Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Punggung yang Menolak Menoleh
Kereta kerang raksasa itu bergerak perlahan meninggalkan gerbang Bale Sokawati. Kali ini, tidak ada hentakan mendadak atau kecepatan yang memburu seperti saat keberangkatan. Naga-naga laut yang menariknya berenang dengan ritme yang tenang, seolah mereka sedang membawa jenazah, bukan pahlawan yang baru saja menang.
Sekar duduk bersimpuh di atas jok beludru merah yang basah. Tangannya mencengkeram erat kunci tulang pemberian Ratu Kidul. Kunci itu terasa dingin, membekukan telapak tangannya hingga ke tulang, tapi Sekar tidak berani melepaskannya barang sedetik pun.
"Perjalanan naik bakal lebih berat daripada pas turun tadi, Nduk," suara Simbah terdengar samar dari kursi kusir di depan. Punggung bungkuk lelaki tua itu terlihat tegang. Sisik-sisik di kulitnya meremang. "Di bawah sini, air itu jujur. Tapi semakin dekat ke permukaan, air mulai bercampur dengan keinginan manusia. Jadi keruh. Jadi... banyak omong."
Sekar mengangguk pelan, meski Simbah tidak melihatnya. "Saya ingat pesan Gusti Ratu, Mbah. Jangan menoleh."
"Bagus. Ingat, Nduk, setan laut itu pintarnya bukan main. Mereka tidak akan menakut-nakutimu dengan wajah seram. Itu cara kuno. Mereka akan memanggilmu dengan suara yang paling kamu rindukan."
Kereta mulai mendaki kolom air yang gelap. Cahaya hijau dari istana dasar laut perlahan meredup di bawah sana, digantikan oleh kegelapan abadi zona twilight.
Satu menit pertama, hening. Hanya suara gelembung udara yang pecah.
Menit kedua, Sekar mulai mendengarnya.
"Sekar..."
Suara itu lirih, seperti bisikan angin di sela-sela daun bambu.
Sekar menajamkan telinganya, meski hatinya berteriak untuk menutup segala indera.
"Nduk... Eyang haus..."
Jantung Sekar mencelos. Itu suara Eyang Sumi. Suaranya serak, kering, persis seperti saat neneknya sedang sakit demam tinggi. Ada nada memelas di sana yang langsung menusuk ke pusat rasa bersalah Sekar.
"Sekar... kok kamu tega ninggalin Eyang sendirian? Di sini gelap, Nduk. Lampunya mati. Eyang takut..."
Air mata Sekar menetes tanpa permisi. Ia ingin sekali menoleh, ingin berteriak bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang membawa obat, membawa harapan. Bahunya bergetar hebat menahan dorongan untuk memutar kepala ke belakang, ke arah kegelapan di mana suara itu berasal.
Tidak,batin Sekar, menggigit bibir bawahnya hingga perih. Eyang Sumi ada di Bantul. Eyang sedang dirawat Bu Lik Warni. Itu bukan Eyang.
Tapi suara itu semakin jelas. Semakin dekat. Seolah-olah Eyang Sumi sedang berenang tepat di belakang keretanya, menggapai-gapai minta tolong.
"Kakimu sudah sembuh, Nduk? Kaki Eyang sakit... dingin..."
Sekar memejamkan mata erat-erat. Ia meremas kunci tulang di tangannya. Rasa sakit dari pinggiran kunci yang tajam membantunya tetap sadar.
Kereta terus naik. Air di sekitar mereka mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi biru tua.
Suara Eyang menghilang, digantikan oleh suara lain. Suara yang lebih berat, berwibawa, namun penuh nada kecewa.
"Kamu mengecewakan saya, Sekar."
Sekar tersentak. Itu suara Pangeran Suryo.
"Saya memberimu cincin itu untuk mengintai, bukan untuk pamer. Kamu mempermalukan Keraton dengan tarianmu yang sombong itu. Lihat... lihat akibatnya. Pasukan Poseidon marah. Mereka membakar Alun-Alun."
Sekar menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bohong. Gusti Ratu bilang saya berhasil. Gusti Ratu bilang saya memberinya waktu.
"Putar balik, Sekar! Kembalikan kunci itu!"suara Pangeran Suryo membentak, terdengar begitu nyata tepat di telinga kanannya. "Kunci itu kutukan! Jika kamu membawanya ke darat, Merapi akan meletus! Kamu mau membunuh kita semua?!"
Keringat dingin mengucur deras di pelipis Sekar. Logikanya mulai goyah. Bagaimana kalau Pangeran benar? Bagaimana kalau Ratu Kidul membohonginya? Bagaimana kalau kunci ini sebenarnya adalah pemicu kiamat, bukan penyelamat?
Sekar membuka matanya sedikit, melirik ke arah Simbah. Kusir tua itu tetap tenang, memecut naganya pelan. Simbah tidak mendengar apa-apa. Ini adalah perang di dalam kepalanya sendiri.
"Jangan dengarkan,"bisik suara ketiga.
Kali ini, Sekar hampir saja menoleh.
Itu suara ibunya. Ibu kandungnya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu karena sakit paru-paru.
"Ibu kangen, Nduk..."
Pertahanan Sekar runtuh. Isak tangis lolos dari tenggorokannya. Ia menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di lutut.
"Lihat Ibu sebentar saja, Nduk. Ibu pakai baju baru. Cantik lho. Ibu bawakan jenang grendul kesukaanmu."
Bau gula merah dan santan tiba-tiba tercium di udara. Di tengah laut yang amis ini, bau masakan ibunya tercium begitu nyata, begitu hangat. Itu adalah bau rumah. Bau masa kecil yang sudah lama hilang.
Leher Sekar terasa kaku. Otot-ototnya berkontraksi, memaksanya untuk menoleh. Hanya sekilas. Hanya satu detik untuk memastikan apakah itu benar ibunya.
Jangan menoleh.Peringatan Ratu Kidul bergema.
Tapi rindu itu jahat. Ratu Kidul mungkin tidak pernah merasakan rindu seorang anak yatim piatu.
Sekar mulai memutar kepalanya ke kiri. Sedikit demi sedikit. Sudut matanya mulai menangkap bayangan kain jarik motif kawung yang biasa dipakai ibunya.
Tiba-tiba, kunci tulang di tangan Sekar menjadi panas.
Sret!
Kunci itu seperti menyengat telapak tangannya. Rasa panas itu menyadarkan Sekar.
Itu bukan panas api. Itu panas amarah. Senjata di dalam gudang Sarasengara yang kuncinya ia pegang sedang marah karena pembawanya hampir gagal.
Sekar tersentak kembali ke posisi semula. Menghadap depan.
"Maafkan Sekar, Bu..." bisiknya lirih, air matanya bercampur dengan cipratan air laut. "Kalau itu benar Ibu, Ibu pasti nggak akan minta Sekar melanggar janji."
Bau jenang grendul itu seketika berubah menjadi bau bangkai busuk. Suara lembut ibunya berubah menjadi geraman monster laut dalam yang kecewa karena mangsanya lolos.
Kereta kerang itu menembus permukaan air.
BYAARR!
Cahaya matahari pagi yang menyilaukan langsung menghantam wajah Sekar. Ia mengerjap-ngerjap, buta sesaat.
Udara di permukaan terasa berbeda. Kering. Berdebu. Dan panas.
Simbah membawa keretanya mendarat di pesisir Parangtritis. Bukan di pasir pantai yang lembut, melainkan di atas gundukan karang tajam di sisi timur, jauh dari keramaian (atau sisa-sisa keramaian).
"Sudah sampai, Cah Ayu," kata Simbah. Suaranya kembali ceria, tapi ada nada lelah yang berat. "Simbah cuma bisa antar sampai sini. Naga-naga ini nggak bisa lama-lama kena matahari, nanti kulitnya kering."
Sekar turun dari kereta dengan kaki gemetar. Ia jatuh berlutut di atas karang, mencium tanah. Ia berhasil. Ia tidak menoleh.
"Terima kasih, Mbah," ucap Sekar seraya bangkit. Ia ingin memeluk lelaki tua itu, tapi Simbah dan keretanya sudah mulai mundur, kembali ditelan ombak.
"Hati-hati sama kuncinya, Nduk," pesan Simbah terakhir kali sebelum menghilang. "Benda itu beratnya bukan main kalau hati yang membawanya ragu."
Sekar berdiri sendirian di pinggir tebing karang. Angin laut menerpa wajahnya, menerbangkan rambutnya yang masih disanggul berantakan sisa semalam. Bedak dan riasannya sudah luntur, menyisakan jejak hitam di bawah mata.
Ia memandang ke arah daratan. Ke arah Yogyakarta.
Pemandangan di depannya membuatnya terpaku.
Langit di utara, di arah Gunung Merapi, berwarna ungu gelap. Awan-awan badai bergulung-gulung di sana, tapi tidak bergerak. Awan itu diam, seolah dilukis di kanvas.
Dan hutan... Hutan jati yang membentang dari Parangtritis hingga ke Bantul... semuanya berwarna abu-abu.
Bukan karena terbakar habis. Tapi karena tertutup abu.
Abu vulkanik yang turun bukan dari kawah, tapi naik dari celah-celah tanah.
Sekar berjalan tertatih menuruni tebing karang menuju jalan aspal. Sepi. Tidak ada orang. Warung-warung di pinggir pantai sudah rata dengan tanah, sisa sapuan ombak semalam.
Di tengah jalan aspal yang retak-retak, Sekar melihat seseorang.
Seorang pria duduk bersila di tengah jalan, membelakangi Sekar, menghadap ke utara. Pria itu memakai surjan lurik yang sudah sobek-sobek dan blangkon yang miring. Di sampingnya, tergeletak sebilah keris yang bilahnya patah jadi dua.
Sekar mendekat dengan waspada.
"Pak?" panggilnya pelan.
Pria itu tidak menoleh. Bahunya naik turun, napasnya berat.
"Pak, apa yang terjadi?" tanya Sekar lagi, kali ini ia berjalan memutar agar bisa melihat wajah pria itu.
Saat ia melihat wajahnya, Sekar menutup mulutnya, menahan jeritan.
Itu Pangeran Suryo.
Tapi wajah sang Pangeran... separuh wajahnya, bagian kiri, telah berubah menjadi batu karang. Kulitnya mengeras, abu-abu, dan ditumbuhi teritip kecil-kecil. Mata kirinya buta, tertutup lapisan kapur.
Pangeran Suryo membuka mata kanannya yang masih normal. Tatapannya kosong, putus asa.
"Kamu terlambat, Sekar," bisiknya. Suaranya parau, seperti gesekan pasir.
Sekar jatuh berlutut di depan junjungannya. "Gusti... apa yang terjadi? Saya... saya bawa kuncinya! Gusti Ratu bilang..."
Pangeran Suryo tertawa pahit. Tawa yang menyakitkan karena separuh wajahnya kaku.
"Ratu bilang apa? Bahwa kita akan menang? Bahwa senjata di Sarasengara akan menyelamatkan kita?"
Pangeran Suryo menunjuk ke arah utara dengan tangannya yang gemetar—tangan yang jari-jarinya juga mulai membatu di bagian ujung.
"Lihat ke sana."
Sekar mengikuti arah telunjuknya.
Di kejauhan, di langit di atas kota Yogyakarta, melayang benda-benda aneh. Bukan pesawat, bukan burung.
Itu adalah ubur-ubur raksasa. Ubur-ubur yang terbang di udara, tentakelnya menjuntai panjang menyentuh atap-atap gedung. Tubuh mereka transparan, memancarkan cahaya biru elektrik.
Dan di setiap tentakel itu... ada manusia yang terjerat. Menggantung lemas seperti boneka.
"Poseidon tidak menyerang lewat laut lagi," kata Pangeran Suryo, air mata menetes dari mata kanannya. "Dia mengubah atmosfer kita menjadi lautan. Dia menenggelamkan kita... tanpa air."
Sekar merasakan paru-parunya sesak. Baru ia sadari, udara yang ia hirup terasa berat dan basah. Uap air di udara sudah jenuh. Mereka tidak sedang menghirup oksigen murni lagi, tapi campuran uap air asin yang perlahan-lahan mengisi paru-paru setiap makhluk hidup di darat.
Drowning on dry land.(Tenggelam di daratan kering).
"Saya mencoba menahannya dengan Keris Kyai Pleret," lanjut Pangeran, menyentuh patahan keris di aspal. "Tapi besi tidak bisa memotong udara. Besi tidak bisa membunuh uap."
Sekar menatap kunci tulang di tangannya. Benda itu berdenyut lagi.
"Gusti Ratu bilang ini kunci gudang senjata leluhur," kata Sekar tegas, mencoba menyuntikkan harapan ke dalam suara Pangeran yang patah. "Kalau keris besi tidak mempan, mungkin senjata di bawah sana mempan."
Pangeran Suryo menatap kunci itu. Ada sedikit kilatan harapan di mata kanannya, meski redup.
"Sarasengara..." gumamnya. "Gudang itu ada di perut Merapi. Tapi jalannya sudah dikuasai mereka."
"Kita cari jalan lain," kata Sekar. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Pangeran. "Ayo bangun, Gusti. Kalau Gusti menyerah di sini, separuh wajah Gusti yang masih ganteng itu bakal jadi karang juga. Sayang, lho."
Pangeran Suryo tertegun sejenak mendengar candaan nekat abdi dalemnya itu. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Kamu lancang sekali, Sekar."
"Saya belajar dari yang terbaik, Gusti," jawab Sekar, teringat pada Simbah dan Ratu Kidul.
Pangeran Suryo menyambut uluran tangan Sekar. Ia berdiri, meski agak sempoyongan.
"Baiklah. Kita ke Merapi," kata Pangeran. Ia memungut patahan kerisnya. "Tapi kita tidak bisa lewat jalan biasa. Ubur-ubur udara itu punya sengatan yang bisa melumpuhkan saraf."
"Lalu lewat mana?"
Pangeran Suryo menatap ke arah rel kereta api tua yang membelah persawahan—jalur mati yang dulu menghubungkan pabrik gula dengan stasiun kota.
"Kita naik kereta hantu," jawabnya. "Kereta Kencana milik Keraton bukan satu-satunya kendaraan gaib di kota ini."
Sekar menatap langit yang dipenuhi ubur-ubur terbang itu. Perang ini sudah berubah wujud menjadi mimpi buruk surealis. Tapi setidaknya, ia tidak sendirian lagi.
Dan di saku kebayanya yang robek, kunci tulang itu terasa hangat. Menunggu untuk diputar.