Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.
Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.
Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.
Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.
Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam
***
Begitulah awal mula persahabatan mereka berempat. Hingga akhirnya mereka naik ke kelas dua, mereka masih sering berkumpul. Sekarang Dimas dan Dian di kelas lain. Sementara Ardian dan Rindu di kelas yang sama. Mereka juga duduk sebangku. Hubungan persahabatan mereka banyak di nilai anak-anak lain berlebihan. TTM (teman tapi mesra). Tanpa ada yang tau telah bahwa sebenarnya Rindu menaruh hati pada Ardian.
Dimas dengan kekonyolannya. Ardian yang selalu peduli dengan ketiga temannya. Yang lebih sering mengeluarkan biaya jika mereka keluar bersama. Dian yang sedikit centil dan selalu ceplas-ceplos, dan Rindu yang biasanya kalem kini menjadi lebih terbuka.
Prinsip Rindu yang masih tidak suka dengan pria genit, masih ada. Jika ada yang sengaja mendekati Rindu, Ardian dan Dimas akan maju lebih dulu menghadang. Mereka berempat membuat perjanjian, tidak ada yang boleh berpacaran, karena ingin puas-puas bermain bersama. Jika ada salah satu dari mereka yang pacaran, otomatis hubungan mereka akan renggang.
Jam istirahat di kantin.
"Wooiii ...!"
Bahu Rindu di tepuk seseorang. Ponsel di tangannya terlempar ke udara.
"Aaaauuu, sialan kamu, Dim! Bisa nggak, jangan ngagetin. Jantung aku belum di asuransi tau! Kamu mau tanggung jawab? Jantung kamu jadi jaminan ya."
Rindu melepas earphone di telinganya. Walaupun sudah berteman selama setahun, Rindu lebih nyaman berbicara menggunakan kata 'aku dan kamu'. Jadi jika teman-teman dekatnya bicara padanya harus di ganti aku kamu, kalau memanggil 'Lo dan Gue' seperti yang lain Rindu akan marah.
"Diihhh ... ngeri amat kamu, Rindu! lagian masih muda kok jantungan."
"Yang namanya penyakit itu bisa datang kapan aja. Mau muda atau tua nggak bisa lari kemana-mana. Gak ada yang bisa lari dari takdir."
"Iya, iya ... bawel." Dimas mengalah pada Rindu. Memang tidak ada yang bisa menandingi Rindu dalam hal perdebatan, dia pasti akan selalu menang.
"Rin, sendirian aja kamu, Ardi mana?" Dimas telah duduk di hadapan Rindu.
"Gak tau tu anak, tadi dia keluar duluan. Akhir-akhir ini dia mulai aneh tau nggak."
"Aneh? Aneh kenapa?" tanya Dimas penasaran.
"Sepertinya Ardian lagi naksir cewek. Kalau masuk kelas sering telat, pulang juga nggak pernah mau bareng lagi. Aku pernah nggak sengaja lihat dia lagi chatting sama cewek. Tapi nggak tau siapa."
"Ermmm, bisa jadi, aku juga jarang bareng dia akhir-akhir ini. Emang dia belum cerita sama kamu?"
"Nggak. Eh, Dim, gimana kalau pulang sekolah kita ikuti dia. Kita cari tau anak kelas mana yang dia taksir."
"Boleh, boleh tuh ... ajak Dian sekalian."
"Ok, sebelum ke kantin tadi, Dian ke toilet dulu, bentar lagi juga sampai."
"Ya udah, aku mau gabung sama temen sekelas dulu di sana," tunjuk Dimas ke sudut belakang kantin.
"Haaahhh, ya udah sana-sana, gangguin orang lagi enak-enak dengar lagu aja," usir Rindu mengibaskan tangannya.
Dimas menggeleng dan berlalu pergi. Terkadang sahabatnya yang satu ini suka ngeselin kalau ngomong. Dimas sudah biasa dengan kelakuan Rindu yang kadang manis kadang galak. Dimas juga hapal kalau Rindu paling gak suka diganggu saat dengerin lagu. Anak itu biasanya akan fokus mendengar dan menghafal liriknya.
Di sudut belakang Kantin. Dimas duduk bergabung dengan Bram dan Teo teman sekelasnya.
"Woiii, Dim. Di tungguin dari tadi," sapa Teo.
Dimas melakukan gerakan mengadu tinju kepada Teo dan Bram. "Hem ... gue nemuin Rindu dulu di sana."
"Jadi gimana? Rindu mau?"
"Hah, mau? Mau apaan?"
"Haadehhh ... masalah band kita! Kan mau ajak dia jadi vokalisnya," Bram menepuk jidatnya.
"Aduuhhh ... gue lupa tanya," Dimas menggaruk lehernya, padahal tidak gatal.
"Gimana sih lo, kapan bisa mulainya ini." sambung Teo.
"Iya, iya maaf ... entar pulang sekolah gue tanyain. Sekarang gue lapar, mau makan dulu."
"Awas lo, kalau lupa lagi. Gue pecat Lo jadi orang."
"Wiidiihhh ... siapa elo, dalaman tokek!" Dimas tertawa terbahak-bahak diikuti Bram. Kemudian dia pergi memesan makanan. Teo mendengus kesal.
"Teo, lo yakin, Mau ngajak Rindu jadi vokalis band kita?" tanya Bram.
"Yakinlah ... gue udah pernah dengar suara dia, bweee ... bagus banget. 11 12 lah sama Agnes Mo."
"Yang bener lo, penasaran gue," ucap Bram.
"Lo harus dengar dia nyanyi. Suaranya itu benar-benar bisa bikin lo candu. Kayak ada 'magic-nya' gitu."
"Heemmm." Bram mengangguk-angguk.
"Gue yakin kalau Rindu ikut gabung, band kita akan sempurna. Gue berniat mau masuk ke industri hiburan melalui band ini. Apalagi Rindu kan cantik pasti banyak yang suka."
"Bener, gue juga mau terkenal. Jadi Artis enak kali ya."
"Yaeellahhh … lo jangan pikirin enaknya dulu, Bram. Proses kita itu masih panjang, butuh banyak perjuangan. kalau lo kuat lo bakalan sampai di titik akhir. Tapi kalau lo menyerah semua usaha lo bakal sia-sia."
"Okelah ... gue siap berjuang."
Lalu mereka melakukan tos.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak bergegas merapikan meja mereka. Setelah salam perpisahan dengan guru, mereka berlarian keluar dari ruangan kelas. Rindu membersihkan mejanya dengan cepat. Sekilas dia melirik Ardian di bangku paling belakang. Gelagat Ardian memang semakin aneh, Rindu telah dibuat kesal oleh Ardian. Sekali lagi Rindu di tinggal tanpa pamit, seolah mereka tidak saling kenal. Rindu mengeluarkan ponsel dari tas.
"Dim, Ardi sudah keluar, Lo siap-siap, Cepetan."
"Ok."
Kemudian Rindu mengetik pesan ke Dian.
"Dian, kamu dimana?"
"Masih di kelas."
"Buruan keluar, si Ardi udah keluar,
sialan tu anak, aku di cuekin lagi."
"Haha ... sabar bu. Kita tangkap bareng-bareng. Berani-beraninya dia selingkuh."
"Dihhh … apaan, emang aku pacarnya?"
"Hehe ... emang bukan, cinta terpendam iya."
"Huusss rahasia. Awas kamu kalau sampai ada yang tahu."
"Iya … iya aku paham."
Rindu dan Dian menyusul Dimas yang sudah keluar duluan. Mereka menuju kafe dekat sekolah. Kafe biasa tempat mereka nongkrong. Dimas menunggu di luar cafe, sedangkan Ardian sudah masuk bersama seorang perempuan. Benar saja, Ardian ternyata pacaran diam-diam di belakang mereka. Penghianatan pertama, padahal jika Ardian berkata jujur mereka juga tidak akan melarang. Toh sudah setahun mereka bersahabat, tidak ada alasan lagi untuk melarang berpacaran.
"Dim, gimana?" tanya Rindu setelah sampai di dekat cafe. Dian mencoba mengintip ke dalam cafe.
"Ardi di dalam sama cewek," jawab Dimas.
"Jadi gimana, anak kelas mana ceweknya?" tanya Dian tidak sabar.
"Kelas 2-2, namanya Dania, selera Ardi boleh juga, cantik."
"Wweee ... dasar cowok, matanya cuma bisa lihat yang bening." Rindu dan Dian memukul lengan Dimas bersamaan.
"Aaduuhhh ... kasar amat sih cewek dua ini. Di mata aku itu, kalian yang paling cantik," goda Dimas menaik turunkan alisnya.
"Syukurin ... nggak usah nge-gombal segala lo, buruan masuk!" kata Dian ketus.
Mereka pun masuk dengan santai, berpura-pura tidak melihat Ardian di dalam sana. Mereka jalan beriringan sambil tertawa-tawa. Sengaja untuk menarik perhatian Ardian yang sedang pacaran.
***
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
..