Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Malam pergantian tahun di London biasanya identik dengan dentang Big Ben dan kembang api yang memayungi Sungai Thames. Namun bagi ribuan karyawan Manafe Corp, perayaan kali ini terasa lebih eksklusif. Kantin utama di lantai 30 disulap menjadi restoran bintang lima dengan menu fine dining yang aromanya memenuhi seluruh ruangan—kombinasi truffle, daging wagyu, dan anggur mahal.
Di tengah hiruk-pikuk tawa dan obrolan para staf, sebuah meja panjang di sudut ruangan menjadi pusat gravitasi kecemasan.
Ezzvaro Manafe duduk di sana. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan gurat kelelahan namun tetap memancarkan aura predator. Di sisi kanannya, asisten pria setianya, Liam, sibuk memeriksa beberapa pesan di tablet sambil sesekali berbisik pelan.
Namun, bukan Liam yang menarik perhatian mata-mata lapar di ruangan itu. Melainkan Briana (29), manajer pemasaran yang duduk tepat di sisi kiri Ezzvaro.
Briana adalah definisi wanita ambisius yang tahu cara memanfaatkan kecantikannya. Dengan gaun cocktail merah marun yang sedikit terlalu ketat untuk acara kantor, ia terus mencondongkan tubuhnya ke arah Ezzvaro, tertawa pada lelucon yang bahkan tidak lucu, dan sesekali menyentuh lengan pria itu dengan gerakan yang terlihat sangat terlatih.
"Pak Ezzvaro, Anda harus mencoba foie gras ini. Benar-benar luar biasa," suara Briana terdengar mendayu, cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Ezzvaro tidak menyahut. Ia hanya menatap piringnya dengan pandangan kosong. Matanya menyoroti kebencian dan muak yang mendalam—bukan pada Briana, tapi pada dunia yang sedang ia jalani sekarang. Ia merasa seperti mayat hidup yang dipaksa menghadiri pesta kematiannya sendiri.
Lima meter dari sana, Gabriel duduk bersama beberapa rekan dari divisi kreatif. Ia berusaha bersikap masa bodoh, memotong dagingnya dengan presisi yang mengerikan, namun matanya tidak bisa berhenti melirik ke arah meja Ezzvaro.
Gabriel muak. Sangat muak.
Ia sudah mengenal spesies seperti Briana sejak zaman High School. Wanita-wanita yang menggatal, yang selalu mengerubungi Ezzvaro seperti lalat mencari madu. Dulu, Gabriel akan langsung melabrak mereka, menjambak rambut mereka di koridor kampus, atau setidaknya membuat mereka malu di depan umum. Namun sekarang? Statusnya sebagai "adik tiri" adalah borgol yang tak terlihat.
29 tahun dan tak kunjung menikah. Pantas saja kau begitu agresif, Briana, batin Gabriel pahit. Ia bisa melihat bagaimana tangan Briana sesekali menyentuh jemari Ezzvaro di atas meja. Dan yang membuat Gabriel semakin emosi adalah Ezzvaro yang hanya diam. Ezzvaro yang tampak pasif, seolah ia membiarkan dirinya "dimakan" oleh wanita itu.
Ezzvaro yang biasanya sangat protektif terhadap ruang pribadinya, kini seolah-olah sudah mati rasa.
Kau bilang hanya aku yang kau tiduri? Kau bilang hasratmu mati? Lalu kenapa kau membiarkan wanita itu menyentuhmu seolah kau adalah miliknya?! amarah Gabriel bergejolak, mencampuradukkan rasa cemburu, patah hati, dan harga diri yang terinjak-injak.
Tiba-tiba, sebuah dorongan gila muncul di benak Gabriel. Sebuah dorongan—melampaui batas kewarasan yang selama ini ia coba jaga.
Gabriel bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang mengenakan stiletto hitam berbunyi nyaring di atas lantai marmer, menciptakan kesunyian mendadak di ruangan itu. Semua mata tertuju padanya saat ia berjalan lurus menuju meja Ezzvaro.
Liam berhenti bicara. Briana mendongak, wajahnya yang penuh riasan menunjukkan ekspresi bingung sekaligus defensif.
Ezzvaro tetap diam. Ia bahkan tidak mendongak saat bayangan Gabriel menutupi piringnya.
Tanpa sepatah kata pun, Gabriel meraih botol saus cabai ekstra pedas yang ada di tengah meja. Dengan gerakan yang sangat lambat namun pasti, ia membuka tutupnya dan menuangkan isinya ke atas potongan wagyu mahal di piring Ezzvaro.
Satu sendok. Dua sendok. Setengah botol. Hingga daging wagyu yang seharusnya berwarna cokelat menggoda itu tertimbun oleh gundukan saus merah yang terlihat mengerikan.
Seluruh karyawan membeku. Briana ternganga, tangannya yang tadi berada di lengan Ezzvaro kini ditarik kembali karena takut. Tidak ada yang berani berbisik. Suasana kantin yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi medan eksekusi.
Rumor tentang persaingan kekuasaan dan kebencian antara dua ahli waris ini sudah menjadi rahasia umum, tapi ini? Ini adalah penghinaan publik yang sangat nyata.
Gabriel meletakkan botol saus itu dengan denting keras di atas meja. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Ezzvaro yang akhirnya mendongak.
Mata mereka bertemu.
"Makanlah, Kak Ezzvaro," desis Gabriel, suaranya halus namun mengandung racun yang mematikan. "Kau tampak sangat butuh sesuatu yang panas untuk menyadarkan mu bahwa kau masih hidup. Atau... kau terlalu sibuk menikmati 'sentuhan' manajer mu sampai-sampai indra perasamu ikut mati?"
Ezzvaro menatap gundukan saus di piringnya, lalu menatap Gabriel. Tidak ada amarah di matanya. Hanya ada kehampaan yang sangat dalam yang membuat Gabriel tiba-tiba merasa ingin menangis.
"Terima kasih, Gabriel," suara Ezzvaro terdengar sangat rendah, sangat tenang, dan itu justru jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
Ezzvaro mengambil garpu dan pisaunya. Di depan ratusan mata yang terbelalak, ia memotong daging yang sudah berselimut saus cabai pekat itu, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Ia mengunyahnya perlahan, tanpa ekspresi, meskipun butiran keringat mulai muncul di pelipisnya akibat rasa pedas yang membakar.
"Pak Ezzvaro! Jangan dimakan, itu akan membuat perut Anda—" Briana mencoba mengintervensi, wajahnya panik.
"Diam, Briana," potong Ezzvaro dingin tanpa menoleh.
Ia menelan daging itu, lalu menatap Gabriel lagi. "Apakah ini sudah cukup panas untukmu, Gaby?"
Panggilan "Gaby" yang meluncur di depan umum itu membuat napas Gabriel tercekat. Ia bisa melihat mata Ezzvaro mulai memerah, bukan hanya karena pedas, tapi karena emosi yang tertahan.
Gabriel mengepalkan tangannya. Ia merasa menang sekaligus hancur di saat yang sama. Ia membenci betapa kuatnya kendali Ezzvaro atas dirinya sendiri, dan ia membenci betapa mudahnya pria itu menyakitinya hanya dengan sebuah tatapan.
"Belum," balas Gabriel, suaranya bergetar. "Bahkan api neraka pun tidak akan cukup untuk membakar mu."
Gabriel berbalik dan berjalan cepat keluar dari kantin, mengabaikan tatapan ngeri dan bisik-bisik yang mulai meledak di belakangnya. Ia tidak peduli jika besok ia akan dipanggil ke kantor Ayahnya. Ia tidak peduli jika ia dianggap gila.
Di meja makan, Ezzvaro meletakkan garpunya. Ia meminum air putihnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Briana mencoba mendekat lagi, ingin mengelap keringat di dahi Ezzvaro, namun Ezzvaro menepis tangannya dengan kasar.
"Pergi dari sini, Briana. Dan jangan pernah berani duduk di dekatku lagi," ucap Ezzvaro.
"Tapi Pak—"
"Keluar!" gertak Ezzvaro.
Briana tersentak, wajahnya memerah karena malu di depan bawahannya, lalu ia pergi dengan langkah terburu-buru.
Ezzvaro duduk sendirian di meja yang kini kosong dari orang, namun penuh dengan sisa-sisa amarah Gabriel. Ia menatap piringnya yang kotor oleh saus merah. Lidahnya terasa terbakar, perutnya mulai melilit, namun di balik rasa sakit fisik itu, ia merasakan sebuah kepuasan yang sakit.
Kau masih cemburu, Gaby. Kau masih mencintaiku dengan cara yang merusak, batin Ezzvaro.
Ia menyeka bibirnya dengan tissu, bangkit, dan melangkah keluar menuju balkon gedung. Di sana, di ketinggian lantai 30, ia melihat kembang api mulai meledak di langit London, menandakan dimulainya tahun baru. Tahun yang ia tahu akan menjadi tahun yang paling berdarah dalam hidupnya.
Karena di antara mereka berdua, perang bukan lagi tentang kekuasaan. Tapi tentang siapa yang akan hancur lebih dulu di bawah beban cinta yang melampaui batas kewarasan ini.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰