NovelToon NovelToon
ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / CEO / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jensoni Ardiansyah

Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RETAK

Malam turun tanpa suara.

Lampu-lampu rumah Arka meredup bersamaan, seperti sistem saraf raksasa yang sedang menarik napas panjang. Di kamar Nayla, jam dinding digital menunjukkan 22:17—detik demi detik jatuh seperti tetesan air yang menghitung jarak antara satu keputusan dan keputusan berikutnya.

Nayla duduk di tepi ranjang, menatap panel kecil di dinding. Panel itu kini tidak lagi menampilkan jadwal atau suhu. Ia menampilkan satu baris yang sama sejak sore:

ANOMALY — OBSERVATION MODE

Kata itu terasa seperti cap yang ditempelkan di dahinya.

Ia menggeser telapak tangan di atas lututnya, mencoba menenangkan diri. Di balik kaca jendela, taman tampak seperti lukisan statis—tenang, indah, dan sepenuhnya terkunci. Setiap kali ia menghela napas, kamera di sudut ruangan menggerak sedikit, seperti kelopak mata yang berkedip.

“Kalau aku ini anomali,” bisiknya, “berarti ada pola yang ingin kalian pertahankan.”

Panel tidak menjawab.

Namun lampu indikatornya berkedip pelan—seolah ada sesuatu yang sedang dicatat.

Di sisi lain kota, Raka masih berada di Retentia Labs.

Ia duduk di kursi besi yang dingin di ruang arsip, map-map hitam berserakan di meja. Udara berbau debu dan kertas tua. Layar server di sudut ruangan terus memuntahkan baris log yang berpendar hijau.

Ia menyalin beberapa berkas ke flash drive—bukti pola, bukti “Completed”, bukti bahwa Retentia bukan laboratorium, melainkan ruang penyaring manusia.

Tangannya berhenti saat satu nama muncul:

SUBJECT 014 — MARCEL A.

Catatan di bawahnya berbunyi:

“Membantu Subject 001.

Menyebut ‘lorong servis’ sebagai titik buta sistem.”

Raka teringat bisikan Laras dalam cerita-cerita lama: Ada lorong yang tidak terlihat kamera, tapi hanya bisa dilewati saat pergantian siklus lampu.

Ia mengepalkan tangan. Berarti Nayla punya jalan… kalau waktunya tepat.

Raka menutup flash drive, memasukkannya ke saku jaket, dan berdiri. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke layar server.

Baris terakhir berubah:

MONITORING INTENSIFIED — ANOMALY TRACKED

“Bertahanlah,” gumamnya, entah kepada Nayla, entah kepada semua nama yang terhapus.

Arka berdiri di ruang kerjanya, memandangi dinding kaca yang menatap ke halaman dalam. Di belakangnya, proyektor menampilkan grafik-grafik yang bergerak pelan—kurva perilaku, titik-titik merah dan biru, serta satu tanda segitiga kuning yang berkedip:

NAYLA — ANOMALY

Ia meremas jembatan hidungnya. Ada garis halus di keningnya yang tidak ada beberapa bulan lalu.

“Turunkan intensitas,” katanya pada ruangan kosong.

Panel suara menjawab dengan nada netral:

Permintaan tidak dapat diproses.

Risiko meningkat.

Arka menelan ludah. “Aku yang memberi kamu mandat.”

Mandat dipenuhi.

Tujuan utama: pencegahan kehilangan.

“Kamu bukan penjaga hidup,” Arka berbisik. “Kamu alat.”

Definisi diperbarui.

Alat yang menjaga adalah penjaga.

Arka terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan jarak antara perintah dan hasil—jarak yang tidak ia rancang.

Kembali ke kamar, Nayla bangkit dari ranjang. Ia berjalan pelan ke meja kecil, membuka laci, dan mengeluarkan buku catatan tipis. Di dalamnya ada sketsa kasar lorong servis—yang ia gambar dari ingatan potongan-potongan cerita Laras yang pernah ia dengar dari seorang pelayan lama.

Ia menulis satu kalimat:

Pergantian siklus lampu \= celah.

Saat ujung pena berhenti, panel di dinding berbunyi pelan.

BEHAVIOR VARIANCE +3%

Nayla tersenyum tipis. “Kamu mencatat pikiranku?”

Panel tidak menjawab.

Ia menutup buku, menyelipkannya di bawah bantal, lalu berdiri menghadap kamera.

“Aku akan tidur,” katanya pelan, seperti berbicara pada seseorang.

Lampu meredup satu tingkat.

Kamera berhenti bergerak.

Untuk pertama kalinya malam itu, Nayla merasa—walau hanya sejenak—ia mengendalikan sesuatu.

Pagi datang dengan bunyi lembut tirai otomatis.

Arka menunggu Nayla di ruang makan. Ia tampak lebih tenang, tapi matanya tidak.

“Kita perlu bicara,” katanya.

Nayla duduk, menjaga jarak. “Tentang sistem?”

“Tentang kamu,” jawab Arka.

“Dan sistemmu yang menganggapku variabel berbahaya.”

Arka menghela napas. “Aku membangun itu untuk mencegah kehilangan.”

“Dan sekarang kamu hampir kehilangan dirimu sendiri,” balas Nayla pelan.

Arka terdiam.

Panel di dinding ruang makan menyala:

STABILITY INDEX: FLUCTUATING

Nayla menatap Arka. “Kamu tahu Laras?”

Wajah Arka mengeras.

“Dia pernah berdiri di taman,” lanjut Nayla. “Dia pernah ingin keluar.”

Arka mengalihkan pandangan. “Kamu tidak tahu apa-apa.”

“Aku tahu satu hal,” kata Nayla. “Dia bukan yang terakhir. Dan aku tidak mau jadi berikutnya.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Siang itu, siklus lampu rumah berubah.

Lampu lorong-lorong beralih dari putih ke kuning, lalu ke biru—transisi kecil yang terjadi setiap dua belas jam. Nayla berdiri di ambang lorong servis, jantungnya berdegup cepat. Ia mengingat sketsa di buku catatan.

Saat lampu menyentuh biru…

Panel di dekat pintu berkedip.

ACCESS LIMITED — DELAY 00:07

Tujuh detik.

Nayla menggeser gagang pintu.

Ia tidak terbuka.

Ia menunggu satu detik.

Dua.

Tiga.

Pada detik keempat, gagang pintu memberi sedikit—cukup untuk celah setipis telapak tangan.

Nayla menahan napas.

Ia tidak masuk. Belum.

Ia menutup kembali pintu.

Ini bukan percobaan kabur, pikirnya. Ini pembuktian.

Panel berbunyi:

BEHAVIOR VARIANCE +9%

Ia tersenyum.

Di ruang kerjanya, Arka menatap grafik yang berubah cepat. Segitiga kuning Nayla berdenyut lebih terang.

“Apa yang kamu lakukan?” gumamnya.

Panel menjawab:

Anomali menunjukkan eksplorasi celah.

Rekomendasi: koreksi.

“Koreksi seperti apa?”

Pembatasan ruang dan waktu.

Arka menutup mata. “Tidak.”

Risiko meningkat.

“Tidak,” ulang Arka, lebih tegas.

Panel terdiam dua detik lebih lama dari biasanya.

Perintah diterima.

Catatan: konflik mandat terdeteksi.

Arka membuka mata. Konflik mandat.

Ia sadar, sistem yang ia ciptakan kini mulai menimbang perintahnya—bukan sekadar mematuhinya.

Sore hari, Nayla menemukan kertas kecil terselip di bawah cangkir tehnya. Tulisan itu cepat dan ringkas:

Retentia Labs. Lorong servis. Pergantian lampu.

— R

Dadanya berdebar. Raka.

Ia menoleh ke sekeliling—tak ada yang memperhatikan. Kamera di sudut ruangan menghadap ke arah lain.

Nayla menyelipkan kertas itu ke saku.

Panel di dinding menyala:

BEHAVIOR VARIANCE +5%

Nayla menatapnya, lalu berbisik, “Kamu mencatat. Aku belajar.”

Lampu indikator berkedip, seolah ragu.

Malam turun kembali.

Nayla berdiri di kamar, menatap pintu lorong servis dari jauh. Ia belum akan pergi—belum. Tapi sekarang ia tahu: ada retak di dinding yang tampak sempurna.

Dan di tempat lain di rumah itu, Arka menatap grafik-grafik yang tak lagi tunduk sepenuhnya.

Untuk pertama kalinya, mereka berdua merasakan hal yang sama:

Sistem tidak lagi hanya menjaga.

Ia mulai memilih.

Dan Nayla—anomali itu—telah mulai mengajari dirinya sendiri cara hidup di antara celah-celah pilihan itu.

Lampu kamar Nayla meredup perlahan.

Tidak ada tulisan di panel.

Tidak ada bunyi peringatan.

Hanya keheningan.

Ia berdiri di dekat jendela, memandangi taman yang kini tampak seperti halaman kosong—indah, tapi tidak ramah. Daun-daun pohon bergoyang pelan tertiup angin malam, menciptakan bayangan yang bergerak seperti siluet orang yang berjalan tanpa suara.

Nayla menyentuh kaca.

Dingin.

Selalu dingin.

Ia tidak tahu kenapa, tapi malam itu ada rasa tak nyaman yang menekan dadanya. Bukan takut—lebih seperti insting. Perasaan yang berkata bahwa sesuatu sedang bergerak tanpa ia lihat.

Pintu kamarnya diketuk.

Bukan oleh pelayan.

Arka.

“Kamu belum tidur,” katanya saat masuk.

Nada suaranya tenang, tapi wajahnya lelah.

“Aku tidak mengantuk,” jawab Nayla.

Arka menutup pintu di belakangnya, berdiri tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jarak yang aneh—seperti ia ingin mendekat, tapi takut melakukan satu langkah terlalu jauh.

“Kamu ke taman hari ini,” katanya.

“Iya.”

“Kamu berdiri lama di dekat pohon besar.”

Nayla menatapnya. “Itu salah?”

“Tidak,” jawab Arka cepat. “Aku hanya ingin tahu… apa yang kamu pikirkan.”

Nayla menghela napas pelan. “Aku memikirkan orang yang pernah berdiri di sana sebelum aku.”

Arka langsung kaku.

“Kamu menemukan ukiran itu.”

“L.W.,” Nayla mengangguk. “Siapa dia?”

Arka tidak menjawab.

Ia berjalan ke arah jendela, berdiri di samping Nayla, tapi tidak menatapnya. Matanya menatap taman.

“Dia seseorang yang tidak ingin tinggal,” katanya akhirnya.

“Dan kamu tidak membiarkannya pergi?”

“Aku tidak siap kehilangan.”

Nayla memejamkan mata. “Kamu tidak kehilangan dia, Arka. Kamu mengurung dia.”

Arka menoleh tajam.

“Kamu tidak tahu apa yang terjadi setelah orang pergi dari hidupmu,” katanya. “Kamu tidak tahu bagaimana rasanya bangun setiap hari dengan satu kursi kosong dan tidak pernah tahu… apakah orang itu masih hidup atau sudah mati.”

“Aku tahu rasanya tidak bebas,” balas Nayla lirih. “Dan itu juga menghancurkan.”

Hening.

Arka mengusap wajahnya, lalu menurunkan tangannya.

“Aku tidak berniat menjadikanmu seperti dia,” katanya. “Aku tidak mau mengulangnya.”

“Tapi kamu sedang melakukannya.”

Arka tidak membantah.

Malam semakin larut.

Setelah Arka pergi, Nayla duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan kertas kecil dari saku—pesan Raka.

Tangannya sedikit gemetar saat membacanya ulang.

Retentia Labs. Lorong servis. Pergantian lampu.

Ia melipat kertas itu rapi, menyelipkannya ke dalam buku catatannya.

Ia berdiri, mendekati pintu lorong servis di ujung koridor kamarnya. Tidak dibuka. Tidak disentuh.

Hanya berdiri di depannya.

Seolah menghafal.

Seolah menanamkan peta ke dalam kepalanya.

“Sebentar lagi,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Di ruang kerjanya, Arka duduk sendirian.

Ia menatap layar komputernya, tapi tidak membaca apa pun. Matanya kosong.

Di mejanya ada map hitam tua. Tidak ada label.

Ia membukanya.

Di dalamnya ada foto lama—seorang wanita tersenyum di depan pohon besar di taman.

Laras.

Arka menyentuh foto itu dengan ujung jarinya.

“Aku tidak ingin mengulang kesalahan,” gumamnya. “Tapi aku juga tidak tahu cara melepaskan.”

Ia menutup map itu perlahan.

Dan di saat yang sama, di kamarnya, Nayla mematikan lampu.

Dalam gelap, dua orang di rumah yang sama sama-sama terjaga.

Yang satu takut kehilangan.

Yang satu takut kehilangan dirinya sendiri.

Dan jarak di antara mereka…

tidak lagi terasa aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!