Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintai dalam Diam
Di dalam ruang pribadi raja, suasana masih tenang setelah percakapan antara Lein dan Raja Ryvons.
Lein berdiri dengan perasaan lega. Ia tidak menyangka akan diterima sehangat itu.
“Pesta pernikahan?”
Kalimat itu cukup membuatnya diam. Matanya sedikit melebar. Ia tidak bergerak, mendengarkan lebih jelas. Saat ia benar-benar yakin dengan apa yang ia dengar… ekspresinya langsung berubah.
BRAK!
Pintu terbuka dengan keras.
Lein terkejut.
“Reyd?!”
Raja Ryvons sedikit mengernyit. Namun belum sempat berkata apa-apa, Reyd sudah berjalan cepat masuk. Wajahnya sangat berbeda dari biasanya. Ia terlihat sangat senang.
“Lein!”
Reyd berdiri tepat di depannya.
Lein masih bingung.
“Ada apa, Reyd?”
Reyd menatapnya dengan mata berbinar.
“Ayah sudah merestui kita.”
Lein berkedip.
“Apa maksudmu?”
Reyd tersenyum lebar.
“Soal pernikahan kita.”
Lein langsung terdiam beberapa detik. Ia melirik ke arah Raja Ryvons. Raja hanya menghela napas kecil, seolah sudah menduga ini akan terjadi.
Lein kembali menatap Reyd.
“Reyd…”
Ia berkata pelan.
“Kamu terlihat sangat senang.”
Reyd tidak menyangkal.
“Tentu saja.”
Jawabnya langsung.
Ia memegang tangan Lein.
“Aku tidak ingin kita terpisah lagi.”
Nada suaranya tulus. Bukan sekadar kebahagiaan… namun juga ketakutan yang tersisa. Seperti saat mereka hampir terpisah di Odstra Land.
Lein terdiam. Ia mengerti perasaan itu. Namun ia juga tersenyum kecil.
“Kita baru saja kembali ke sini.”
Lein berkata lembut.
“Aku masih ingin melihat banyak hal di kerajaan ini.”
Reyd menatapnya. Namun kali ini… senyumnya tidak hilang.
“Kita bisa melakukannya bersama.”
Jawabnya santai.
“Setelah menikah pun, kita tetap bisa melihat semuanya.”
Lein sedikit kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka Reyd akan secepat ini.
Raja Ryvons akhirnya berdiri.
“Reyd.”
Nada suaranya tegas.
“Jangan kebelet kawin.”
Reyd menoleh sebentar.
“Maaf, Ayah.”
Namun jelas—ia tidak benar-benar menyesal.
Ia kembali menatap Lein.
“Aku sudah sangat serius.”
Lein menghela napas kecil. Namun senyum tipis tetap muncul di wajahnya.
Ia tahu… Reyd memang seperti itu. Keras kepala dalam hal yang ia yakini. Namun juga… sangat tulus.
---
Koridor di sekitar ruang pribadi raja kembali sunyi. Langkah kaki Reyd dan Lein perlahan menjauh. Percakapan mereka pun menghilang bersama jarak.
Namun… mereka tidak sendirian sebelumnya.
Dari balik pilar besar, seseorang keluar perlahan. Tatapannya tenang. Namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
Sejak tadi, ia mengintip pembicaraan di dalam ruangan. Ia mendengar semuanya. Tentang restu raja. Tentang rencana pernikahan. Dan tentang perubahan Reyd.
Seyron melangkah pelan keluar dari bayangan. Ia menatap ke arah koridor tempat Reyd dan Lein pergi.
“Pernikahan, ya.”
Ia bergumam pelan.
Namun ekspresinya tidak menunjukkan ketertarikan. Ia tidak peduli. Baginya siapa pun yang Reyd pilih bukanlah masalah. Bukan itu yang mengganggu pikirannya.
Seyron menyandarkan tubuhnya ke pilar. Tatapannya berubah sedikit lebih tajam.
“Yang menjadi masalah…”
Ia memejamkan mata sejenak.
“Adalah dirinya.”
Adiknya yang dulu selalu dianggap tidak layak, kini kembali dengan perubahan yang jelas.
Seyron membuka matanya kembali.
“Jika ini terus berlanjut.”
Ia menatap ke arah ruang raja.
“Aku bisa kehilangan segalanya.”
Selama ini ia berdiri di posisi aman. Sebagai pewaris takhta. Sebagai putra yang dipercaya.
Namun sekarang posisi itu mulai goyah. Bukan karena kesalahan besar. Namun karena kehadiran seseorang yang berubah.
Seyron menghela napas pelan. Ia kemudian berdiri tegak. Ekspresinya kembali tenang seperti biasa.
“Kalau begitu…”
Ia berkata pelan.
“Aku hanya perlu memastikan.”
Langkahnya mulai menjauh dari tempat itu.
“Bahwa posisi takhta kerajaan tetap menjadi milikku.”
Koridor kembali sunyi.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?