Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepentingan Bersama
"Gue boleh balik nggak sih? Gue udah bosen nangkring di rumah sakit. Harusnya boleh sih, orang kepala gue udah nggak apa-apa." Shahinaz menghela nafas lelah di taman rumah sakit yang sudah mulai sepi. Hari sudah mulai gelap, tapi dia tidak ada niatan untuk beranjak.
Semenjak ditinggal Kaendra pergi, dan Arsenio sepertinya tidak bisa terbangun dari tidurnya, Shahinaz memang memilih untuk berjalan-jalan. Dia keluar sendirian, membawa infus dengan hati-hati, lalu duduklah Shahinaz seorang diri di sini sekarang. Diam, termenung, memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan dengan tatapan kosong.
"Kayaknya cuaca dingin begini, enaknya makan mie." Shahinaz hendak menyandarkan kepalanya di bangku taman, namun tidak jadi ketika kepalanya mendadak terasa nyeri. "Gue juga pengin makan ayam sama nasi goreng buatan Mamah."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang pelan namun tegas terdengar mendekat kearahnya. Shahinaz menoleh, mendapati seorang laki-laki sudah yang tidak asing lagi dimatanya. Dia Dreven, datang dengan ekspresi dingin dan wajah yang sulit ditebak, apalagi dia menatap Shahinaz dengan tatapan tajam.
"Kamu lagi sakit, dan seharusnya nggak di sini juga kan? Hm." ujar Dreven dengan nada menyindir, meskipun ada sedikit kekhawatiran yang tersirat di balik itu.
Bayangkan, pikiran Dreven baru merasa lega setelah Mamahnya berhasil selamat dan kini sudah aman berada di Mansion. Lalu ketika dia kembali ke rumah sakit, Shahinaz tidak berada di atas tempat tidurnya, dia menghilang tanpa jejak sedikitpun. Arsenio saja sampai berjengit kaget, ketika Vincent membangunkannya dengan cara tidak manusiawi dan memberitahukan kesalahan fatalnya.
"Ekhhmm, maaf ya Dreven. Tapi jujur, aku bosen di rumah sakit, aku pengin pulang sekarang." balas Shahinaz, yang merasa sedikit takut dengan intimidasi dari Dreven, tetapi kali ini dia merasa tidak melakukan kesalahan. Sebaliknya, dia mengajukan diri untuk kembali ke rumah.
Dreven mengkode Shahinaz untuk segera berdiri, karena menggendong Shahinaz secara paksa pada situasi ini jelas tidak memungkinkan. Shahinaz sendiri cemberut kesal, padahal dia masih betah di sini dan belum ada niatan untuk beranjak juga. Kecuali kalau Dreven memperbolehkannya untuk pulang, Shahinaz pasti akan bersemangat detik ini juga.
"Aku ngerti kamu bosen, tapi nggak bisa sembarangan keluar ruangan kayak gini," jawab Dreven, nada suaranya tetap tegas, tapi kini ada nada lebih lembut yang menyelusup di antara kata-katanya. "Kalau kamu kenapa-kenapa di luar, gimana?"
Shahinaz menggigit bibirnya, menatap Dreven dengan ekspresi yang masih sedikit memberontak. Meski dalam hatinya dia tahu Dreven benar, dia belum terbiasa untuk hidup terkekang juga, "Dreven, aku nggak kenapa-napa kok. Cuma duduk di sini sebentar, ngelamun doang. Lagipula, aku kan bawa infusnya juga, jadi nggak bakal kenapa-napa."
Dreven menghela napas dalam, mencoba menahan kekesalannya yang muncul dari rasa khawatir. "Masalahnya kamu masih dalam perawatan, sayang. Dan kepala kamu itu masih bisa kambuh lagi kapan saja. Kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan di sini, siapa yang mau tanggung jawab?"
Shahinaz terdiam di tempat. Meski Dreven tidak satu kali dua kali memanggilnya sayang, tapi entah kenapa baru sekarang Shahinaz merasa sedikit tersipu dengan panggilan khusus itu. Namun Shahinaz langsung menggelengkan kepala dan menyadarkan dirinya sendiri, dia tidak akan mudah percaya dengan orang lain lagi.
"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Dreven ketika Shahinaz hendak berancang-ancang untuk menepuk kepalanya sendiri, namun segera ditangkap oleh Dreven, yang sudah paham dengan kebiasaan Shahinaz yang satu itu. "Jangan ngelukain diri sendiri kayak gitu lagi ya, aku nggak suka."
"Oke, maaaf. Aku nggak akan ngelakuin itu lagi. Tapi please, I want to go home now. "kata Shahinaz memohon, dia sudah mati kebosanan di rumah sakit ini, tidak ada yang bisa menarik perhatiannya sedikitpun, "Aku udah nggak apa-apa, kepala aku juga udah nggak sakit, infusnya juga sebentar lagi habis. Tolong izinin aku buat pulang ke rumah ya."
Dreven menatap Shahinaz dengan tatapan penuh pertimbangan. Dia bisa merasakan betapa Shahinaz sangat ingin pulang, bahkan sampai memohon seperti ini. Namun, rasa tanggung jawab dan kekhawatirannya membuat Dreven sulit untuk mengabulkan permintaan Shahinaz begitu saja. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Shahinaz hanya karena dia terlalu cepat memutuskan.
"Butuh aku tekankan, belum saatnya kamu pulang. Dokter masih harus memantau perkembangan luka di kepala kamu, jadi bertahan satu hari lagi di sini ya." jawab Dreven berusaha memberi pengertian lebih.
Shahinaz menghamburkan diri ke arah Dreven, bagaimanapun dia harus pulang sekarang juga. Dreven harus tau seberapa besar keinginannya untuk pergi dari sini.
"Sekali ini aja, aku janji bakalan nurut sama kamu. Please, kali ini aja." mohon Shahinaz sambil memeluk Dreven dengan hati-hati agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
"I can't, my dear."jawab Dreven yang membalas pelukan dari Shahinaz juga. Jujur, dia senang ketika Shahinaz sudah ada inisiatif untuk mendekat kepadanya.
"Please..."
Dreven menyerah, dia menghela napas pasrah.
Shahinaz sudah tidak bisa dibantah lagi, apalagi pelukan inisiatif dari Shahinaz juga membuat hatinya langsung melunak, dia tidak bisa berkutik apa-apa lagi ketika Shahinaz mengatakan bahwa gadis itu akan menurut kepadanya.
"Pulang ke Mansionku, mau?" tanya Dreven memastikan.
"Kok ke Mansion, ke rumahku sendiri lah!" protes Shahinaz cepat. Mana mau dia terjebak untuk kedua kalinya, ditempat yang sama pula.
"Kalau nggak, berarti kita bakalan tetep di rumah sakit." jawab Dreven final.
Shahinaz terdiam sejenak, merenungkan tawaran Dreven dengan hati-hati sekali lagi. Pulang ke mansion laki-laki itu? Jelas saja menolak keras untuk hal yang satu itu. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya lebih baik tinggal di Mansion Dreven untuk sementara waktu, daripada tinggal di rumah sakit, meskipun sebenarnya Shahinaz lebih ingin pulang ke rumahnya sendiri.
Tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang Dreven berikan kepadanya bukan? Jadi mau tidak mau Shahinaz harus memilih salah satu dari kedua opsi itu.
"Kalau itu satu-satunya cara buat bisa keluar dari rumah sakit. Ya udah, aku setuju." jawab Shahinaz pada akhirna, karena hanya itu satu-satunya jalan keluar baginya.
"Tadi obatnya udah di minum?" tanya Dreven sebelum mengajak Shahinaz untuk beranjak.
"Obat?" Shahinaz bahkan membenci obat selama dia hidup tepat di dunia sebelumnya.
Entahlah, jika itu Shahinaz dari dalam novel, gadis itu terlalu banyak menenggak obat anti-depresan secara berlebihan. Kesimpulannya, keduanya jelas berbeda kepribadian bukan?
"Udah diminum kan?" tanya Dreven sekali lagi.
"Mungkin udah, tapi entah, aku lupa." jawab Shahinaz sambil menyunggingkan senyumnya dan terkekeh pelan.
Dreven menghela napas, menyadari bahwa Shahinaz mungkin tidak terlalu memperhatikan kesehatannya sendiri. Ditambah terkuak fakta soal gangguan memori gadis itu tadi pagi, jadi Dreven menganggap jawaban Shahinaz barusaja benar-benar serius dan tidak ada unsur bercanda sama sakali.
"Ayo, kita periksa dulu. Kalau kamu belum minum obat, kita harus pastikan kamu mendapatkannya sebelum pulang juga." jawab Dreven berusaha untuk tidak menghakimi gadisnya lagi.
Dreven kemudian membantu Shahinaz berjalan dengan hati-hati, memastikan infusnya tetap terpasang dengan baik, kemudian membawa Shahinaz menuju ruang inapnya dulu. Arsenio dan Vincent, yang memang sejak tadi berpencar untuk mencari keberadaan Shahinaz, akhirnya bernapas lega setelah Shahinaz di depan matanya saat ini juga.
"Kamu tiduran dulu di sini, aku mau ke ruangan Dokter dulu," kata Dreven memberi perintah, dan dijawab anggukan pelan oleh Shahinaz. "Dan Vincent, ikut gue, sekalian tolongin ke ruang administrasi."
Vincent mengangguk, meninggalkan Arsenio yang ditatap tajam oleh keduanya sebelum mereka benar-benar pergi dari sana. Arsenio dengan mata bengkaknya, langsung berjalan menghampiri Shahinaz yang sudah tertidur nyaman di atas brangkarnya. Jantungnya masih berdebar kencang, ketika dibangunkan secara brutal belum lama tadi.
"Anjirrr, gue pikir lo kabur dari rumah sakit tau nggak Sha," keluh Arsenio sambil menghirup nafas sebanyak-banyaknya. "Tau nggak, gue hampir digantung, dihukum kebiri, hampir dimutilasi juga sama kedua cowok psikopat itu."
Arsenio duduk di samping brankar tempat Shahinaz tidur, terlihat masih terkejut dan sedikit panik yang cukup kentars. Ia terus mengeluh sambil mengingat kembali kejadian yang membuatnya sangat tertekan. "Gue bener-bener nggak tau harus bilang apa, Dreven nyeremin banget pas marah-marah tadi. Coba lo berpikir, gue juga hampir ngompol di celana tau!"
Shahinaz jadi melihat ke arah Arsenio dengan rasa bersalah sekarang, "Maaf ya, gue tadi udah bosen banget karena gue nggak bisa tidur. Kaendra pulang, jadi gue nggak ada temen buat ngobrol lagi. Makanya gue milih buat cari udara segar di luar, lo nggak bisa dibangunin soalnya."
Arsenio menganggukkan kepalanya, dia mengerti inti permasalahannya sekarang, "Gue ngerti kok Sha, gue juga salah karena ketiduran dan nggak bisa dibangunin. Tapi jangan sekali-kali lagi ya, gue nggak mau dimutilasi beneran."
"Sebegitu takutnya ya lo sama mereka, sampai panik begitu." lanjut Shahinaz.
Arsenio mengangguk singkat, "Takut banget, mereka kalau udah ngancem berarti beneran. Perlu lo ketahui, mereka nggak pernah main-main sama ucapannya sendiri tau. Ancaman sama dengan fakta."
Shahinaz akhirnya mengangguk tanpa ada niatan untuk menjawab lagi. Dia akan menunggu Dreven datang, dan membawanya pergi dari tempat membosankan ini secepatnya. Tidak sampai sepuluh menit, Dreven masuk bersama Dokter yang tadi sore sempat memeriksanya. Dia tersenyum singkat sebagai tanda menyapa.
Dokter memeriksa beberapa catatan medis, dia sedikit menyayangkan jika pasien istimewanya memaksa pulang hari ini, padahal kondisinya belum pulih dan masih harus diobservasi lebih dalam.
"Nona Shahinaz yakin, mau keluar dari rumah sakit hari ini juga?" tanya Dokter itu memastikan.
Shahinaz mengangguk sebagai jawaban, "Iya Dok, saya ingin pulang secepatnya."
"Baiklah, saya coba periksa sekali lagi ya. Jika memang kondisinya belum memungkinkan untuk pulang, saya tidak akan mengizinkan Nona untuk pergi dari rumah sakit hari juga." kata Dokter itu kemudian, pasrah saja dengan apa yang diinginkan oleh pasiennya.
Dokter itu memeriksa ulang Shahinaz dengan teliti, mulai dari memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, hingga memastikan luka di kepala Shahinaz dalam keadaan stabil. Shahinaz duduk dengan sabar, berusaha tetap tenang meskipun ia sangat ingin segera keluar dari rumah sakit.
Setelah beberapa saat, dokter menyudahi pemeriksaan dan kembali menatap Shahinaz dan akhirnya angkat bicara, "Nona Shahinaz, setelah pemeriksaan tambahan, saya masih merasa perlu untuk memantau kondisi Nona lebih lanjut. Luka di kepala Nona memang menunjukkan kemajuan, tetapi ada risiko kecil juga jika Nona pulang terlalu cepat."
Shahinaz menatap dokter dengan mata penuh harapan, "Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk bisa pulang hari ini?"
Dokter menghela napas. "Nona Shahinaz harus kembali ke rumah sakit setiap dua hari sekali untuk pemeriksaan lanjutan. Jika Nona setuju dengan jadwal ini dan mengikuti instruksi kami, maka saya akan mengizinkan Nona untuk pulang ke rumah Dreven."
Shahinaz merasa lega, meski tidak sepenuhnya luas, matanya tetap memancarkan wajah antusias di sana, "Oke, Dok. Saya akan patuh pada jadwal pemeriksaan. Terima kasih."
Dokter mengangguk. "Baiklah, pastikan Nona mematuhi semua petunjuk perawatan dan menjaga diri dengan baik. Jika ada perubahan kondisi atau Nona merasa tidak nyaman, segera hubungi kami kapan saja."
Dokter itu menatap Dreven sebentar, dan dijawab anggukan singkat oleh Dreven sendiri. Dia sudah mendengar secara langsung, jadi dia tidak akan meminta Dokter itu mengatakan hal yang sama seperti tadi.
"Dreven, pulang sekarang juga kan? Kata Dokternya boleh kok pulang hari ini." tanya Shahinaz yang dengan gerak cepat langsung mencabut infusnya secara paksa. Dan itu sukses membuat Dreven menatap tajam gadis itu untuk beberapa detik lamanya.
Shahinaz hanya memamerkan deretan giginya merasa tidak bersalah sama sekali. Sedangkan Dreven hanya bisa menghirup napas sebanyak-banyaknya, dia tidak ingin marah dan kelepasan melakukan hal yang tidak-tidak disaat kondisi Shahinaz masih belum baik-baik saja.
Dreven akan mengalah untuk kepentingan bersama!