NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Antara Pupuk dan Peluru"

Rea melangkah pelan menuju kamar Galen yang pintunya sedikit terbuka. Ia melongokkan kepalanya ke dalam, melihat Galen yang sedang duduk di kursi kebesaran sambil membaca beberapa dokumen (yang Rea kira hanyalah daftar pesanan pupuk atau tanaman).

"Paman... bosnya di mana? Rea belum lihat dari tadi, mau kenalan," tanya Rea sambil menghampiri Galen.

Galen segera menutup dokumen strategis organisasinya. "Tidak ada di rumah, Rea. Sedang pergi ke luar negeri dalam waktu lama," jawabnya datar, memberikan alasan paling aman agar Rea tidak terus bertanya.

"Ohhh, lama ya? Berarti Paman yang jaga rumah besar ini sendirian? Keren banget Paman dipercaya begitu," Rea manggut-manggut. Ia kemudian duduk di karpet dekat kaki Galen, wajahnya berubah sedikit serius. "Ee... Paman, Rea mau tanya. Sebenarnya waktu pertama kita ketemu, kenapa Paman bisa terluka parah begitu? Itu ulah siapa? Apa rampoknya sudah ditangkap?"

Galen terdiam sejenak. Ingatannya kembali ke malam pengkhianatan itu, di mana peluru hampir menembus jantungnya. Namun, menatap wajah polos Rea yang menatapnya penuh simpati, ia tidak mungkin menceritakan tentang baku tembak antar mafia.

"Tidak ada, Rea. Hanya masalah kecil di jalanan," jawab Galen singkat sambil mengusap kepala Rea dengan canggung. "Sudah, jangan diingat lagi. Lebih baik kau kembali ke kamar dan tidurlah, ini sudah malam."

Rea merengut kecil karena merasa Galen masih merahasiakan sesuatu, tapi ia tetap patuh. "Ya sudah, Paman juga jangan begadang ya. Nanti sakit lagi, Rea yang repot. Selamat malam, Paman Senior!"

"Selamat malam, Rea," bisik Galen menatap kepergian Rea. Begitu pintu tertutup, tatapannya langsung berubah dingin dan tajam. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Leon. "Leon, cari tahu sisa-sisa kelompok yang menyerangku malam itu. Bersihkan semuanya sebelum Rea melihat sisi lain dari 'Paman' ini."

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar kamar Rea. Ia segera mandi dan bersiap dengan riang. Saat sedang menyisir rambutnya, terdengar ketukan pintu yang tegas.

"Masuk!" seru Rea.

Pintu terbuka, dan Galen melangkah masuk. Rea hampir menjatuhkan sisirnya saat melihat penampilan pria itu. Galen mengenakan setelan jas hitam custom-made yang sangat mewah, lengkap dengan jam tangan yang berkilau mahal. Auranya terlihat sangat berwibawa dan kuat, jauh dari kesan tukang kebun.

"Rea, hari ini saya ada urusan dan tidak ada di rumah sampai malam," ucap Galen dengan suara rendahnya.

Rea berkedip berkali-kali, menatap Galen dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ohh... iya Paman," jawabnya pelan, masih terpesona.

"Ayo, sarapan dulu di bawah. Semuanya sudah disiapkan," ajak Galen sambil berbalik menuju pintu.

Rea mengikuti dari belakang sambil terus memperhatikan punggung tegap Galen. Wihh... kok bisa gitu ya? Cuman tukang kebun tapi pakai jasnya keren banget, melebihi bos-bos di kantor yang pernah Rea lihat, batin Rea heran. Mungkin di rumah ini, tukang kebun senior memang harus pakai seragam jas kalau mau lapor soal tanaman ke kantor pusat?

Sesampainya di ruang makan, meja sudah penuh dengan hidangan lezat. Leon berdiri di sana, juga dengan setelan rapi.

"Paman, apa bapak asisten tukang kebun itu juga harus pakai jas?" bisik Rea pada Galen saat mereka duduk.

Galen berdeham, mencoba menahan diri agar tidak terlihat canggung. "Iya, Rea. Hari ini kami ada rapat penting... mengenai pemilihan jenis pupuk terbaru di gedung pusat."

"Wahhh, hebat banget! Ternyata urusan rumput saja sampai harus rapat pakai jas ya," gumam Rea polos sambil mulai menyantap sarapannya dengan lahap, membuat Leon yang mendengar hal itu hampir tersedak air putih.

Galen dan Leon melesat meninggalkan mansion dengan mobil sport hitam yang melaju kencang. Mereka menempuh perjalanan cukup jauh hingga sampai di sebuah gedung beton raksasa yang tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan pemukiman warga. Gedung itu dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata di setiap sudutnya.

Begitu pintu mobil dibukakan, Galen turun dengan langkah angkuh. Aura "Tukang Kebun Senior" yang ia tunjukkan di depan Rea hilang seketika, berganti menjadi sosok penguasa dunia bawah yang mematikan.

"Wahhh, selamat pagi, Tuan Galen!" sapa salah satu petinggi organisasinya dengan membungkuk sangat rendah.

Galen hanya mengangguk singkat, tatapannya sedingin es. Ia melangkah masuk ke dalam ruang rapat yang luas di mana seorang pria bernama Marko sudah menunggu dengan wajah pucat. Marko adalah salah satu pimpinan cabang yang baru saja tertangkap melakukan korupsi dana organisasi.

"Bagaimana, Tuan Marko?" tanya Galen sambil duduk di kursi kebesaran, menyilangkan kakinya dengan tenang namun sangat mengintimidasi.

"Tu-Tuan... tolong beri saya kesempatan. Saya bisa jelaskan soal hilangnya uang itu," ucap Marko terbata-bata dengan keringat dingin mengucur.

Galen tidak berniat mendengarkan penjelasan panjang lebar yang membosankan. Ia menatap Leon, memberikan kode bahwa ia tidak ingin membuang waktu.

"Lanjutkan," ucap Galen singkat pada anak buahnya untuk mengeksekusi hukuman, lalu ia berdiri kembali. "Terserah bagaimana cara kalian membereskannya. Aku tidak punya banyak waktu untuk sampah seperti dia."

Galen berjalan keluar ruangan, pikirannya tiba-tiba terlintas pada Rea. Di tengah dunia gelap yang penuh darah ini, hanya bayangan gadis mungil yang polos itu yang bisa membuatnya ingin segera pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!