Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. Manjat Pohon Pete
Matahari pagi di Sukamaju belum sepenuhnya naik namun kelembapan udaranya sudah cukup membuat Daren dan Jerry merasa seperti bakpao yang sedang dikukus. Jamila datang menjemput ke hotel dengan gaya yang membuat Daren makin jatuh hati, mengenakan jaket windbreaker warna cerah, celana kargo, dan tentu saja, helm oranye neon pemberian Daren yang ia pakai dengan bangga.
"Ayo, Mr. Berlin! Hari ini kita field trip ke kantor pusat Jamila alias kebun pete!" seru Jamila sambil menggeber motor merahnya.
Daren dan Jerry mengikuti dengan mobil sewaan yang disetir oleh sopir lokal. Di dalam mobil, Jerry sibuk mengoleskan tabir surya tebal-tebal ke wajahnya.
"Daren, aku punya firasat buruk. Kenapa pohon-pohon di sini terlihat lebih tinggi daripada gedung di Alexander platz?"
Mereka tiba di pinggiran hutan yang rimbun. Kayla dan Cintya sudah menunggu di sana, lengkap dengan caping dan galah bambu.
Aroma tanah basah dan dedaunan menyambut indra penciuman Daren.
"Oke, semuanya! Target kita hari ini adalah pohon pete tertua di kebun ini. Isinya pete papan kualitas ekspor, tebal-tebal dan baunya bisa tercium sampai kecamatan sebelah!"
Jamila menjelaskan dengan antusias.
Tanpa membuang waktu, Jamila mengeluarkan ponselnya, menjepitnya di holder yang melingkar di dadanya.
"Halo sobat pete sejagat raya! Jamila back in action! Hari ini gue nggak sendirian, ada dua bule nyasar dari Jerman yang mau ikut panen!"
Jamila mulai memanjat. Gerakannya sangat gesit, seperti kera hutan yang sudah hafal setiap lekuk dahan. Daren menatap dengan mulut ternganga. Gadis yang ia puja itu kini berada sepuluh meter di atas tanah dalam hitungan detik.
"Daren! Ayo naik! Katanya bawa alat panjat mahal!" teriak Jamila dari atas sambil melambai ke arah kamera ponselnya.
Daren tidak mau kehilangan muka. Ia segera memakai harness merk Mammut-nya, mengaitkan tali kara biner, dan mulai merayap naik. Sebagai pria yang hobi bouldering di Berlin, Daren punya teknik yang bagus.
Namun, ia lupa satu hal, pohon di Jerman tidak memiliki Semut Rangrang.
"Aduh! Was ist das?! Sesuatu menggigit leherku!" teriak Daren saat tangannya menyentuh dahan yang dipenuhi sarang semut merah besar.
"Hati-hati, Daren! Itu semut rangrang! Mereka itu satpam pohon pete. Jangan dilawan, cukup disapa aja!" sahut Jamila sambil tertawa di puncak pohon.
Sementara itu, di bawah, nasib Jerry lebih mengenaskan. Meskipun badannya besar dan kekar, Jerry ternyata punya acrophobia alias takut ketinggian yang akut. Ia baru naik dua meter, kakinya sudah gemetar seperti mesin jahit rusak.
"Kayla... Cintya... Tolong aku! Aku merasa bumi sedang menjauh dariku!" teriak Jerry sambil memeluk batang pohon dengan sangat erat.
Kayla tertawa terpingkal-pingkal sambil merekam Jerry.
"Mas Jerry, badan doang kayak Rambo, nyali kayak Hello Kitty! Ayolah, cuma dua meter itu, ayam tetangga aja bisa lebih tinggi!"
"Tidak bisa! Aku lebih baik berhadapan dengan sambal merah kemarin daripada harus melihat ke bawah!" Jerry memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya pucat pasi.
Di atas, Jamila sudah sampai ke dahan tertinggi. Ia mulai memanen papan-papan pete yang hijau segar dan menjatuhkannya ke bawah, di mana Cintya sigap menangkapnya dengan jaring.
Daren berusaha menyusul. Ia ingin membuktikan bahwa cintanya setinggi pohon pete ini.
"Jamila! Tunggu aku!" Daren berjuang melewati kerumunan semut rangrang yang kini sudah masuk ke dalam bajunya. Perih, panas, namun ia bertahan demi sebuah konten romantis di live Jamila.
Daren berhasil mencapai dahan di bawah Jamila. Jarak mereka hanya terpaut tiga meter, namun dahan di atas Daren terlihat lebih kecil dan licin.
"Jangan ke atas lagi, Daren! Dahannya rapuh, berat badan bulemu itu bisa bikin dahan ini patah!" peringatan Jamila terdengar serius.
Daren berhenti, napasnya tersengal. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat pemandangan Sukamaju yang hijau royo-royo. Ia menatap Jamila yang sedang asyik memetik pete sambil menyapa followers-nya.
"Jamila, kamu luar biasa. Di Berlin, tidak ada wanita sehebat kamu."
"Halah, gombal! Awas tuh di pundak lo ada semut lagi mau reuni!"
Di tempat lain, di sebuah kantor mewah yang dingin, Koko Sen sedang membanting tabletnya ke atas meja.
Di layarnya, terlihat live streaming Jamila yang menampilkan wajah tampan Daren di atas pohon.
"Sialan! Si bule itu benar-benar curi start! Dia pikir dengan bawa alat panjat dari Jerman dia bisa menangin hati Jamila?!" geram Koko Sen. Ia segera meraih ponselnya.
"Halo? Siapkan truk paku paling banyak! Kita sabotase pengiriman pete Jamila besok!"
Tak jauh dari sana, di sebuah rumah dengan pilar-pilar emas, Harun Dubai juga sedang meradang. Ia baru saja mendapat laporan dari mata-matanya di bandara bahwa ada dua orang asing yang dijemput Jamila.
"Harun Dubai tidak boleh kalah! Siapkan helikopter! Kalau si bule itu bisa manjat pohon, aku akan bawa Jamila terbang ke kebun pete di surga!" teriak Harun sambil membetulkan letak sorbannya yang miring karena emosi.
Kembali ke kebun, suasana mendadak mencekam. Tiba-tiba, suara derit kayu terdengar. Dahan tempat Daren berpijak rupanya tidak sekuat yang dikira.
"Daren! Watch out!" teriak Jamila.
KREEEAAAKKK!.
Dahan itu patah. Daren terjatuh, namun untungnya tali pengaman Mammut-nya bekerja dengan sempurna. Daren tergantung di udara, berayun-ayun seperti pendulum jam dinding raksasa.
"Jerry! Tolong!" teriak Daren spontan.
Jerry, yang mendengar teriakan sahabatnya, mendadak lupa akan rasa takutnya. Adrenalinnya melonjak. Dengan kekuatan otot lengannya, Jerry memanjat secepat kilat (meski sambil teriak ketakutan) untuk menangkap tali Daren.
"Aku datang, Daren! Jangan mati dulu sebelum kita makan kerak telor!" seru Jerry.
Berkat bantuan tali dan tarikan Jerry dari bawah (yang dibantu juga oleh Kayla dan Cintya yang menarik tali dari daratan),
Daren berhasil turun dengan selamat, meski bajunya penuh robekan dan kulitnya penuh bentol merah gigitan semut.
Begitu sampai di bawah, Daren terduduk lemas. Jamila turun dengan santai, membawa satu karung penuh pete pilihan.
"Gila, kalian berdua bener-benar hiburan terbaik pagi ini," ujar Jamila sambil mengelap keringat di dahi Daren dengan tisu. Sentuhan kecil itu membuat rasa perih gigitan semut di tubuh Daren hilang seketika, berganti dengan rasa nyess di hati.
Jerry, yang baru saja jadi pahlawan dadakan, langsung berpose di depan Kayla.
"Bagaimana, Kayla? Aku berani, kan? Aku memanjat seperti ninja demi sahabatku."
Kayla tersenyum tipis.
"Iya deh, Mas Jerry. Tadi manjatnya keren, tapi teriakan Tolong Mamah nya itu lho yang bikin ilfeel."
Setelah panen yang penuh drama, Jamila mengajak mereka makan siang di pinggir kebun. Menunya sederhana, nasi liwet, ikan asin, lalap pucuk singkong, dan tentu saja... pete bakar hasil panen tadi.
"Ini puncaknya, Daren. Kamu belum sah jadi warga Sukamaju kalau belum makan pete bakar ini," Jamila menyodorkan satu papan pete yang sudah menghitam kulitnya karena dibakar.
Daren mengambilnya dengan ragu. Bau pete bakar yang khas mulai menusuk hidungnya. Jerry sudah lebih dulu melahapnya, mencoba terlihat keren di depan Cintya.
"Hm... tasty... seperti... kacang yang sudah difermentasi dengan kaus kaki atlet," gumam Jerry sambil menahan rasa mual.
Daren mengunyahnya perlahan. Rasanya pahit-manis-gurih yang aneh, namun saat ia melihat Jamila tersenyum menatapnya, rasa pete itu berubah menjadi rasa kemenangan.
"Enak, Jamila. Aku suka," bohong Daren demi cinta, padahal ia sudah membayangkan berapa butir permen karet yang harus ia kunyah nanti agar mulutnya tidak terdeteksi oleh radar keamanan hotel.
Tiba-tiba, sebuah mobil off-road mewah masuk ke area perkebunan dengan kecepatan tinggi. Debu beterbangan di mana-mana. Dari dalam mobil, turun Koko Sen dengan kacamata hitam dan Harun Dubai yang turun dengan gaya sultan.
Keduanya berjalan menghampiri meja makan liwet Jamila.
"Jamila! Siapa orang-orang asing ini?!" bentak Koko Sen sambil menunjuk Daren yang masih belepotan sambal.
"Dan kenapa mereka makan pete hasil panenmu tanpa seizinku?!" timpal Harun Dubai sambil mengibaskan jubahnya.
Daren berdiri, menepuk sisa nasi di celananya. Ia menatap kedua pria itu dengan tenang.
"Saya Daren. Dari Berlin. Dan saya di sini untuk memastikan Jamila tidak butuh pabrik paku atau sumur minyak kalian, karena dia punya... dia punya saya."
Jerry ikut berdiri di samping Daren, meski mulutnya masih penuh pete.
"Ya! Dan saya asistennya! Kalau kalian macam-macam, saya akan... saya akan... menularkan bau mulut pete ini pada kalian!"
Suasana di kebun pete mendadak tegang. Jamila hanya santai memegang ponselnya,.
"Sobat pete! Live hari ini makin seru! Ada tawuran sultan vs bule di kebun gue! Jangan lupa tap-tap layar dan kirim mawar ya!"
Bersambung