NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Manusia sering kali salah mengira bahwa kekuatan sebuah bangunan terletak pada kemegahan pilar-pilarnya atau seberapa berkilau cat yang melapisi permukaannya. Padahal, kekuatan yang sesungguhnya berada pada hal-hal yang tidak terlihat; pada keringat yang mengering di balik adukan semen, pada doa-doa bisu para tukang yang memahat batu di tengah malam, dan pada rasa memiliki yang tidak bisa dibeli dengan sekantong koin emas. Sebuah istana bisa berdiri tegak selama seribu tahun, namun ia bisa runtuh dalam satu malam jika orang-orang yang membangunnya memutuskan bahwa bangunan itu tidak lagi layak untuk dijunjung. Di Menara Barat Aethelgard, dinding-dinding itu tidak lagi terasa seperti pelindung, melainkan seperti saksi bisu yang sedang menunggu waktu untuk melepaskan segala beban yang selama ini mereka tanggung.

Arlo duduk di lantai batu, membiarkan punggungnya menyentuh permukaan dinding yang kasar dan lembap. Ia tidak lagi mengenakan sepatu bot kulit yang disemir mengkilap. Kakinya yang telanjang bersentuhan langsung dengan dinginnya lantai, sebuah sensasi yang anehnya terasa sangat membumi. Kemeja katun kasar yang ia pakai sudah mulai berbau debu, namun Arlo tidak merasa risih. Baginya, bau ini jauh lebih jujur daripada wangi melati yang selalu dibawa oleh Helena atau aroma dupa kemenyan yang menyesakkan di aula upacara.

Ia memegang koin perunggu pemberian Kalea, memutarnya di antara ibu jari dan telunjuk. Koin itu sudah mulai menghangat karena panas tubuhnya. Arlo menatap goresan-goresan di dinding menara yang ia buat. Gambar kapal itu tampak lebih hidup di bawah cahaya pagi yang temaram. Ia membayangkan Kalea sedang berada di suatu tempat yang jauh, mungkin sedang duduk di tepi dermaga Solandis, menatap laut yang tidak lagi berbatas.

Suara denting logam yang beradu dengan batu di luar menara mengalihkan perhatian Arlo. Itu bukan suara langkah kaki pengawal. Suaranya lebih berirama, seperti ketukan palu yang jauh namun konsisten. Arlo bangkit berdiri, berjalan menuju jendela tinggi yang menjadi satu-satunya celah komunikasinya dengan dunia luar.

Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi di bawah sana secara langsung, namun ia bisa merasakan atmosfer yang berubah. Udara Aethelgard hari ini terasa statis, penuh dengan muatan listrik yang siap meledak. Suara keramaian di pasar kota yang biasanya terdengar seperti gumaman lebah, kini berubah menjadi deru ombak yang sedang pasang.

"Mereka sudah mulai," bisik Arlo pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, pintu besi menara berderit terbuka. Kali ini tidak ada protokol. Tidak ada teriakan pengumuman. Hanya ada Raja Valerius yang masuk dengan langkah yang tampak sedikit goyah. Wajahnya yang tua terlihat sangat pucat, dan matanya yang biasanya memancarkan otoritas kini dipenuhi dengan kebingungan yang samar. Ia tidak mengenakan jubah kebesarannya, hanya setelan hitam polos yang membuatnya tampak lebih seperti pria tua biasa daripada seorang raja.

Raja berhenti di tengah ruangan, menatap Arlo yang berdiri tegak di depan jendela. "Kau dengar itu, Arlo? Suara di luar sana?"

Arlo tetap diam, membiarkan ayahnya yang pertama kali memecah kesunyian.

"Para tukang cat, para pemahat, para buruh pelabuhan... mereka berhenti bekerja," Raja melangkah mendekati meja Arlo, tangannya yang gemetar menyentuh permukaan kayu yang retak. "Mereka berkumpul di depan gerbang istana. Mereka tidak membawa senjata, Arlo. Mereka hanya membawa salinan dekrit bodoh yang kau bacakan di altar itu. Mereka menuntut agar wilayah Sayap Utara segera diserahkan kepada dewan rakyat, dan mereka menuntut... pembebasanmu."

Arlo menoleh perlahan, menatap ayahnya dengan pandangan yang tenang. "Rakyat tidak butuh senjata untuk melawan ketidakadilan, Ayah. Mereka hanya butuh kesadaran bahwa mereka adalah pemilik sah dari setiap jengkal tanah yang mereka bangun."

"Kau menghasut mereka!" Raja menghantam meja dengan tinjunya, namun suaranya tidak lagi meledak seperti kemarin. Suaranya terdengar seperti rintihan. "Kau menggunakan nama Valerius untuk menghancurkan keluarga Valerius sendiri! Vandellia sudah mengirim utusan pagi ini. Jika kerusuhan ini tidak segera dihentikan, mereka akan menganggap Aethelgard sebagai negara yang gagal dan mereka akan menganeksasi wilayah utara dengan alasan keamanan."

Arlo melangkah maju, memperpendek jarak dengan ayahnya. "Vandellia tidak akan berani menyentuh Aethelgard jika rakyat kita bersatu. Tapi Ayah lebih memilih untuk memecah belah mereka dengan ketakutan. Ayah takut pada rakyat sendiri, bukan pada Vandellia."

"Aku melakukan semua ini untuk menjagamu, untuk menjaga tahtamu!" Raja berteriak, air mata kemarahan menggenang di matanya.

"Tahta ini bukan milik saya lagi, Ayah. Ayah sendiri yang mencabutnya kemarin," Arlo menunjukkan telapak tangannya yang kosong dari cincin. "Dan saya tidak pernah merasa lebih aman daripada saat ini. Karena saya tahu, di luar sana, ada orang-orang yang berdiri bukan karena mereka takut pada pedang saya, tapi karena mereka percaya pada janji saya."

Raja Valerius jatuh terduduk di kursi kayu yang goyang. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Keangkuhan yang selama ini menjadi zirah bagi dirinya seolah-olah telah luruh, menyisakan seorang pria tua yang menyadari bahwa dunianya sedang runtuh di sekelilingnya.

"Apa yang harus kulakukan, Arlo?" bisik Raja, suaranya nyaris tidak terdengar.

Arlo tertegun. Ia tidak pernah mengira akan mendengar pertanyaan itu dari mulut ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, peran mereka seolah tertukar. Sang pangeran yang terbuang kini menjadi satu-satunya orang yang memiliki arah tujuan, sementara sang raja yang berkuasa kehilangan kompasnya.

"Turuti dekrit itu, Ayah," Arlo berkata dengan nada yang lembut namun tegas. "Buka gerbang istana. Biarkan dewan pekerja mengelola wilayah yang sudah saya berikan pada mereka. Dan jangan pernah lagi menganggap mereka sebagai 'tikus'. Jika Ayah melakukannya, mereka akan menjadi benteng terkuat yang pernah Ayah miliki. Mereka akan melindungi Aethelgard bukan karena perintah, tapi karena cinta pada tanah mereka sendiri."

Raja mengangkat kepalanya, menatap Arlo dengan pandangan yang kosong. "Dan bagaimana denganmu? Rakyat tidak akan pergi sampai kau keluar dari sini."

Arlo menatap ke luar jendela, ke arah cakrawala laut yang biru. "Saya akan keluar. Tapi bukan sebagai pangeran. Saya akan keluar sebagai salah satu dari mereka. Saya ingin belajar cara benar-benar membangun, bukan hanya cara memerintah orang untuk membangun."

Tepat saat itu, sebuah getaran terasa di bawah kaki mereka. Bukan getaran yang keras, tapi getaran ritmis yang berasal dari ribuan kaki yang menghentak tanah secara bersamaan di depan gerbang istana. Suara nyanyian yang Arlo dengar semalam kini terdengar jauh lebih keras, menggema di sepanjang dinding menara.

“Bukan emas yang membangun dinding ini, melainkan darah dan keringat kita...”

Arlo memejamkan mata, merasakan getaran itu merambat melalui dinding batu ke punggungnya. Ia teringat pesan dari kain kusam itu: “Tunggu saat tembok ini bergetar.” Getaran ini bukan berasal dari gempa bumi, melainkan dari kekuatan kolektif manusia yang akhirnya menyadari harga diri mereka.

Raja Valerius berdiri, ia menatap pintu besi menara yang masih terbuka. "Marcus sedang menunggu di bawah. Dia tidak sanggup lagi menahan massa tanpa kekerasan, dan aku sudah memerintahkannya untuk tidak menumpahkan darah. Pergilah, Arlo. Hentikan mereka sebelum segalanya menjadi tidak terkendali."

Arlo tidak menunggu perintah kedua. Ia melangkah keluar dari ruangan menara, melewati ayahnya tanpa menoleh. Ia menuruni tangga batu yang melingkar dengan cepat, setiap langkahnya terasa lebih ringan. Saat ia mencapai dasar menara, Jenderal Marcus sudah menunggu dengan wajah yang dipenuhi peluh.

"Yang Mulia—maksud saya, Arlo," Marcus membungkuk sedikit, namun ada rasa hormat yang baru di matanya. "Situasi di gerbang utama sudah sangat kritis. Mereka menolak untuk bubar. Jika kita tidak segera menunjukkan diri, saya takut ada orang luar yang akan memprovokasi massa untuk bertindak anarkis."

"Buka gerbangnya, Marcus," perintah Arlo.

"Tapi..."

"Buka saja. Percayalah padaku," Arlo menepuk bahu Marcus yang mengenakan zirah berat.

Arlo berjalan menuju gerbang utama istana. Ia melewati koridor yang biasanya dipenuhi oleh para bangsawan yang sibuk bergosip, namun hari ini koridor itu sunyi. Para bangsawan bersembunyi di dalam kamar mereka, ketakutan melihat kekuatan yang selama ini mereka remehkan. Arlo terus berjalan, kemeja katun kasarnya berkibar tertiup angin yang masuk dari pintu-pintu yang terbuka.

Begitu ia sampai di depan gerbang besi raksasa yang masih terkunci, ia melihat ribuan rakyat Aethelgard berkumpul. Mereka mengenakan pakaian kerja yang kusam, memegang alat-alat pertukangan, dan beberapa di antaranya membawa bendera sederhana yang dibuat dari kain pelapis konstruksi.

Arlo memberikan isyarat pada para pengawal penjaga gerbang. Dengan ragu, mereka menarik rantai besar itu. Gerbang besi itu terbuka perlahan dengan suara geraman logam yang berat.

Begitu celah gerbang melebar, keramaian di luar seketika menjadi sunyi. Ribuan pasang mata tertuju pada sosok pria yang berdiri sendirian di tengah jalan istana. Arlo tidak memakai mahkota. Ia tidak membawa pedang. Ia hanya berdiri di sana dengan pakaian rakyat jelata dan wajah yang dipenuhi lebam bekas hukuman.

Seorang pria tua maju dari kerumunan—Arlo mengenalinya sebagai mandor senior dari Sayap Utara. Pria itu menatap Arlo dengan mata yang berkaca-kaca. Ia perlahan berlutut, bukan sebagai bentuk ketakutan, tapi sebagai bentuk pengakuan. Tindakan itu diikuti oleh ribuan orang lainnya. Dalam hitungan detik, seluruh lapangan di depan istana dipenuhi oleh orang-orang yang berlutut dalam keheningan yang agung.

"Kami tidak ingin pangeran, Tuan Arlo," suara mandor itu terdengar serak namun jelas. "Kami ingin seseorang yang tahu bagaimana rasanya memegang sikat cat di bawah terik matahari. Kami ingin seseorang yang tidak malu memiliki noda di pakaiannya."

Arlo melangkah maju, melewati ambang gerbang istana, menginjakkan kakinya di tanah yang kini secara hukum bukan lagi milik mahkota secara mutlak. Ia membantu mandor itu berdiri.

"Maka hari ini kalian memilikinya," suara Arlo mantap. "Saya bukan lagi pangeran kalian. Saya adalah Arlo, rekan kerja kalian. Dan mulai hari ini, kita akan membangun Aethelgard yang baru. Bukan di atas kebohongan sutra, tapi di atas kejujuran batu dan kapur."

Sorakan yang membahana meledak seketika, jauh lebih keras daripada suara terompet mana pun. Arlo merasa seluruh tubuhnya bergetar oleh energi dari rakyatnya. Ia menoleh ke arah balkon istana yang tinggi, di mana ia bisa melihat siluet ayahnya yang sedang menonton dari balik gorden. Arlo memberikan anggukan kecil—sebuah tanda perpisahan pada masa lalunya.

Di tengah kerumunan itu, Arlo mencari-cari satu sosok. Ia tahu Kalea tidak mungkin ada di sini, tapi ia seolah bisa merasakan kehadiran gadis itu di setiap helai angin. Ia meraba kain noda cat biru di sakunya.

"Aku sudah keluar, Kalea," bisik Arlo di tengah keriuhan.

Arlo menghabiskan hari itu bukan dengan berpesta, melainkan dengan duduk di pinggir jalan bersama para pekerja, mendengarkan keluhan mereka, membagikan roti yang ia miliki, dan mulai merencanakan pembentukan Dewan Rakyat. Ia tidak kembali ke kamarnya yang mewah. Malam itu, ia tidur di barak pekerja di Sayap Utara, di atas dipan kayu yang keras, dikelilingi oleh aroma debu kapur yang sangat ia rindukan.

Saat ia berbaring dan menatap langit-langit barak yang masih setengah jadi, Arlo merasa sangat tenang. Ia tahu bahwa perjuangannya belum selesai. Vandellia pasti akan memberikan reaksi keras. Ayahnya mungkin akan mencoba mengambil kembali kekuasaannya. Helena mungkin sedang merencanakan balas dendam yang lebih kejam.

Tapi bagi Arlo, semua itu tidak lagi menakutkan. Ia telah menemukan kekuatannya yang sesungguhnya. Kekuatan yang tidak berasal dari garis keturunan, melainkan dari integritas.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan koin perunggu Kalea. Di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, koin itu tampak begitu indah. Arlo teringat surat dari merpati itu: “Hiduplah, agar suatu hari nanti aku bisa menghinamu lagi.”

"Aku akan hidup, Kalea," Arlo tersenyum, menutup matanya dengan damai. "Dan aku akan menunggumu di depan dinding biru yang kita bangun bersama."

Malam di Aethelgard tidak lagi sunyi. Suara tawa dan nyanyian dari barak pekerja terdengar hingga ke kamar-kamar kosong di dalam istana. Retakan itu kini telah menjadi pintu gerbang menuju dunia yang baru. Dan Arlo Valerius, pria tanpa mahkota, siap untuk menuliskan sejarahnya sendiri—bukan dengan tinta emas, melainkan dengan noda cat yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh waktu.

Dunia lama telah runtuh, dan dari puing-puingnya, Arlo mulai melihat fajar yang sesungguhnya. Sebuah fajar yang tidak menuntut kesempurnaan, melainkan menuntut keberanian untuk menjadi nyata.

Arlo membalikkan tubuhnya, merasakan tekstur kayu dipan di bawah punggungnya. Ia menyadari satu hal; ia baru saja kehilangan sebuah kerajaan, namun ia baru saja memenangkan sebuah kehidupan. Dan baginya, itu adalah pertukaran paling menguntungkan yang pernah dilakukan oleh seorang pangeran pemberontak sepanjang sejarah Aethelgard.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!