Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
BRAAKKK
"CARI WANITA ITU, AKU YAKIN DIA MENYEMBUNYIKAN PUTRANYA JUGA." teriak seorang pria, Yasmin menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Kini ia tengah bersembunyi, di bawah ranjang Ghaffar. Berdo'a pada sang Illahi, berharap dirinya tak di temukan.
Ghaffar bisa melihat semua itu, di tab miliknya yang ada di ruang kecil itu. Ia bisa melihat sang ibu, yang menahan tangis di sana.
'Ibu...' panggilnya dengan suara lirih, setelah sebelumnya ia mengirimkan pesan SOS pada ke kantor polisi.
Lalu lalang, para penjahat itu mencari keberadaan Yasmin dan Ghaffar. Sampai...
"KETEMU KAMU WANITA SIALAN .." pria itu menarik tangan Yasmin, dengan begitu kasarnya.
"KYAAAAA ... LEPASKAN" teriak Yasmin, ia terus berontak. Namun tenaga pria itu, lebih besar di bandingkan dengan dirinya.
"Cuih... Kamu pikir bersembunyi di bawah sana, tidak akan kami temukan." ucap pria itu
"SIAPA KALIAN, KENAPA KALIAN MASUK KE RUMAHKU. DAN MEMBUNUH ORANG-ORANG DI SINI, PERGIII!!!" teriak Yasmin lagi
PLAK
KYAAAA
Yasmin pun jatuh ke atas lantai, karena begitu kerasnya tamparan itu.
Grepp
Aaakhh
"Siapa kami, kamu tak perlu tau. Yang harus kamu tau, kami diminta membunuhmu dan keluarga kecilmu. Cukup itu saja yang kamu tau.." ucap pria itu, seraya menjambak rambut Yasmin
Yasmin meringis kesakitan, tapi tatapannya begitu memancarkan kebencian yang teramat sangat.
"Cih... Hahahahaha..." pria itu merasa murka, saat melihat Yasmin tertawa
"Apa yang kamu tertawakan? Nyawamu berada di tanganku, bahkan suamimu sudah mati di tanganku."
DEG
Bukan hanya Yasmin yang terkejut, Ghaffar pun merasakan hal yang sama.
'Ayah... Hiks...'
"BRENGSEK, IBLIS, KALIAN MEMANG TAK LAYAK UNTUK HIDUP DENGAN TENANG. TERMASUK ADIK TIRIKU, PASTI DIA YANG MENYURUHMU!!!" Pria itu tersenyum smirk
"Rupanya kamu sudah tau, siapa yang menyuruhku. Jadi... Ucapkan selamat tinggal..."
DOR
DOR
DOR
Ghaffar menutup mulutnya, agar tak mengeluarkan suara sama sekali. Ibunya tewas, karena pria itu menembak dua kali d jantung dan satu kali si kepala. Kedua mata sang ibu, menatap ke arah CCtv. Seolah mengatakan, agar Ghaffar diam di tempat. Sampai semua terkendali, juga aman.
"Bagaimana dengan anaknya??" tanya salah satu rekannya
"Biarkan saja, dia pasti tak ada di sini. Mungkin menginap di rumah temannya, buktinya sudah kita cari kemana-mana. Tetap tak menemukan keberadaan anak itu, kita pergi sekarang." jawab pria yang menghabisi Yasmin
Para pelaku pergi, tanpa memperdulikan jenazah yang sudah merek habisi.
Tanpa mereka tau, bila keputusannya membiarkan Ghaffar hidup. Adalah kesalahan terbesar, karena akan menjadi mimpi buruk mereka di masa depan.
Setelah di rasa aman, Ghaffar membuka kunci ruangan tersembunyi itu. Dengan merangkak, ia keluar dari sana. Tak sanggup untuk berdiri, tubuhnya terasa begitu lemas.
"Ibu... Hiks... Bangun bu... Jangan tinggalkan Ghaffar, Ghaffar sama siapa sekarang?"
Hening
Ghaffar tak mendengarkan suara, yang ia harapkan.
"Hwaaaaaaa.... Ibuuuuu..... Ibuuuu.... Huhu..." tangisan Ghaffar pun pecah
Dengan susah payah, Ghaffar berjalan ke arah kamar orang tuanya.
DEG
Seperti ibunya, kondisi ayahnya lun sama parahnya. Ada beberapa tembakan, di kepala dan juga tubuh sang ayah.
"HWAAAAAAAA .... AYAAAAAHHH.... " jerit Ghaffar
Barulah warga keluar, mereka berbondong-bondong ke rumah Ghaffar. Saat ada suara tembakan tadi, mereka takut untuk keluar dari rumah.
"Nak Ghaffar..."
Flashback off
Pemakaman telah selesai, Ghaffar masih berada di pemakaman. Duduk di antara kuburan orang tuanya, menatap kayu yang bertuliskan nama kedua orang tuanya.
'Ayah.... Ibu... Kalian tenang saja, saat Ghaffar sudah besar. Ghaffar akan membalas semua nya, membayar sepuluh kali lipat dari yang kalian rasakan. Adik tiri ibu, juga orang-orang itu... AKAN MATI DI TANGANKU!!!' ucapnya dalam hati, tangan Ghaffar mengepal erat
"Abang tau, apa yang kamu pikirkan. Dendam, takkan bisa membuat hidupmu tenang Ghaff." ucap pak Ustad Husein, namun Ghaffar tak peduli
Ia masih duduk membelakangi ustad Husein, dengan senyum menyeringai.
'Bahkan sejak malam itu, hidupku sudah tak tenang.' jawab Ghaffar dalam hati
"Ayo kita kembali" ajak ustad Husein, ia tau bila Ghaffar tak menerima ucapannya
Tapi, ia akan selalu berusaha. Membuat Ghaffar selalu di jalan yang benar, tak tersesat karena rasa dendam nya.
.
.
Pengacara duduk di depan Ghaffar, ia menjelaskan. Bila seluruh warisannya, akan turun saat usia Ghaffar menginjak 24 tahun.
Setiap bulan, Ghaffar akan mendapatkan kiriman 20 juta di ATM nya untuk uang jajan. Biaya sekolah terjamin, sampai ia kuliah. Sampai kapan pun itu, mau itu S2 atau pun S3.
Bahkan uang untuk bulanan rumah dan juga pelayan, sudah di pisahkan. Ghaffar hanya cukup sekolah dengan baik, menjalani hari-harinya.
Usaha yang tengah berjalan, akan di serahkan pada orang yang bisa di percaya tentunya. Ghaffar hanya mengangguk, wajahnya masih saja datar.
Namun ada satu hal yang berbeda sekarang, setelah ia melihat kematian sang ibu secara langsung. Ia jadi bisa melihat hal-hal, yang tidak bisa dilihat manusia pada umumnya.
MEREKA, orang-orang menyebutnya HANTU?? atau ARWAH GENTAYANGAN?
Tragedi yang terjadi pada orang tuanya, seolah menjadi tombol ON indera ke enam pada tubuhnya. Karena selain bisa melihat MEREKA, Ghaffar kini bisa mendengar isi hati orang lain.
.
.
Waktu berlalu, hari berganti hari. Minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan. Tak terasa sudah 9 tahun berlalu, sejak tragedi yang tak kan pernah dilupakan Ghaffar.
Pria kecil itu, kini sudah tumbuh menjadi remaja tampan. Yang di gandrungi banyak lawan jenis, parasnya yang rupawan dan auranya yang dingin. Membuat banyak perempuan, yang menjadikannya most wanted di sekolah.
Hanya bisa dilihat, tak bisa di sentuh.
Hari ini, tepat Ghaffar menginjak usia 18 tahun. Tak ada perayaan, ia menjalaninya seperti hari-hari biasa. Ujian kelulusan sudah semakin dekat, ia hanya membaca ulang buku yang sudah ia kuasai sepenuhnya.
Mudah baginya untuk lompat kelas, tapi ia hanya ingin menjalani semuanya seperti air mengalir. Selalu menjadi juara umum, membuat nilai plus. Bagi para orang tua siswi, berebut karena ingin menjadikan Ghaffar calon menantu. Selain rupawan, Ghaffar juga memiliki warisan yang tidaklah sedikit.
"Ari kamu teh ga bosen Ghaf, mojok mulu di perpus?" tanya Akbar, temannya sejak di bangku SD. Satu komplek, juga tetanggaan.
Sahabat yang begitu sabar, meski Ghaffar banyak berubah semenjak kepergian orang tuanya. Ghaffar yang ceria, jahil, dan selalu tersenyum. Kini menjadi Ghaffar yang pendiam, dingin, seolah tak tersentuh.
Ghaffar hanya diam, tak menanggapi pertanyaan Akbar. Akbar?? Dia tak peduli, hal ini sudah biasa baginya.
"Nanti pulangnya, kata ibu mampir ke rumah ya. Ibu teh bikin nasi kuning, kesukaan kamu." Ghaffar mengangguk, namun kedua matanya tetap fokus pada buku yang ia baca.
"Oya Ghaff... " Akbar celingukan ke kanan dan ke kiri
'Ada yang kirim pesan, kalo dia teh selalu mimpi buruk. Udah hampir seminggu ini, jadi dia ga konsen buat belajar.' bisik Akbar
Ghaffar menutup bukunya, ia taruh di atas meja.
"Anak mana?"
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘