Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-hari Jovan di Desa
Hari -hari Jovan di Desa Sumberjati mulai membentuk pola.
Pagi, ia bangun lebih awal dari Pak Raka. Duduk di teras, memperhatikan jalan.
Menyapu halaman meski hasilnya tidak rapi.
Mengangkat ember air dengan satu tangan, menahan diri agar tidak memaksakan bahu.
Membantu Mika memetik buah, meski lebih sering menjadi pengamat yang terlalu waspada.
“Kau seperti orang yang sedang berjaga,” kata Mika suatu pagi.
Jovan tersenyum samar. “Kebiasaan lama.”
Mika tidak menertawakannya. Ia hanya menyerahkan keranjang kecil. “Kalau begitu, jaga yang ini.”
Keranjang itu ringan. Tapi Jovan menerimanya dengan keseriusan seolah diberi senjata.
Di kebun, waktu berjalan lambat. Matahari naik tanpa terburu-buru. Angin menggeser daun pisang, menimbulkan suara berdesir yang menenangkan. Jovan duduk di bawah pohon saat Mika berdiri di ujung jinjit, meraih cabang jambu air yang rendah. Ia memanjat sedikit, bertumpu pada cabang bawah yang kokoh, lalu memetik buah berwarna merah muda itu satu per satu, memeriksanya sebelum memasukkan ke keranjang.
Sesekali, Mika menjatuhkan buah dengan sengaja bukan karena jatuh, tapi karena ingin melihat apakah Jovan sigap menangkapnya.
Dan Jovan selalu menangkapnya.
“Refleksmu berlebihan,” kata Mika sambil tertawa kecil.
“Atau kau yang menjatuhkannya terlalu dekat,” jawab Jovan.
Mika mendengus. “Berarti kau sudah hafal jaraknya.”
Jovan terdiam sesaat. Ia baru sadar, iya. Ia memang memperhatikan jarak Mika. Langkahnya. Cara ia bergerak. Tanpa sadar.
Ketika mereka berjalan pulang, Mika tersandung akar kecil. Tidak jatuh, tapi cukup membuatnya oleng. Jovan reflek meraih lengannya.
Terlalu cepat.
Terlalu dekat.
Mika terdiam. Jovan juga.
Sentuhan itu tidak lama. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah. Mika menarik lengannya perlahan, tidak menjauh sepenuhnya.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Jovan mengangguk. “Lain kali lihat ke bawah.”
“Kau seperti ayahku,” Mika tersenyum.
“Semoga tidak,” jawab Jovan, terlalu cepat.
Mika tertawa. Dan tawa itu ringan, jujur membuat Jovan lupa untuk berhitung.
Siang hari, mereka duduk di dapur. Mika menghitung uang hasil jualan kemarin. Jovan duduk di seberangnya, memperbaiki keranjang bambu yang sedikit lepas anyamannya.
“Kalau begini terus,” kata Mika sambil melipat uang, “orang bisa mengira kau benar-benar orang sini.”
Jovan menatap keranjang itu. “Apa itu buruk?”
Mika menggeleng. “Hanya… aneh.”
“Aneh bagaimana?”
Mika mengangkat bahu. “Kau masuk ke hidup kami terlalu cepat.”
Jovan berhenti bekerja. “Kalau kau mau aku menjaga jarak...”
“Tidak,” potong Mika cepat, lalu terdiam. “Maksudku… bukan itu.”
Keheningan kecil jatuh di antara mereka.
Saat itulah Pak Raka masuk ke dapur. Ia berhenti melangkah ketika melihat posisi mereka, Jovan yang duduk terlalu dekat, Mika yang terlalu diam, dan suasana yang terlalu tenang untuk sekadar kebetulan.
Pak Raka berdehem.
Keras.
Jovan refleks menjauh setengah inci. Mika hampir menjatuhkan uang di tangannya.
“Tehnya keburu dingin,” kata Pak Raka datar. “Kalau mau duduk berhadapan, jangan lupa napas.”
Mika memerah. “Ayah!”
Jovan menunduk, menahan senyum yang hampir lolos.
Pak Raka menuang teh, duduk, lalu menatap Jovan dengan sorot mata yang sulit dibaca. Bukan marah. Bukan curiga. Lebih seperti… mengingatkan.
“Desa ini kecil,” katanya pelan. “Apa pun yang tumbuh, cepat terlihat.”
Jovan mengangguk. Ia mengerti. Terlalu mengerti.
.
Sore itu, Jovan berjalan sendiri sebentar di pinggir jalan desa. Ia menyapa orang-orang. Membalas senyum. Tidak menghitung langkah.
Dan untuk beberapa jam hanya beberapa jam ia hampir lupa bahwa semua ini sementara.
Bahwa ketenangan selalu meminta harga.
Jovan mulai mengenali ritme desa seperti ia dulu mengenali wilayah kekuasaan, siapa yang lewat pagi, siapa yang hanya muncul sore, siapa yang berhenti terlalu lama di satu titik.
Dan ia tahu ritme itu berubah.
Ada orang-orang yang dulu rutin lewat, kini menghilang. Digantikan wajah baru. Terlalu rapi. Terlalu bersih. Terlalu diam untuk orang desa.
Ia tidak mengatakan apa pun pada Mika.
Namun sikapnya berubah. Ia lebih sering berada di dekat rumah. Lebih sering memastikan Mika tidak pergi sendirian terlalu jauh. Lebih sering menunggu di batas kebun.
“Seperti mengawasi,” komentar Mika suatu sore.
“Seperti berjaga,” koreksi Jovan.
Mika tidak membantah. Tapi di dadanya, muncul rasa tidak nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bukan karena Jovan, melainkan karena dunia di luar pagar rumah mereka terasa… berbeda.
Malam itu, setelah lampu rumah dipadamkan, Jovan kembali terjaga.
Bukan karena suara. Desa Sumberjati tidur terlalu nyenyak untuk mengganggu siapa pun. Yang membuatnya terjaga adalah kebiasaan lama—tubuhnya menolak percaya pada kedamaian yang datang tanpa syarat.
Ia berdiri di dekat jendela, mengintip celah tirai. Jalan desa kosong. Tidak ada motor lewat. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada bayangan.
Namun justru itu yang mengganggunya.
Di Valenport, malam yang terlalu bersih selalu berarti satu hal, seseorang sedang menunggu.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas panjang. Tidak ada gunanya berjaga seperti dulu. Ia tidak lagi sendirian. Dan itulah masalahnya.
Dari kamar sebelah, ia mendengar suara kain digerakkan perlahan. Mika belum tidur. Jovan ragu sejenak, lalu melangkah pelan.
Pintu kamar Mika tidak tertutup rapat.
Mika duduk di lantai, melipat pakaian bersih. Rambutnya tergerai, wajahnya tampak lelah tapi tenang. Ia terkejut kecil saat melihat Jovan berdiri di ambang pintu.
“Kau belum tidur,” katanya.
“Begitu juga kau.”
Mika tersenyum tipis. “Aku lebih mudah tidur kalau semuanya rapi.”
Jovan mengangguk. Ia mengerti itu. Di dunianya, merapikan senjata adalah cara untuk menenangkan pikiran.
Ia duduk berjarak aman, tidak masuk sepenuhnya ke kamar. Mika menyerahkan satu potong pakaian.
“Kalau kau tidak keberatan.”
Jovan menerimanya. Mereka melipat dalam diam.
Tidak canggung. Tidak tergesa.
“Kau benar-benar akan tinggal?” tanya Mika akhirnya, suaranya hampir berbisik.
“Untuk sementara,” jawab Jovan.
“Itu berbahaya?”
Jovan tidak langsung menjawab. “Untuk orang-orang di sekitarku, iya.”
Mika berhenti melipat. “Termasuk aku?”
Jovan menatap tangannya sendiri. “Justru kau.”
Kejujuran itu membuat Mika menelan ludah. Tapi ia tidak menarik diri. Ia hanya mengangguk kecil, seolah menerima sesuatu yang tidak bisa ia ubah.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau harus lebih berhati-hati. Bukan hanya untuk dirimu.”
Jovan mengangguk. “Aku tahu.”
Ia berdiri lebih dulu. “Tidurlah. Besok kau ke pasar.”
Mika menatapnya. “Kau ikut?”
Jovan ragu sepersekian detik. “Kalau kau mengizinkan.”
Mika tersenyum kecil. “Aku akan lebih tenang kalau kau ikut.”
Kalimat itu mengikuti Jovan sampai ia kembali ke kamarnya.
.
Pagi berikutnya, desa kembali bergerak seperti biasa. Mika berangkat lebih awal dari biasanya. Jovan berjalan di sampingnya, langkahnya masih dibatasi luka, tapi sikapnya jauh lebih tenang.
Beberapa orang menatap mereka. Lebih lama dari kemarin.
“Biasanya mereka tidak begitu,” bisik Mika.
“Mereka sedang menilai,” jawab Jovan.
“Menilai apa?”
“Apakah aku layak ada di sini.”
Mika mendengus pelan. “Desa ini tidak punya aturan tertulis.”
“Tapi punya ingatan,” balas Jovan.