Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Perintah Sang Suami: Jangan Terlambat!
Kamu tidak akan pergi ke mana pun tanpa pengawalan melekat, karena mulai saat ini ada perintah sang suami: jangan terlambat! Adrian mengucapkan kalimat itu dengan nada bicara yang sangat dingin sambil melemparkan sebuah jam tangan digital berwarna hitam ke atas meja kerja.
Lana menatap benda itu dengan perasaan yang sangat hancur karena ia menyadari bahwa setiap detik dalam hidupnya akan dihitung secara militer. Sosok pria di depannya tidak lagi terlihat seperti seorang suami, melainkan seorang komandan perang yang sedang memberikan instruksi mutlak.
Lana mencoba untuk memprotes namun tatapan tajam Adrian seolah mengunci bibirnya hingga ia hanya bisa berdiri terpaku di tengah ruangan. Ketegangan di dalam ruang kerja itu terasa sangat nyata hingga suara detik jam dinding terdengar seperti dentuman meriam yang sangat menakutkan.
"Kenapa Tuan harus mengatur hidup saya sampai sedalam ini, apakah saya tidak punya hak untuk bernapas lega?" tanya Lana dengan air mata yang mulai menggenang.
Adrian melangkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti saja sehingga Lana bisa mencium aroma maskulin yang sangat kuat. Ia mencengkeram dagu Lana secara perlahan namun penuh dengan penekanan yang membuat gadis itu terpaksa menatap matanya yang kelam.
Adrian tidak ingin memberikan kelonggaran sedikit pun karena ia tahu bahwa musuh sedang menunggu saat yang tepat untuk menyerang titik lemahnya. "Satu menit keterlambatanmu bisa berarti satu peluru yang bersarang di kepalamu, Lana," bisik Adrian dengan suara yang sangat parau.
Lana memejamkan mata karena ia tidak sanggup membayangkan ancaman maut yang baru saja diucapkan oleh suaminya sendiri dengan begitu tenang. Ia merasa seolah-olah sedang terjebak di dalam sangkar emas yang dipenuhi dengan ranjau darat yang siap meledak kapan saja.
Adrian melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan barisan pasukan yang sedang melakukan apel malam di halaman. "Sekarang pergilah ke dapur dan siapkan makan malam untuk saya sebelum jarum jam menunjukkan angka tujuh tepat," perintah Adrian tanpa menoleh.
Lana segera berlari keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara rasa marah dan juga rasa takut yang luar biasa hebat. Ia menuju area dapur yang sangat luas dan modern namun ia merasa sangat asing dengan semua peralatan masak yang ada di sana.
Selama ini ia hanya terbiasa memasak mie instan di rumahnya yang kecil, bukan hidangan mewah untuk seorang kolonel yang sangat pemilih. Waktu terus berjalan dengan sangat cepat sementara Lana kebingungan mencari bahan makanan di dalam lemari pendingin yang berukuran raksasa.
Ia mulai memotong bawang dengan terburu-buru hingga jarinya hampir saja tersayat oleh pisau yang sangat tajam dan berkilau itu. Keringat dingin mulai membasahi dahi Lana saat ia menyadari bahwa waktu yang diberikan oleh Adrian tinggal tersisa sepuluh menit lagi.
"Nyonya, apakah Anda membutuhkan bantuan kami untuk menyelesaikan masakan ini?" tanya seorang pelayan tua yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur.
Lana menggelengkan kepala dengan cepat karena ia teringat akan ancaman Adrian mengenai kepatuhan terhadap perintah yang bersifat mandiri. Ia tidak ingin memberikan alasan bagi Adrian untuk memberikan hukuman yang lebih berat lagi kepada dirinya yang sudah sangat menderita.
Dengan sisa tenaga yang ada, Lana mencoba untuk mengolah bahan yang tersedia meski hatinya masih terus bergetar hebat karena rasa cemas. Suasana dapur yang tadinya rapi seketika berubah menjadi sangat kacau dengan tumpahan bumbu dan juga bekas potongan sayuran yang berserakan di mana-mana.
Lana tidak mempedulikan penampilannya yang mulai kotor karena ia hanya fokus pada jarum jam yang terus bergerak menuju angka yang ditentukan. Ia merasa seperti sedang berada di tengah medan pertempuran untuk menyelamatkan martabatnya di depan sang perwira tinggi yang sangat disiplin.
Lana dan dapur yang berantakan menjadi pemandangan yang sangat menyedihkan saat Adrian tiba-tiba muncul di depan pintu dengan tangan yang bersedekap di dada.