Jodoh dicari ✖️
Jodoh dijebak ✔️
Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.
Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Yas, itu Alice gak papa kan?" Ivy masih saja merasa tak enak, apalagi melihat tatapan Alice tadi padanya, sorot matanya memancarkan kebencian.
"Gak usah ngerasa bersalah, gak usah juga minta maaf kayak tadi, lo gak salah. Tadi denger sendirikan, dia bilang apa. Dia ngejar gue, bukan pacar gue."
Ivy manggut-manggut.
"Kalau mau minta maaf, itu ke gue, korban lo."
Ivy menutup mulut dengan telapak tangan, menahan tawa. Sumpah, setiap kali Yasa merasa jadi korban, dia jadi ingat malam itu, jadi ingat kegilaannya, dan berasa jadi pelaku kejahatan.
"Ivy," panggil Mama Sani.
"Tante," Ivy mencium tangan Sani. Melihat arah tatapan Sani, tangannya berusaha menarik turun jaketnya, meski tak mungkin bisa turun karena kainnya tak melar.
"Kalau bisa, jangan pakai pakaian yang ketat lagi."
Ivy mengangguk.
Mereka bertiga lalu menuju ruang keluarga. Sani meminta Yasa mengajak Ivy ke rumah untuk membahas soal pernikahan. Pembahasan berjalan sangat lancar, karena bisa dibilang, hanya Mama Sani saja yang bicara ABC, ngasih saran ini itu, sementara Ivy hanya iya, iya saja sambil mengangguk. Yasa sampai mikir, sebenarnya Ivy setuju apa sungkan mau nolak. Atau yang lebih parah, takut berpendapat mungkin.
Setelah semua mencapai kata sepakat, Yasa mengantar Ivy pulang.
"Lo gak keberatankan, nikahannya gak di KUA, tapi di rumah gue?" dalam perjalanan, Yasa kembali memastikan, takut angguk-angguknya Ivy cuma karena takut.
"Gak papa sih, asal bukan di rumah gue aja."
"Memang kenapa kalau di rumah lo?"
Ivy menggeleng cepat, "Enggak, enggak pokoknya. Bokap gue trouble maker."
"Nurun di elo, plek ketiplek."
Seketika Ivy nyengir, kenapa musti kena terus sih? Ia membuang pandangan ke arah luar, daripada natap Yasa, nanti malah salah lagi. Matanya menelisik deretan lampu jalan yang membuat jalanan terlihat lebih terang dan indah. Malam ini, cuaca sangat cerah, mungkin karena itu, deretan ruko, toko, bahkan warung tenda, terlihat ramai pengunjung. Semoga malam ini, penjualan skincarenya juga melebihi target. Melihat deretan penjual kaki lima di sebuah jalan yang dijadikan pasar malam, ia jadi ingin mampir.
"Yas, jajan dulu yuk!" ajak Ivy.
"Lapar?" Yasa menoleh pada Ivy.
"Gak lapar sih, tapi kepengen. Lapar mata," ia cekikan.
Yasa mengangguk, lalu mencari tempat parkir. Namun karena pengunjung yang membludak, mencari tempat parkir menjadi sangat susah, terlalu penuh. Ia sampai mutar dua kali, untung ada mobil yang keluar, jadi bisa mendapatkan tempat untuk memarkir mobil.
"Enakan pakai motor ya, gampang nyari parkirnya," ujar Ivy yang sedang merapikan rambut dan jaket.
"Emang lo gak masalah, kalau diajak naik motor?"
"Ya enggaklah. Aku suka kok naik motor. Nanti kapan-kapan, kalau jemput gue, pakai motor aja."
Yasa tersenyum kecut, "Bilang aja kalau lo pengen nempel gue, peluk-peluk."
"Ish!" Ivy berdecak pelan. "Kok tahu sih? Hahaha," tawanya meledak.
Yasa hanya bisa geleng-geleng.
Mereka berdua keluar dari mobil, lalu mulai berkeliling. Aroma berbagai macam jajanan membuat perut yang tadinya tidak lapar, jadi lapar, ingin membeli semua yang terlihat enak. Masalahnya, hampir semua terlihat lezat. Pusingkan.
Melihat stan dimsum, Ivy sebagai penggemarnya, langsung mendekat. Aromanya yang tercium lezat, membuat ia tak ragu lagi untuk memesan seporsi dimsum mentai. Melihat dimsum diberi saos mentai lalu di torch, ia sampai menelan ludah, tak sabar untuk segera menikmatinya. Saat mengeluarkan dompet untuk membayar, Yasa sudah lebih dulu menyodorkan uang pada si penjualan. "Gak usah Yas, biar gue bayar sendiri," menarik lengan Yasa.
"Gak papa, biar gue aja yang bayar."
"Gue aja."
"Gue aja, Vy."
Dua orang itu terus berdebat masalah siapa yang bayar, sampai penjualnya pusing, garuk-garuk kepala. Mana ada pembeli lain yang datang pula, tapi urusan pembayaran gak kelar-kelar. "Ini kapan ya bayarnya?"
"Bentar, Mas," sahut Ivy, lalu lanjut debat dengan Yasa.
"Hadeh!" si penjual sampai kehabisan kesabaran. "Siapa yang makan?" tanyanya dengan nada sedikit jengkel. "Yang makan yang bayar."
"Tuh kan, yang makan yang bayar," Ivy langsung menyodorkan uangnya. "Kembaliannya buat Mase, jangan kesel lagi ya Mas," sambil menahan tawa, mengajak Yasa pergi.
"Makasih Mbak," muka betenya langsung berubah jadi senyum. "Kalau masih pacaran aja, pada rebutan bayar, coba kalau dah nikah, pada rebutan gak mau bayar," celetuknya sambil geleng-geleng.
Yasa dan Ivy yang belum jauh, tertawa mendengar ucapan tersebut.
"Emang kita kayak orang pacaran ya, Yas?" tanya Ivy, berjalan sambil fokus membuka kotak dimsum di dalam keresek.
"Tauk."
Ivy menoleh pada Yasa sambil nyengir. Ternyata betul kata Luth, Yasa gak bisa ngomong, super ngirit ngeluarin suara, takut habis kali ya. Ia mengambil sebuah dimsum, lalu memasukkan ke dalam mulut meski masih agak panas.
"Vy," panggil Yasa dengan suara rendahnya, menatap Ivy. "Nyari tempat duduk dulu."
Ivy yang sedang mengunyah, menahan tawa sambil menutup mulut, takut makanannya keluar. "Udah gak sabar," ucapanya setelah makanan di mulut habis tertelan.
Yasa geleng-geleng sambil berdecak pelan.
"Ngidam, Yas," ia memakan satu lagi. "Nunggu nanti, keburu ileran anak lo."
"Alesan!"
Lagi-lagi, Ivy dibuat menahan tawa. Tiba-tiba, tenggorokannya terasa seret, langsung saja ia menarik Yasa ke penjual es jeruk peras. Rasanya langsung lega begitu segarnya air jeruk mengaliri tenggorokan.
Belum puas hanya mendapatkan dimsum dan es jeruk, Ivy masih menarik-narik lengan Yasa keliling mencari makanan lainnya. Untung Mas penjual tadi ngasih saran yang cakep banget, Ivy jadi punya alasan untuk membayar sendiri makanannya, dengan dalih, yang makan yang bayar.
Setelah puas keliling dan dapat banyak sekali jajanan, mereka istirahat di warung kopi lesehan.
"Kamu gak pengen, Yas?" tanya Ivy yang sedang ngemil sosis dan bakso bakar.
"Enggak," Yasa mengangkat cangkir berisi kopi hitamnya, menyeruput sedikit-sedikit.
Sambil terus ngunyah, Ivy mengedarkan pandangan, sampai matanya fokus memperhatikan sepasang kekasih yang sedang asyik suap-suapan kentang goreng. Tanpa sadar, bibirnya melengkung ke atas melihat si laki-laki mengusap sudut bibir perempuan yang sepertinya terkena saus. Tiba-tiba, ia kepikiran untuk melakukan hal yang sama, kayaknya lucu.
"Vy, itu," Yasa menunjuk sudut bibir Ivy.
"Apa?"
"Itu, di deket bibir lo ada sisa saus."
"Mana?" Ivy sengaja mengusap bagian lainnya, bahkan pipi hingga hidung ia usap, hanya bagian yang terkena saus sengaja dia biarkan.
"Itu Vy, sebelah kanan," Yasa memperjelas sembari menunjuk.
"Mana sih, Yas?" bukannya mengusap area bibir, Ivy malah mengusap pipi. Sengaja di buat lama-lama, biar Yasa greged terus akhirnya bantu usap.
Yasa menghela nafas panjang. "Sengaja?" ia berdecak pelan. Gimana dia gak curiga, dibilang deket bibir, kenapa pipi, hidung bahkan kening diusap.
"Gak peka lo, Yas," Ivy membuang nafas berat lalu mengusap sisa saus mentai yang ada di dekat bibirnya.
Yasa mengernyit, "Maksudnya, lo nyuruh gue usap gitu?"
"Telat!" Ivy mendelik kesal.
Yasa nyengir sambil garuk-garuk kepala.
Ivy kembali memperhatikan sepasang kekasih tadi. Sambil menyuapi ceweknya kentang, si cowok terlihat menatap sambil senyum-senyum sendiri. Tatapannya, pasti membuat cewek itu sampai melting. Tanpa diminta, si cowok juga langsung menyodorkan minuman untuk kekasihnya. Dan lagi-lagi, dia sampai senyum-senyum sendiri.
"Kenapa lo?" Yasa mengernyit menatap Ivy.
"Lihat deh, Yas," menunjuk dagu ke arah sepasang kekasih yang sejak tadi ia perhatikan, yang juga berada di lesehan yang sama dengan mereka. Si cewek cantik yang mukanya glowing, bersama cowok yang mukanya pas pasan. "Kalau pacaran itu, berasa dunia milik berdua gak sih?"
"Tauk," Yasa mengedikkan bahu, kembali fokus pada kopinya, sama sekali tak berminat melihat orang pacaran.
"Yas, kenapa lo gak pernah pacaran? Gak penasaran gimana rasanya?" Aneh saja menurut Ivy, kalau laki-laki ganteng dan kaya seperti Yasa, tidak punya pacar. Ia yakin, pasti banyak perempuan seperti Alice, ngejar-ngejar Yasa.
"Enggak," Yasa menggeleng. "Pacaran gak ada manfaatnya, dosa yang iya."
"Tapi kok pada suka pacaran ya?" Ia sendiri juga tak minat pacaran sejak dulu. Baginya, cinta hanya indah di depan saja, karena akan pret pada waktunya. "Ngeliat mereka, kayak asyik gitu, romantis."
"Romantis apaan, norak yang iya. Gak tahu tempat, masa mesra-mesraan di tempat umum."
"Lha terus, harus mesra-mesraan dimana?" Ivy tertawa pelan. "Kayak kita gitu, di kamar hotel?"
Yasa buru-buru membekap mulut Ivy, sayang terlambat, udah terlanjur meluncur kalimatnya. Mana Ivy sambil ketawa, ngomongnya agak keras. Ia melirik, melihat orang di kanan kiri pada menatapnya dan Ivy. Kayaknya bukan dua sejoli tadi yang gak tahu tempat, tapi Ivy.
mereka yg g tau diri mau memanfaatkan anaknya malah ngatain yasa harus tau diri....kasian bgt yasa klo sampe denger dikatain mokondo
hasilnya buat wewek gombel ,,, jangan mau Vi jadi rampok di tempat mertua mending usaha sendiri besarin tu skincare mu ya,,