Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Malam itu, pesisir pantai pulau pribadi Klan Obsidian tidak segelap biasanya.
Atas desakan Lucia—yang rengekannya memiliki frekuensi setara sirine ambulans—dan dukungan penuh dari Anya yang sedang mood makan banyak, Ragas dan Rico akhirnya menyulap sebagian pantai menjadi area pesta BBQ dadakan.
Lampu-lampu tumblr berwarna kuning hangat digantungkan menyilang di antara dua pohon kelapa yang berdekatan, menciptakan kanopi cahaya yang estetik. Sebuah meja panjang berlapis taplak bermotif kotak-kotak merah-putih (yang entah dari mana Ragas dapatkan) dipenuhi berbagai hidangan: salad segar, roti bawang putih, jagung bakar, dan saus BBQ rahasia andalan Ragas.
Di tengah-tengah itu semua, bintang utamanya adalah panggangan besi besar yang sedang mengepulkan asap beraroma luar biasa menggoda.
"Rico! Balik guritanya! Jangan sampai gosong, itu favoritku!" seru Lucia dari atas tikar pantai, melambaikan tongkat marshmallow-nya dengan heboh. Ia sudah berganti pakaian santai: celana jeans pendek dan kaus kebesaran bertuliskan 'I Love NY'.
Rico, yang masih mengenakan kemeja rapinya namun lengannya sudah digulung sebatas siku, hanya bisa menghela napas pasrah. Ia membalik tentakel gurita raksasa di atas panggangan dengan capit besi, sementara tangan kirinya memegang kipas sate. "Bersabarlah, Tuan Putri. Gurita ini tidak akan matang hanya dengan kau teriaki."
Anya, yang duduk bersila di sebelah Lucia, tertawa melihat interaksi kakak-beradik itu. Gadis tomboy itu mengenakan celana training andalannya dan kaus singlet hitam, merasa jauh lebih nyaman di sini daripada di restoran bintang lima di kota.
Lalu, bagaimana dengan sang Ketua Klan Obsidian?
Kaelan duduk agak menjauh di kursi lipat kanvas, tepat di batas antara cahaya lampu dan kegelapan malam. Ia sudah mandi, menghapus kuteks maroon sialan itu dengan aseton yang akhirnya Ragas temukan, dan mengganti kaus kuning anak ayamnya dengan kaus hitam polos serta celana linen panjang berwarna gelap. Aura sang mafia es telah kembali seutuhnya.
Kaelan menyesap bir dingin dari botolnya dalam diam. Matanya menatap lurus ke arah keriuhan di depannya.
Seumur hidupnya, perayaan kemenangan Kaelan selalu diwarnai dengan cerutu mahal, wiski berumur puluhan tahun, dan pertemuan formal dengan para Tetua yang saling menjilat. Tidak pernah ada... gurita bakar, lampu kelap-kelip murahan, dan tawa lepas yang tulus.
Dunia mafia adalah dunia yang sepi. Namun malam ini, melihat Anya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita konyol Lucia tentang masa kecil Rico, dada Kaelan terasa penuh. Penuh oleh sesuatu yang hangat dan sangat asing.
"Hei, Bos Es!"
Panggilan nyaring itu membuyarkan lamunan Kaelan. Anya berdiri, berjalan menghampirinya sambil membawa dua piring kertas. Di satu piring terdapat sepotong daging steak panggang berukuran besar yang masih mendesis, dan di piring lainnya ada setumpuk sosis bakar serta jagung manis.
Anya menyodorkan piring berisi steak itu tepat di depan wajah Kaelan. "Kau belum makan apa-apa sejak bangun dari 'tidur panjangmu'. Jangan sampai aku harus menyeretmu ke rumah sakit karena kurang gizi."
Kaelan menatap piring kertas itu, lalu beralih menatap wajah Anya yang tersenyum jahil, diterangi cahaya remang-remang dari lampu tumblr dan kobaran api unggun kecil di dekat tikar.
"Aku tidak lapar," tolak Kaelan datar, meski perutnya sebenarnya sudah meronta sejak tadi.
Anya mendengus keras, berkacak pinggang dengan satu tangan memegang piringnya sendiri. "Oh, benarkah? Kalau begitu aku akan memakan bagianmu ini juga. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti tengah malam kau kelaparan dan terpaksa memakan daun kelapa."
Anya baru saja akan berbalik ketika tangan Kaelan yang besar dan kokoh terulur, meraih piring kertas itu dengan cepat.
"Kau ini cerewet sekali, Preman Pasar," gerutu Kaelan pelan, namun ia mulai memotong daging itu dengan pisau plastik dan memakannya.
Anya menyeringai penuh kemenangan. Alih-alih kembali ke tikar bersama Lucia, gadis itu justru menjatuhkan dirinya duduk di atas pasir, tepat di samping kursi lipat Kaelan. Bahu mereka nyaris bersentuhan.
Kaelan menghentikan kunyahannya sejenak, melirik gadis di bawahnya. "Kenapa kau duduk di bawah? Pasirnya kotor."
"Pasir itu eksotis, Kaelan. Bukan kotor," jawab Anya santai, menggigit sosis bakarnya dengan gigitan besar. Ia mengunyah dengan riang, lalu menatap hamparan laut yang gelap. "Lagipula... duduk di sini view-nya lebih bagus."
Kaelan tahu 'view' yang dimaksud Anya bukanlah laut, melainkan keriuhan Rico, Lucia, dan Ragas.
"Keluargamu... maksudku, Lucia dan Rico, mereka sangat menyenangkan," ucap Anya setelah menelan makanannya. Suaranya melembut, kehilangan nada tengilnya yang biasa. "Aku tidak pernah punya keluarga besar yang ramai seperti ini. Ayahku selalu sibuk berjudi, dan ibuku... yah, dia sudah lama pergi."
Kaelan menelan dagingnya dengan susah payah. Kata 'keluarga' selalu memiliki konotasi berdarah dalam hidupnya. Namun, melihat Anya yang begitu menikmati momen ini, Kaelan menyadari bahwa definisi keluarga bisa diciptakan, bukan hanya diwariskan.
Kaelan meletakkan piringnya di atas pangkuannya, lalu menatap profil samping wajah Anya.
"Mereka bukan keluargaku secara darah," ucap Kaelan dengan suara berat yang mengalun pelan, nyaris tertelan suara ombak. "Tapi mereka loyal. Di duniaku, loyalitas lebih berharga daripada ikatan darah."
Anya menoleh, menatap lurus ke dalam mata Kaelan. "Dan aku? Aku ada di posisi mana di duniamu yang mengerikan itu, Bos Es? Apa aku cuma... tameng kontrak seharga satu miliar?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Anya, setengah bercanda, namun setengahnya lagi mengandung harapan dan ketakutan yang tulus. Setelah semua yang mereka lalui—ciuman perpisahan itu, pelukan saat Kaelan bangun, dan rahasia Milo yang kini ia pegang—Anya butuh kejelasan. Ia tidak ingin jatuh cinta sendirian.
Kaelan terdiam. Angin malam meniup rambut hitamnya yang mulai memanjang. Jantung sang Ketua Mafia berdetak lebih cepat. Pria yang tak pernah ragu menarik pelatuk pistol ini, kini merasa tenggorokannya tercekat oleh satu kata sederhana: cinta.
Kaelan meletakkan birnya di atas pasir. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak antara wajahnya dan wajah Anya yang mendongak menatapnya.
"Kau bukan tameng, Anya," bisik Kaelan, matanya berkilat dengan intensitas yang membuat napas Anya tertahan. "Dan kau bukan sekadar kontrak. Kau..."
Kaelan mengangkat tangannya, ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir Anya yang sedikit terkena saus BBQ. Sentuhan itu membuat tubuh gadis tomboy itu merinding seketika.
"...kau adalah satu-satunya alasan aku ingin pulang hidup-hidup dari peperangan itu," lanjut Kaelan, suaranya sangat serak dan penuh gairah yang tertahan. "Satu miliar itu hanya harga untuk membelimu dari dunia luar. Tapi untuk mengikatmu di sisiku selamanya... aku bersedia memberikan nyawaku."
Mata cokelat Anya membulat. Pengakuan blak-blakan dari Kaelan, tanpa tedeng aling-aling dan sangat posesif ala mafia, menghantam tepat di ulu hatinya. Wajah gadis itu langsung memerah seperti kepiting rebus.
Semua kata-kata balasan tengil yang biasanya sudah berada di ujung lidah Anya mendadak menguap entah ke mana.
"K-kau... kau curang, Kaelan," cicit Anya gugup, membuang muka kembali menatap laut untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, meski jantungnya bergemuruh bahagia. "Bilang saja kau tidak bisa hidup tanpaku."
Kaelan mendengus geli, sebuah senyum miring yang luar biasa tampan akhirnya terukir jelas di wajahnya. Ia menyandarkan kembali tubuhnya ke kursi, merasa beban seberat gunung es di dadanya akhirnya mencair sepenuhnya.
"Ya," jawab Kaelan singkat namun penuh keyakinan. "Aku tidak bisa."
"WOOOI! KALIAN BERDUA JANGAN PACARAN TERUS DI POJOKAN SANA! JAGUNGNYA SUDAH MATANG NIH!"
Teriakan melengking Lucia dari arah panggangan menghancurkan gelembung romantis mereka dalam sekejap mata. Gadis imut itu melambaikan dua bonggol jagung bakar dengan wajah polos tanpa dosa, sementara Rico di sebelahnya memijat pelipisnya lagi dengan frustrasi.
Anya terkesiap, buru-buru berdiri dan membersihkan pasir di celananya dengan panik. "I-iya! Aku ke sana!" seru Anya salah tingkah, setengah berlari menuju tikar pantai, meninggalkan Kaelan yang kini harus berusaha keras menahan tawa.
Malam itu, di bawah langit penuh bintang dan diiringi tawa renyah Lucia serta gerutuan Rico, Kaelan menyadari satu hal yang pasti.
Liburannya di pulau ini mungkin dipenuhi kekacauan akibat Milo, ancaman Paman Arthur, dan kedatangan adik sahabatnya. Namun, menatap punggung gadis tomboy yang sedang berebut jagung bakar dengan Lucia itu... Kaelan tahu, ia telah menemukan surga pribadinya yang sesungguhnya.