NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Masih Lemah

Kalimat Sukma baru saja meluncur tajam, menusuk tepat di ulu hati adik iparnya itu.

Sukma tak peduli dengan tatapan beberapa perawat yang berlalu-lalang. Emosinya terlanjur mendidih melihat kepengecutan Priyambodo selama ini.

Pintu ruang tindakan tiba-tiba terbuka kasar.

Seorang perawat bermasker hijau berlari keluar membawa papan jalan berisi tumpukan kertas. Matanya menyapu lorong dengan panik.

"Keluarga pasien Wati! Suaminya mana?!"

Priyambodo melompat bangun. Kakinya nyaris tersandung ujung celananya sendiri.

"Kulo, Sus! Saya suaminya! Istri saya ndak apa-apa, kan?!"

"Pasien pendarahan parah. Jalan lahir belum terbuka penuh, denyut jantung bayi mulai melemah. Kita harus operasi bedah sesar sekarang juga!" Perawat itu menyodorkan bolpoin ke dada Priyambodo.

"Tanda tangan persetujuan operasi di sini, Pak. Cepat!"

Napas Priyambodo tercekat. Wajahnya yang sudah pucat kini berubah seputih kain kafan.

"Sesar?! Dibedah perutnya?!" Priyambodo mundur selangkah, menepis tangan perawat itu.

"Ndak mau! Istri saya iso mati kalau dibelek perutnya, Sus! Tolong usahakan lahir normal mawon! Ibuku bilang orang kampung kalau melahirkan ya normal!"

Plak!

Sukma menampar keras lengan Priyambodo.

"Goblok! Otakmu isinya ampas tahu?!" Sukma menarik kerah kemeja lusuh pria itu hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.

"Istrimu lagi meregang nyawa di dalam, nyelamatin anakmu! Koen masih mau dengerin omongan ibumu yang siluman pelit itu?!"

Priyambodo gemetar, matanya merah berkaca-kaca menatap Sukma.

"Darah istrimu netes dari gerobak sampai ke lorong ini, Do! Tanda tangan sekarang, ndak usah kakehan cangkem!"

Tangan Priyambodo menyambar bolpoin dari perawat. Coretan tanda tangannya berantakan menembus kertas persetujuan.

"Tolong selamatkan istri kulo, Sus," isaknya putus asa, melepas perawat yang langsung berlari kembali masuk ke ruang operasi.

Sukma menarik napas panjang, menetralkan ritme jantungnya.

Ia menyandarkan punggung ke dinding, menunduk menatap Toni yang sejak tadi memeluk betisnya erat-erat. Bocah empat tahun itu gemetar ketakutan.

"Nduk Sukma..." Langkah kaki berat terdengar dari ujung lorong.

Paklik Karto berjalan tergesa menghampiri mereka. Napas pria tua itu memburu, keringat membasahi kaus oblongnya yang pudar.

"Sapine wes tak ikat nang mburi rumah sakit. Piye kondisine Wati?"

"Lagi dioperasi, Paklik," jawab Sukma pelan. Ia mengelus rambut Toni yang lengket oleh keringat dan debu.

Toni mendongak, matanya bulat berair. "Bude, ibuku mana? Toni lapar."

Sukma merogoh tas kain butut yang ia selempangkan di bahu. Sebenarnya tangannya menyusup ke ruang spasial, tempat ia menyimpan berbagai perbekalan dari tahun 2026.

Satu bungkus roti sobek cokelat tebal pindah ke tangannya, sengaja plastiknya ia remas agar tak terlihat terlalu modern.

"Makan ini, Le." Sukma membuka bungkusan itu, menyodorkannya ke tangan kecil Toni.

"Duduk di kursi situ sama Bapakmu."

Mata Toni berbinar. Ia langsung menggigit roti itu rakus.

Bau cokelat legit menguar, membuat Priyambodo yang duduk menekur di kursi besi ikut menelan ludah, meski tak berani meminta.

Paklik Karto memperhatikan wajah Sukma yang kelelahan.

"Nduk, Koen jagain Dodo sama bocahe. Paklik mau cari air panas disek. Nanti pasti butuh buat ngelap badane Wati habis operasi."

"Repot-repot, Paklik. Ndak usah," tolak Sukma tak enak hati.

"Halah, ra popo. Wong mbayare paling cuma lima ratus perak nang warung depan." Paklik Karto merogoh saku celana komprangnya, mengeluarkan beberapa koin logam sebelum bergegas pergi menjauhi lorong.

Hening kembali merayap. Waktu terasa melambat ratusan kali lipat.

Satu jam penuh siksaan berlalu.

Oek! Oek!

Tangisan bayi memecah ketegangan. Suaranya nyaring dan kuat.

Priyambodo berdiri kaku. Kakinya tak bisa digerakkan.

Pintu operasi terbuka. Seorang dokter perempuan berseragam hijau keluar dengan senyum tipis di balik maskernya. Dokter Ratih.

"Keluarga Bu Wati?"

Priyambodo menubruk maju. "Dok! Istri saya pripun?! Wati selamat, kan?!"

Sukma ikut mendekat, tak kalah cemas.

"Alhamdulillah. Operasinya lancar. Bayinya perempuan, sehat dan lengkap. Ibunya juga selamat, tapi masih lemah karena banyak kehilangan darah. Sebentar lagi kami pindahkan ke bangsal perawatan." Dokter Ratih melepaskan sarung tangan karetnya.

Tubuh Priyambodo luruh ke lantai. Pria itu bersujud, menangis tersedu-sedu mengucapkan syukur tak berujung.

Sukma mengusap dada, beban seberat batu giling akhirnya terangkat dari pundaknya.

Dua jam kemudian, ruang rawat inap kelas tiga itu sunyi.

Bau karbol bercampur aroma obat-obatan menguasai udara. Wati terbaring lemah di ranjang besi.

Selimut rumah sakit menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Wajahnya masih pias, namun napasnya sudah teratur.

Priyambodo duduk di kursi plastik samping ranjang, tak henti-hentinya menciumi punggung tangan istrinya.

Kelopak mata Wati perlahan terbuka.

"Mas..." panggilnya lirih, nyaris seperti embusan angin.

"Aku nang kene, Dek." Priyambodo mendekatkan wajahnya. Air matanya kembali menetes mengenai pipi Wati.

"Koen wes sadar. Maafin aku, Dek. Maafin aku."

"Anak kita..."

"Aman. Bayi perempuan. Perawat lagi mandiin. Koen hebat, Dek." Priyambodo mengusap kening Wati yang lembap.

Sukma melangkah masuk membawa rantang enamel berkarat.

Ia baru saja dari kamar mandi di luar, memindahkan bubur ayam hangat dan kaldu kental dari ruang spasialnya ke dalam rantang.

"Mundur, Do. Istrimu butuh tenaga, bukan butuh air matamu." Sukma menaruh rantang di meja nakas kecil.

"Mbakyu Sukma..." Wati menatap kakak iparnya dengan tatapan sayu penuh rasa terima kasih.

"Ra usah banyak omong disek, Wat." Sukma mengaduk bubur itu perlahan. Asap tipis mengepul membawa aroma kaldu gurih.

"Buka mulutmu. Dokter pesen Koen harus banyak makan biar cepat pulih."

Sukma menyuapi Wati dengan sabar. Setiap suapan ditelan Wati dengan susah payah, tapi perempuan itu memaksakan diri.

"Masakan Mbakyu enak," bisik Wati setelah lima suapan.

"Tidur lagi habis ini." Sukma menyeka sudut bibir Wati dengan tisu gulung kasar yang sengaja ia siapkan dari rumah.

Belum sempat Wati memejamkan mata, pintu bangsal terbuka.

Dokter Ratih masuk diikuti seorang perawat yang membawa nampan besi.

"Permisi, Bu Wati. Waktunya cek jahitan dan bersihkan darah nifas ya."

Dokter Ratih berdiri di sisi ranjang, menyingkap selimut bagian bawah Wati dengan cekatan.

"Tarik napas panjang, Bu. Ini agak sakit sedikit. Saya harus menekan perut Ibu supaya darah kotor sisa operasi bisa keluar maksimal, biar tidak infeksi."

Tangan Dokter Ratih menekan perut bagian bawah Wati dengan tenaga lumayan kuat.

"Aaaargh!" Wati menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang hebat mencengkeram besi ranjang.

Priyambodo langsung melompat panik. Tangannya nyaris menepis lengan Dokter Ratih.

"Dok! Ojo dikasarani! Istriku kesakitan iku, jahitane iso jebol!"

"Meneng ae, Do!" Sukma menarik kerah belakang adik iparnya kuat-kuat, menyeretnya mundur.

"Koen ate ngajari dokter?! Dokter lebih tahu ilmunya!"

Dokter Ratih menatap Priyambodo dengan tenang sambil terus melakukan tugasnya.

"Ndak apa-apa, Pak. Wajar suami panik. Tapi proses ini wajib."

"Bu Wati, ayo tahan sebentar lagi. Bagus, sudah selesai."

Perawat segera membersihkan area tersebut dan mengganti perban dengan cekatan.

Wati terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Sukma langsung mengambil handuk kecil basah, mengusap dahi adik iparnya lembut.

Selesai bertugas, Dokter Ratih mencuci tangannya di wastafel sudut ruangan. Ia mengeringkan tangan, lalu menoleh menatap Sukma.

"Bu Sukma."

"Nggih, Dok?"

"Obrolan kita tempo hari di puskesmas... Ibu benar." Dokter Ratih merapikan kerah jas putihnya, senyum tipis mengembang di bibirnya.

"Keluarga saya sempat renggang karena saya terlalu fokus kerja dan mengurus urusan keluarga besar suami saya yang tidak ada habisnya. Baru kemarin saya sadar, anak dan suami saya sendiri malah terabaikan."

Sukma mengangguk paham. "Keluarga inti nomor satu, Dok. Sisanya, peduli setan."

Dokter Ratih tertawa pelan. "Ibu memang berani."

"Nah, Bu Wati harus dirawat tiga hari di sini. Nanti dijaga bergantian saja biar tidak pada tumbang. Saya pamit dulu."

"Matur nuwun sanget, Dok." Sukma membungkuk sopan.

Sepeninggal dokter, Sukma menoleh ke arah jendela. Hari mulai gelap. Hujan gerimis rintik-rintik mengetuk kaca buram rumah sakit.

Ia memanggil Paklik Karto yang sedari tadi duduk bersila di tikar pojok ruangan, menemani Toni yang sudah tertidur pulas.

"Paklik."

"Dalem, Nduk." Pria tua itu berdiri mendekat.

"Aku minta tolong." Nada suara Sukma berubah serius, matanya memancarkan ketegasan yang tak bisa dibantah.

"Tiga hari lagi tolong jemput Wati ke sini pakai gerobak. Terus, Paklik langsung pulang malam ini juga."

"Lho, ndak Paklik temani di sini?"

"Ndak usah, ada Dodo." Sukma melipat tangannya di dada.

"Aku ada tugas lebih berat buat Paklik."

Priyambodo ikut menajamkan telinga mendengar percakapan itu.

"Tugas opo, Nduk?"

"Tolong bilangin Bulik Karto. Kunci rapat semua pintu dan jendela rumahku. Anak-anakku biar makan masakan Bulik Karto saja. Jangan biarkan si Lasmi atau Jamilah menginjakkan kaki seujung kuku pun di pekaranganku."

Paklik Karto mengerutkan dahi bingung. "Memangnya kenapa, Nduk? Mereka kan keluarga mertuamu dewe."

"Aku kenal kelakuan siluman-siluman itu, Paklik." Rahang Sukma mengatup rapat menahan geram.

"Lasmi pasti mikir aku ndak mungkin bawa semua uangku ke rumah sakit sekarang ini!"

Priyambodo menunduk, menyadari betapa kejamnya sang ibu kandung.

"Lasmi sama Jamilah pasti bakal nggrebek rumahku mumpung aku ndak ada," lanjut Sukma tajam. "Mereka pasti mau njarah gabah di dapur atau nyari sisa duit simpanan di lemariku. Lek sampai beras anak-anakku dicolong..."

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!