Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Aksi Buntut-Membuntuti
Dion dan Kriss tidak semudah itu menyerah. Bagi mereka, keamanan ketat di Grand Signature justru menjadi bukti kuat bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Mereka memarkir mobil tua Dion di sebuah minimarket yang berhadapan langsung dengan pintu keluar parkir gedung tersebut.
"Gue yakin seribu persen, Kriss. Pak Jordan itu tipe yang bakal nganter 'barangnya' sendiri kalau dia ngerasa itu berharga," cetus Dion sambil menyipitkan mata ke arah gerbang.
"Kita lihat saja. Kalau benar Airin ada di dalam mobilnya, berarti teori Thea soal suara cowok itu benar," sahut Kriss sambil bersiap dengan kamera ponselnya.
Tak lama kemudian, sebuah SUV hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap keluar dari gedung. Itu mobil Jordan. Namun, mobil itu justru berbelok ke arah yang berlawanan dari kampus.
"Eh, kok ke sana? Kampus kan arah sebaliknya!" Dion buru-buru menyalakan mesin mobilnya dan mulai membuntuti dari jarak aman.
Kucing-Kucingan di Jalan Raya
Di dalam mobil, Airin duduk dengan gelisah di kursi belakang. Ia sesekali melirik Jordan yang duduk santai di sampingnya. "Jordan, sepertinya ada mobil yang mengikuti kita sejak tadi. Itu mobil Dion."
Jordan melirik ke kaca belakang, lalu memberikan kode singkat melalui tatapan mata kepada supirnya. Sang supir yang sudah sangat berpengalaman langsung mengangguk paham. Jordan tersenyum miring.
"Teman-temanmu itu gigih juga ya. Tapi mereka lupa kalau mereka sedang berhadapan dengan siapa," ucap Jordan tenang.
"Jordan, jangan macam-macam! Kalau mereka melihatku di sini, rahasia kita berakhir!" Airin mengerucutkan bibirnya cemas.
Melihat ekspresi panik Airin, Jordan justru merasa gemas. Di tengah kemacetan, ia memerintahkan supirnya untuk terus melaju, sementara ia sendiri mengulurkan tangan untuk mengusap pinggang Airin dengan lembut di balik dress bunganya.
"Tenanglah, sayang. Aku akan membuat mereka pusing sedikit," bisik Jordan. Ia kemudian merunduk dan mengecup pipi Airin berkali-kali, membuat Airin semakin kalang kabut.
"Jordan! Hentikan! Ada supirmu di depan!" seru Airin pelan sambil mendorong wajah Jordan.
Jordan hanya tertawa rendah. Ia tidak peduli pada supirnya yang kini pura-pura tuli dan fokus ke jalanan. Atas perintah Jordan, sang supir dengan lihai menginjak gas, melakukan manuver-manuver tajam di antara celah kendaraan yang mustahil diikuti oleh mobil tua Dion.
Kehilangan Jejak
"Woi! Gila! Supirnya Pak Jordan nyetir kayak pembalap F1!" teriak Dion kaget saat melihat SUV itu melesat lincah menyalip beberapa mobil sekaligus. Dion berusaha mengejar, namun mobilnya terhalang oleh sebuah truk besar.
"Hilang, Dion! Kita kehilangan jejak!" Kriss memukul dasbor mobil dengan kesal.
Dion mendesah frustrasi. "Fix, Kriss. Kalau mobil itu dibawa dengan cara se-agresif itu, berarti mereka emang lagi nyembunyiin harta karun paling berharga di dunia."
"Dan dalam kasus ini, harta karunnya adalah Airin," gumam Kriss.
Akses Rahasia
Sementara itu, atas arahan Jordan, supirnya memarkir mobil di sebuah gedung perkantoran lain milik Abraham Corp yang memiliki akses terowongan bawah tanah menuju kampus.
Sebelum Airin turun, Jordan menarik tangannya dan mencium punggung tangan gadis itu dengan penuh perasaan. "Hati-hati di kelas. Kalau Dion atau Kriss bertanya macam-macam, diam saja. Biar aku yang urus mereka nanti di jam kuliah."
Airin menatap Jordan dengan pandangan heran sekaligus kagum akan kelicikan pria ini. Ia mengangguk pelan, lalu keluar dari mobil dengan wajah yang kembali tenang, siap menjalani perannya sebagai mahasiswi biasa.