Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberian nama
"Areel?"
Padahal hanya sebuah nama, namun mampu membuat Raja tersenyum.
"Kamu terlihat sangat menyukai nama pemberianku," ejek Sura cengar-cengir.
"Siapa bilang?!" reflek membuang muka, berjuang menghapus senyum di wajahnya.
Raja terkejut, pipinya terasa panas, merasakan degup jantungnya melaju cepat. Ada kehangatan yang berhasil mengisi hati,
Bangsa siluman baru memiliki nama setelah berumur sepuluh tahun. Namun mendiang Raja terdahulu meninggal sebelum menamai putrinya, sedangkan Ratu telah wafat setelah melahirkan.
Karena siluman lain tak ada yang berani memberi nama pada calon pemimpin mereka, sampai saat ini Raja belum pernah memiliki nama.
"Areel..." Sura memanggil manja sambil menunduk, mengintip jahil mata yang menghindarinya.
"Berhenti memanggil namaku!"
Sontak Raja menangkup wajah Sura dengan telapak tangan, lalu mendorong paksa.
DUAK!
Tenaganya begitu besar hingga membuat rahang Sura kesakitan. Sejenak pria itu mengusap lembut pipinya sendiri,
"Kamu hanya diizinkan memanggil namaku saat tidak ada siapapun."
"Oh, berarti kamu menerima nama pemberianku?" imbuh Sura dengan wajah tengil,
"Kamu...!" suara Areel tertahan, "Hh! Aku terima karena bosan tidak punya nama,"
"Emang iyak? Aku pikir kamu menerimanya karena itu, pemberian dari pria tampan..."
Keduanya sibuk bersenda gurau tanpa menyadari ada siluman lain yang mengamati mereka dari kejauhan.
Tampak patih Anubis berdiri dengan tangan mengepal, rahangnya menggertak kesal. "Apa yang sedang mereka bicarakan?"
Tubuh itu hendak mendekat namun langkah kakinya terhenti.
"...?!" Anubis melirik, menatap tajam salah satu pengawal yang baru saja datang.
"ADA APA?!"
"Hh...! S-saya disuruh para tetua untuk memanggil anda," sahutnya ketakutan.
"Cih! Sepertinya mereka juga tertarik dengan kemampuan manusia itu,"
"Ya sudah, ayo pergi." imbuh Anubis jalan mendahului,
Terpaksa membiarkan kebersamaan mereka. Meski tak rela, dia harus menenangkan pihak-pihak yang masih berguna untuknya, agar tetap diam dan patuh.
"...?!" Raja menoleh ke sisi lain,
"Kenapa?"
"Tidak. Sepertinya tadi ada yang sedang mengawasi," menggeleng singkat.
Namun tak ifin ambil pusing karena tidak melihat siapapun disana.
"Oh, iya. Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu..."
"Hm? Soal apa?" Sura mengangkat alis.
"Tentang pertandingan tadi. Waktu melawan Kura, tidak disangka ternyata kamu bisa menandingi kecepatannya," puji Raja sambil mengernyit.
"Aku melihatmu keluar dari pembatas...Kamu seperti menambahkan sihir pada kelima jari, yang kamu gunakan untuk memukul Kura."
"Sejeli itu? Aku pikir tidak ada yang sadar," benak Sura tercengang.
Terdiam sejenak, mulai kebingungan untuk menjelaskan. Wajah Raja tampak serius seakan menagih kejujuran,
"Aku hanya memadatkan energi sihir dijemariku, lalu memukul pada titik saraf yang ada di belakang lehernya."
"..." Raja mengernyit mencerna penjelasan singkat yang belum memuaskan.
"Darimana kamu tahu, kalau kelemahan Kura ada di belakang lehernya?"
"Hh? Dari buku pelajaran," batin Sura tertegun, "Tidak mungkin aku bilang begitu."
Sura tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya, "Hehe, aku asal mencoba. Karena bagian itu saja yang paling mudah dipukul,"
*****
Srak...
Gemerisik suara terdengar mengisi keheningan malam, jejak langkah kaki menapak jelas di tanah, tampak sosok berjubah hitam baru saja memanjat dinding kokoh di depannya.
Sambil bertengger diatas, dia terus menyusuri segala arah, guna memastikan tak ada siapapun.
Mata sipit itu begitu garang, melihat lekat istana megah di depannya. Alisnya mengernyit merasakan udara yang menyesakkan dada, bahkan mulai menimbulkan rasa perih di tenggorokan setiap kali dia menelan,
BRAK!
"Gawat!" terbelalak,
Pijakan tanah itu lebih rendah dari perkiraan, sampai menimbulkan suara bising saat tubuhnya melompat ke bawah.
"...?!" Tangannya sigap menyusup ke dalam kain, mendengar sahutan langkah kaki yang terus mendekat.
Mendongak, bersiap melesatkan jarum kecil, namun...
DUK!
Pukulan badan tombak mengenai belakang kepalanya. Entah sejak kapan dan darimana, tiba-tiba saja serangan itu muncul sebelum disadari,
"Sial..." mengumpat dalam hati,
Pandangannya mulai buram, perlahan tak mampu menggerakkan tubuh hingga tergeletak hilang kesadaran.
BRUK!
"Kita berhasil menangkapnya," seru siluman bunglon berbadan besar.
Berhasil meyergap dengan sihir bawaan yang dia miliki sejak lahir. Setiap kali menahan nafas, dia akan berubah menjadi transparan, seakan hilang tanpa jejak.
"Cepat pakaikan!"
Memanggil para siluman yang datang bersamanya. Dia mendongak, tersenyum menatap siluman kalong yang terbang di atas, "Kerja bagus..."
Dua pengawal bergegas mengikatkan rantai sihir pada tangan dan kaki penyusup, lalu menariknya bangun, menggandeng kuat di kedua lengan.
"Hh, mustahil?! Penyusupnya seorang wanita!"
Siluman bunglon itu bergerak membuka jubah serta kain lilit yang menutupi wajah.
"Cepat! Beritahu Raja dan patih Anubis,"
Tersentak kaget mendapati wanita bertumbuh ramping dengan rambut hitam panjangnya yang dikuncir tinggi.
Disela jubah terlihat begitu banyak jarum, pisau, juga botol kaca kecil berisi ramuan asing.
"Bawa juga barang-barang ini. Tapi awas, jangan sampai pecah!"
Di sisi lain,
Sura yang sebelumnya terlelap harus terbangun berkat keributan diluar jendela.
"Aaa...hari apa ini? Kenapa aku sial sekali," gumam Sura dengan nada lesu.
Tangannya menutup telinga sambil terus memejamkan mata. Berharap kebisingan itu segera berakhir,
"...?" suasana di luar mulai tenang,
Sura memiringkan tubuh ke samping sambil tersenyum lega.
Banyak kejadian melelahkan terjadi hari ini, sampai-sampai Sura tak memiliki waktu untuk beristirahat.
Matanya pun kembali terpejam,
DOK!
DOK!
DOK!
"Hh...?!" Sura kembali terbelalak dengan mata merahnya.
"SURA...SURA!"
Siluman kalong di luar terus memanggil, bergantian mendobrak pintu kamar.
"ARGH! BIARKAN AKU TIDUR!!" menjerit dalam hati,
Sura berguling menghantamkan wajahnya pada ranjang, meraih bantal tebal dan ditaruhnya ke atas kepala, langsung menekan kedua sisi dengan lengan sebagai sumbatan telinga.
"SURA!!" mereka memanggil kembali,
Namun kini keduanya memilih masuk lewat jendela. Terbang mendekat dan mebiarkankan suara kepakan sayap mengusik Sura,
"Gawat, Sura! Cepat bangun, Raja memanggilmu ke aula!"
"Raja, patih, dan tetua. Mereka semua sedang menunggumu bersama si penyusup!"
"Penyusup?" Sura tercengang,
Terjingkat menuruni ranjang, "Kenapa penyusup itu menungguku?"
"Kami juga tidak tahu. Tapi wanita itu bilang, dia kesini karena ingin menyelamatkanmu..."
"Menyelamatkanku? Seorang wanita...siapa?" benak Sura menggaruk ujung kepalanya yang terasa gatal.
Seketika tubuh lemas tadi mendapat tekad untuk berjalan lagi. Mengikuti para kalong yang mengantar sampai ke dalam ruang,
"Lho...Ratih?!" Sura tersentak kaget,
Mendapati sosok familiar yang tengah tersimpuh dengan rantai sihir membelenggu. Tak menyangka jika keributan ini disebabkan oleh istri majikannya,
"Jadi benar, kamu mengenal wanita ini?" ucap Raja mengerutkan alis,
Sempat terkejut dan tak percaya pada pengakuan wanita yang rela menyusup hanya demi seorang tumbal.
"Iya, dia istri majikanku..." Sura mengangguk polos, "Kenapa kamu ada disini?"
"Syukurlah kamu masih hidup. Aku datang untuk membawamu pulang," sahut Ratih tersenyum penuh haru.
Sura diam tak menanggapi, pandangannya justru teralih pada macam-macam alat medis yang tergeletak di sana.