Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: TAKHTA DI ATAS BADAI
Pagi itu, dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi warga kota. Di setiap layar televisi gedung pencakar langit, di setiap ponsel genggam, hingga siaran radio di angkutan umum, hanya ada satu berita yang diputar berulang-ulang: Skandal Besar Kepolisian. Rekaman pengakuan Komisaris Hendra telah meledak seperti bom atom, meruntuhkan pilar-pilar kekuasaan yang selama ini ia bangun dengan darah dan kebohongan.
Alana duduk di ruang makan mansion Dirgantara yang luas, menatap tablet digital di tangannya. Namanya disebut-sebut dalam berita sebagai "Agen yang Dijebak", namun di saat yang sama, statusnya sebagai istri sah Arkano Dirgantara membuatnya menjadi sosok yang penuh teka-teki bagi publik.
"Beritanya sangat ramai, bukan?" suara berat Arkano memecah keheningan.
Arkano masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan otot lengannya yang kokoh. Ia tidak memakai jas formal hari ini, namun aura kepemimpinannya justru terasa lebih mencekam. Ia menarik kursi di samping Alana dan meletakkan secangkir kopi hitam yang aromanya memenuhi ruangan.
"Hendra sudah resmi ditahan pagi ini," lanjut Arkano dengan nada tenang. "Unit investigasi khusus dari pusat langsung turun tangan. Semua asetnya dibekukan, dan faksi-faksinya di kepolisian sedang diburu satu per satu."
Alana meletakkan tabletnya. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan gejolak di dadanya. "Aku melihat namaku di sana. Mereka menyebutku korban, tapi mereka juga mempertanyakan keberadaanku di sini, bersamamu."
Arkano menyeringai tipis, lalu meraih tangan Alana dan mengecup punggung tangannya dengan posesif. "Biarkan mereka bertanya. Publik hanya butuh narasi, tapi kita yang memegang kenyataan. Kau tidak akan pernah kembali menjadi pion mereka, Alana. Kau sekarang adalah bagian dari klan Dirgantara. Dan kau tahu apa artinya itu?"
Alana menatap mata gelap Arkano. "Artinya aku tidak akan pernah punya kehidupan yang normal lagi."
"Normal itu membosankan," sahut Arkano pendek. "Kehidupan di sampingku memang berbahaya, tapi setidaknya kau tidak akan pernah dikhianati lagi. Di duniaku, loyalitas dibayar dengan nyawa, bukan dengan beasiswa palsu."
Siang harinya, Arkano mengajak Alana menuju ke bagian mansion yang belum pernah ia kunjungi—sebuah sayap bangunan yang sangat modern dengan keamanan biometrik yang sangat ketat. Begitu pintu terbuka, Alana tertegun. Ruangan itu tampak seperti pusat kendali intelijen yang jauh lebih canggih daripada milik kepolisian pusat.
Beberapa staf ahli IT yang merupakan orang-orang kepercayaan klan Dirgantara tampak sibuk dengan layar-layar besar yang menampilkan data pasar saham, pergerakan logistik pelabuhan, hingga enkripsi keamanan tingkat tinggi.
"Ini adalah jantung dari bisnis legal klan Dirgantara," ujar Arkano sambil menuntun Alana masuk. "Selama ini, publik hanya melihat kita sebagai organisasi bawah tanah. Tapi kenyataannya, kita menguasai tiga puluh persen logistik di pelabuhan dan sektor keamanan siber di negara ini."
Arkano berhenti di depan sebuah meja kerja besar yang menghadap langsung ke taman pusat mansion. "Dan mulai hari ini, meja ini milikmu."
Alana terbelalak. "Maksudmu?"
"Aku memberimu kendali atas unit intelijen siber klan Dirgantara," Arkano menatap Alana dengan serius. "Kau adalah agen terbaik yang pernah dimiliki Hendra. Akan sangat sia-sia jika kemampuanmu hanya digunakan untuk merenung di taman. Aku ingin kau yang memimpin tim ini. Pantau musuh-musuh kita, bersihkan jejak kita, dan jadikan klan ini tidak tersentuh oleh siapa pun."
Alana menyentuh permukaan meja marmer yang dingin itu. Ada perasaan aneh yang membuncah di dadanya. Arkano tidak hanya memberinya kemewahan, tapi juga memberinya kekuasaan. Sebuah pengakuan atas kemampuannya yang selama ini hanya dianggap sebagai alat oleh Hendra.
"Kenapa kau begitu mempercayaiku, Arkano? Aku bisa saja menghancurkanmu dari dalam dengan akses ini," pancing Alana.
Arkano melangkah maju, memerangkap tubuh Alana di antara meja dan tubuhnya yang besar. Ia menumpukan kedua tangannya di meja, menatap Alana dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat.
"Karena aku tahu kau tidak akan melakukannya," bisik Arkano tepat di depan bibir Alana. "Kau sudah melihat kegelapan di luar sana, dan kau tahu hanya aku yang bisa memberikan keadilan yang kau inginkan. Lagi pula..." Arkano menyentuh dagu Alana, mendongakkannya sedikit. "...aku sangat suka melihatmu memegang kendali. Itu membuatmu terlihat jauh lebih menggoda."
Wajah Alana memanas. Dominasi Arkano selalu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. Namun, sebelum suasana menjadi lebih intim, pintu ruangan terbuka dengan terburu-buru. Marco masuk dengan wajah yang sangat serius.
"Tuan, maaf mengganggu," ucap Marco dengan nada mendesak.
Arkano menjauh dari Alana, namun tangannya masih tetap posesif merangkul pinggang istrinya. "Ada apa?"
"Klan Black Cobra. Mereka baru saja menyerang gudang logistik kita di Sektor 4. Mereka juga mengirimkan pesan terbuka kepada klan-klan kecil lainnya," Marco menyerahkan sebuah tablet.
Di layar, terlihat sebuah pesan singkat namun sangat provokatif: Klan Dirgantara telah menjadi lemah karena memelihara anjing polisi di dalam rumahnya. Waktunya bagi ular untuk mengambil alih takhta.
Mata Arkano menyipit, memancarkan aura membunuh yang seketika mendinginkan suhu ruangan. "Mereka pikir jatuhnya Hendra adalah tanda kelemahanku? Mereka pikir keberadaan Alana adalah beban bagiku?"
Alana merasakan ketegangan yang luar biasa. Ia tahu siapa klan Black Cobra. Mereka adalah klan rival paling brutal yang selama ini ditekan oleh kerja sama antara Hendra dan Arkano. Sekarang, dengan hilangnya Hendra, mereka merasa punya kesempatan untuk memberontak.
"Jangan biarkan mereka berpikir seperti itu," suara Alana tiba-tiba terdengar, tegas dan tanpa ragu. Ia menatap Arkano dengan keberanian yang baru. "Jika mereka menganggapku adalah kelemahanmu, maka biarkan aku yang menunjukkan pada mereka bahwa aku adalah senjata terkuatmu."
Arkano menatap Alana, ada binar kekaguman yang terpancar dari matanya. Ia menyeringai bangga. "Kau dengar itu, Marco? Nyonya Dirgantara ingin bermain."
"Apa perintah Anda, Tuan?" tanya Marco.
"Kumpulkan seluruh tim elit. Malam ini, kita tidak hanya akan menyerang balik. Kita akan melenyapkan pimpinan mereka dalam satu malam. Dan Alana..." Arkano menoleh pada istrinya. "...aku ingin kau yang memetakan posisi mereka. Tunjukkan pada mereka kenapa kau disebut Silent Cat."
Sore harinya, suasana di mansion berubah menjadi pangkalan militer yang sangat rapi. Alana duduk di meja barunya, jari-jarinya menari dengan cepat di atas keyboard. Ia sedang melacak sinyal satelit yang digunakan oleh klan Black Cobra untuk berkomunikasi.
Selama proses itu, Arkano selalu berada di dekatnya. Pria itu tidak banyak bicara, namun kehadirannya memberikan rasa aman yang aneh bagi Alana. Arkano sesekali mengusap pundak Alana atau membawakannya air minum, menunjukkan perhatian kecil di tengah persiapan perang.
"Dapat!" seru Alana. "Mereka tidak berada di gudang Sektor 4. Itu hanya umpan. Markas utama mereka berpindah ke sebuah kapal kargo yang sedang bersandar di dermaga tua. Mereka berencana melarikan diri ke perairan internasional jika serangan mereka gagal."
Arkano berdiri di belakang Alana, melihat titik koordinat yang berkedip di layar monitor. "Kerja bagus, Sayang. Dermaga tua itu adalah wilayah yang sangat sulit ditembus, tapi bukan hal yang mustahil bagi kita."
Arkano menunduk, mencium kening Alana dengan lembut namun lama. "Tetaplah di sini, di ruang kendali. Pantau pergerakan tim dari sini. Aku sendiri yang akan memimpin serangan ke kapal itu."
"Tapi Arkano, itu berbahaya! Pemimpin mereka, Victor, dikenal sangat licin," Alana menahan lengan Arkano.
Arkano menggenggam tangan Alana, menatapnya dengan penuh kepastian. "Aku adalah Arkano Dirgantara, Alana. Tidak ada ular yang bisa mematuk elang di udara. Tunggu aku kembali. Dan saat aku kembali, aku ingin kau menyambutku bukan sebagai tawanan, tapi sebagai ratu yang bangga pada rajanya."
Alana terdiam, ia hanya bisa mengangguk pelan. Ia melihat punggung Arkano yang menjauh bersama Marco dan puluhan pasukan elit lainnya. Di ruangan yang luas dan canggih itu, Alana menyadari bahwa hidupnya telah berubah sepenuhnya. Ia bukan lagi pengejar penjahat; ia adalah otak di balik kekuatan yang akan menguasai kota ini.
Dengan headphone di telinganya dan mata yang fokus pada layar, Alana mulai menjalankan perannya. "Tim A, bergerak ke arah jam dua. Ada musuh di dek bawah. Tim B, bersiap meledakkan mesin kapal dalam hitungan sepuluh detik..."
Suaranya tenang, instruksinya tepat. Di dalam hatinya, Alana tahu, badai baru saja dimulai. Tapi kali ini, ia tidak takut. Karena di atas badai itu, ada takhta yang sedang menunggunya.