Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA YANG HAMPIR TERBONGKAR
Beberapa minggu setelah pertemuan kembali, Rafi sering mengunjungiku setelah sekolah. Kadang kita pergi ke taman, kadang ke perpustakaan, atau hanya duduk di depan rumahku berbincang seperti dulu.
Mama sudah mulai menerima keberadaannya dan bahkan kadang menyediakan makanan untuknya saat dia datang.
“Hari ini kita akan pergi ke kampung ya, Caca,” ujar Rafi dengan senyum ceria saat dia datang menjemputku setelah sekolah. “Mama sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanmu dan tidak sabar untuk melihatmu lagi.”
Aku merasa sangat senang dan langsung berlari masuk rumah untuk mengambil tas kecil yang sudah kukemas sebelumnya.
Di dalamnya ada beberapa oleh-oleh kecil yang aku beli untuk Mama Lila dan Pak Bara.
Perjalanan ke kampung terasa sangat cepat karena kita begitu banyak cerita yang ingin kita ceritakan satu sama lain.
Rafi memberitahu aku bahwa taman kecil tempat kita dulu sering bermain sekarang sudah direnovasi dan menjadi lebih indah.
Dia juga mengatakan bahwa anak-anak di kampung masih sering bercerita tentang acara ulang tahun Pak Bara yang kita rencanakan dulu.
Saat kita sampai di rumah Rafi, Mama Lila langsung berlari keluar dan memelukku erat-erat. Air mata bahagia mengalir di pipinya saat dia melihatku dengan penuh cinta.
“Kamu sudah tumbuh menjadi gadis cantik ya, Caca,” ujarnya dengan suara penuh emosi. “Aku sangat merindukanmu!”
“Kamu juga tetap cantik seperti dulu, Mama Lila,” jawabku dengan senyum lebar. “Aku juga sangat merindukanmu dan Pak Bara.”
Pak Bara keluar dari dalam rumah dengan senyum lebar dan mengulurkan tangannya untuk menyambutku. “Selamat datang kembali, Caca. Kampung tidak pernah sama tanpa kehadiranmu.”
Mereka mengajakku masuk ke dalam rumah yang kini terlihat lebih hangat dan nyaman dari sebelumnya. Tidak ada lagi penjaga yang berdiri di setiap sudut ruangan, dan suasana rumah terasa jauh lebih tenang dari dulu.
“Kita sudah melakukan banyak perubahan sejak kamu pergi, Caca,” ujar Pak Bara sambil menyajikan teh hangat untukku. “Kita sekarang menjalankan bisnis properti dan usaha kuliner yang benar-benar hukum. Tidak ada lagi masalah dengan kelompok mafia lain karena kami sudah keluar dari semua bisnis yang tidak baik.”
Aku merasa sangat lega mendengarnya. Akhirnya keluarga Rafi bisa hidup dengan damai dan tenang seperti yang mereka inginkan.
Kita makan malam bersama dengan sangat meriah. Mama Lila memasak semua makanan kesukaan kita, dan kita berbincang tentang segala hal yang telah terjadi selama lima tahun yang lalu.
Setelah makan malam, Rafi mengajakku ke taman belakang yang sudah direnovasi. Ada kolam ikan kecil dan taman bermain kecil yang dibuat untuk anak-anak di kampung.
“Kita bisa bermain kejaran-kejaran lagi seperti dulu ya,” ujar Rafi dengan senyum.
Kita mulai berlari dan tertawa seperti anak-anak kecil lagi. Namun saat kita sedang bersenang-senang, kita melihat sosok seorang pria yang sedang berdiri di dekat gerbang rumah dengan wajah yang tidak dikenal. Dia melihat kita dengan ekspresi yang sulit dibaca dan kemudian mulai berjalan menjauh.
“Siapa itu?” tanyaku dengan sedikit khawatir.
Rafi mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepala. “Aku tidak tahu. Mungkin hanya orang yang tersesat saja. Jangan khawatir ya, sekarang sudah aman di sini.”
Keesokan paginya, aku sedang membantu Mama Lila di dapur saat mendengar suara Pak Bara berbicara dengan nada yang serius di ruang tamu.
Aku menyelinap dan mendengar bahwa orang yang kita lihat kemarin malam adalah anggota dari kelompok mafia lama yang dulu pernah mengganggu keluarga mereka.
“Mereka tahu bahwa Caca kembali dan sekarang mereka ingin menggunakan dia untuk mengancam kita lagi,” ujar Pak Bara dengan suara yang penuh kemarahan. “Kita harus segera mengirim Caca pulang dan menjaga dia dengan lebih ketat.”
Aku merasa seperti dunia sedang runtuh lagi. Kenapa selalu ada orang yang ingin menyakitiku hanya karena aku berteman dengan Rafi? Aku tidak bisa lagi menahan air mata dan keluar dari balik pintu dengan menangis.
“Kenapa mereka selalu ingin menyakitiku, Pak?” tanyaku dengan suara yang menggigil. “Aku hanya ingin hidup damai dan berteman dengan Rafi saja!”
Pak Bara melihatku dengan wajah yang penuh kesedihan dan menarik aku ke pangkuannya. “Aku tahu, sayang. Tapi mereka tidak peduli dengan itu. Bagi mereka, kamu adalah target yang mudah untuk menyakiti keluarga kami.”
“Tapi aku tidak mau pergi lagi, Pak!” aku menangis lebih deras. “Aku baru saja menemukan Rafi kembali dan aku tidak ingin lagi dipisahkan darinya!”
Rafi yang baru saja masuk ke dalam rumah segera mendekat dan memelukku. “Kita tidak akan memisahkanmu lagi, Caca. Aku akan melindungimu dengan segala cara yang aku bisa. Kita akan menemukan cara untuk mengatasi masalah ini tanpa harus menjauh dari satu sama lain.”
Mama Lila datang dan menyatukan kita dalam pelukan. “Kita adalah keluarga besar, dan keluarga harus saling melindungi satu sama lain. Kita tidak akan menyerah begitu saja. Kita akan menemukan cara untuk mengatasi semua ini bersama-sama.”