Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Aslan berjalan cepat meninggalkan area pelabuhan bersama Kiko. Kabut tipis yang menyelimuti dermaga membantu menyembunyikan siluet mereka dari patroli kota.
"Tuan Rave, apakah kita akan langsung menuju Gudang Timur?" tanya Kiko dengan suara pelan.
"Tidak. Terlalu berisiko jika kita bergerak tanpa persiapan matang di malam hari. Kita butuh tempat untuk memetakan rute pelarian terlebih dahulu," jawab Aslan sambil terus memantau keadaan sekitar.
[Sistem: Pemindaian area selesai. Terdeteksi penginapan kelas rendah di sektor pemukiman kumuh. Tingkat pengawasan militer: Minimal.]
Aslan mengikuti petunjuk sistem dan membawa Kiko ke sebuah bangunan tua di ujung jalan. Setelah membayar beberapa koin perunggu kepada pemilik penginapan yang tampak acuh tak acuh, mereka masuk ke dalam kamar yang sempit.
"Kiko, ceritakan padaku tentang Gudang Sektor Empat. Siapa yang biasanya bertugas di sana?" tanya Aslan.
"Gudang itu milik pemerintah pusat, Tuan. Biasanya dijaga oleh tentara dari ibu kota, bukan prajurit lokal Baron Krow. Mereka sangat disiplin dan tidak bisa disuap," Kiko menjelaskan dengan serius.
Aslan duduk di tepi tempat tidur dan memejamkan mata. Di dalam pikirannya, antarmuka sistem mulai menampilkan cetak biru bangunan gudang yang ia kumpulkan dari data visual selama perjalanan tadi.
[Sistem: Mengaktifkan Algoritma Prediksi Taktis. Kereta logistik akan tiba dalam 72 jam. Persentase keberhasilan sabotase langsung: 45%. Rekomendasi: Gunakan kekacauan dari turnamen bawah tanah sebagai pengalih perhatian.]
"Turnamen kualifikasi besok malam akan menjadi kunci. Aku akan membuat keributan di arena agar fokus penjagaan beralih," ucap Aslan pada dirinya sendiri.
"Tetapi Tuan, Anda akan melawan Jax. Dia bukan petarung biasa. Orang-orang bilang dia bisa membunuh lawannya tanpa menyentuh senjata," Kiko memperingatkan dengan wajah cemas.
Aslan membuka matanya kembali. Tatapannya terlihat sangat dingin dan penuh perhitungan.
"Justru itu tujuanku. Jika aku bisa mengalahkan orang sepertinya dengan cepat, otoritas pelabuhan akan menganggap ada ancaman besar di sektor bawah tanah. Mereka akan mengirim pasukan tambahan ke sana dan mengurangi penjagaan di gudang logistik," jelas Aslan.
Ia mengambil secarik kertas kosong dan mulai menggambar rute pelarian dari gudang menuju dermaga tikus. Tangannya bergerak sangat presisi berkat bantuan sinkronisasi saraf.
"Besok pagi, pergilah ke pasar. Cari tahu jam berapa pergantian shift penjaga di Sektor Empat. Jangan sampai kau terlihat mencurigakan," perintah Aslan.
"Baik, Tuan Rave. Saya tidak akan mengecewakan Anda," Kiko mengangguk mantap.
Aslan kemudian merebahkan tubuhnya. Ia harus memastikan kondisi fisiknya dalam keadaan prima sebelum menghadapi Jax dan menjalankan rencana sabotase batu inti cadangan milik Kael.
[Sistem: Memasuki mode istirahat aktif. Sinkronisasi saraf tetap terjaga di level 25%. Deteksi ancaman radius 20 meter diaktifkan.]
Matahari mulai naik saat Kiko kembali ke penginapan dengan napas tersengal. Aslan sudah berdiri di dekat jendela, mengamati pergerakan patroli di bawah sana.
"Tuan Rave, saya sudah mendapatkan informasinya. Pergantian shift terjadi tepat saat lonceng tengah malam berbunyi," lapor Kiko.
"Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk pergantian itu?" tanya Aslan tanpa menoleh.
"Sekitar sepuluh menit. Selama waktu itu, pintu belakang gudang hanya dijaga oleh dua orang prajurit yang biasanya mengantuk," jawab Kiko dengan yakin.
Aslan mengangguk puas. Sepuluh menit adalah waktu yang lebih dari cukup bagi seseorang dengan bantuan sistem saraf untuk menyusup dan memasang peledak pada kereta logistik.
Malam yang dijanjikan akhirnya tiba. Aslan berjalan menuju arena bawah tanah dengan mengenakan pakaian hitam ketat dan penutup wajah. Kiko berjalan di belakangnya, membawa tas kecil berisi perlengkapan medis darurat.
Suara sorak-sorai penonton terdengar memekakkan telinga saat mereka memasuki ruang utama arena. Di tengah lubang besar yang berfungsi sebagai panggung, Jax berdiri tegak dengan belati panjangnya yang mengilat terkena cahaya obor.
"Petarung nomor tujuh puluh empat, Rave, silakan naik ke arena!" teriak si Hidung Bengkok dari atas mimbar.
Aslan melompat masuk ke dalam arena dengan gerakan yang sangat ringan. Jax menatapnya dengan senyum meremehkan, sementara jari-jarinya memainkan gagang belati.
[Sistem: Memulai analisis tempur real-time terhadap subjek: Jax. Status: Agresif. Titik lemah terdeteksi pada persendian bahu kanan akibat luka lama.]
"Kau terlihat sangat percaya diri untuk orang yang akan segera mati," ujar Jax dengan nada mengejek.
"Aku tidak datang ke sini untuk bicara," balas Aslan singkat.
Jax tiba-tiba melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Belatinya mengarah tepat ke arah leher Aslan, namun sang pangeran hanya menggeser kakinya sedikit ke samping.
[Sistem: Prediksi lintasan serangan terkonfirmasi. Menghindar ke kiri efektifitas seratus persen.]
Aslan menangkap lengan Jax dan menggunakan momentum lawan untuk membantingnya ke dinding batu arena. Suara hantaman keras membuat penonton mendadak terdiam.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Jax sambil berusaha berdiri kembali dengan wajah penuh kemarahan.
"Aku adalah orang yang akan membuat seluruh pasukan di kota ini sibuk mulai malam ini," ucap Aslan pelan agar hanya Jax yang mendengarnya.
Ia melepaskan tekanan psikologis dari sistem sarafnya dengan kekuatan penuh. Jax yang tadinya penuh amarah tiba-tiba merasa lututnya lemas dan napasnya menjadi sesak.
[Sistem: Tekanan mental mencapai batas maksimal. Kepercayaan diri target menurun drastis. Saatnya melakukan serangan penentu.]
Aslan meluncurkan serangan balik dengan presisi yang mematikan. Ia menghantam saraf bahu kanan Jax dengan dua jari, menyebabkan belati lawan terlepas ke lantai arena. Sebelum Jax sempat bereaksi, Aslan memberikan tendangan keras ke ulu hati yang membuat petarung itu jatuh tidak sadarkan diri.
"Pemenangnya adalah Rave!" teriak si Hidung Bengkok dengan nada terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
Kekacauan mulai pecah di tribun penonton. Aslan tidak menunggu upacara kemenangan. Ia segera melompat keluar arena dan memberi isyarat kepada Kiko untuk bergerak.
[Sistem: Aktivitas militer terdeteksi bergerak menuju arena. Penjagaan Gudang Sektor Empat berkurang sebesar tiga puluh persen sesuai prediksi.]
"Sekarang, Kiko. Bawa aku ke jalan pintas menuju gudang," perintah Aslan sambil berlari menembus gang-gang gelap.
Mereka tiba di tembok belakang Gudang Sektor Empat tepat saat lonceng tengah malam mulai berdentang. Seperti yang dilaporkan Kiko, dua penjaga di sana tampak sibuk menguap dan memperhatikan keributan yang terdengar dari arah arena di kejauhan.
"Tunggu di sini. Jika kau melihat obor biru menyala dari jendela atas, segera pergi ke dermaga," bisik Aslan.
Aslan memanjat tembok dengan bantuan kait besi kecil. Ia bergerak seperti bayangan di antara tumpukan peti kayu yang besar. Sistem sarafnya memberikan peringatan setiap kali ada detak jantung manusia yang mendekat.
[Sistem: Deteksi batu inti terkonfirmasi. Lokasi: Peti besi di dalam kereta logistik ketiga. Pengamanan: Kunci sandi mekanis tipe empat.]
Aslan mendarat di atas gerbong kereta yang dimaksud. Ia mengeluarkan alat kecil untuk memanipulasi mekanisme kunci sementara sistem mulai menghitung algoritma kombinasi sandi.
"Hanya tiga menit lagi sebelum shift baru tiba," gumam Aslan sambil menatap pintu gudang yang mulai bergerak terbuka di kejauhan.