Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Panggilan dari Patriark
Kabar tentang kebangkitan Ling Tian tidak hanya mengguncang para junior, tetapi juga dengan cepat sampai ke telinga para petinggi klan—dewan tetua dan Patriark sendiri.
Di dalam Aula Leluhur yang megah, suasana terasa berat. Patriark Ling Zhan, kakek Ling Tian, duduk di kursi utama. Wajahnya yang biasanya tenang menunjukkan ekspresi rumit yang sulit dibaca—campuran antara keterkejutan, kelegaan, dan sedikit penyesalan. Di sampingnya duduk beberapa tetua inti klan, termasuk Grand Elder Ling Wei, pendukung utama faksi Ling Feng.
"Tingkat kelima... dari tingkat pertama... dalam tiga tahun?" Grand Elder Ling Wei memecah keheningan, suaranya penuh dengan skeptisisme. "Ini tidak masuk akal. Pasti ada semacam trik, atau dia menggunakan metode terlarang untuk meningkatkan kekuatannya secara paksa. Kekuatan seperti itu tidak stabil dan akan merusak fondasinya!"
"Tetua Fu mengawasi pengujian itu secara pribadi," balas tetua lain yang lebih netral. "Batu Uji Kekuatan tidak pernah berbohong. Cahaya hijau zamrud itu adalah bukti yang tak terbantahkan."
"Hmph, bukti?" cibir Ling Wei. "Mungkin dia menelan semacam pil peningkat kekuatan sementara sebelum datang ke aula. Kita harus menyelidiki ini dengan saksama. Jangan sampai klan kita dipermalukan oleh seorang penipu."
Patriark Ling Zhan akhirnya mengangkat tangannya, membungkam perdebatan. "Cukup."
Suaranya tenang, tetapi membawa otoritas yang tak terbantahkan. "Selama tiga tahun, kita semua mengabaikan anak itu. Kita mencapnya sebagai sampah dan membiarkannya hidup dalam penghinaan. Sekarang, ketika dia menunjukkan bakat yang menantang surga, reaksi pertama kalian adalah menuduhnya curang?"
Grand Elder Ling Wei sedikit menunduk. "Patriark, saya hanya khawatir demi masa depan klan. Jenius sejati kita adalah Ling Feng, yang telah membuktikan dirinya berkali-kali. Kemunculan Ling Tian yang tiba-tiba ini bisa mengganggu kestabilan."
"Kestabilan, atau posisi cucu kesayanganmu?" balas Ling Zhan dengan dingin, membuat wajah Ling Wei memerah.
Setelah hening sejenak, Patriark melanjutkan. "Tidak peduli bagaimana dia melakukannya, fakta tetap fakta. Dia adalah seorang jenius tingkat kelima. Bakat seperti ini tidak bisa diabaikan. Panggil dia ke sini. Aku ingin berbicara dengannya secara langsung."
Perintah itu mutlak.
Tak lama kemudian, seorang pelayan tiba di halaman kecil Ling Tian, membungkuk dalam-dalam. "Tuan Muda Ling Tian, Patriark dan dewan tetua memanggil Anda ke Aula Leluhur."
Ling Tian, yang sudah menduga panggilan ini akan datang, hanya mengangguk tenang. "Aku akan segera ke sana."
Saat ia berjalan menuju pusat kompleks klan, ia menjadi pusat perhatian. Para murid yang berpapasan dengannya tidak lagi menatap dengan cemoohan, melainkan dengan campuran rasa hormat, takut, dan penasaran. Mereka menyingkir untuk memberinya jalan, sebuah perlakuan yang tidak pernah ia terima sebelumnya.
Ketika ia tiba di Aula Leluhur, ia merasakan tekanan yang berat menimpanya. Beberapa tetua Alam Pembangunan Fondasi sedang duduk di sana, aura mereka memenuhi ruangan. Ini adalah ujian yang dirancang untuk mengintimidasi junior mana pun.
Namun, Ling Tian berjalan masuk dengan langkah mantap dan punggung lurus. Kekuatan spiritualnya, yang ditempa oleh jiwa Kaisar Naga, membuatnya kebal terhadap tekanan mental semacam ini. Ia berhenti di tengah aula dan membungkuk sedikit.
"Ling Tian memberi hormat kepada Patriark dan para tetua."
Ling Zhan mengamatinya dengan cermat. Anak laki-laki di depannya tampak kurus, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang tidak sesuai dengan usianya. Tidak ada sedikit pun rasa takut atau gugup. "Ling Tian," kata Patriark dengan suara berat. "Ceritakan pada kami. Apa yang terjadi selama tiga tahun ini?"
Ling Tian sudah menyiapkan jawabannya. "Tiga tahun yang lalu, meridian saya memang rusak parah. Saya tidak menyerah. Saya menghabiskan setiap hari mencoba berbagai metode untuk memperbaikinya, berlatih dengan cara saya sendiri dalam keheningan. Beberapa waktu yang lalu, usaha saya akhirnya membuahkan hasil. Penyumbatan di meridian saya terbuka, dan kekuatan yang telah saya kumpulkan selama tiga tahun meledak sekaligus, memungkinkan saya mencapai tingkat kelima."
Cerita ini setengah benar dan setengah salah. Cukup masuk akal untuk menjelaskan lompatan kekuatannya yang tiba-tiba tanpa mengungkapkan rahasia terbesarnya.
Grand Elder Ling Wei mendengus. "Kekuatan yang terakumulasi? Omong kosong! Tidak ada preseden untuk hal seperti itu. Kau pasti menemukan semacam harta karun atau warisan terlarang!"
Ling Tian menoleh ke arah Ling Wei, matanya yang tenang tiba-tiba menjadi tajam. "Grand Elder, apakah Anda menyiratkan bahwa seorang murid Klan Ling tidak diizinkan untuk memiliki keberuntungannya sendiri? Atau apakah Anda hanya tidak bisa menerima fakta bahwa ada jenius lain di klan selain cucu Anda?"
"Kau!" Ling Wei membanting sandaran tangan kursinya, auranya yang kuat meledak ke arah Ling Tian.
Namun, sebelum tekanan itu bisa mencapai Ling Tian, gelombang aura yang lebih kuat dari Patriark Ling Zhan menghalaunya.
"Ling Wei! Kendalikan dirimu! Kau sedang berbicara dengan seorang junior di Aula Leluhur!" tegur Patriark dengan tajam.
Ia kemudian menoleh kembali ke Ling Tian, tatapannya melunak. "Tidak peduli apa pun jalan yang kau lalui, kekuatanmu adalah milikmu. Mulai hari ini, kau akan menerima perlakuan seorang murid inti. Sumber daya bulananmu akan ditingkatkan sepuluh kali lipat. Kau juga diberikan akses ke tiga lantai pertama Perpustakaan Klan."
Keputusan ini mengejutkan para tetua lainnya. Ini adalah perlakuan yang hanya diberikan kepada segelintir jenius teratas seperti Ling Feng.
"Terima kasih, Patriark," jawab Ling Tian, membungkuk sekali lagi.
"Kompetisi Klan tinggal beberapa bulan lagi. Bekerja keraslah," tambah Ling Zhan. "Kau boleh pergi."
Saat Ling Tian berbalik dan berjalan keluar dari aula, ia bisa merasakan tatapan Grand Elder Ling Wei yang dingin menusuk punggungnya seperti jarum es.
Dia telah secara resmi kembali ke panggung, tetapi dia juga telah menempatkan dirinya tepat di garis bidik faksi yang paling kuat di antara generasi muda.