"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: LABIRIN SEKTOR TIMUR
Malam di Mansion Valerius selalu terasa lebih panjang daripada siang hari. Kesunyiannya tidak pernah benar-benar murni; selalu ada dengung halus dari sistem ventilasi, detak jam dinding yang ritmis, dan perasaan ganjil bahwa dinding-dinding itu memiliki telinga.
Arunika berbaring kaku di tempat tidur, napasnya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti orang yang terlelap dalam tidur nyenyak. Di sampingnya, Adrian bernapas dengan tenang. Pria itu baru saja tertidur setelah satu jam penuh menceramahi Arunika tentang betapa indahnya masa depan mereka jika Arunika tetap bersikap "manis" seperti hari ini.
Tangan kanan Arunika meremas cetakan lilin di bawah bantalnya. Benda itu kecil, keras, dan terasa seperti kunci menuju kebebasan—atau mungkin menuju neraka yang lebih dalam.
Perlahan, sangat perlahan, Arunika menyibak selimut sutranya. Ia melirik monitor bayi di nakas yang sebenarnya berfungsi sebagai interkom keamanan. Lampu indikatornya berkedip hijau. Adrian percaya bahwa obat penenang dosis ringan yang ia campurkan ke dalam teh Arunika tadi malam telah bekerja. Dia tidak tahu bahwa Arunika telah memuntahkan teh itu ke dalam tanaman hias di sudut ruang makan.
Arunika turun dari ranjang. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil hingga ke tulang belakangnya. Ia tidak mengganti pakaian tidurnya; gaun sutra tipis itu justru akan membuatnya terlihat tidak mencurigakan jika ia tertangkap—ia bisa beralasan sedang berjalan dalam tidur atau merasa haus.
Pintu kamar terbuka dengan suara klik yang nyaris tak terdengar. Sandra telah melakukan bagiannya; sensor laser di koridor utama dimatikan selama sepuluh menit dengan alasan "pemeliharaan sistem rutin".
Arunika berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap. Cahaya bulan masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan pohon pinus yang tampak seperti jari-jari raksasa yang mencoba mencengkeramnya. Tujuannya adalah Sektor Timur—bagian tertua dari mansion ini yang jarang sekali dikunjungi, bahkan oleh para pelayan.
Semakin jauh ia berjalan, suasana rumah berubah. Karpet tebal berganti menjadi lantai kayu ek yang berderit. Bau parfum ruangan yang segar berganti menjadi bau apek, debu, dan kayu tua.
Arunika sampai di depan rak botol anggur yang disebutkan Sandra. Di sana berjejer ratusan botol berdebu, namun matanya tertuju pada barisan botol anggur tahun 1945. Ia meraba bagian belakang rak, mencari panel tersembunyi.
Jarinya menyentuh sesuatu yang rata dan dingin. Sebuah layar digital kecil menyala redup dari balik bayangan kayu.
Pindai Sidik Jari Diperlukan.
Jantung Arunika berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia mengeluarkan cetakan lilin sidik jari Adrian. Dengan tangan gemetar, ia menekan lilin itu ke atas sensor.
Satu detik... dua detik...
Akses Diterima.
Suara mekanisme hidrolik berbunyi pelan. Rak anggur itu bergeser, membuka sebuah celah sempit yang mengarah ke tangga menurun yang gelap. Arunika menelan ludah. Ia mengambil senter kecil yang ia curi dari laci dapur sore tadi dan mulai menuruni tangga itu.
Di bawah sana, udaranya terasa sangat dingin dan lembap. Senter Arunika menyorot sebuah ruangan yang tampak seperti perpustakaan pribadi, namun jauh lebih gelap dan suram. Ada sebuah meja kayu besar di tengah ruangan, dan di atasnya terdapat sebuah bingkai foto yang tertelungkup.
Arunika mendekat dan membalikkan foto itu.
Napasnya tertahan. Itu foto Elena. Tapi bukan Elena yang anggun seperti yang sering ia bayangkan. Dalam foto itu, Elena tampak kurus, matanya cekung, dan ia memegang sebuah papan kecil bertuliskan tanggal: 14 Februari.
Di belakang meja itu, ada deretan laci arsip. Arunika menarik salah satu laci bertanda "1990-an". Di dalamnya, ia menemukan apa yang ia cari: Buku harian Elena.
Ia membuka halaman pertamanya. Tulisan tangannya berantakan, menunjukkan keputusasaan yang luar biasa.
"Dia tidak mencintaiku. Dia mencintai versiku yang dia ciptakan di kepalanya. Hari ini dia memaksaku memakai gaun biru itu lagi. Dia bilang aku tidak boleh menangis karena malaikat tidak punya air mata. Jika aku tidak berhenti menangis, dia mengancam akan mematikan lampu selamanya."
Arunika membalik halaman demi halaman. Isinya adalah catatan tentang siksaan mental yang identik dengan apa yang ia alami. Aturan-aturan itu, isolasi itu, cara Adrian berbicara... semuanya adalah pengulangan.
Namun, di halaman terakhir, tulisan Elena berubah menjadi coretan besar dan tajam yang menembus kertas.
"Aku menemukan rahasia di balik dinding Sektor 7. Itu bukan laboratorium. Itu adalah makam bagi mereka yang gagal menjadi 'sempurna'. Jika kau membaca ini, lari sebelum Selasa malam tiba. Selasa adalah hari di mana dia—"
Tiba-tiba, lampu di ruangan bawah tanah itu menyala terang secara otomatis.
"Membaca buku harian orang lain itu sangat tidak sopan, Arunika."
Arunika tersentak hebat hingga buku itu jatuh dari tangannya. Ia berbalik dan menemukan Adrian berdiri di ambang pintu tangga. Pria itu masih mengenakan jubah mandi hitamnya, bersedekap dengan wajah yang sangat tenang—ketenangan yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.
"Adrian... aku..." Arunika mencoba bicara, namun lidahnya terasa kelu.
Adrian berjalan mendekat, langkah kakinya menggema di lantai batu. Ia memungut buku harian Elena dan mengusap debunya dengan ibu jarinya. "Sandra memang tidak pernah bisa menjaga rahasia dengan baik. Aku harus memberinya hukuman yang setimpal nanti."
"Jangan sakiti dia! Ini mauku sendiri!" teriak Arunika.
Adrian berhenti tepat di depan Arunika. Ia mengangkat dagu istrinya, memaksa mata mereka bertemu. "Kau tahu, Arunika? Elena melakukan kesalahan yang sama. Dia terlalu penasaran. Rasa penasaran adalah cacat emosional yang sangat berbahaya bagi seorang istri."
Adrian melirik buku harian di tangannya. "Dia menyebut tentang Sektor 7, bukan? Tempat yang menurutnya adalah makam?"
Adrian terkekeh pelan, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Arunika berdiri. "Dia salah. Sektor 7 bukan makam. Itu adalah tempat di mana aku menyimpan sisa-sisa 'kegagalan' agar aku bisa belajar menjadi lebih baik. Dan karena kau sudah sangat ingin tahu..."
Adrian menarik tangan Arunika dengan kasar, menyeretnya keluar dari perpustakaan rahasia itu.
"Besok adalah hari Selasa, Arunika. Dan karena kau sudah melanggar Aturan No. 40: Dilarang memasuki area terlarang tanpa pendampingan suami, kau akan ikut denganku ke Sektor 7. Kau akan melihat apa yang terjadi pada 'malaikat' yang mencoba terbang terlalu tinggi."
Arunika meronta, namun cengkeraman Adrian seperti borgol besi. Ia diseret kembali ke atas, melewati lorong-lorong yang kini terasa seperti kerongkongan monster raksasa yang siap menelannya.
Malam itu, Arunika kembali dikurung, tapi kali ini bukan dengan borgol. Adrian mengunci pintu kamar dari luar dan memasang palang besi tambahan.
Dari balik pintu, suara Adrian terdengar dingin dan tajam. "Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Besok, kau akan bertemu dengan apa yang tersisa dari Elena."
Arunika meringkuk di lantai di balik pintu. Ia memegang serpihan foto ibunya yang masih tersisa di sakunya. Ia menyadari satu hal: ia tidak sedang belajar bermain peran. Ia sedang berjalan menuju pusat badai yang telah menelan Elena, dan besok, ia mungkin akan menjadi koleksi selanjutnya di Sektor 7.