Hangga menatap gadis kecil di hadapannya,
" bunda sedang tidak ada dirumah om.. ada pesan? nanti Tiara sampaikan.." ujar gadis kecil itu polos,
Hangga menatapnya tidak seperti biasanya, perasaan sedih dan bersalah menyeruak begitu saja, mendesak desak di dalam dadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bis
Rani sudah menunggu bis di halte,
sudah tiga puluh menit ia berdiri, tapi bis tak kunjung datang juga.
Tak lama sebuah motor berhenti,
seseorang membonceng Hangga.
" Terimakasih Nar, titip kebun..!" Hangga menepuk bahu Sunar lalu turun dari motor.
" Nggih mas," jawab Sunar lalu segera pergi dengan motornya.
Rani tentu saja kaget melihat kehadiran Hangga di halte bis, untuk apa dia kesini, pikir Rani.
" Syukurlah aku tidak terlambat.." ujar Hangga berdiri disamping Rani.
" Sedang apa kau disini?!" tanya Rani tak habis pikir, bagaiman bis laki laki itu tau kalau dirinya berangkat hari ini dan sedang menunggu bis, apa dia menyuruh orang mengikuti Rani?.
" Sedang menunggu bis lah.. Memangnya di halte mau apa?" jawab Hangga santai.
" Mana mobilmu?, mimpi apa kau naik bis?"
" sedang ingin naik bis, tidak boleh?" hangga menatap Rani yang rupanya sedang terheran heran dan menahan diri agar tidak marah di hadapan orang orang yang juga sedang menunggu bis.
" kau ini kenapa sih?! Pergi sana!" suara Rani ketus setengah berbisik.
Hangga tersenyum saja, mengabaikan apa yang di katakan Rani,
ia tetap berdiri disamping Rani.
Tak lama bis datang,
" Boyo boyo!!" mendengar itu semua orang di halte buru buru naik, termasuk Rani dan Hangga.
Rani duduk disamping jendela, dengan sigap Hangga duduk disamping Rani.
" ini bis cepat?" tanya hangga yang mungkin belum pernah naik bis itu.
" tentu saja,"
" baguslah, jadi lewat tol kan?"
" kenapa? turunlah mumpung masih belum jalan bisnya?!"
" kenapa aku harus turun? ada kau disini.." jawab Hangga menyandarkan kepalanya di kursi.
" Siapa yang memberitahumu kalau aku ke surabaya hari ini?" tanya Rani karena penasaran.
" Lho? Mana aku tau kau ke surabaya hari ini?"
" jangan omong kosong..!"
" kau ini marah marah terus tidak capek?"
" kau mengikutiku? Menyuruh orang?!"
" buat apa? kau itu jangan berburuk sangka,
aku memang mau pulang ke surabaya, dan kebetulan mobilku sedang servis dan belum kuambil.." ucap Hangga dengan senyum tipisnya.
" Ngapusi.. ( bohong )" ujar Rani,
" lho? Kok ngapusi.." Hangga lagi lagi tersenyum lalu memejamkan matanya, tapi tak lama ia membuka matanya kembali,
" buka AC nya, panas.." ujarnya lirih di telinga Rani, sontak Rani merasa geli, ia menutup telinganya dan menoleh ke kanan dan kiri, untung saja tidak ada yang menatapnya, semua orang sedang sibuk dengan dirinya sendiri, kalau tidak, betapa malunya dia akan apa yang di lakukan Hangga.
Sepanjang perjalanan Hangga benar benar tidur tenang, kepalanya bahkan bersandar dengan santainya di bahu Rani sesekali.
Rani yang kikuk benar benar tidak bisa tenang sama sekali, jangankan menutup mata seperti lainnya, bergerak saja dia susah karena hangga menempel disampingnya.
Di lirik laki laki yang sedang bersandar di bahunya itu.
Ada perasaan hangat yang mengalir melihat hidung yang mancung dan bibir yang tipis itu.
Rambut yang masih saja sama bau pomadenya meski tujuh tahun berlalu, sungguh tidak ada yang berubah selain Hangga yang lebih agresif sekarang.
satu jam lebih setengah berlalu,
bis sudah sampai di terminal bungurasih.
mendengar suara kondektur, yang menyampaikan pemberhentian terakhir hangga bangun.
" Sudah sampai?" tanyanya dengan ciri khas orang yang baru bangun tidur.
" maaf, aku tidak bisa tidur semalam, jadi ketiduran.." ujar Hangga bangkit dari duduknya.
Rani Turun, di ikuti hangga di belakangnya.
" kau mau naik apa kerumah?" tanya Hangga,
" ojek online." jawab Rani
" aku juga kalau begitu, tapi aku tidak punya aplikasinya," hangga terus mengikuti langkah Rani.
" Kau naik taksi saja."
" tidak mau, aku naik ojek juga sepertimu.."
mendengar itu Rani menghela nafas,
" kau bukan anak TK, pergilah sana!"
" aku akan pergi setelah kau naik.." ujar Hangga tetap mengikuti langkah Rani.
" Hangga?!" Rani menghentikan langkahnya,
" tolong.. " ujarnya dengan suara pelan,
mendengar itu hangga terdiam cukup lama.
" Pulanglah.. Hati hati.." hangga membiarkan Rani berjalan, dan tidak mengikutinya lagi.
Di tatapnya punggung mantan istrinya itu, sampai punggung itu menghilang diantara orang orang.
Hermawan sedang duduk membaca koran saat ia melihat seseorang turun dari motor.
" Terimakasih mas..?" ujar si ojek online setelah menerima uang dari Hangga.
Dengan langkah tenang hangga berjalan masuk ke halaman rumahnya yang cukup panjang.
" Lho??!" Hermawan kaget melihat putranya,
" mana mobilmu??" tanya laki laki yang rambutnya sudah di penuhi uban itu.
" Di malang," jawab Hangga,
" rusak?"
" tidak,"
" lalu kenapa kau naik ojek?"
" tidak boleh?" hangga berjalan melewati papanya begitu saja dan masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah mamanya menyambutnya,
" lho? kau pulang? Padahal kami mau kesana?" ujar ibunya mencium pipi putranya.
" Untuk apa?"
" habisnya, kau tidak pulang pulang?"
" sekarang kan sudah pulang ma?" hangga duduk di ruang tengah,
" kau kelihatan lelah sekali, lihat rambutmu acak acakan.." mamanya memperhatikan rambut yang biasanya tersisir rapi itu terlihat kurang Rapi.
" aku ketiduran di bis.." jawab Hangga merebahkan dirinya kembali di sofa,
" Kau? Naik bis? Kenapa?" sekarang mamanya yang heran,
" tidak apa apa.. Aku hanya ingin menemani seseorang.." jawab Hangga membuat mamanya mendekat dan duduk tak jauh darinya.
" Temanmu? Siapa? Laki laki? Perempuan?" tanya mamanya penasaran.
" Perempuan.." jawab Hangga pelan.
Mendengar ucapan Hangga wajah mamanya sumringah,
" kapan kau bawa kerumah, kenalkan pada kami nak?" tanya mamanya bersemangat.
Belum Hangga menjawab, Hanum keluar dari persembunyiannya di teras samping.
" Tidak boleh membawa siapapun kerumah!" suara Hanum mendekat.
Hangga menatap adiknya itu, mamanya ikut menatap Hanum.
" pokoknya aku tidak akan setuju..!" imbuh Hanum.
" Apa sih bocah..!" gerutu Hangga bangkit.
" Capek, mau tidur.." ujarnya berjalan menuju kamarnya semasa bujang.
Tapi Hanum mengejar langkahnya.
" Tidak bertanya padaku kenapa?"
" tidak," jawab hangga acuh.
" Aku bertemu dengan mbak Rani beberapa minggu yang lalu,"
langkah Hangga terhenti, ia berbalik menatap adiknya.
" Nah kan.." ucap Hanum tersenyum lebar,
" Mangkannya, jangan pulang membawa perempuan lain.." imbuh Hanum.
" Ketemu dimana?" akhirnya Hangga bertanya,
" di tempat makan dekat kampusnya dulu,"
" Dia menyapamu?"
" aku yang menyapanya duluan, tapi dia sedang makan dengan seorang laki laki,"
" saudaranya mungkin,"
" bukan, dia memperkenalkan padaku sebagai temannya,"
Hangga terdiam sejenak,
" ganteng?" tanya hangga kemudian,
" hemm.. Lumayan ganteng sih.."
mendengar jawaban adiknya hangga diam, di lanjutkan lagi langkahnya.
.....