NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17.Pandangan mereka.

Setelah berkeliling, akhirnya komandan Zhou mengajak mereka ke tempat istirahat mereka.

Dimana barak prajurit berada di sisi timur kamp, memanjang seperti deretan peti kayu besar yang disusun rapi menghadap lapangan latihan.

Dindingnya dari papan tebal yang sudah menghitam dimakan cuaca.

Atapnya rendah.

Udara di sekitarnya bau keringat, kulit, dan kayu basah.

Komandan Zhou berjalan di depan tanpa banyak bicara. Langkahnya berat tapi teratur. Yun Lan dan Yun mengikutinya dari belakang.

Beberapa prajurit yang berpapasan melirik mereka sekilas.

Lalu dua kali.

Lalu berbisik pelan.

Yun Lan bisa merasakan tatapan itu menempel di punggungnya seperti duri kecil.

Ia tidak peduli.

Ini bukan pertama kalinya ia diremehkan.

Dan bukan pertama kalinya orang akan menyesal setelahnya.

Zhou berhenti di depan pintu barak ketiga.

Ia mendorong pintu kayu itu tanpa mengetuk.

Pintu berderit panjang.

Di dalam, ruangan itu luas tapi sederhana.

Delapan dipan kayu berjajar di kiri dan kanan. Di tengah ada meja panjang kasar dengan bangku pendek. Beberapa senjata digantung di dinding. Helm dan pelindung dada berserakan di sudut.

Empat pria sedang duduk santai di sekitar meja.

Satu sedang mengasah pedang.

Satu bersandar sambil minum dari kendi.

Dua lainnya tertawa pelan membicarakan sesuatu.

Mereka menoleh bersamaan saat pintu terbuka.

“Komandan.”

Mereka berdiri hampir serempak.

Zhou masuk tanpa ekspresi.

“Duduk.”

Mereka duduk kembali, tapi mata mereka kini tertuju pada dua orang di belakang Zhou.

Yun Lan.

Dan Yun.

Keheningan turun pelan.

Bukan keheningan ramah.

Keheningan menilai.

Zhou menunjuk Yun Lan dengan dagunya.

“Ini prajurit baru. Namanya Li Yun Lan.”

Lalu ke Yun.

“Dan yang itu, Yun. Keduanya akan tinggal di sini mulai hari ini. Mereka satu barak dengan kalian.”

Empat pasang mata itu bergerak dari Yun Lan ke Yun.

Lalu kembali ke Yun Lan.

Perutnya.

Wajahnya yang tembem.

Lalu ke Yun.

Kulitnya yang putih.

Wajahnya yang terlalu halus.

Tangan yang tidak terlihat seperti tangan orang yang pernah memegang tombak dan pekerja kasar.

Salah satu dari mereka—pria berambut ikal dengan bekas luka di pipi—mendengus pelan.

Dia adalah Xin, ketua dari kamp tempat Yun lan dan Yun berada.

“Siapa mereka komandan?. ”

“Dia adalah Yun lan dan Yun, sekarang mereka adalah teman sekamar kalian. ”

Zhou melanjutkan, nada suaranya datar.

“Mereka belum pernah ikut latihan kamp. Perlakukan mereka seperti prajurit baru lainnya. Tidak ada perlakuan khusus.”

Ia menoleh pada Yun Lan.

“Besok pagi, ikut latihan subuh.”

“Baik, komandan.”

Zhou memandang mereka beberapa detik lagi.

Lalu berbalik keluar.

Pintu tertutup.

Dan keheningan di dalam ruangan berubah.

Bukan lagi hening hormat.

Tapi hening yang mengandung penilaian kasar.

Pria berbekas luka di pipi meletakkan pedangnya pelan, yang bernama Shi.

Matanya menyipit menatap Yun Lan.

“Jadi ini pengganti kamu anah baru?”

Nada suaranya datar.

Tapi jelas meremehkan.

Yang meminum dari kendi tertawa pelan.

“Jangan hanya badan saja besar, tapi tenaganya seperti kertas yang di hempas oleh angin.”

Teman sekamar Yun lan dan Yun menertawakan sindiran Shi itu.

Dan yang lain menyeringai.

Yun berdiri di belakang Yun Lan, diam.

Sangat diam.

Sampai-sampai keberadaannya terasa seperti bayangan yang aneh.

Salah satu dari mereka—pria bertubuh besar dengan kepala plontos—berdiri dan berjalan mendekat.

Ia berhenti tepat di depan Yun Lan.

Lebih tinggi satu kepala.

Memandanginya dari atas ke bawah.

“Kau pernah pegang pedang?”

“Pernah,” jawab Yun Lan tenang.

Lalu Shi menyahut. “Bukan pedang tapi sumpit, ha... ”ejeknya sambil tertawa terbahak-bahak.

Pria itu mendengus.

“Pernah angkat beras di dapur ibumu, mungkin.”

Tawa kecil terdengar.

Lalu pandangan mereka pindah ke Yun.

Dan ekspresi mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih meremehkan lagi.

Yang meminum kendi menyipitkan mata.

“Dan yang ini… seperti pria di rumah bordil?”

“Rumah bordil,” sahut yang lain.

Pria berambut ikal bangkit.

Mendekat.

Berhenti sangat dekat di depan Yun.

Menatap wajahnya.

“Wajah seperti ini masuk kamp perang…”

Ia tertawa pelan.

“…mau jadi penghibur prajurit, ya?”

Yun tidak bereaksi.

Tidak marah.

Tidak tersinggung.

Tidak menunduk.

Hanya menatap balik.

Tenang.

Kosong.

Dan itu justru membuat pria itu sedikit tidak nyaman.

“Tatapanmu aneh,” gumamnya.

Yun tersenyum kecil.

Senyum yang terlalu tenang.

“Aku mudah belajar.”

Pria itu tertawa keras.

“Belajar apa? Cara memegang tombak atau cara menangis saat pertama kali lihat darah?”

Yun Lan melangkah satu langkah maju.

Tidak agresif.

Tapi cukup untuk berdiri sejajar Yun.

“Kami akan belajar,” katanya.

Nada suaranya tetap datar.

“Dan kami tidak akan merepotkan kalian.”

Yang plontos menyeringai.

“Kau sudah merepotkan kami hanya dengan berdiri di sini.”

Yun Lan tidak membalas.

Ia memperhatikan ruangan.

Delapan dipan.

Empat sudah terisi.

Empat kosong.

Ia berjalan ke salah satu dipan kosong di sudut.

Meletakkan tasnya pelan.

Yun mengikuti tanpa suara.

Empat pria itu saling pandang.

Merasa seperti diabaikan.

Dan itu membuat mereka sedikit kesal.

“Namaku Xin,” kata pria berbekas luka di pipi tiba-tiba.

Nada suaranya tidak ramah.

“Tiga itu Shi, Han, dan Qiao.”

Yun Lan mengangguk.

“Aku Li Yun Lan.”

“Dan si cantik itu Yun,” kata Shi sambil menyeringai.

Yun hanya membungkuk sedikit.

Han duduk bersandar.

“Kalian berdua kelihatan tidak pernah tidur di lantai kayu sebelumnya.”

Qiao menambahkan, “Besok pagi, kalian akan muntah sebelum matahari naik.”

Yun Lan duduk di dipannya.

“Jangan lihat fisik kita,tapi biarkan kami kesempatan untuk membuktikan nya.”

Kalimat itu membuat Xin mengerutkan alis.

Ia tidak menemukan nada takut di sana.

Tidak juga nada sombong.

Aneh.

Terlalu tenang.

Shi menatap Yun lagi.

Lama.

“Kalau kau terluka, darahmu pasti keluar sedikit saja. Terlalu putih.”

Yun tersenyum tipis.

“Dasar manusia sombong,kita buktikan besok siapa yang lemah.”

Tawa kecil lagi.

Tapi tawa itu tidak lagi sekeras tadi.

Karena entah kenapa…

Dua orang baru ini tidak terlihat terintimidasi.

Tidak marah.

Tidak tersinggung.

Tidak takut.

Dan itu terasa… mengganggu.

Beberapa saat kemudian, mereka kembali ke aktivitas masing-masing.

Tapi sesekali, mata mereka melirik Yun Lan dan Yun.

Menilai.

Mengukur.

Mencari-cari kelemahan.

Sementara Yun Lan duduk diam.

Merasakan tekstur kayu di bawahnya.

Mendengar suara kamp di luar.

Dan di dalam dadanya…

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Bukan takut.

Bukan gugup.

Tapi perasaan seperti berdiri tepat di awal jalan yang pertama mereka.

Dengan pengalaman pertama Yun lan sebagai prajurit.

Yun duduk di dipan sebelahnya.

Berbisik sangat pelan.

“Jika aku punya kekuatan,aku jadikan mereka seperti debu.”

“Dewa,kamu banyak berkhayal.sekarang kamu harus sadar kamu itu sekarang hanya manusia biasa,” jawab Yun Lan pelan. “Kita sabar saja,jangan hiraukan mereka.”

Yun tersenyum kecil.

“Tapi tanganku ini gatal ingin menghajar mereka.”

Yun lan hanya menepuk pundak Yun dengan pelan.

Malam turun perlahan.

Dan di dalam barak itu…

Empat prajurit lama, dan dua prajurit baru.

Berbagi ruang yang sama.

Dengan jarak yang jauh lebih lebar dari sekadar dipan kayu.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!