NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: REFERENDUM BESAR

Langit di atas Ibukota Arrinra pagi itu tidak menampakkan badai, tidak pula kilat yang mengancam. Sebaliknya, udara terasa ringan, membawa aroma kertas baru dan tinta yang masih basah. Di setiap sudut jalan, dari pusat kota hingga ke pemukiman kumuh yang kini telah berubah menjadi perumahan rakyat yang layak, tertempel pengumuman besar dengan segel resmi Kekaisaran Ser. Namun, isinya bukanlah perintah perang atau pemungutan pajak, melainkan sebuah pertanyaan tunggal bagi 2.001.103 Km^2 wilayah tersebut: "Siapakah yang berhak memegang nasib Arrinra selanjutnya?"

Di dalam ruang kerja pribadi Serena, suasana jauh dari kata tenang. Tumpukan dokumen konstitusi yang telah disusun selama bertahun-tahun kini siap untuk diuji oleh suara rakyat. Serena berdiri di depan jendela, tangannya menyentuh kaca yang dingin. Di pantulannya, ia melihat seorang wanita berumur 40-an yang masih memiliki sorot mata tajam secepat kilat, namun gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan.

"Kau benar-benar akan melakukannya, Serena?" suara Anton memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian sederhana—kemeja katun dan celana kain—seperti kembali ke jati dirinya sebagai rakyat biasa.

Serena berbalik dan tersenyum tipis. "Pagi ini, Anton, aku merasa lebih ringan daripada saat aku pertama kali menguasai Ilmu Petir Langit di Puncak Ijen. Selama ini, kekuasaan ini adalah pedang yang tidak pernah bisa kumasukkan ke dalam sarungnya. Sekarang, aku ingin meletakkannya di atas meja rakyat."

"Banyak yang ketakutan," Anton mendekat, menggenggam tangan istrinya. "Para gubernur di wilayah Barat mengirim surat. Mereka bilang rakyat belum siap. Mereka bilang tanpa dirimu, Arrinra akan hancur dalam hitungan bulan karena perebutan kekuasaan."

"Mereka bukan takut Arrinra hancur, Anton. Mereka takut kursi empuk mereka hilang," sahut Serena tegas. "Rakyat sudah belajar di sekolah umum. Mereka sudah kenyang karena reformasi agraria. Jika sekarang bukan waktunya, lalu kapan lagi? Apakah kita harus menunggu sampai aku menjadi tua dan pikun, lalu anak-anak kita bertempur memperebutkan mahkota?"

Perdebatan di Majelis Rakyat

Beberapa jam kemudian, Serena berdiri di podium Majelis Rakyat. Ini adalah sidang pleno terakhir sebelum referendum dilaksanakan. Ruangan itu penuh sesak. Para menteri, perwakilan buruh, petani, guru, hingga sisa-sisa bangsawan hadir dengan nafas tertahan.

Adipati Wijaya, yang kini telah berambut putih sepenuhnya, berdiri dengan tangan gemetar memegang mikrobatin pengeras suara. "Yang Mulia, kami memohon Anda untuk mempertimbangkan kembali. Anda adalah simbol stabilitas. Menghapus sistem waris takhta adalah tindakan yang belum pernah terjadi dalam sejarah benua ini. Siapa yang akan menjamin jika orang yang terpilih nanti adalah seorang tiran yang lebih buruk?"

Serena menatap Wijaya dengan tenang. "Adipati, jika seorang tiran terpilih, rakyat memiliki hak untuk menurunkannya melalui hukum yang telah kita susun. Namun jika seorang tiran lahir dari rahimku, rakyat tidak memiliki pilihan selain menderita atau melakukan pemberontakan berdarah. Mana yang lebih Anda pilih?"

"Tapi bagaimana dengan keturunan Anda?" teriak seorang bangsawan dari barisan belakang. "Pangeran Arya memiliki kekuatan petir Anda! Dia adalah pelindung alami kita!"

Serena melirik ke arah Arya yang duduk di barisan pengamat bersama saudara-saudaranya. Arya berdiri, membungkuk hormat pada ibunya, lalu menoleh ke arah hadirin.

"Ayahku mengajariku cara memikul beban," ujar Arya dengan suara bariton yang mantap. "Dan dia bilang, beban terberat adalah saat kau memaksakan kehendakmu pada orang lain. Jika rakyat Arrinra menginginkanku memimpin, aku akan maju dalam pemilihan sebagai warga negara biasa. Aku tidak ingin memimpin karena namaku Arrinra, aku ingin memimpin karena kalian percaya padaku."

Keheningan melanda ruangan itu. Jawaban Arya adalah tamparan bagi mereka yang masih memegang teguh kasta.

Hari Referendum: Suara di Balik Kotak Kayu

Minggu berikutnya, hari yang bersejarah itu tiba. Untuk pertama kalinya, tempat pemungutan suara didirikan di seluruh negeri. Di desa terpencil di kaki Gunung Ijen, Pak Kumis, petani tua yang dulu pernah makan bersama Serena, berdiri di depan kotak kayu sederhana.

"Pak Kumis, apakah Bapak mengerti apa yang Bapak pilih?" tanya seorang relawan mahasiswa.

Pak Kumis memegang surat suara dengan tangan kasarnya yang penuh kapalan. "Aku mengerti, Nak. Aku memilih untuk tidak lagi menjadi 'hamba'. Aku memilih agar cucu-cucuku tidak perlu mencium kaki orang hanya karena mereka lahir di istana. Aku mencintai Ratu Serena, tapi aku lebih mencintai kebebasan yang dia berikan kepada kami."

Di Ibukota, Serena dan Anton berjalan kaki menuju tempat pemungutan suara umum. Tanpa kereta kencana, tanpa pengawalan berlapis. Mereka mengantre di belakang seorang ibu penjual jamu dan seorang kuli panggul.

"Anda duluan, Yang Mulia," ujar si penjual jamu dengan rasa sungkan.

Serena menggeleng ramah. "Hari ini, di depan kotak ini, aku bukan Yang Mulia. Aku adalah Serena, warga negara Arrinra. Urutanku adalah urutan ke-45, dan aku akan menunggu."

Anton menyenggol lengan Serena sambil berbisik, "Kau lihat wajah mereka? Mereka bingung, tapi mereka bangga. Mereka merasa... dihargai."

"Itulah inti dari semua ini, Anton," balas Serena pelan. "Memberi manusia martabatnya kembali."

Malam Penghitungan: Detik-Detik Penentuan

Malam hari, aula istana berubah menjadi pusat penghitungan suara. Paman Bram memimpin koordinasi menggunakan jaringan merpati pos dan sinyal kilat dari menara-menara pengawas. Hasil mulai masuk dari berbagai distrik.

"Distrik Selatan: 85% setuju perubahan sistem," lapor seorang petugas.

"Distrik Barat: 70% setuju."

"Wilayah Pegunungan Utara: 92% setuju."

Hampir di seluruh wilayah, rakyat memilih untuk mendukung visi Serena. Mereka menginginkan demokrasi. Mereka menginginkan suara mereka diakui sebagai hukum tertinggi.

Namun, di tengah penghitungan, sebuah kabar buruk datang. "Yang Mulia! Sekelompok loyalis monarki radikal melakukan sabotase di Distrik Timur. Mereka membakar kotak suara dan menyandera petugas pemilihan!"

Serena segera berdiri. Aura petirnya mendesis, membuat lampu gantung di aula bergoyang. "Siapa mereka?"

"Mereka dipimpin oleh mantan ajudan Jenderal Karsa yang selama ini menyamar sebagai pedagang," jawab Paman Bram. "Mereka menyatakan bahwa referendum ini adalah penghinaan terhadap dewa-dewa Arrinra."

"Aku akan ke sana," ujar Serena dingin. Ia meraih pedang Raijin yang sudah lama tergeletak di atas meja.

"Tunggu, Serena," Anton menahan lengannya. "Jika kau pergi ke sana dan menghanguskan mereka dengan petirmu, kau hanya akan membuktikan bahwa pada akhirnya, kekuatanlah yang memerintah, bukan hukum. Biarkan polisi sipil dan Majelis Rakyat yang menangani. Ini adalah ujian pertama bagi sistem baru kita."

Serena tertegun. Ia menatap pedangnya, lalu menatap Anton. Perlahan, ia melepaskan pegangannya pada senjata legendaris itu. "Kau benar. Jika aku campur tangan dengan kekuatanku, maka referendum ini kehilangan maknanya."

Ia menoleh pada Paman Bram. "Kirimkan pasukan keamanan sipil. Perintahkan mereka untuk menangkap, bukan membantai. Bawa mereka ke pengadilan terbuka. Biarkan rakyat melihat bahwa hukum berlaku untuk siapa saja, bahkan bagi mereka yang membela sistem lama."

Pidato Pengunduran Diri

Keesokan paginya, hasil akhir diumumkan. Secara mutlak, rakyat Arrinra memilih untuk mengakhiri sistem monarki absolut dan beralih ke sistem pemilihan suara (Demokrasi).

Serena Arrinra naik ke balkon istana untuk terakhir kalinya sebagai penguasa tertinggi. Di bawahnya, jutaan orang berkumpul dalam kesunyian yang khidmat.

"Rakyat Arrinra," suaranya tenang, namun menjangkau setiap sudut alun-alun. "Hari ini, kalian telah mencatatkan sejarah yang lebih besar daripada kemenangan perang mana pun. Kalian telah memilih untuk menjadi tuan atas nasib kalian sendiri."

Serena melepas mahkota emas yang melingkar di kepalanya. Ia meletakkannya di atas bantal beludru yang dibawa oleh Arya.

"Mulai detik ini, aku bukan lagi Kaisar kalian. Aku mengumumkan pengunduran diriku sepenuhnya dari segala jabatan politik. Aku menghapus hak waris takhta keturunanku. Kekaisaran Ser kini menjadi Negara Arrinra yang berdaulat di bawah suara rakyat."

Suara sorak-sorai pecah, namun ada juga isak tangis haru.

"Jangan menangis untukku," lanjut Serena dengan senyum lebar. "Karena mulai hari ini, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan sejak turun dari Puncak Ijen sepuluh tahun lalu: Sebuah keluarga, dan sebuah negeri yang tidak lagi membutuhkanku untuk menjadi tuhan mereka, karena mereka telah menemukan kekuatan dalam diri mereka sendiri."

Anton maju ke depan, berdiri di samping Serena. Ia melambaikan tangan kepada rekan-rekan kulinya yang berdiri di barisan depan. "Sampai jumpa di jalanan, Kawan-kawan! Aku akan kembali membantu kalian membangun jembatan, bukan sebagai konsorsium, tapi sebagai mandor kalian!"

Dialog di Sela Pengemasan Barang

Malam itu, suasana di istana terasa aneh. Para pelayan sibuk berkemas, tapi bukan karena pindah paksa, melainkan karena istana akan diubah menjadi museum nasional dan kantor pusat Majelis Rakyat. Serena dan Anton sedang memasukkan pakaian mereka ke dalam peti kayu sederhana di kamar mereka.

"Jadi, benar-benar rumah kecil di pinggir sungai itu?" tanya Anton sambil melipat kemejanya.

"Ya. Rumah yang kau bangun sendiri sebelum kita menikah. Aku ingin tidur tanpa harus mendengar laporan intelijen atau protes menteri," jawab Serena.

Tiba-tiba kelima anak mereka masuk. Arya, Bima, Cakra, Dara, dan Eka tampak bingung namun bersemangat.

"Bu, apakah kami masih boleh belajar di sekolah umum?" tanya Eka, si bungsu.

"Tentu saja, Sayang. Justru sekarang kalian benar-benar sama dengan teman-teman kalian. Tidak ada lagi pengawal yang membuntuti kalian secara sembunyi-sembunyi," jawab Serena.

Arya mendekati ibunya. "Bu... tadi beberapa perwakilan pemuda memintaku untuk mencalonkan diri sebagai perwakilan distrik di pemilihan bulan depan. Apa yang harus kulakukan?"

Serena memegang bahu putra sulungnya. "Arya, jika kau ingin maju, majulah karena kau ingin melayani. Tapi ingat satu hal: jika kau kalah, jangan gunakan petirmu untuk mengeluh. Dan jika kau menang, jangan gunakan posisimu untuk memperkaya diri. Kau mengerti?"

Arya tersenyum, kilat perak tipis muncul di matanya. "Aku mengerti, Bu. Aku akan bertarung secara sehat. Aku ingin membuktikan bahwa didikan seorang kuli dan seorang ninja bisa menghasilkan pemimpin yang jujur."

Penyerahan Kunci Istana

Keesokan harinya, di depan gerbang istana, Serena menyerahkan kunci besar perak kepada Ketua Majelis Rakyat yang baru terpilih sementara. Paman Bram berdiri di sana, mengenakan pakaian pensiunannya.

"Anda telah melakukan hal yang mustahil, Serena," bisik Bram.

"Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya memang milik mereka, Paman," sahut Serena.

Anton sudah menunggu di atas kereta kuda sederhana yang penuh dengan peti barang-barang mereka. "Ayo, Serena! Sebelum matahari terlalu panas! Aku sudah janji pada Pak Kumis untuk membantu memperbaiki saluran irigasi siangnya nanti!"

Serena tertawa, sebuah tawa lepas yang belum pernah didengar rakyatnya selama sepuluh tahun terakhir. Ia melompat ke samping Anton, mengambil alih kendali kuda.

"Selamat tinggal, istana," bisik Serena.

Kereta itu melaju meninggalkan kemegahan batu dan emas, menuju sebuah kehidupan sederhana yang penuh makna. Rakyat di sepanjang jalan melambai, bukan dengan rasa takut, tapi dengan rasa hormat kepada seorang wanita yang cukup kuat untuk memegang petir, namun cukup bijaksana untuk melepaskan takhta.

Bab 19 ditutup dengan pemandangan kereta kuda yang menjauh menuju ufuk barat, sementara di belakang mereka, Arrinra mulai sibuk dengan persiapan pemilihan umum pertama mereka. Referendum besar telah selesai, dan fajar demokrasi telah benar-benar menyingsing.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!