Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Keesokan paginya, aroma nasi goreng dan jahe sisa semalam masih tertinggal di udara.
Adrian terbangun dengan kepala yang sedikit pening, namun suhu tubuhnya sudah jauh lebih mendingan.
Ia melihat Liana sedang sibuk menyiapkan barang dagangan di ruang tengah, wajahnya tampak kaku dan tidak bersahabat.
Adrian mencoba berdiri, merapikan kemejanya yang kini sangat kusut.
Ia mendekat dengan tatapan yang lebih lembut, tidak ada lagi sorot mata penguasa yang sombong.
"Liana, terima kasih untuk semalam. Kejujuranmu dalam menari, itu benar-benar membuatku tersadar bahwa—"
"Pak Adrian," potong Liana tajam tanpa menoleh,
"saya tidak akan terbujuk rayuan Anda. Dan sekarang lekaslah pulang karena saya mau jualan lagi. Urusan kita selesai di sini."
Adrian tidak menyerah. "Kalau begitu, biarkan aku menebus kesalahanku. Baiklah, aku akan membantumu jualan di pasar hari ini."
Liana terbelalak, hampir saja ia menjatuhkan tumpukan dasternya.
"Jangan gila! Bapak mau jualan daster?"
Tanpa memedulikan keberatan Liana, Adrian bangkit dan dengan langkah yang masih sedikit goyah, ia menuju ke dapur.
Ia melihat Mama Liana sedang membungkus bekal.
"Ibu yang baik, izinkan saya membantu putri Ibu hari ini. Saya ingin belajar bagaimana menjadi penjual yang hebat seperti Liana," ucap Adrian dengan nada yang sangat manis, mencoba merayu hati sang ibu.
Mama Liana yang polos tampak bimbang, namun Liana sudah kehilangan kesabaran.
Dengan gerakan cepat, Liana mendekat, mencengkeram lengan kemeja Adrian yang mahal, dan menariknya paksa menuju pintu depan.
"Liana! Apa yang kamu lakukan?" seru Adrian kaget saat tubuhnya didorong menuju mobil sport-nya yang terparkir di halaman.
"Lekas pergi dan jangan kembali lagi!!" teriak Liana sambil menutup pintu mobil Adrian dengan keras.
Liana mendengus kesal, napasnya memburu karena amarah yang memuncak.
Ia berdiri di samping mobil, menatap Adrian yang tampak bingung di balik kaca jendela.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menari untuk Anda! Carilah penari yang langsing dan cantik, yang sesuai dengan standar dunia Anda yang palsu itu! Jangan ganggu hidup kami lagi!"
Liana berbalik dan masuk ke rumah dengan hentakan kaki yang keras, meninggalkan Adrian yang terdiam seribu bahasa.
Untuk pertama kalinya, Adrian tidak hanya ditolak karena uangnya, tapi ia juga disadarkan bahwa luka yang ia goreskan pada harga diri Liana jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Mobil sport mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Di balik kemudi, rahang Adrian mengeras.
Penolakan keras Liana tadi pagi masih terngiang di telinganya, namun bukannya menyerah, obsesi Adrian justru semakin meruncing.
"Aku harus mencari cara agar Liana mau menari," gumam Adrian pelan saat ia memarkirkan mobilnya di lobi apartemen eksklusifnya.
"Apa aku harus membuatnya jatuh cinta kepadaku? Ya, cinta adalah senjata yang paling mematikan."
Langkah kakinya yang berat bergema di lorong sunyi menuju penthouse-nya. Namun, saat pintu terbuka, ia tidak disambut oleh kesunyian yang biasanya ia sukai.
"Jatuh cinta? Siapa yang kamu maksud, Sayang?"
Suara manja itu berasal dari sofa beludru di ruang tengah. Arum, seorang model internasional dengan tubuh semampai dan wajah yang selalu tampak sempurna di depan kamera, berdiri menyambutnya.
Arum adalah kekasih Adrian yang sudah lama menemaninya di dunia hiburan yang glamor.
Adrian tersentak kecil, namun ia dengan cepat memasang topeng dinginnya yang biasa.
"Oh, itu, hanya tentang naskah film terbaruku," ucap Adrian, membohongi Arum tanpa ragu.
Arum mendekat, memicingkan mata sambil merapikan kerah kemeja Adrian yang kusut dan berbau asap pasar.
"Kamu dari mana, Adrian? Penampilanmu berantakan sekali."
"Aku menginap di kantor semalam. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum produksi dimulai," jawab Adrian, kembali meluncurkan kebohongan kedua.
Arum menghela napas, jemarinya yang lentur mengusap pipi Adrian yang kasar karena belum bercukur.
"Kasihan sekali calon suamiku ini. Untung aku sudah kembali. Tiga bulan ini aku di Paris untuk pemotretan merek ternama, rasanya rindu sekali padamu."
Arum berjinjit, melingkarkan lengannya di leher Adrian, lalu mencium bibir pria itu dengan mesra.
Sejenak, Adrian terdiam. Bayangan Liana yang menari dengan tulus di pasar mendadak melintas, namun ia segera menepisnya dan membalas ciuman Arum—meski pikirannya tetap tertinggal di sebuah toko pakaian sederhana yang sempit.
Pintu apartemen tertutup rapat, mengunci dunia luar dari kemewahan yang kini terasa panas dan menyesakkan.
Di bawah temaram lampu kristal, Adrian melepaskan kemeja kusutnya yang masih menyisakan aroma samar debu pasar, sementara Arum dengan jemari lenturnya menanggalkan gaun sutra mahalnya.
Suara desahan pelan segera memenuhi ruangan luas itu, sebuah pelarian fisik yang biasa mereka lakukan di sela-sela kesibukan industri hiburan.
Namun, di balik sentuhan Arum yang terampil, pikiran Adrian justru melayang jauh.
Ia melihat bayangan Liana yang menari dengan keringat bercucuran dimana sebuah gairah yang jauh lebih nyata daripada apa yang ia rasakan di atas ranjang mewahnya sekarang.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang canggung setelah badai itu reda.
Arum bangkit, merapikan rambutnya yang sempurna, dan mengenakan kembali pakaian bermereknya dengan cekatan.
Ia melirik jam tangan berliannya yang melingkar cantik.
"Aku harus pergi sekarang, Sayang. Sopir sudah menunggu di bawah," ucap Arum sambil memulas kembali lipstik merahnya di depan cermin besar.
Adrian hanya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, membiarkan tubuhnya tertutup selimut tipis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan cakrawala kota.
Arum mendekat, mengecup dahi Adrian sekilas sebagai salam perpisahan.
"Kita bertemu lagi tiga bulan lagi. Jangan terlalu lelah dengan film barumu itu. Au revoir!"
Begitu pintu apartemen terdengar berdentum pelan tanda Arum telah pergi, Adrian langsung terduduk tegak.
Keheningan kembali menguasai ruangan. Tiga bulan. Itu adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Adrian untuk menjalankan rencana barunya.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas, menatap foto profil Liana yang berhasil ia ambil diam-diam dari media sosial.
Sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang tampan namun dingin.
"Tiga bulan, Liana," gumam Adrian pelan.
"Dalam waktu itu, aku akan memastikan kamu tidak hanya menari untukku, tapi juga menyerahkan seluruh hatimu kepadaku."
Suasana pasar pagi itu mulai ramai, namun Liana tampak tidak fokus.
Ia duduk di atas kursi plastik biru—kursi yang sama yang diduduki Adrian semalaman—sambil memandangi lalu lalang pembeli dengan tatapan kosong.
Tangannya sesekali memainkan ujung kain daster yang belum terlipat, namun pikirannya terbang jauh.
Sentuhan hangat di pundaknya tiba-tiba mengejutkan Liana.
Ia menoleh dan mendapati Mama berdiri di sampingnya dengan wajah penuh selidik.
"Mikir apa kamu, Liana?" tanya Mama lembut.
"Dari tadi Mama perhatikan, kamu cuma pegang satu baju tapi tidak dilipat-lipat. Masih kepikiran soal Pak Adrian?"
Liana terdiam sejenak. Bayangan Adrian yang menggigil kedinginan, sorot mata pria itu yang penuh ambisi, hingga kemarahannya sendiri tadi pagi berputar-putar di kepalanya seperti badai.
Ada rasa bersalah yang terselip karena telah mengusirnya begitu kasar, namun ada juga ketakutan yang besar akan kehilangan dunianya yang tenang.
Liana menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan pria itu.
"Enggak, Ma. Liana cuma kurang tidur saja karena semalam harus ke pasar tengah malam," jawab Liana sambil memaksakan sebuah senyum tipis.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Mama meski matanya menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya.
"Orang kaya seperti dia itu dunia kita beda jauh, Nak. Jangan sampai masuk ke pikiranmu terlalu dalam. Ayo, itu ada pembeli mau lihat ukuran XL."
Liana mengangguk dan segera berdiri, menenggelamkan dirinya kembali dalam kesibukan pasar. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa bahwa ini bukanlah akhir dari pertemuannya dengan Adrian.
Ada firasat aneh yang mengatakan bahwa ketenangan di tokonya ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
ditunggu crazy upnya