiiit!

​Ban mobil berdecit ngilu di aspal basah, berhenti tepat tiga meter dari garis polisi, nyaris menyerempet mobil patroli.

​"Gila! Siapa tuh?" Sinta yang sedang berteduh di pos satpam langsung lari keluar, memayungi kepalanya dengan map plastik.

"Woi! Buta ya? Nggak liat ada garis polisi?"

​Kalandra melepas cengkramannya dari kerah Rudi. Tangannya meraba pistol di pinggang secara refleks.

"Siaga satu! Jangan-jangan ini komplotan pelakunya yang mau ngilangin bukti!"

​Semua pistol terarah ke pintu pengemudi sedan hitam itu. Suasana tegang. Hanya suara hujan yang terdengar menghantam atap mobil.

​Pintu pengemudi terbuka perlahan.

​Kalandra menyipitkan mata, siap menembak jika ada gerakan mencurigakan. Namun, yang keluar bukan pria bertopeng atau preman bersenjata.

​Pertama, sebuah kaki jenjang yang putih mulus turun menapak aspal becek.

​Semua mata terbelalak. Kaki itu tidak memakai sepatu bot militer, apalagi sepatu lari. Kaki itu terbungkus sandal rumah berbulu warna pink pastel yang basah kuyup terkena lumpur.

​Seorang wanita keluar dari mobil. Dia memakai gaun tidur sutra panjang yang bagian bawahnya langsung kotor terkena cipratan air, dibalut trench coat cokelat mahal yang jelas bukan untuk dipakai hujan-hujanan di pelabuhan kumuh.

​Rambutnya basah, menempel di pipi pucatnya.

​"Zoya?" Kalandra menurunkan pistolnya, mulutnya menganga tak percaya. "Ngapain kamu di sini?"

​Zoya tidak menjawab. Dia menutup pintu mobilnya dengan satu dorongan pelan tapi pasti.

Wajahnya datar, sama datarnya seperti saat dia di meja makan tadi pagi. Dia berjalan lurus menerobos hujan, melewati Raka yang bengong, menuju tenda tempat mayat berada.

​"Eh, eh! Tunggu dulu!" Sinta langsung menghadang langkah Zoya.

Polwan itu merentangkan tangan, matanya menatap sinis penampilan Zoya yang 'salah kostum'.

​"Ibu ini siapa main nyelonong aja?" bentak Sinta, suaranya melengking. "Ini TKP, Bu! Tempat Kejadian Perkara. Bukan tempat arisan sosialita! Liat tuh sandal Ibu, ngerusak jejak kaki di tanah! Pulang sana, jangan ganggu kerjaan polisi!"

​Sinta menoleh ke Kalandra, mencari dukungan. "Ndan, ini istrinya, kan? Suruh pulang dong. Bikin semak aja. Kita lagi pusing, malah diajak main rumah-rumahan."

​Zoya berhenti tepat di depan Sinta. Dia menatap polwan itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu kembali menatap ke depan seolah Sinta hanyalah tiang listrik yang tidak penting.

​"Minggir," ucap Zoya pelan. Suaranya hampir tertelan hujan, tapi dinginnya melebihi angin malam.

​"Dih, kok nyolot?" Sinta makin emosi. "Saya ini petugas berwenang—"

​Tanpa peringatan, Zoya menabrak bahu Sinta begitu saja, membuat polwan itu terhuyung ke samping karena kaget. Zoya terus berjalan, langkahnya anehnya begitu stabil meski memakai sandal licin.

​"Zoya! Pulang!" Kalandra akhirnya sadar dari keterkejutannya dan berlari menyusul istrinya. Amarahnya meledak lagi. "Kamu gila ya? Papa nyuruh aku pulang, bukan kamu yang nyusul ke sini pake baju tidur! Kamu mau bikin aku malu di depan anak buah?"

​Zoya sampai di bawah tenda. Dia tidak menatap Kalandra. Matanya terkunci lurus pada mayat wanita berbaju merah yang duduk kaku di atas peti.

​"Zoya, aku ngomong sama kamu!" Kalandra mencengkram lengan istrinya kasar. "Dengar nggak sih? Ini bukan tempat main-main. Pulang atau aku seret ka—"

​Gerakan Zoya terhenti. Dia merogoh saku mantel mahalnya.

​Kalandra mengira istrinya akan mengeluarkan sapu tangan untuk menangis, atau ponsel untuk menelepon papanya.

​Tapi tidak.

​Zoya mengeluarkan sepasang sarung tangan lateks bedah berwarna biru.

​Dengan gerakan cepat dan terlatih—sangat terlatih—dia memakai sarung tangan itu.

Sret. Sret.

Bunyi karet yang ditarik kencang terdengar kontras dengan gemuruh hujan.

​Aura wanita itu berubah total. Tatapan kosong dan melamun yang biasa Kalandra lihat di rumah lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata tajam setajam silet yang sedang membedah sasaran.

Bahunya tegap, dagunya terangkat sedikit.

​Zoya menepis tangan Kalandra dari lengannya dengan satu sentakan kuat.

Dia melangkah mendekati mayat, berlutut tanpa peduli gaun sutranya terendam genangan darah campur air hujan.

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan," suara Zoya terdengar jernih, penuh otoritas yang membuat bulu kuduk Kalandra meremang.

​Kalandra ternganga. "Hah?"

​Zoya menoleh sedikit, tatapannya menusuk manik mata Kalandra. "Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di sela kuku jari manisnya, dan lebam mayat ini dimanipulasi pakai es kering."

​Zoya mengarahkan telunjuknya ke lampu sorot yang dipegang salah satu petugas gemetar.

​"Geser lampunya ke kiri. Kamu menghalangi cahaya," perintah Zoya dingin. "Biar aku tunjukkan apa yang kalian lewatkan selama enam jam ini."

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!