Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Dingin.
Itu adalah hal pertama yang menyapu kesadarannya. Bukan dinginnya udara sore di akhir musim gugur, melainkan dingin yang menyelubungi dari dalam, meresap ke dalam setiap celah keberadaannya seolah-olah ia baru saja direndam dalam bak berisi es batu hingga ke sumsum. Kulitnya tidak menggigil; justru terasa mati rasa, seperti terlapisi oleh selubung tipis yang memisahkannya dari dunia.
Sam mengerjapkan mata perlahan, menatap langit Seoul tahun 1987 yang mulai memudar. Warna jingga keunguan membentang di cakrawala, dilukis oleh matahari yang hampir tenggelam di balik siluet gedung-gedung. Ia menarik napas dan mencium aroma khas usai hujan, petrichor, bercampur dengan wangi bunga krisan yang ditanam rapi di taman Hotel Emerald. Aroma itu terasa jelas, namun sekaligus jauh, seperti datang dari balik kaca tebal. Ada sekat yang tak kasatmata, sebuah jarak tak teraba yang membuat setiap sensasi itu teredam, tak utuh.
Dengan gerakan kaku, Sam mendorong tubuhnya untuk bangkit berdiri. Pandangannya turun, menyusuri kaos biru mudanya yang bergambar pesawat terbang. Di bagian dada, tepat di bawah sayap pesawat, terdapat noda tanah kecokelatan.
𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪? pikirnya samar.
Matanya melanjutkan perjalanan ke bawah: ujung celana kain khakinya sobek sepanjang beberapa sentimeter, dan lututnya yang tersembul terlihat kotor, belepotan tanah dan mungkin rumput.
Suara pertama yang coba ia keluarkan tersangkut di kerongkongannya. “Mama?” terdengar lirih, parau, dan asing di telinganya sendiri.
Hening menyergap, hanya diselingi oleh desir angin sore yang mengusik dedaunan. Sam menoleh ke belakang. Hotel Emerald berdiri dengan megah, kaca-kacanya memantulkan cahaya senja yang syahdu. Di lobi, lampu-lampu kristal gantung mulai berpijar satu per satu, memancarkan kemilau keemasan yang dulu selalu ia kagumi. Kini, kemewahan itu terasa dingin dan asing, bagaikan istana raksasa yang diam-diam mengawasinya dengan mata tanpa emosi.
“Mama! Papa!” teriaknya lagi, lebih keras kali ini, suaranya memecah kesunyian taman. Ia berlari kecil menuju pintu kaca geser yang menghubungkan taman dengan lobi, jantungnya berdebar kencang penuh harap. Namun, langkahnya terhenti mendadak di dekat deretan ayunan besi yang dicat hijau.
Ada yang aneh.
Ia menatap kakinya, lalu menatap rumput yang seharusnya terinjak. Tidak ada suara bahkan tidak ada jejak. Ia mengangkat kaki kanannya dan mengayuhkannya ke depan, mencoba menginjak hamparan rumput yang basah. Kakinya bergerak, tetapi tidak ada sensasi gesekan, tidak ada bunyi 𝘣𝘳𝘶𝘴𝘴𝘴 khas rumput basah. Hanya… kehampaan.
Rasa bingung yang awal berubah menjadi gumpalan kecemasan yang menggumpal di tenggorokannya. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪? 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘪𝘯𝘪? Pikirannya berputar, mencoba meraih memori yang terasa seperti kepingan puzzle yang dibakar ujung-ujungnya. Ada bayangan tawa riang, ada siluet seseorang yang memanggil namanya dengan suara hangat, lalu… gelap. Hanya kegelapan dan dingin yang menyusul.
𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘚𝘢𝘮, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵! batinnya menjerit, tetapi yang muncul hanya rasa panik yang semakin menjadi-jadi, sesak yang mencekam di dada yang terasa hampa.
Tiba-tiba, dari arah pohon ek besar di sudut taman, terdengar suara tawa ceria seorang anak laki-laki. Suara itu memecah spiral ketakutannya. Sam menoleh dengan cepat, dan rasa lega yang mendadak membuat dadanya sedikit lebih ringan. Di sana, seorang anak seusianya, mungkin sekitar delapan tahun, sedang asyik menendang-nendang bola karet berwarna merah menyala.
Anak itu memakai kaos putih polos dengan tulisan “RHINO” dalam huruf besar berwarna hitam di dada, dan celana pendek jeans. Rambutnya dipotong cepak.
“Hei!” Sam memanggil, melambaikan tangannya dengan semangat yang berlebihan. “Kamu lihat mamaku? Aku… aku tersesat, kayaknya.”
Rhino tidak bereaksi. Ia terus fokus pada bolanya, menggumamkan lagu “San Toki” dengan nada sumbang. Senyum di wajah Sam mulai pudar. Ia mendekat, langkahnya pelan, berharap anak itu baru saja tidak mendengarnya karena terlalu asyik.
“Halo? Namaku Sam. Bisa tolong aku? Aku tidak ingat…” suaranya kembali kecil, tertelan oleh ketidakpedulian dunia.
Rhino berjongkok, membelakangi Sam sepenuhnya, untuk membetulkan tali sepatu ketsnya yang terlepas. Amarah kecil, campur sedih, mulai menyala di dada Sam. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘺𝘢? pikirnya kesal. Ia ingin meraih bahu anak itu, mengguncangnya sedikit agar ia menoleh.
Namun, perhatiannya tertuju pada bola karet merah yang tergeletak tak bergerak di atas rumput, hanya sepelemparan batu darinya. Kerinduan akan sesuatu yang normal, akan kesederhanaan bermain bola di taman sore hari, mendadak membuncah begitu kuat. Mungkin… mungkin jika mereka bisa bermain bersama, es akan pecah. Anak ini akan mau bicara.
Dengan tekad yang tiba-tiba muncul, Sam melangkah mendekati bola. Ia membayangkan dirinya menendangnya dengan kuat, seperti yang sering ia lakukan di lapangan dekat rumah. Ia mengayunkan kaki kanannya.
𝘞𝘶𝘴𝘩..
Kakinya melewati bola itu tanpa hambatan, seperti menendang udara. Bola bahkan tidak bergoyang sedikit pun. Sam terpaku, matanya membelalak. 𝘈𝘱𝘢? Ia mencoba lagi, kali ini dengan konsentrasi penuh. Ia mengerahkan semua keinginannya, membayangkan kakinya padat, berat, dan nyata. Ia menendang.
𝘋𝘶𝘢𝘬𝘬!
Bola itu tiba-tiba melesat dari tempatnya, bergulir liar di atas rumput menjauhi Rhino dengan kecepatan yang tidak wajar, seolah ditendang oleh pemain sepak bola profesional.
“Eh?” Rhino yang baru saja berdiri terlonjak kaget. Ia menatap bolanya yang menggelinding sendiri dengan mata membulat, alisnya berkerut. “Angin sekuat itu?” gumamnya, ragu.
Rhino berlari mengejar bolanya. Sam, yang awalnya kaget lalu dihampiri rasa senang bodoh ikut berlari di sampingnya, wajahnya mulai menunjukkan senyum tipis. “Aku yang menendangnya! Lihat? Aku di sini! Coba lihat aku!”
Bola berhenti di dekat pagar tanaman. Rhino membungkuk untuk mengambilnya. Tanpa pikir panjang, Sam juga meraih, ingin mengambilnya lebih dulu.
Jari-jarinya yang kecil dan agak transparan menyentuh permukaan karet merah itu.
𝘛𝘰𝘬!
Bola itu seketika terpental sejauh dua meter, memantul keras di batang pohon ek, seolah baru saja dipukul dengan kekuatan gaib.
Rhino membeku. Tangan yang tadinya terbuka untuk mengambil bola kini menggantung di udara. Wajahnya yang ceria berubah drastis. Darah menghilang dari pipinya, meninggalkan warna pucat seperti kapur. Perlahan-lahan, kepalanya menoleh, matanya yang penuh ketakutan menatap tepat ke arah Sam berdiri. Namun, tatapan itu kosong, menembus melaluinya, tidak menangkap wujud anak laki-laki berkaos biru di hadapannya.
“Ma… Mama…” bibir Rhino bergetar, membentuk kata yang nyaris tak bersuara. Ia merasakan sesuatu, sebuah hawa dingin yang menusuk tulang, berbeda dengan udara sore, tepat dari spot kosong di depannya. “Mama!” teriaknya tiba-tiba, lantang, dipenuhi panik murni.
Ia berbalik dan melesat seperti anak panah, meninggalkan bola merahnya, menuju pintu kaca hotel. Teriakannya yang semakin menjauh sampai ke telinga Sam, “Mama! Ada hantu di taman! Bolanya… bolanya jalan sendiri! Aku mau pulang!”
Sam terdiam mematung di tengah taman yang kini kembali sunyi, lebih sunyi dari sebelumnya. Angin sore berhembus, mengusik rambutnya yang seharusnya terasa. Lampu-lampu taman berkubah kuning menyala otomatis satu per satu, membentuk kolam-kolam cahaya di antara bayangan yang memanjang.
Dengan gerakan lambat, hampir hormat, Sam mengulurkan tangannya ke tiang ayunan besi di sebelahnya. Ia ingin merasakan sentuhan, ingin membuktikan bahwa dirinya nyata. Jemari mungilnya mendekat, lalu… menembus. Tangannya masuk ke dalam besi dingin itu seolah-olah tiang itu adalah ilusi, dan dirinya adalah bayangan yang tak memiliki substansi.
“Rhino…” bisiknya lirih, suaranya pecah. “Tunggu… jangan tinggalin aku…”
Ia mencoba berteriak, tetapi suaranya hilang ditelan kesunyian. Ia mencoba menangis, berusaha merasakan butiran air mata panas mengalir di pipi, tetapi tidak ada yang keluar. Hanya ada kekosongan yang luas, menyiksa, dan dingin yang abadi.
Dia ada di sana, di taman Hotel Emerald yang indah, di bawah langit Seoul yang kini dipenuhi bintang-bintang pertama. Dia bisa melihat lampu-lampu kota mulai berpendar, bisa mencium wangi malam yang mulai turun. Namun, dia tidak benar-benar ada. Dia adalah gema tanpa suara, bayangan tanpa sumber cahaya, sebuah kenangan yang tersesat di taman orang lain.
Kenyataan pahit itu akhirnya merayap masuk, menggigit setiap sudut kesadarannya dengan tuntas dan kejam.
𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶... 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨. batinnya berisik, tetapi dunia di sekelilingnya diam seribu bahasa.
Dan di balik jendela lobi hotel, ia melihat seorang wanita dengan wajah cemas merangkul Rhino yang sedang menangis tersedu-sedu, sementara bola karet merahnya terbaring sendiri, terlupakan di atas rumput yang mulai basah oleh embun.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ