NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni

Pujian itu bagai aliran energi yang membangkitkan semangat Siman. Dia tahu ini berkat akiknya, dan juga dorongan dari Murni. Siman melirik Murni, yang hanya bisa membalas dengan senyum bangga dan malu.

"Murni juga sama seperti Anda lho. Keduanya jenius. Keduanya memiliki kemampuan itu. Tidak ada lagi yang akan meremehkan Bapak, Siman," kata Pak Kusuma, tersenyum ke arah Siman. "Oh ya, tadi saya sudah lihat-lihat portofolio Anda. Jujur saja, proyek kopi Bapak Trisno yang Anda kerjakan kemarin, itu sangat membuat saya terpukau, Siman. Kualitas yang konsisten itu membuat saya penasaran. Sangat sesuai dengan branding saya."

"Begitu, ya?" Siman menelan ludah. Hatinya berbunga-bunga, namun ia juga berusaha tetap tenang dan profesional.

"Jadi begini, Siman," Bapak Trisno memotong, suaranya ramah. "Pak Kusuma ini sedang mencari desainer untuk melakukan branding ulang perusahaannya secara menyeluruh. Tidak hanya logo baru, tapi juga identitas visual untuk seluruh lini produknya, media sosial, hingga situs web. Pokoknya... semua yang berhubungan dengan dunia digital mereka. Perusahaan Bapak Kusuma sudah ada dari kakeknya dulu. Jadi saya sangat berhati-hati dalam memilihin. Mengingat Bapak Harsono adalah pengusaha terbaik. Tentu saya juga akan mencari yang terbaik. Apa Anda berminat, Siman?"

Mendengar skala proyeknya, Siman menahan napas. Ini bukan hanya "proyek kecil" seperti kopi tadi, atau "tender UKM" Global Link. Ini adalah mega-proyek. Tantangan terbesar yang pernah ia hadapi. Jika berhasil, Akik Creative Studio akan melompat jauh ke level yang lebih tinggi.

"Berminat sekali, Pak!" Siman menjawab tanpa ragu, tekadnya membara. Akik di jarinya terasa hangat, berdenyut pelan, memancarkan sensasi "ini dia, ini takdirmu" ke dalam dirinya.

Pak Kusuma tersenyum. "Bagus! Saya suka semangat Anda. Jadi, saya tidak perlu menunggu Bapak untuk menceritakannya, bukan? Saya ingin mendengarkan ide-ide brilian Anda. Bagaimana pandangan Anda tentang masa depan desain merek mebel tradisional, namun tetap elegan, modern, dan menjangkau pasar internasional?"

Siman kembali menghirup udara. Perkataan Bapak Kusuma memang membuatnya senang. Dan Bapak Trisno juga bangga melihat dirinya. Murni tampak khawatir dengan hal itu. Ada perasaan Siman yang memang belum disampaikan pada Murni.

"Maafkan aku ya, Murni. Kamu ini... tidak boleh berlama-lama sendirian." Gumaman dalam hati Siman kembali membayangi dirinya. Ada luka. Ada kegamangan Siman. Apakah dirinya ingin membuat studio yang lebih hebat dari Bapak Kusuma ini, namun justru ada yang hilang? Entah apa.

"Untuk hal itu, saya rasa harus dilakukan secara berhati-hati, Pak," Siman memulai, dengan tenang, mencoba merangkai kata-kata terbaik. "Merek Kencana Furniture yang Bapak miliki, pasti sudah memiliki citra kuat di kalangan pelanggan lama. Namun, untuk menjangkau pasar baru dan internasional, kita perlu menekankan 'storytelling'. Setiap produk mebel Anda punya sejarah, keunikan, filosofi di baliknya. Ini bisa kita kemas dalam desain digital yang minimalis namun berkelas. Bukan hanya visualisasi produk, tapi juga pengalaman emosional. Sebuah aura kekayaan lokal yang mampu memikat mata dunia." Siman mengutarakan gagasannya dengan percaya diri. Ini bukan asal. Ia sudah berpikir jauh.

Mata Pak Kusuma membesar, menyiratkan kekaguman. Beliau mengangguk-angguk. Bapak Trisno tersenyum di sampingnya. Murni di sebelahnya hanya bisa menghela napas, takjub dengan kemampuan Siman berbicara.

"Sebuah cerita. Saya suka itu," ujar Pak Kusuma. "Filosofi... ya. Bapak ini hebat sekali ya." Beliau meraih pulpen, menuliskan sesuatu di notes-nya. "Untuk mebel. Identitas itu harus konsisten, dari offline hingga online. Kita harus menggabungkan akar tradisi dengan sentuhan modern. Sesuai dengan apa yang sudah Bapak katakan. Jadi… sebuah ‘kisah’ yang diceritakan lewat estetika."

"Persis, Pak. Ini tentang menciptakan kesan abadi. Sebuah ‘legacy’ dalam setiap furnitur Kencana. Dari mulai sentuhan kayu, sampai visualisasi modern. Semuanya bisa dibungkus dalam sebuah tampilan visual yang minimalis. Dan warna yang akan saya terapkan, nanti, pasti sesuai dengan nama perusahaan Anda," Siman menanggapi, antusias, semakin percaya diri dengan ide-idenya. Ini adalah impiannya. Dirinya tak akan goyah.

"Luar biasa, Siman! Ini… Anda benar-benar visioner. Tidak hanya jago desain, tapi juga memahami strategi merek. Anda adalah paket lengkap," puji Bapak Kusuma, bersemangat. "Oke. Saya sangat tertarik. Sekarang juga saya setujui Anda sebagai mitra bisnis. Tapi ada satu hal. Apa Akik Creative Studio Anda sudah punya tim? Proyek sebesar ini akan butuh banyak kepala."

Jantung Siman berdetak kencang. Ini adalah pertanyaan yang Siman takutkan. Memang. Dia sendiri, selama ini belum punya tim yang solid, kecuali Intan yang ia ajak sewaktu-waktu. Siman terpaku. Ada rasa keraguan. Ini bukanlah pertanda yang bagus. Bagaimana dirinya dapat membuat tim secara langsung? Ini mustahil. Apalagi Akik Creative Studio miliknya baru saja dibangun.

Akiknya berdenyut kuat di jarinya. Bukan, kali ini bukan panas pemicu semangat. Tapi dingin, seperti memberi peringatan. 'Fokus, Siman. Jangan sombong. Jangan lupakan batasmu.' Ini adalah sesuatu yang harus Siman kuasai secara utuh.

"Siman... ini peluang terbaik untukmu. Jangan kau sia-siakan." Murni tiba-tiba berbisik, menyentuh lengan Siman. Gadis itu menatapnya dengan pandangan tulus. Tatapan itu adalah sebuah penyemangat yang ia butuhkan. Tidak ada kata bohong, atau hal lain yang Siman rasa belum dia utarakan.

"Saya... saya sudah mulai membangun tim, Pak. Ini kebetulan ada rekan saya yang sudah sangat berkompeten," Siman menjawab, suaranya tenang, penuh percaya diri yang datang tiba-tiba. Dia menunjuk Murni dengan pandangan meyakinkan.

Murni terkesiap. Wajahnya langsung memerah, bibirnya terkatup rapat, ingin protes, namun tatapan Siman seolah mengatakan, "Percaya padaku."

"Oh, Nona Murni ini?" Pak Kusuma menoleh, menatap Murni dengan tatapan ingin tahu. "Selamat siang, Nona. Saya lihat dari tadi Anda sangat pendiam. Jangan-jangan nanti kalau berkolaborasi, kita bisa kaget?"

Murni tergagap, "Selamat siang, Pak. Sa-saya cuma mendampingi saja. Saya tidak... terlalu..."

"Murni adalah otak kreatif di balik ide-ide unik kami, Pak Kusuma," Siman memotong dengan tegas, "terutama untuk sisi story telling. Dia jago menulis. Ide-idenya segar. Selama ini dia sering membantu saya dalam banyak hal. Jika tidak ada Murni, saya pasti belum berada di posisi sekarang ini."

Dua pasang mata, Pak Kusuma dan Bapak Trisno, menatap Siman, kemudian beralih ke Murni, mencoba menangkap maksud ucapan Siman. Murni sendiri hanya bisa menunduk malu, terkejut dengan pujian tak terduga dari Siman.

Pak Kusuma mengangguk-angguk, tersenyum lebar. "Wah, bagus kalau begitu. Berarti tim Akik Creative Studio memang solid. Oke, Siman. Saya akan percayakan proyek besar ini pada Anda. Angka kontraknya, ini melebihi apa yang Bapak Trisno dapat kemarin."

Siman merasakan detak jantungnya makin cepat. Perusahaan Kencana Furniture milik Pak Kusuma ini sudah sekelas dengan brand international yang Murni bilang ada di televisi itu. Tentu saja angkanya fantastis. Siman membayangkan puluhan atau bahkan ratusan juta. Rasa bangga memenuhi rongga dadanya.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!