NovelToon NovelToon
CLBK Couples

CLBK Couples

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ichageul

Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan

Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.

Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.

Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.

Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.

Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Complicated Couple (8) Mencari Jawaban

Hari sabtu, jalanan ibu kota tidak terlalu macet. Irzal memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.

“Pop.. Dimas ngga punya hp?” Irzal membuka percakapan.

“Iya a, aku belum sempet beliin dia hp.”

“Kalau sekarang gimana? Kita cari hp buat Dimas. Sekalian jalan-jalan dari pada di rumah terus, suntuk.”

Poppy tak percaya Irzal mengajaknya jalan-jalan. Dia melihat ke arah Irzal, ada yang aneh dengan sikapnya hari ini. Tanpa menunggu jawabannya, Irzal mengarahkan kendaraannya menuju mall yang khusus menjual gadget dan peralatan elektronik. Sesampainya di sana, Irzal mengajak Poppy turun, namun dia hanya diam.

“Ayo turun,” ajak Irzal.

“Ngga usah a,” jawab Poppy pelan.

“Loh kenapa?”

Poppy tak langsung menjawab. Melihat ke arah Irzal sejenak kemudian,

“Ngga perlu a, biar nanti aku beli sendiri. Dan soal pembicaraan kita tempo hari aa ngga usah pikirin. Anggap aja aku ngga pernah ngomong itu.”

“Kamu ingin kejelasan dari aku tapi kamu ngga mau kasih aku kesempatan. Terus bagaimana aku bisa memberi jawaban sama kamu.”

“Jawaban apa?”

“Apa arti kamu di hidup aku. Mulai hari ini aku akan kasih jawaban itu, bukan cuma untuk kamu tapi karena aku juga mau tahu arti aku dalam hidup kamu. Kalau kamu menutup pintu seperti ini, bagaimana aku bisa tahu apa yang ada dalam hati kamu.”

Irzal menatap Poppy lekat-lekat seakan ingin menegaskan kalau dia serius dengan ucapannya barusan. Untuk sesaat mereka hanya diam dan saling memandang. Kemudian Irzal turun dari mobil, membukakan pintu untuk Poppy. Dia memberi isyarat untuk turun. Akhirnya Poppy turun. Mereka pun segera masuk ke dalam gedung.

Irzal dan Poppy berkeliling melihat-lihat, mereka belum tahu akan membeli ponsel apa untuk Dimas. Sambil berkeliling mereka mengambil brosur yang diberikan.

“Pop.. aku ke toilet dulu ya.”

“Iya a, aku tunggu di sini.”

Irzal bergegas menuju toilet. Poppy terdiam memikirkan perkataan Irzal. Dia ingin mengetahui arti dirinya dalam hidup Poppy. Selama ini Poppy terus merasa Irzal menarik ulur hatinya sehingga tak menyadari kalau selama itu pula dia kerap menjaga jarak dari Irzal. Lalu dia teringat bagaimana tadi Irzal menyelamatkannya dari para preman yang mencegatnya, menggenggam tangannya bahkan mau memakan makanan yang tak disukainya. Tanpa sadar Poppy tersenyum.

Poppy masih melamun. Dia tak menyadari sedari tadi banyak pria yang memperhatikan dirinya. Salah satunya adalah seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya. Sambil menghisap rokoknya dia terus memandangi Poppy dari atas sampai bawah.

Irzal keluar dari toilet, matanya langsung tertuju ke tempat Poppy menunggunya tadi. Ternyata istrinya masih ada di sana. Lalu dia melihat seseorang yang mencurigakan. Pemuda yang sedari tadi terus memperhatikan Poppy. Pemuda itu mematikan rokoknya dan mulai berjalan ke arah Poppy. Melihat itu Irzal buru-buru menghampiri Poppy.

Poppy masih belum menyadari ada seseorang yang menghampirinya. Saat pemuda itu semakin mendekatinya, Irzal memotong di antara mereka. Pemuda itu terkejut melihat Irzal dan langsung berbalik menjauhi Poppy.

“Gimana udah ada hp yang cocok?”

Poppy terkejut karena Irzal sudah ada di sampingnya lagi.

“Belum a,” karena sedari tadi Poppy asik melamun.

Irzal mengambil beberapa brosur yang dipegang Poppy, melihat-lihatnya sebentar. Lalu menunjuk sebuah brosur dengan gambar ponsel Sony Xperia M, sama seperti yang dimiliki Rena.

“Jangan yang ini, kemahalan a, yang lain aja,” tolak Poppy halus.

“Udah yang ini aja. Tapi ke counter yang di sana aja, di sini rame banget.”

Poppy akhirnya menuruti keputusan Irzal. Mereka berjalan menuju counter yang dimaksud. Dia melihat beberapa pria melirik diam-diam pada Poppy.

“Hadeuh.. kamu yang terlalu cantik apa cowo-cowo di sini mata keranjang semua,” gumamnya dengan nada gusar.

“Kenapa a?” Poppy tak mengerti.

“Ngga.”

Irzal pun merangkul Poppy. Lagi-lagi Poppy merasakan getaran yang tak biasa saat tangan Irzal menyentuh bahunya.

❤️❤️❤️

Irzal dan Poppy masuk ke dalam mobil, acara membeli ponsel sudah selesai. Sebelum menstarter mobil, dia bertanya pada Poppy.

“Sekarang kita mau kemana?”

“Hmm.. kemana ya?” berpikir sejenak.

“Kita nonton aja, mau ngga?”

“Mau.. mau,” Poppy bersemangat.

Poppy teringat ada sebuah film yang sedang tayang dan sangat ingin ditontonnya. Irzal memacu mobilnya menuju mall tempat mereka akan menonton film.

Tak berapa lama mereka sampai di tempat tujuan. Keduanya langsung menuju bioskop. Tanpa melihat-lihat dahulu, Poppy langsung menunjuk film yang akan ditontonnya, sebuah film bergenre horror.

“Yakin mau nonton ini? tanya Irzal.

“Iya, kenapa? Aa takut?”

Poppy balik bertanya setengah meledek. Irzal hanya tersenyum lalu berjalan menuju tempat penjualan tiket. Dia memilih tempat duduk di barisan atas dan paling ujung.

Setelah menerima tiket, dia memberikannya pada Poppy. Poppy melihat nomor kursi dengan panik. Sebenarnya dia paling takut duduk di kursi yang dipilih oleh Irzal. Setiap ke bioskop dia selalu memilih duduk di tengah, kursi paling ujung adalah tempat yang dia hindari. Poppy menenangkan dirinya.

Tenang Poppy, ada suami kamu. Jangan takut. Kalau perlu peluk aja suami kamu. Modus dikit hehehe..

Irzal melihat jam tangannya, waktu pertunjukkan masih sekitar empat puluh menit lagi. Dia mengajak Poppy untuk shalat ashar terlebih dahulu. Mereka menuju mushola yang terletak di lantai bawah.

Selesai shalat mereka kembali ke bioskop. Pintu studio sudah dibuka. Sebelum masuk mereka membeli dulu dua buah popcorn dan minuman. Setelah itu masuk ke studio dan langsung menuju kursi. Film ini memiliki cukup banyak peminat, hampir separuh studio terisi penuh. Kursi di deretan Poppy pun hanya menyisakan dua bangku yang kosong, tepat di sebelah kursi yang mereka pilih. Poppy meminta Irzal duduk di kursi paling ujung, tanpa banyak bertanya Irzal menurutinya.

Beberapa menit kemudian lampu sudio mulai padam, pertunjukkan pun dimulai. Poppy menonton dengan antusias sambil memakan popcornnya. Sesekali dia harus menahan nafas karena tegang, bahkan beberapa kali menutup matanya atau memalingkan wajahnya ketika muncul adegan seram.

Pertunjukkan memasuki pertengahan durasi film. Poppy merasa ada yang aneh. Irzal sedari tadi hanya diam, tidak memakan popcornnya atau menyentuh minumannya. Karena penasaran, Poppy melihat ke sebelahnya. Ternyata bukannya menonton, Irzal malah sedang tertidur pulas. Poppy terbengong melihatnya, bagaimana dia bisa enak tidur seperti ini, tanpa terganggu sedikitpun. Baru kali ini Poppy melihat seseorang tertidur pulas saat menonton film horror.

Poppy memandangi Irzal sejenak, terlihat beberapa kali kepalanya turun naik. Akhirnya dia meraih kepala Irzal pelan-pelan lalu menyandarkannya di bahunya. Dia melanjutkan nontonnya.

Pertunjukkan pun usai, lampu studio kembali menyala. Kelopak mata Irzal bergerak ketika suasana studio kembali terang. Dia membuka matanya perlahan, di layar hanya terlihat credit tittle, film sudah selesai. Irzal terbangun, melihat Poppy sedang melihat ke arahnya. Sedari tadi dia tidur nyenyak sambil bersandar di bahunya.

“Udah bangun a? Enak tidurnya?” tanya Poppy.

Irzal hanya berdehem, dia menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Poppy menepuk-nepuk bahu kanannya yang terasa pegal. Irzal melirik ke arahnya, lalu memijit bahu Poppy sebentar. Mereka pun keluar dari studio, Irzal langsung menuju toilet untuk mencuci mukanya. Sedangkan Poppy menunggu di dekat toilet. Tak berapa lama Irzal keluar, wajahnya sudah lebih segar.

“Sekarang mau kemana?” tanya Irzal.

“Terserah.”

Irzal melihat jam tangannya, sudah hampir jam enam.

“Shalat maghrib dulu aja, abis itu kita makan.”

Poppy hanya mengangguk, mereka berjalan ke arah eskalator menuju lantai bawah tempat mushola berada.

“Mau makan apa?”

“Pecel lele,” jawab Poppy cepat.

“Kamu suka pecel lele?”

Poppy mengangguk, Irzal ikut mengangguk tanda setuju dengan pilihan Poppy.

Suasana mushola cukup ramai, banyak pengunjung yang menunaikan shalat maghrib seperti mereka. Dikarenakan kapasitas mushola yang tak terlalu besar, mereka harus bergiliran masuk. Lima belas menit kemudian Irzal keluar dari mushola, dan tak berapa lama Poppy menyusul keluar. Mereka lalu berjalan keluar mall, mencari makanan yang diinginkan Poppy dengan berjalan kaki. Karena di sekitar mall banyak warung tenda yang menyajikan berbagai macam makanan.

Poppy menikmati makan malam ini, bukan karena menunya adalah makanan kesukaannya tetapi karena malam ini begitu spesial. Untuk pertama kalinya dia makan malam hanya berdua saja dengan suaminya. Sesekali dia melihat ke arah Irzal yang makan dengan lahap. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah Irzal merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakannya saat ini.

Sehabis makan, Irzal dan Poppy memutuskan untuk berjalan-jalan dahulu menikmati suasana malam. Seperti biasanya malam minggu tak pernah sepi, ada banyak orang yang menghabiskan malam week end ini dengan berjalan-jalan, baik dengan keluarga, teman atau dengan pasangan masing-masing. Selain warung tenda, banyak pula pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya.

Irzal dan Poppy berjalan menyusuri trotoar sambil melihat-lihat sekeliling. Lalu mereka melihat di dekat taman ada orang-orang yang berkerumun. Irzal mengajak Poppy melihatnya. Dia menggandeng tangan Poppy menuju kerumunan massa. Sesampainya di sana ternyata sedang ada pertunjukkan musik jalanan.

Poppy dan Irzal ikut menyaksikan, mereka menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur orang-orang yang menontonnya. Wajah Poppy tak berhenti tersenyum, terkadang dia ikut bernyanyi. Irzal memandangi Poppy, merasa menyesal mengapa tak melakukan hal-hal seperti ini sejak dulu. Ummi benar, melihat pasangan kita bahagia, maka otomatis kita pun akan merasa bahagia. Melihat kebahagiaan Poppy hari ini, dia pun merasa bahagia.

Beberapa penonton meninggalkan tempat pertunjukkan, namun ada beberapa penonton baru yang bergabung. Seorang pemuda datang menonton sambil menggendong anjing pudelnya lalu berdiri di samping Poppy. Pemuda itu nampak menikmati pertunjukkan, anjing pudel yang digendongnya ikut bergerak-gerak mengikuti iringan musik.

Poppy melihat pemuda di sampingnya. Ketika melihat anjing pudel yang berada di pundak pemuda itu, seketika anjing pudel itu bergerak ke arah Poppy seperti akan meloncat ke arahnya. Poppy terkejut, refleks dia menghindar dan langsung memeluk Irzal. Pemilik anjing itu terkejut karena gerakan anjingnya pada Poppy, dia pun meminta maaf lalu segera pergi. Untuk beberapa saat Poppy terdiam memandang kepergian pemuda itu. Dia baru menyadari kalau masih memeluk Irzal. Perlahan Poppy melepas pelukannya namun Irzal segera melingkarkan tangannya di pinggang Poppy. Malu-malu Poppy menyandarkan kepalanya di dada Irzal.

❤️❤️❤️

Hari semakin larut, mereka memutuskan untuk pulang. Selama dalam perjalanan mereka hanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jalanan ibu kota sudah tidak semacet tadi, maka dengan cepat mereka sampai di rumah. Selesai memarkirkan mobilnya, Irzal segera turun dari mobil dan menyusul Poppy yang menunggunya di teras. Baru saja Poppy akan mengetuk, pintu rumah sudah terbuka. Wajah ummi muncul dari balik pintu. Poppy mengucapkan salam, mencium punggung tangan ummi, begitu pula dengan Irzal.

“Habis dari mana, malam begini baru pulang?” tanya ummi.

“Habis jalan-jalan ummi. Maaf ya ummi, kita pulangnya kemaleman,” jawab Poppy yang tak enak dengan ummi karena masih terjaga.

“Ngapain minta maaf, ummi malah seneng lihat kalian seperti ini. Sebagai suami istri kalian tuh harus sering-sering menghabiskan waktu bersama-sama. Dulu abi sama ummi juga begitu waktu baru nikah, setiap abi libur kerja pasti ngajak ummi jalan-jalan.”

Poppy tersenyum mendengarnya. Baginya ummi bukanlah seorang mertua, tetapi serasa ibu kandungnya sendiri. Perhatian dan kasih sayang ummi kepadanya sama besarnya seperti mama.

“Maaf ya ummi kita tadi ngga sempet beli apa-apa,” kali ini giliran Irzal yang berbicara.

“Ngga usah mikirin ummi, kalian seperti ini aja ummi udah seneng.”

Poppy dan Irzal pun pamit pada ummi. Mereka baru saja akan menaiki tangga ketika suara ummi kembali terdengar.

“Tapi kalau ummi minta sesuatu sama kalian boleh? Ngga harus sekarang juga sih, tapi secepatnya kalau bisa.”

“Apa itu ummi?” tanya Poppy.

“Cucu,” ummi tersenyum menggoda.

Irzal langsung berdehem mendengarnya. Sedang Poppy tampak tersipu malu. Tanpa berbicara Irzal langsung naik ke atas, ummi memberi isyarat pada Poppy untuk segera menyusul ke kamar.

Irzal masuk ke dalam kamar. Sofanya sudah ada di kamarnya lagi. Dia terdiam memandang sofa itu, lalu berjalan ke arah pintu yang menuju balkon. Membukanya lebar-lebar kemudian mendorong sofa ke arah balkon. Tak lama kemudian Poppy masuk ke dalam kamar. Meletakkan handbag yang berisi ponsel di atas meja kerja Irzal, kemudian menaruh tasnya di dalam lemari.

Irzal yang baru saja selesai memindahkan sofa langsung masuk ke kamar dan menutup pintu. Setelahnya pergi ke kamar mandi. Poppy duduk di depan meja rias membersihkan wajahnya, mengambil pakaian tidurnya dan keluar kamar. Di depan kamar dia bertemu Irzal yang sudah selesai membersihkan diri. Poppy langsung masuk ke kamar mandi.

Irzal duduk di atas ranjang. Dia mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya hari ini bersama Poppy. Senyuman mengembang di bibirnya. Lamunan Irzal buyar ketika pintu kamar terbuka. Poppy masuk ke dalam kamar. Dia menuju meja riasnya, mengoleskan krim malam di wajahnya.

Poppy melihat ke arah Irzal yang belum tidur. Masih duduk menyender. Entah mengapa malam ini gugup sekali, dengan langkah pelan dia berjalan menuju ranjang, lalu naik dan duduk di samping Irzal. Detak jantung Poppy mulai tak karuan. Tiba-tiba lampu di kamar padam. Poppy terkejut, refleks dia memegang tangan Irzal.

“Aku turun dulu ya, takut sikringnya turun.”

“Ikut a.”

“Tunggu aja, sebentar kok.”

Irzal segera keluar kamar sambil membawa ponselnya lalu turun ke bawah. Poppy duduk diam di atas kasur, suasana begitu gelap. Terbayang adegan dari film horror yang tadi ditontonnya, bulu kuduk Poppy berdiri. Lalu dia merasa sebuah tangan menyentuh bahunya, Poppy berteriak ketakutan.

“Aaaaa..”

“Pop.. ini aku, kamu kenapa sih?”

Irzal menyalakan ponselnya. Sinar dari layar ponsel membuat suasana tak terlalu gelap.

“Ini pasti gara-gara nonton film horror tadi.”

“Listriknya belum nyala a?” tanya Poppy.

“Kayanya mati dari pusatnya, semuanya juga mati.”

“Biasanya kalau di film horror, hantunya keluar pas gelap kaya gini kan.”

Bukannya menenangkan Poppy yang sedang ketakutan, Irzal malah menakutinya. Poppy memegang lengan Irzal dengan kencang. Saat yang bersamaan lampu kembali menyala. Suasana kamar kembali terang. Poppy masih memegangi lengan Irzal suaminya dengan erat. Irzal menatap wajah Poppy, jarak di antara keduanya begitu dekat. Poppy melepaskan lengan Irzal.

“Udah tau penakut tapi masih aja ngajak nonton film horror.”

“Emangnya ngga boleh,” ucap Poppy pelan.

“Ngga boleh kalau nontonnya ngga sama aku.”

Poppy menatap Irzal, dia bertanya-tanya apa yang diperlihatkannya sekarang adalah benar-benar perasaan Irzal yang sesungguhnya. Seakan mengetahui apa yang dipikirkan Poppy, Irzal pun berkata,

“Jangan berpikir yang macam-macam. Kita jalani aja. Mulai sekarang kita harus lebih terbuka. Jangan menahan diri lagi, dengan begitu kita bisa tahu jawaban dari pertanyaan kita.”

Poppy mengangguk.

“Sekarang tidur ya,” Poppy kembali mengangguk. Irzal akan mematikan lampu tapi Poppy melarang.

“Ngga usah dimatiin lampunya.”

“Kenapa? Takut ya?” Irzal tak menuruti Poppy, dia segera mematikan lampu kamar.

“Ngga usah takut, ada aku.”

Irzal berbaring lalu merentangkan tangan kanannya, merebahkan kepala Poppy di atasnya, kemudian mendekap tubuh mungil istrinya. Poppy terdiam memandang Irzal tepat di depan matanya, belum pernah dia tidur dengan posisi sedekat ini dengan suaminya. Jantungnya langsung berdegup kencang. Tentu saja hanya Irzal yang ingat telah beberapa kali mereka tidur dengan posisi berdekatan seperti ini.

Irzal memandangi wajah wanita yang telah dinikahinya ini cukup lama. Lalu membelai rambut Poppy, mengusap lembut pipinya. Degup jantung Poppy naik turun seperti sedang menaiki roller coaster, dia tak mampu memandang wajah Irzal dan hanya memejamkan matanya. Irzal mengecup lembut keningnya. Poppy masih belum berani membuka matanya.

“Kamu ngga mau cium pipiku?” Irzal menggoda.

Poppy membuka matanya. Melihat tak mengerti.

“Kamu lupa pernah cium aku pas bangun tidur.”

Irzal menaik turunkan alisnya menggoda istrinya. Wajah Poppy langsung memerah. Dia membenamkan wajahnya di dada suaminya. Irzal menyentuh dagu Poppy, mendongakkannya ke arah wajahnya, kemudian.

CUP

Irzal mengecup bibir istrinya. Lagi-lagi wajah Poppy memerah seperti udang rebus.

“Ciuman pertamaku,” guman Poppy pelan tapi masih bisa didengar oleh Irzal.

“Bukan, itu yang kedua.”

“Hah? Terus yang pertama kapan?”

“Rahasia,” Irzal tersenyum senang berhasil membuat istrinya penasaran.

“Dan ini yang ketiga,” lanjutnya.

CUP

Lagi dia mengecup bibir mungil istrinya. Seperti ada marching band bermain di dada Poppy. Bunyinya begitu keras. Irzal mendekap Poppy, membiarkannya merasakan degup jantungnya yang juga berdetak keras. Perlahan detak jantung mereka kembali normal. Kini hanya kenyamanan yang terasa. Rasa kantuk mulai menyerang. Mereka tertidur dengan saling berpelukan.

1
P_nR
keren 👍🏻 nano nano rasanya 😘
Andini Hana Fakhirah
aku sudah menduga itu adit
Sindy Sintia
aku mikir Santi minta cucu kembar sepasang, hanya untuk di pisahkan dr Ega dan Alea,, Santi mau kuasain anak perempuan Ega sendirian, biar Ega dan Alea rasain gimana dulu Santi kehilangan anak perempuan nya(kakak Ega)
Sindy Sintia
tapi permasalahan blom selesai ,, Fanny yang mau Alea jd bonekanya,, Santi dan tombak yg benci ega
Sindy Sintia
jawaban ku bener Adit masih hidup.. bukan Adit pengagum debby
Sindy Sintia
kaya Adit sengaja menghilang semntra biar mereka ga gangguin Ega deh, atau Adit udah oplas tp blom berani kluar dr persembunyian nya
Sindy Sintia
lahiran caesar juga pengorbanan tau, malah harusnya yg lahir sesar tu lebih di hormati KRNA sakit ny setalah bayi lahir tu ya tuhan,, mmng aku lahiran normal 3x ga rasain sesar, tp liad org yg lahiran sesar ngilu sendiri tau
Sindy Sintia
ya iya lha Santi Willy dan tombak tak pernah ada dalam pikiran Ega ,, karena mereka semua juga ga pernah mikirin Ega , jadi setimpal kan
Sindy Sintia
hamil kembar kayanya macan betina, makan nya seabrek ahahahah
Sindy Sintia
ku kira irzal akan kejar sampai ke kerak telor haahahah
Sindy Sintia
koq aku mikir Santi di perkosa orang tapi ga jujur ke Hilman klw itu bukan anak Hilman, atau waktu lahiran anak kandung Santi ninggal di tukar dgn Ega yg entah anak siapa
Sindy Sintia
kira2 siapa yg ikutin ya.. Sugeng bukan ya?
Sindy Sintia
Sarah ga sadar apa , waktu itu 7 tahun Regan dengan sabar nunggu, sesabar nya manusia pasti akan ada sabar itu ada batasnya
Sindy Sintia
Lukman ga nyadar diri,, kelakuan nya sama kayak sarah
Sindy Sintia
ajaran Rena somplak
Sindy Sintia
mending salah masukin kancing, drpd salah masukin lobang,, akibat kelamaan menduda hahahah
Sindy Sintia
irzal sama Regan kesabaran nya setebal buku berbab2 ya.. mereka berjuang dapetin mantan istri, lha alea berjuang dapetin Ega lagi
Sindy Sintia
Debby jahil nya kayak Ega dan Rena gak sih,, usil2 somplak
Sindy Sintia
percaya deh yg nikah sama rena bakal awet muda karena ketularan somplak nya, hahhaah
Sindy Sintia
ya trulang lagi cemburu Poppy tanpa mau bertanya,, hadeh.. kebiasaan deh,kmrin irzal cemburu dia ngerasa ga punya salah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!