NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Terakhir

Raisa tertegun. Ia teringat kontrak yang ia tandatangani. Identitasnya sebagai istri Arash harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik dan staf kantor demi keamanan posisi Arash dari paman-pamannya.

"Tidak, Pak—maksudku, Vino. Aku single," jawab Raisa dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski ia merasa seperti baru saja menelan duri. "Tidak ada siapa-siapa."

Vino terdiam sejenak, lalu matanya tertuju tepat pada jemari Raisa. "Lalu, cincin itu? Itu bukan sekadar perhiasan biasa, kan? Desainnya sangat spesifik, menyerupai koleksi eksklusif yang biasanya dipesan untuk ... pernikahan."

Raisa refleks menarik tangannya ke bawah meja, menyembunyikan cincin itu di balik lipatan bajunya. "Ini ... ini hanya warisan dari ibuku. Beliau bilang aku harus memakainya agar selalu merasa terlindungi. Ini bukan cincin pertunangan atau apa pun."

Vino mengangguk perlahan, namun kecurigaan masih membekas di raut wajahnya. "Begitu ya? Maaf kalau aku terlalu ingin tahu. Hanya saja, cincin itu tampak sangat pas di jarimu, seolah memang dibuat khusus untukmu."

"Hanya kebetulan," elak Raisa cepat. Ia melirik jam di ponselnya. "Maaf, Vino, sepertinya kita harus segera kembali. Pak Arash ... dia sangat ketat soal waktu, dan aku tidak ingin mendapat masalah lagi."

Kembali ke Kantor.

Langkah kaki Raisa setengah berlari saat memasuki area kubikelnya. Ia sampai tepat satu menit sebelum batas waktu yang diberikan Arash berakhir. Namun, langkahnya terhenti saat ia tiba di depan mejanya.

Matanya membelalak tak percaya.

Mejanya yang tadinya rapi kini terkubur di bawah gunungan map biru dan cokelat. Tumpukannya begitu tinggi hingga menutupi layar monitor komputernya. Ada sekitar lima kotak arsip besar yang diletakkan di lantai tepat di samping kursinya.

Di atas tumpukan paling tinggi, terdapat sebuah memo kuning dengan tulisan tangan Arash yang tajam dan miring.

"Karena kau punya waktu luang untuk 'rapat informal' yang tidak berguna, aku yakin kau punya energi ekstra untuk merapikan seluruh laporan audit fisik dari lima tahun terakhir. Harus selesai sebelum kau pulang malam ini. Dan ingat, kau pulang bersamaku, jadi kecepatanku adalah kecepatanmu."

Raisa menghela napas panjang, air mata nyaris tumpah karena rasa lelah yang luar biasa. Ini bukan lagi sekadar pekerjaan; ini adalah hukuman. Arash sedang menyiksanya karena rasa cemburu yang dibalut dengan profesionalisme palsu.

Tepat saat itu, pintu ruangan CEO di lantai atas terbuka. Arash berdiri di balkon koridor yang menghadap langsung ke arah kubikel Raisa. Ia berdiri dengan angkuh, menatap ke bawah dengan tangan terselip di saku jasnya. Mata mereka bertemu. Arash memberikan satu anggukan kecil yang sangat tipis, seolah-olah sedang memberikan aba-aba bagi seorang budak untuk mulai bekerja.

Raisa duduk di kursinya dengan kasar, menyambar map pertama dengan penuh amarah. Ia tahu, malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, dan perjalanan pulang nanti akan menjadi babak baru dari neraka yang ia ciptakan sendiri sejak mencium pria itu di ruang rapat.

***

Lampu-lampu kantor di lantai administrasi mulai meredup secara otomatis saat waktu menunjukkan pukul tujuh malam, menyisakan pencahayaan tugas di meja Raisa yang tampak seperti pulau kecil di tengah lautan dokumen. Raisa memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Setiap kali ia menyelesaikan satu map, rasanya tumpukan itu justru bertambah secara ajaib.

"Ini keterlaluan," sebuah suara rendah yang penuh ketidaksenangan memecah kesunyian.

Raisa mendongak dan menemukan Vino masih di sana, berdiri dengan tangan di pinggang sembari menatap tumpukan dokumen itu dengan dahi berkerut tajam. Ia tidak lagi mengenakan jas, hanya kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.

"Vino? Kenapa belum pulang?" tanya Raisa, suaranya terdengar serak karena kelelahan.

"Bagaimana aku bisa pulang kalau melihat temanku dihukum seperti ini?" Vino melangkah mendekat, menarik sebuah kotak arsip dari lantai dan meletakkannya di atas meja kosong di samping Raisa. "Ini bukan lagi pekerjaan administratif, Raisa. Ini pembersihan gudang data lima tahun terakhir. Pak Arash benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya."

"Vino, jangan ... nanti kalau dia dengar—"

"Biar saja dia dengar!" potong Vino tegas. Ia membuka salah satu map dan mulai memilah kertas. "Aku akan membantumu. Kalau kita kerjakan berdua, setidaknya jam sepuluh kita bisa keluar dari gedung ini. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan kerja paksa ini sendirian."

Raisa merasa matanya panas. Di tengah sikap dingin Arash yang mencekik, bantuan Vino terasa seperti oase. "Terima kasih, Vino. Tapi ini benar-benar banyak sekali."

"Kita cicil pelan-pelan," ujar Vino lembut, ia memberikan senyum penyemangat yang membuat Raisa merasa sedikit lebih tenang.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan selama beberapa detik.

Suara pintu ruang CEO yang terbanting di lantai atas bergema di seluruh ruangan yang sunyi. Langkah kaki yang berat dan terukur menuruni tangga darurat dengan irama yang mengancam. Arash muncul dari balik bayangan koridor lantai atas, wajahnya tampak lebih gelap dari malam di luar jendela.

Ia tidak berjalan, ia menerjang. Atmosfer di sekitar Raisa mendadak terasa tersedot habis saat Arash berdiri hanya satu meter dari meja mereka.

"Vino," suara Arash sangat rendah, sebuah geraman yang mengandung otoritas mutlak yang berbahaya. "Apakah aku melewatkan memo bahwa kau sudah dimutasi ke divisi pengarsipan?"

Vino berdiri tegak, tidak gentar menghadapi tatapan mematikan bosnya. "Saya hanya membantu rekan kerja yang sedang dizalimi oleh tumpukan pekerjaan yang tidak masuk akal, Pak Arash."

"Dizalimi?" Arash tertawa pendek, sebuah tawa yang kering dan tanpa rasa humor. Ia melirik Raisa—tatapan yang begitu tajam hingga Raisa merasa seolah kulitnya teriris—lalu kembali menatap Vino. "Di perusahaan ini, aku yang menentukan apa yang masuk akal dan apa yang tidak. Dan membantu seseorang menyelesaikan hukumannya ... itu artinya kau sedang menentang keputusanku."

"Hukuman?" Vino menyela dengan nada berani. "Jadi Anda mengakui bahwa ini adalah hukuman? Untuk apa, Pak? Karena dia makan siang dengan saya? Atau karena dia punya kehidupan di luar kendali Anda?"

Ketegangan di antara kedua pria itu mencapai titik didih. Arash melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di depan Vino. Arash jauh lebih tinggi dan memiliki aura yang jauh lebih mengintimidasi.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di antara aku dan wanita ini, Vino," desis Arash, suaranya hanya setingkat di atas bisikan namun terdengar sangat mengerikan. "Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku di bawah kedok 'profesionalisme'. Sekarang, ambil tasmu dan keluar dari gedung ini sebelum aku memecatmu karena pembangkangan."

"Arash, cukup!" Raisa berdiri, tangannya gemetar hebat. "Jangan bawa-bawa Vino ke dalam masalah ini. Ini urusan kita!"

Arash menoleh perlahan pada Raisa. Matanya berkilat dengan amarah, kecemburuan, dan rasa frustrasi yang bercampur menjadi satu. "Urusan kita? Kau baru saja mengatakannya di depan dia, Raisa? Kau ingin dia tahu betapa 'dekatnya' urusan kita?"

Raisa terdiam, menyadari ia hampir saja membongkar rahasia mereka.

Arash kembali menatap Vino. "Keluar. Sekarang. Ini peringatan terakhir."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!