Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK MAU
Sandrina menuntut tanggung jawab sang dosen, ia tak mau hancur sendiri. Tiap hari nongkrong di kampus hanya untuk mencari Pak Amar, sejak pagi Sandrina pura-pura garap skripsi, nyatanya ia menunggu Pak Amar. Teman-teman sibuk garap skripsi, Sandrina malah asyik di lobi.
Saat ditanya teman perkembangan penelitian, Sandrina pasrah karena kenyataannya penelitian dia selalu gagal. Bahkan Syailendra sudah rampung, sudah daftar ujian juga, namun tidak bagi Sandrina. Ia kebingungan, nomornya sudah diblokir oleh Pak Amar.
Sudah tiga hari sejak chat terakhir, Pak Amar tidak terlihat di kampus. Sandrina mulai gusar. Ia terpaksa menemui Syailendra. Chat pemuda itu menanyakan posisi Pak Amar di mana?
"Kamu kalau bimbingan di mana, Ndra?" tanya Sandrina sudah buntu mencari Pak Amar. Terpaksa menemui Syailendra karena ia yang sering komunikasi dengan beliau.
"Di kampus, San. Kenapa?" tanya Syailendra, heran sih, karena akses dia bimbingan dengan Pak Amar sangat mudah. Bahkan ada teman lain juga bareng bimbingan bersama Syailendra.
"Kok bisa? Aku tiap hari menunggu beliau di depan jurusan, Ndra. Gak pernah bertemu?" ucap Sandrina menggebu, tak terima saja, hanya dirinya yang dihindari.
"Aku gak tahu, ya memang beliau tak tentu sih jam berapa. Kadang beliau langsung ke kelas juga, janjian saja. Emang kamu gak punya nomor beliau? Aneh deh, perasaan selama ini kamu juga gampang chat, bahkan sampai," Syailendra menatap Sandrina dengan pandangan aneh.
"Sampai apa?" tanya Sandrina curiga. Syailendra menggeleng, tapi Sandrina perempuan yang peka akan pandangan seseorang apalagi menyangkut Pak Amar.
"Apakah, Pak Amar pernah cerita tentang aku ke kamu?" Sandrina gugup kalau Syailendra sampai mengangguk. Benar prediksinya, Syailendra mengangguk. "Apa yang beliau bilang?"
"Hubungan keintiman kalian," jawab Syailendra, seketika Sandrina memukul meja, tak terima.
"Ndra, tapi aku dapat nilai itu jauh dari hubungan ini," mau sengotot apapun Sandrina menjelaskan tak membuat Syailendra peduli juga. Gak ada urusan.
"Itu urusan kamu."
"Kamu marah?" tanya Sandrina berharap Syailendra juga punya rasa terhadapnya.
"Ngapain? Kamu bukan pacar aku, suka-suka sama kamu," Sandrina memejamkan mata setelah mendengar pengakuan Syailendra. Namanya jelek sudah, dan membuat dia akan semakin jauh dengan pemuda ini. Tapi itu bukan hal penting, sekarang ia mau tahu tentang Pak Amar saja. Lebih baik menuntut tanggung jawab sebelum perut Sandrina semakin besar.
Syailendra tentu dengan muda memberi tahu rumah Pak Amar, lagian di jurusan juga ada alamat beliau dalam papan profil dosen. Sandrina pun memberanikan diri ke rumah Pak Amar, ia tak mau terlambat.
Begitu sampai rumah beliau, hanya ART saja, katanya Pak Amar sedang ke rumah sakit, istrinya melahirkan. Makin tertekan saja Sandrina menghadapi fakta yang ada. Tak mungkin segampang itu Pak Amar mau tanggung jawab apalagi punya istri yang sudah anak dari pernikahan yang sah juga.
"Mati gue, Aaarghh!" teriak Sandrina di dalam mobil. Overthinking bermunculan, terutama kalau orang tuanya tahu, temannya tahu, bagaimana seluruh kampus tahu, nama baik sebagai mahasiswi berprestasi akan runtuh seketika. Bahkan tidak hanya satu jurusan bisa semua jurusan menghakiminya, padahal mereka juga bisa jadi sudah tidak gadis seperti Sandrina.
"Gue bodoh, sumpah bodoh!" ucapnya menyesal sekarang. Kenapa dia lelah penelitian sampai mengambil jalan pintas begini? Andai saja dia lebih baik ganti judul yang lebih mudah, tentu tak sampai berhubungan dengan Pak Amar.
Sandrina pun merenung, hari ini ia tak ke mana-mana, hanya di dalam kamar scroll ponsel untuk mencari tahu obat penggugur kandungan, atau bahaya aborsi. "Mengerikan sekali," gumanya lalu membanting ponselnya di kasur. Haruskah dia menghancurkan hidupnya sendiri.
Rasanya Sandrina tak terima, ia tak mau hancur sendiri, sekali lagi ia akan menemui Pak Amar besok. Tekadnya bulat akan membongkar semua hubungannya dengan dosen ganteng itu.
Ia pamit ke orang tua mau penelitian di lab, bahkan meminta doa agar penelitiannya sukses. Nyatanya, Sandrina menuju ke rumah dosen. Kembali ART yang membukanya, dan mempersilahkan masuk karena Pak Amar ada di rumah.
Tetapi tak langsung bertemu, justru istrinya yang menemui Sandrina, perempuan itu baru saja menjemur bayi di samping rumah, dan tampak rumah masih ramai dengan kedua orang tua mereka mungkin.
Istri Pak Amar heran juga karena tahu Pak Amar paling gak suka ada mahasiswa yang datang ke rumah beliau. "Mbaknya mau bimbingan?" tanya sang istri lembut, Sandrina sempat terpaku melihat kecantikan dari istri beliau, namun ia kembali ingat tujuannya ke mari.
Sandrina menggeleng, "Saya mau bertemu dengan Pak Amar karena ada kepentingan lain, Bu!" jawab Sandrina berusaha sesopan mungkin.
"Kepentingan apa?" tanya beliau, mungkin sebagai istri juga ingin tahu kepentingan apa hingga ada mahasiswi datang ke rumah sepagi ini.
"Siapa, Yang?" tanya Pak Amar tampak segar dan langsung terpaku melihat Sandrina.
Sang istri menoleh, dan sedikit curiga dengan respon sang suami setelah melihat mahasiswinya. "Bisa kamu buatkan minum?" pinta beliau sangat lembut, dan sang istri hanya mengangguk saja.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Pak Amar dengan gergetan, sesekali melihat ke belakang siapa tahu istrinya menguping.
"Saya mau minta tanggung jawab pada Bapak!"
"Sudah saya katakan, itu bukan anak saya! Kita melakukan malam itu bukan dengan jiwa kamu, tapi kamu dirasuki oleh hantu!" jelas beliau sesuai dengan pemikiran dan fakta yang terjadi.
Sandrina jelas bingung, mana ada dirinya dirasuki hantu. "Pak, mana ada saya dirasuki hantu. Kita melakukan hari itu tanpa pengaman, Pak!"
"Pulang, saya tak mau tahu!" Amar langsung beranjak masuk tapi sayang sang istri sudah mendengar kalimat tanpa pengaman, jelas ada kaitannya dengan hubungan intim.
"Sayang!" Pak Amar kaget, namun sang istri hanya melirik saja.
"Diam kamu, Mas! Coba jelaskan apa tujuanmu ke mari?" tanya istri Pak Amar tegas. Di sana Pak Amar memberi kode sembari menggelengkan kepala pada Sandrina. Tapi keadaannya memaksa Sandrina untuk berani bertindak.
Ia mengeluarkan tespack, dengan hasil dua garis pada istri Pak Amar. "Kamu hamil?" tanya sang istri, Sandrina mengangguk. "Anak suami saya?" tanyanya lagi, dan Sandrina mengangguk, namun Amar langsung mengintruksi, tapi sang istri menyuruhnya untuk diam.
"Kamu yakin ini anak suami saya?" tanya beliau dengan suara bergetar, Sandrina tak tega. Ia bukan tipe perempuan yang berani merebut milik orang lain, selama ini ia berharap hubungan dengan Pak Amar hanya di bawah tangan, tak sampai sejauh ini.
"Ayo katakan!" sentak beliau dengan menangis.
"I..iya, Bu. Saya terakhir melakukannya tanpa pengaman dengan Pak Amar satu bulan yang lalu," ucap Sandrina sembari memejamkan mata. Sang istri langsung berteriak histeris. Bagaimana tidak, ia baru saja mempertaruhkan nyawa demi keturunan Amar, nyatanya pria ini sudah bermain api, bahkan sampai menghasilkan anak lagi dari perempuan lain.