Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 "Cemburu versi Zivaniel"
Ancaman Varla menggantung di udara bahkan setelah pintu ruang makan tertutup rapat.
Cherrin masih bisa merasakannya—seperti tangan tak kasatmata yang menekan tengkuknya, membuat napasnya tidak sepenuhnya lega. Ia menunduk, memandangi telur di piringnya yang kini terasa hambar meski belum sepenuhnya disentuh.
Zivaniel duduk di sampingnya, diam.
Ia tidak menyentuh makanannya lagi. Hanya duduk dengan punggung lurus, satu tangan bertumpu di meja, matanya menatap lurus ke depan—namun seluruh perhatiannya tertuju pada gadis di sampingnya. Ia bisa melihat getaran halus di jari-jari Cherrin saat memegang garpu. Bisa merasakan ketegangan di bahunya.
“Makan pelan,” ucapnya rendah, hampir berbisik. “Nggak ada yang ngejar.”
Cherrin mengangguk, meski matanya masih menunduk. Ia memaksa dirinya menelan suapan demi suapan, hanya agar Zivaniel tidak memandangnya dengan ekspresi yang semakin gelap.
Beberapa menit kemudian, mereka berdiri dan meninggalkan ruang makan. Mereka akan siap-siap berangkat ke sekolah.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah siap dengan seragam yang melekat di tubuh mereka. Tas ransel sudah ada di bahu mereka masing-masing.
Mereka berjalan bersampingan keluar rumah.
Lorong mansion terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah Cherrin terasa berat, seperti ia berjalan menuju sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya—namun ia tahu satu hal pasti: tanpa Nenek Serra, hari-hari ke depan akan menjadi lebih keras.
Di depan pintu utama, mobil hitam sudah menunggu.
Supir membuka pintu belakang.
Zivaniel berhenti sejenak sebelum masuk. Ia menoleh pada Cherrin.
“Kamu duduk di sini,” katanya singkat, menunjuk kursi di sebelahnya, bukan di seberang.
Cherrin menurut.
Mobil melaju meninggalkan gerbang besi de Luca yang megah—dan untuk pertama kalinya pagi itu, Cherrin menghembuskan napas lebih panjang.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar datang.
Sekolah berdiri seperti biasa—bangunan besar dengan halaman luas, dipenuhi siswa berseragam rapi. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki memenuhi udara. Dunia yang terlihat normal. Dunia yang seolah tidak peduli pada apa yang terjadi di balik gerbang mansion de Luca.
Mobil berhenti.
Zivaniel turun lebih dulu, lalu menunggu Cherrin keluar. Tatapan siswa lain segera tertuju pada mereka—bisik-bisik halus muncul, seperti selalu.
“Itu Zivaniel de Luca…”
“Yang itu kan Cherrin?”
“Kok mereka bisa berangkat bareng sih…”
"Ih nggak adil. Gue yang setiap hari mimpi bisa satu mobil sama Niel."
"Aaa, hati adek potek bang!!"
"Zivaniel kayaknya udah nggak jomblo lagi!!"
"Ketua OSIS datar kita udah punya pacar!!!"
Beberapa dari mereka merengek iri, walaupun ada yang kesal melihat itu.
Cherrin menunduk refleks.
Namun Zivaniel berjalan sedikit lebih dekat—cukup dekat hingga bayangannya menutupi tubuh Cherrin dari pandangan samping. Tidak menyentuh. Tidak menggenggam. Tapi posisinya jelas.
Ia melindungi.
“Kita pisah di sini,” katanya pelan. “Aku ada rapat OSIS.”
Cherrin mengangguk. “Makasih… udah berangkat bareng.”
Zivaniel menatapnya beberapa detik terlalu lama.
“Hari ini,” ucapnya, “kalau ada apa-apa, kamu cari aku.”
“Walaupun kamu kelihatan sibuk?”
“Terutama kalau aku kelihatan sibuk.”
Cherrin tersenyum kecil—senyum yang lelah, tapi tulus.
“Iya.”
Zivaniel berbalik dan pergi.
Namun meski langkahnya menjauh, matanya tidak sepenuhnya meninggalkan Cherrin. Dari kejauhan, dari sela-sela kerumunan, ia tetap memperhatikannya—seperti bayangan yang setia mengikuti.
Di kelas, Cherrin duduk di bangku dekat jendela. Temannya Icha hari itu tidak datang ke sekolah, karena sakit. Dan Cherrin tidak punya teman lainnya. Ia memang cukup tertutup, dan tidak terlalu banyak mengobrol dengan teman sekelas yang lainnya.
Hari berjalan lambat.
Guru menjelaskan pelajaran, kapur menari di papan tulis, suara halaman buku dibalik terdengar berulang. Namun pikiran Cherrin tidak sepenuhnya di kelas. Kata-kata Varla terus berputar di kepalanya.
Kamu libur sekolah hari ini.
Bersyukur masih boleh tinggal di sini.
Ia mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Cher?”
Ia tersentak.
Seorang siswa laki-laki berdiri di samping bangkunya. Rambutnya cokelat terang, senyumnya ramah. Namanya Elran—teman sekelas yang cukup populer, selalu bersikap baik, dan terlalu sering memperhatikan Cherrin akhir-akhir ini.
“Kamu kelihatan pucat,” katanya. “Nggak apa-apa?”
Cherrin berkedip, lalu mengangguk cepat. “Iya. Cuma capek aja.”
“Elran, duduk!” tegur guru dari depan.
Elran mengangkat tangan sedikit, lalu berbalik. Namun sebelum pergi, ia berbisik, “Nanti istirahat bareng, ya?”
Cherrin ragu. “Aku—”
Tapi Elran sudah berjalan kembali ke bangkunya.
Dari koridor luar kelas, sepasang mata gelap menyaksikan semuanya.
Zivaniel berdiri bersandar di dinding, map OSIS di tangannya tak lagi penting. Rahangnya mengeras. Sesuatu di dadanya berdenyut pelan—perasaan yang ia kenali, namun selalu ia tolak.
Cemburu.
Ia tidak bergerak.
Tidak masuk kelas.
Tidak menghampiri.
Ia hanya menunggu.
Saat jam istirahat tiba, Cherrin keluar kelas dengan langkah ragu. Elran sudah menunggunya di dekat loker.
“Kantin?” tawarnya.
Cherrin melirik sekeliling. Ia tidak melihat Zivaniel. Entah kenapa, perasaan tidak aman menyusup.
“Boleh,” katanya akhirnya.
Mereka berjalan bersama.
Elran banyak bicara—tentang tugas, tentang guru yang galak, tentang klub basket. Cherrin hanya menanggapi seperlunya, pikirannya terpecah antara sopan santun dan rasa bersalah yang tak jelas.
Mereka duduk di bangku luar kantin.
Elran menyerahkan minuman padanya. “Ini. Kamu suka teh lemon, kan?”
Cherrin terkejut. “Kok kamu tau?”
Elran tersenyum. “Icha pernah bilang.”
Senyum itu tulus.
Cherrin terkekeh lucu. "Aku baru ingat, kalau kamu satu kompleks perumahan sama Icha."
Elran menatap wajah cantik itu – terpesona jelas tentu.
"Tapi aku nggak pernah lihat kamu kalau aku lagi main di rumah Icha." Ucap Cherrin lagi membuat Elran mengerjap.
"Oiya itu. Aku... Emm aku jarang di rumah. Sering main k rumah temen. Btw kalau kamu main lagi ke rumah Icha, singgah aja. Aku pasti di rumah kok."
Mereka lanjut mengobrol,
Namun dari kejauhan, tangan Zivaniel mengepal.
Ia berdiri di lantai dua gedung utama, menatap ke bawah. Setiap tawa kecil Cherrin—yang jarang, tapi ada—terasa seperti sesuatu yang menusuk perlahan.
Ia ingin turun.
Menarik Cherrin pergi.
Mengatakan jangan dekat-dekat dia.
Namun ia tidak melakukan apa pun.
Karena ia tahu.
Ia tidak punya hak.
Cherrin bukan miliknya.
Ia hanya… menjaga.
“Elran,” ucap Cherrin pelan setelah beberapa menit. “Makasih, tapi… aku harus ke perpustakaan.”
“Oh,” Elran terlihat sedikit kecewa, namun tetap tersenyum. “Oke. Nanti ketemu lagi.”
Cherrin berdiri dan pergi.
Ia tidak tahu bahwa dari balik pilar, Zivaniel menghela napas panjang—napas yang ia tahan sejak awal.
Di perpustakaan, Cherrin duduk sendirian.
Sunyi.
Aman.
Beberapa menit kemudian, kursi berderit pelan, seseorang duduk di kursi seberangnya.
Zivaniel.
Ia tidak bicara. Hanya membuka buku, berpura-pura membaca.
Cherrin menatapnya. “Kamu ngikutin aku?”
“Tidak,” jawabnya datar. “Aku memang ke sini.”
Cherrin hampir tersenyum.
Mereka duduk dalam diam.
Namun kehadiran Zivaniel seperti dinding tak terlihat—menenangkan, kokoh, dan penuh ketegangan yang tidak pernah diucapkan.
Zivaniel meliriknya sekilas.
“Dia terlalu dekat,” katanya tiba-tiba.
Cherrin terkejut. “Siapa?”
“Elran.”
“Oh…” Cherrin menunduk. “Dia cuma temen.”
Zivaniel mengangguk.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Namun di dalam dadanya, ia tahu satu hal dengan pasti.
Ia tidak suka Cherrin berdekatan dengan pemuda manapun..