Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salam Kenal
"Saya sudah punya orang yang saya suka," ucap Kanaya.
Bram pun terdiam mendengar jawaban Naya, "Apa tidak ada kesempatan untuk saya?" tanya Bram.
"Tidak, maaf," ucap Kanaya.
Bram pun tersenyum, "Tidak apa-apa, Bu Naya. Saya minta maaf karena sudah mengganggu Bu Naya," ucap Bram.
"Iya, Pak. Saya selalu berdoa yang terbaik untuk Bapak sekeluarga," ucap Kanaya dan diangguki Bram.
Setelah itu, Arka menghampiri mereka. "Papa, ayo pulang. Arka udah lapar," ajak Arka.
"Yasudah, ayo pulang. Salim dulu sama Bu Guru," ucap Bram.
Arka pun menyalami Kanaya dan setelah itu ia pergi bersama Bram, Kanaya menatap kepergian keduanya. Kanaya menghela napas panjang, "Kenapa ditolak?" tanya Bu Yasmin salah satu guru di sana dan lebih tua dari Kanaya.
"Belum kepikiran buat punya pasangan, Bu. Hidupku aja masih gini, aku gak yakin kalau bisa memiliki pasangan," ucap Kanaya.
"Apa karena Pak Bram duda?" tanya Bu Yasmin.
"Salah ya, Bu?" tanya Kanaya.
Bu Yasmin pun tersenyum, "Gak kok, Bu Naya gak salah. Semua keputusan ada ditangan Bu Naya, karena yang menjalankan nanti juga Bu Naya bukan saya ataupun orang lain," ucap Bu Yasmin.
Sekitar pukul 4 sore, Kanaya pun mengendarai sepeda motornya untuk pulang ke kos sederhananya yang letaknya tak jauh dari sekolah.
Kanaya mengendarai sepeda motornya melewati yang sempit untuk menuju kosnya, ini adalah jalan satu-satunya karena kosnya berada di pinggiran.
Ketika Kanaya sudah memarkirkan sepeda motornya dan menuju pintu kamarnya, ia terkejut saat melihat sosok familiar duduk di depan pintu kamar kosnya yang bercat hijau pudar. Seorang wanita dengan pakaian kantor yang masih lengkap, namun riasannya sudah luntur karena air mata.
"Arin?" gumam Kanaya dan mempercepat langkahnya.
Arin mendongak, mata sahabatnya itu sembab dan merah. Begitu Kanaya sampai di depannya, Arin langsung berdiri dan menghambur ke pelukan Kanaya, tangisnya pecah seketika.
"Dia brengsek, Nay. Chiko brengsek!" racau Arin di balik bahu Kanaya.
Kanaya menghela napas, ia membuka pintu kamar kosnya dan menuntun Arin masuk ke dalam ruangan kecil yang rapi itu, Kanaya mendudukkan Arin di kasur tunggalnya lalu segera mengambilkan segelas air putih.
"Minum dulu, Rin. Tenangkan dirimu," ucap Kanaya.
Arin meminum air itu dengan tangan gemetar, setelah napasnya mulai teratur, ia mulai bercerita dengan nada penuh kekecewaan. Arin yang biasanya ceria dan vokal sebagai anak Ekonomi dan aktivis BEM, kini tampak hancur.
"Aku lihat Chiko di kafe dekat kantorku tadi siang, Nay. Dia sedang menggandeng perempuan lain dan kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Saat aku labrak tadi, dia malah bilang kalau dia jenuh sama aku, karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Padahal aku bekerja keras demi masa depan kami, tapi dia malah mencari pelarian di belakangku," ucap Arin.
Kanaya duduk di sampingnya dan mengusap punggung Arin dengan sabar, "Pengkhianatan itu bukan salahmu, Rin. Itu adalah pilihan Chiko untuk tidak setia, kamu sudah melakukan yang terbaik. Percaya deh sama aku, dia bakal dapat karma dari perbuatannya," ucap Kanaya.
"Aku hari ini nginep disini ya," ucap Arin.
"Iya, lagian besok kan libur," ucap Kanaya.
Setelah itu, Kanaya memutuskan untuk membersihkan tubuhnya karena sudah tidak nyaman setelah sehatian beraktivitas.
Setelah Kanaya masuk ke kamar mandi, Arin yang masih merasa sesak di dada butuh pengalihan agar tidak terus-menerus memikirkan Chiko. Arin pun meraih ponsel Kanaya yang tergeletak di atas kasur, ia teringat minggu lalu sempat iseng mengunduh sebuah aplikasi kencan dan mendaftarkan akun untuk Kanaya tanpa bilang-bilang.
"Nay, kamu itu terlalu menutup diri. Kamu butuh suasana baru biar nggak terus-terusan terjebak sama masa lalu kamu, mungkin sekarang Narendra udah bahagia. Tapi, kamu malah kayak gini-gini aja," gumam Arin pelan sambil mengusap air matanya.
Saat membuka aplikasi tersebut, mata Arin langsung membelalak. Ada notifikasi kecocokan, akun Kanaya terhubung dengan seorang pria dengan nama pengguna Dra.
Arin memperhatikan foto profil pria itu, foto itu tidak menunjukkan wajah secara jelas dan hanya menampilkan seorang pria dengan postur tubuh tegap dan atletis yang sedang duduk di atas motor sport mewah. Meski wajahnya tertutup helm dengan visor gelap, aura pria itu terasa sangat familiar dan mahal.
"Wah, gila! Ini mah bukan orang sembarangan, lihat motornya aja udah kelihatan kelasnya. Namanya Dra? Singkat banget," ucap Arin penasaran.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa meminta izin Kanaya yang masih asyik mandi, Arin yang sedang dalam fase emosional ingin membuktikan bahwa masih ada pria baik langsung menekan tombol pesan. Arin ingin memastikan apakah pria ini hanya sekadar tampan di foto atau memang punya kepribadian yang menarik.
Arin mulai mengetik pesan singkat dengan gaya bahasa yang ia buat semirip mungkin dengan Kanaya, namun tetap sedikit lebih berani.
^^^Hai, Dra. Salam kenal.^^^
Hanya dalam hitungan detik, ponsel itu bergetar dan balasannya sangat cepat.
Salam kenal.
"Duh, kayaknya dia serius nih orangnya," gumam Arin.
Arin semakin antusias, baginya pria ini terasa seperti pelarian yang sempurna untuk mengalihkan rasa sakit hatinya sendiri, sekaligus misi untuk menyelamatkan Kanaya dari kesendirian lalu Arin pun mulai membahas beberapa hal hingga akhirnya pria itu mengajak Kanaya bertemu.
Bagaimana kalau kita ketemu besok? Saya baru pindah bekerja di kota B. Apa kamu ada waktu luang sore hari? Ada kafe kecil yang tenang di pusat kota.
"Langsung diajak ketemuan!" gumam Arin.
Tanpa memikirkan risiko bahwa ini bukan ponselnya, Arin langsung mengetik persetujuan.
^^^Boleh, bagaimana kalau jam 4 sore di Kafe Aroma, aku tunggu ya.^^^
Baik, sampai bertemu besok.
Arin segera menutup aplikasi tersebut dan menghapus notifikasinya tepat saat suara kunci pintu kamar mandi berbunyi. Kanaya keluar dengan wajah segar, mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Lagi ngapain, Rin? Kok mukanya ceria banget tiba-tiba?" tanya Kanaya curiga.
"Gak ada apa-apa, Nay. Tadi cuma baca artikel lucu aja, besok sore kamu nggak ada acara kan? Pokoknya kamu harus dandan cantik, kita keluar ya!" ucap Arin sambil buru-buru meletakkan ponsel Kanaya kembali ke tempat semula.
"Keluar ke mana? Katanya kamu mau curhat seharian?" tanya Kanaya.
"Curhatnya bisa sambil jalan-jalan! Pokoknya besok sore ikut aku ke Kafe Aroma. Anggap aja ini traktiran karena kamu sudah mau menampung aku yang lagi galau ini," seru Arin penuh semangat.
Kanaya hanya bisa menghela napas dan mengangguk, ia tidak tahu bahwa besok sore, ia tidak akan pergi untuk sekadar menemani Arin jalan-jalan, melainkan untuk sebuah pertemuan yang sudah diatur oleh takdir dan campur tangan sahabatnya.
.
.
.
Bersambung.....