Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.Foto Yang Terlalu Dekat dan Benang Yang Terputus
Pagi itu, udara di koridor kelas 12 terasa lebih pekat dari biasanya – seperti ada lapisan tipis debu yang membuat setiap napas terasa sedikit berat. Ren berjalan dengan langkah yang tetap santai, satu tangannya tertanam di saku celana panjangnya, sementara tangan lainnya menyangga tali tas punggung yang hanya tersampir di bahu kanannya. Udara pagi yang biasanya segar kini terasa hangat dan penuh dengan bisikan-bisikan yang tidak jelas dari arah mading sekolah di ujung koridor. Ia baru saja melewati ruang guru ketika menyadari bahwa suasana sekolah yang biasanya riang sudah berubah total – siswa-siswa yang biasanya sibuk bergosip tentang acara musik atau drama televisi kini berkerumun rapat di depan papan pengumuman, wajah mereka penuh dengan ekspresi penasaran dan terkadang sedikit menyakitkan.
"Itu benar-benar dia kan? Siswa baru dari kelas 11 yang baru pindah minggu lalu?"
"Lihat aja cara dia memegang tangan Akira – mereka terlihat sangat akrab, kayak sudah pacaran sejak lama!"
"Kayak adegan film aja ya, ada anak kecil di tengah mereka yang jadi penghubungnya."
Ren menghentikan langkahnya tepat di belakang kerumunan itu. Matanya secara naluri menyipit saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Ia mendekat perlahan, dan ketika bisa melihat apa yang membuat mereka heboh, wajahnya langsung menjadi lebih dingin dari biasanya.
Di tengah mading yang biasanya dipenuhi pengumuman sekolah dan hasil lomba, tertempel sebuah foto berukuran A4 yang jelas diambil secara sembunyi-sembunyi. Cahaya senja kemarin sore yang masuk ke dalam bingkai foto membuat adegan terlihat lebih dramatis dari sebenarnya – foto itu menangkap momen ketika Rin menarik tangan Ren dan Yuki secara bersamaan, membuat kedua orang dewasa itu tampak seolah sedang berpegangan tangan dengan mesra, sementara Rin berdiri di tengah mereka dengan wajah yang ceria dan tersenyum lebar. Sudut pandang yang diambil dari balik pohon membuat kesalahpahaman itu semakin terasa nyata.
"Singkirkan itu dari sana," suara Ren terdengar rendah namun penuh dengan daya tekan yang membuat siswa di depannya secara refleks mundur dan membuka jalan untuknya.
Kerumunan itu terbelah seketika seperti lautan yang dibelah. Ren maju satu langkah, lalu merobek foto itu dengan satu tarikan kasar tanpa ragu-ragu. Ia tidak peduli jika tepi kertas itu robek tidak beraturan atau sebagian lem masih menempel di papan. Matanya yang tajam menatap ke arah bekas tempat foto itu dipasang, seolah ingin membakar jejak lem itu dengan pandangannya saja.
"Ren? Ada apa denganmu—"
Suara Hana tiba-tiba terputus di tengah kalimat. Gadis itu berdiri tidak jauh dari kerumunan, satu tangan memegang kotak susu cokelat kecil yang sedotan plastiknya masih menggantung di bibirnya. Ekspresi wajahnya yang biasanya penuh semangat kini menjadi kaku, matanya bergerak dari potongan kertas yang masih terjepit di tangan Ren ke wajah pemuda itu yang tampak lebih dingin dari es di musim dingin.
Hana mendekat dengan langkah yang sedikit ragu-ragu. Ia melihat sekilas bagian wajah Yuki yang masih terlihat jelas di salah satu fragmen foto yang belum hancur sepenuhnya. Senyum lembut Yuki di foto itu seolah menusuk sesuatu yang sensitif di dalam dada Hana – sebuah rasa sakit yang tidak ia sangka akan rasakan.
"Jadi... itu benar saja ya?" suara Hana keluar dengan sedikit getaran, meskipun ia berusaha keras menutupinya dengan nada yang coba terdengar sarkastik. "Si koki jenius kita yang selalu sok cuek ternyata punya cerita masa lalu yang manis-manis? Aku baru tahu kamu tipe orang yang suka menunjukkan kemesraan di depan gerbang sekolah kayak aktor film romansa."
Ren perlahan menoleh ke arah Hana. Ia bisa melihat dengan jelas kilatan luka yang sedang berusaha disembunyikan di balik mata cokelatnya yang biasanya jernih dan penuh semangat. Kemistri yang biasanya hangat dan penuh dengan candaan kecil di antara mereka – seperti saat Hana memberikan catatan atau Ren memberikan makanan kecil yang ia bawa dari restoran – kini terasa hilang begitu saja, digantikan oleh kecanggungan yang membuat setiap detak jantung terasa lebih keras dari biasanya.
"Itu hanya kesalahpahaman, Hana. Rin yang menarik tangan kita berdua karena dia senang bertemu dengan Yuki lagi," ucap Ren dengan nada yang datar namun ada nada penjelasan yang terselip di dalamnya. Ia meremas bagian foto yang masih ada di tangannya hingga menjadi bola kecil yang kusut. "Yuki hanya teman masa kecil yang baru saja kembali ke Jayapura setelah lima tahun pergi."
"Teman masa kecil kan biasanya jadi awal dari cinta pertama yang tak terlupakan di cerita-cerita klise, Ren," Hana memalingkan wajahnya ke arah jendela, jari-jarinya secara tidak sadar meremas kotak susu cokelat hingga sedikit penyok dan sedikit cairan keluar dari celahnya. "Kenapa kamu tidak bilang padaku sebelumnya? Aku merasa seperti orang bodoh yang terus khawatir kamu tidak sarapan atau terlambat ujian, sementara kamu sudah punya seseorang yang tahu semua hal tentangmu – mulai dari rasa makanan kesukaanmu hingga cara kamu tidur saat mengantuk sejak kamu berusia tujuh tahun."
Ren terdiam sejenak. Ia ingin menjelaskan lebih jauh, memberikan kata-kata yang bisa membuat Hana merasa lebih baik. Tapi ia bukan tipe orang yang pandai merangkai kata-kata manis atau menjelaskan perasaan dengan jelas. Bagi Ren, Yuki adalah bagian dari masa lalu yang belum sempat ia proses dengan baik setelah lama tidak bertemu, sementara Hana adalah bagian dari hidupnya sekarang yang membuat hari-harinya di sekolah tidak terasa terlalu membosankan – seseorang yang ia inginkan untuk lindungi tanpa harus mengatakan secara langsung.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang anggun terdengar dari arah berlawanan koridor. Yuki muncul dengan membawa tumpukan buku catatan tebal di tangannya, pakaian seragamnya tetap rapi tanpa satu lipatan pun. Ia berjalan dengan sikap yang percaya diri, membuat beberapa siswa laki-laki yang lewat berhenti sejenak untuk melihatnya. Saat pandangannya jatuh pada Ren dan Hana yang berdiri dengan suasana yang tegang, langkahnya secara otomatis melambat. Ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Ren? Ada apa nih? Kenapa suasana kayak begini?" Yuki bertanya dengan suara yang lembut namun penuh dengan perhatian, matanya melihat ke arah Ren lalu ke Hana dengan ekspresi yang penuh rasa ingin tahu.
Hana langsung berdiri tegak, postur tubuhnya yang biasanya rileks kini menjadi lebih kaku. Matanya menatap Yuki dengan intensitas yang berbeda dari biasanya – ini adalah pertama kalinya dunia sekolah yang sudah ia kenal sebagai "tempatnya bersama Ren" bertemu dengan dunia masa lalu Ren yang baru saja muncul kembali.
"Tidak ada apa-apa. Cuma ada sampah yang perlu dibuang saja," jawab Ren dengan nada yang tegas, lalu dengan gerakan cepat ia melemparkan bola kertas yang terbuat dari foto itu ke arah tempat sampah di sudut koridor – tepat mengenai target tanpa menyimpang sedikitpun.
Yuki melihat ke arah tempat sampah, lalu kembali menatap Hana dengan senyum tipis yang sopan namun jelas menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. "Kamu pasti Hana ya? Ren sering menyebutkan kamu dalam surat-surat yang dulu dia kirim ke rumahku saat aku masih tinggal di luar kota. Katanya, ada seorang gadis yang sering bilang dia cerewet tapi selalu memastikan dia tidak terlambat ujian atau kelaparan di sekolah."
Hana sedikit tersentak mendengar itu. Marah yang muncul tadi sedikit mereda, tapi rasa tidak aman yang ada di dalam dirinya justru semakin meningkat. "Dia bilang aku cerewet?"
"Cerewet yang berarti kamu benar-benar peduli padanya," Yuki memperbaiki kalimatnya dengan cara yang cerdas dan lembut, tidak ingin membuat Hana merasa tersinggung. "Aku sangat berterima kasih padamu sudah menjaga Ren dengan baik selama aku tidak ada di sini."
Kalimat terakhir itu – "selama aku tidak ada" – terdengar seperti sebuah klaim yang halus namun jelas di telinga Hana. Seolah Yuki sedang menyatakan bahwa dia adalah bagian penting dari hidup Ren yang hanya sementara hilang, sementara Hana hanya orang yang membantu menjaga Ren selama dia tidak ada. Ia menggigit bibir bawahnya hingga sedikit terasa sakit, merasa seperti seseorang yang secara tidak sengaja memasuki rumah orang lain tanpa izin.
Ren merasakan bahwa suasana sudah mulai mencapai titik yang tidak bisa dibiarkan terus berlanjut – jika tidak, koridor ini akan segera menjadi medan perang emosi yang tidak perlu. Ia melangkah ke tengah, berdiri tepat di antara kedua gadis itu dengan posisi yang menunjukkan bahwa ia ingin mengakhiri situasi ini.
"Yuki, kamu harus kembali ke kelasmu sekarang. Pelajaran pertama sebentar lagi akan dimulai," katanya dengan nada yang tidak bisa dibantah, lalu melihat ke arah Hana. "Kamu juga, Hana. Bel masuk akan berbunyi dalam satu menit. Jangan sampai kamu terlambat karena urusan yang tidak penting."
Yuki mengangguk dengan patuh, tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan. "Baiklah, Ren. Sampai jumpa di jam istirahat ya? Aku ingin cerita tentang resep baru yang Ayah kamu kembangkan – aku sudah punya ide untuk memodifikasinya sedikit."
Setelah Yuki berjalan menjauh dengan langkah yang kembali menjadi anggun, Hana masih berdiri di tempatnya dengan wajah yang kosong. Ren mendekat sedikit, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kotak susu cokelat yang sudah kosong dari tangan Hana dan membuangnya ke tempat sampah dengan lembut.
"Berhenti mikirin foto bodoh itu," gumam Ren dengan suara yang pelan, cukup untuk hanya bisa didengar oleh Hana. "Catatan kuis yang kamu buat untukku kemarin – yang penuh dengan catatan kecil dan gambar sketsa aku yang mengantuk – itu jauh lebih nyata daripada foto yang diambil secara sembunyi dari balik pohon."
Hana perlahan menengadah, menatap mata Ren yang biasanya tampak dingin kini sedikit melunak. Ia tidak tahu apakah harus tetap marah atau merasa lega mendengar kata-kata itu, tapi rasa hangat yang sempat menghilang dari dalam dadanya perlahan mulai kembali menyelinap ke seluruh tubuhnya.
"Baiklah. Tapi mulai besok, aku akan membuat catatan yang jauh lebih sulit dan penuh dengan rumus-rumus kompleks," ancam Hana dengan nada yang sudah tidak lagi penuh dengan amarah, bahkan ada sedikit senyum yang muncul di sudut bibirnya. "Supaya kamu tidak punya waktu untuk bercanda-canda dengan orang lain dan jadi bahan foto sembarangan lagi."
Ren hanya mendengus dengan suara yang rendah, namun di dalam hatinya ia tahu bahwa ini baru permulaan dari berbagai masalah kecil yang mulai muncul di kehidupannya yang dulu terasa cukup tenang. Seperti sebuah bingkai foto yang tiba-tiba retak, hidupnya yang terbagi antara dunia restoran dan sekolah kini mulai memiliki bagian baru yang membuat segalanya terasa lebih rumit – namun juga lebih hidup dari sebelumnya.