Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15 Pertemuan dengan akhir yang kejam
Katedral tua itu mendadak menjelma menjadi ruang hampa udara bagi Sekar. Suara tembakan yang menggema dari arah menara lonceng, teriakan para penjaga Von Hess yang kocar-kacir mencari perlindungan, hingga makian tajam Viona yang teredam oleh dentuman batu yang jatuh—semuanya terasa seperti kebisingan dari dunia lain.
Fokus Sekar hanya tertuju pada satu titik: dada kecil Lukas yang kini berhenti bergerak.
Pupil mata Sekar melebar. Waktu seolah melambat, memutar kembali memori sepuluh tahun lalu di klinik Berlin yang bersalju, saat ia diberitahu bahwa bayinya telah mati.
Rasa hampa yang sama, dingin yang sama, kini merayap kembali dari ujung kakinya menuju jantung.
"Tidak... tidak sekarang. Jangan sekarang, Sayang," bisik Sekar. Suaranya bukan lagi suara seorang dokter yang tegar, melainkan rintihan seorang ibu yang nyaris gila.
Tanpa memedulikan peluru yang mungkin menyambar kepalanya, Sekar merangkak menuju bangku altar.
Ia menarik paksa tangan penjaga yang sudah tumbang dari atas tubuh Lukas. Tangan Sekar yang berlumuran darah segera mencari denyut di leher Lukas.
Nol. Kosong. Tidak ada sama sekali.
"Lukas! Bangun!" Sekar mulai melakukan kompresi dada. Satu, dua, tiga...
Setiap tekanan tangannya pada tulang rusuk Lukas yang rapuh terasa seperti tusukan sembilu ke jiwanya sendiri.
Di bawah cahaya bulan yang masuk dari kaca patri yang pecah, wajah Lukas tampak seputih lilin, bibirnya mulai membiru keunguan—tanda hipoksia yang mematikan.
Di sudut gereja, Viona merangkak di balik pilar marmer yang kokoh. "Tembak dia! Kenapa kalian diam saja? Ambil anak itu!" teriaknya pada penjaga yang tersisa.
Namun, penjaga itu tidak bisa bergerak. Dari balik bayang-bayang di atas balkon organ, sesosok pria muncul dengan senjata laras panjang. Itu jelas bukan Alvin.
Alvin tidak akan mempertaruhkan nyawanya dalam baku tembak langsung; dia adalah ular yang menyerang dari belakang meja. Pria itu adalah Rahman.
Rahman melompat turun dari balkon dengan gerakan yang penuh keputusasaan. Rambutnya basah oleh hujan, jas mahalnya compang-camping, dan matanya memancarkan kegelapan yang belum pernah dilihat Sekar sebelumnya.
"Jauhkan tangan kalian dari mereka!" raung Rahman.
Ia menembak kaki penjaga yang mencoba mendekati altar. Suara tembakan itu memekakkan telinga, beradu dengan suara petir yang menggelegar di luar.
Viona terbelalak melihat tunangannya sendiri berdiri di sana seperti iblis pembalas dendam. "Rahman? Apa yang kamu lakukan? Kamu menghancurkan segalanya! Kita bisa memiliki semuanya jika kamu diam saja!"
Rahman tidak menoleh pada Viona. Matanya hanya tertuju pada Sekar yang masih terus melakukan CPR pada Lukas dengan isak tangis yang tertahan.
"Sekar, bawa dia ke ambulans di luar! Dr. Steiner sudah menunggu!" teriak Rahman sambil terus melepaskan tembakan perlindungan.
Sekar tidak mendengar. Dunianya hanya berputar pada ritme kompresi. Satu, dua, tiga... Tiupan napas. Ia menempelkan bibirnya ke bibir dingin Lukas, mencoba menyalurkan sisa-sisa nyawanya sendiri ke dalam paru-paru anak itu.
"Bangun, Lukas... Ibu mohon... Jangan tinggalkan Ibu lagi..."
Setelah siklus kelima yang melelahkan, sebuah keajaiban yang menyakitkan terjadi.
Lukas tersedak. Tubuhnya tersentak kecil, dan napas yang pendek serta dangkal mulai kembali. Monitor portabel di dalam tas Sekar mengeluarkan bunyi bip yang lemah dan tidak beraturan.
Sinus bradikardia. Jantungnya berdetak, namun sangat lambat.
"Dia kembali... dia kembali," tangis Sekar pecah. Ia segera membungkus Lukas dengan selimut termal, menggendongnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyambar tas medis.
Ia berdiri di tengah medan perang itu. Rahman telah berhasil melumpuhkan para penjaga, dan kini ia berdiri menghadap Viona yang terpojok di dinding.
"Mas... Mas Rahman, tolong... mereka yang memaksaku," Viona mulai menangis, mencoba menggunakan sisa-sisa manipulasinya.
Rahman mendekati Viona, ujung senjatanya menyentuh dagu wanita itu. "Kamu tahu, Viona? Aku bisa memaafkanmu karena mencoba menghancurkan karir Sekar. Aku bahkan bisa memaafkanmu karena berselingkuh dengan rekan bisnisku. Tapi mengirim orang untuk membunuh anakku?"
"Dia bukan anakmu! Dia noda!" teriak Viona dalam histeris.
"Dia adalah satu-satunya alasan aku masih menganggap diriku manusia," bisik Rahman dingin.
Tiba-tiba, suara sirene polisi Jerman meraung dari kejauhan. Lampu biru dan merah mulai memantul di jendela-jendela tinggi gereja.
"Sekar, pergi!" Rahman berbalik, menatap Sekar untuk terakhir kalinya. "Lewat pintu menara. Ada jalan setapak menuju sungai. Steiner ada di sana dengan perahu medis. Cepat!"
"Bagaimana denganmu?" tanya Sekar, matanya menatap Rahman dengan campuran rasa benci dan kasih sayang yang hancur.
"Aku akan tinggal di sini. Seseorang harus bertanggung jawab atas kekacauan ini agar kalian bisa menghilang," Rahman tersenyum pahit. "Katakan pada Lukas... ayahnya adalah seorang pengecut yang mencoba menjadi pahlawan di detik terakhir."
Sekar ingin mengatakan sesuatu, namun kondisi Lukas yang kembali melemah memaksanya bergerak.
Ia berlari menuju pintu menara, meninggalkan Rahman yang kini berdiri tegap menyambut kedatangan polisi, dengan Viona yang meratap di bawah kakinya.
Sekar menembus hujan lebat, kakinya terperosok ke dalam lumpur dingin saat ia menuruni bukit menuju tepian sungai.
Di sana, sebuah perahu kecil dengan mesin yang sudah menyala menunggu. Dr. Steiner berdiri di atasnya, wajahnya penuh kecemasan.
"Cepat, Sekar! Masuk!"
Sekar melompat ke dalam perahu tepat saat lampu-lampu polisi mencapai puncak bukit gereja.
Perahu itu meluncur membelah kegelapan Sungai Elbe. Steiner segera mengambil alih perawatan Lukas, memasangkan masker oksigen dan menyuntikkan epinefrin untuk menstabilkan jantungnya.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Sekar, tubuhnya bergetar hebat karena hipotermia dan trauma.
Steiner memeriksa pupil Lukas, lalu menatap Sekar dengan pandangan yang membuat jantung Sekar seolah berhenti berdetak. "Kerusakan pada sistem vaskularnya sudah terlalu luas, Sekar. Serum biru itu... itu bukan hanya obat, itu adalah racun yang merombak kode genetiknya. Ginjalnya mulai gagal. Hatinya juga."
"Tapi saya bisa mengoperasinya! Saya kepala bedah! Saya bisa melakukan transplantasi!" seru Sekar, suaranya naik satu oktav.
Dr Stainer kehabisan akal. Ia memahami jika Sekar itu seorang ibu, dan pasti dia akan melakukan apapun untuk putranya. Tetapi keadaan sangat tidak memungkinkan, semua usaha pelarian mereka akan sia-sia.
Lucas akan kembali ke tangan Vin hess, dan dia akan kembali terperangkap di dalam laboratorium bersamaan dengan rasa bersalah yang setiap hari semakin menggerogoti jiwanya.
"Kamu butuh rumah sakit yang lengkap, Sekar. Dan saat ini, setiap rumah sakit di Eropa akan menangkapmu begitu kamu menyebut nama Lukas Von Hess. Viona benar... mereka sudah membuatmu tampak seperti penculik di mata dunia," tuturnya putus asa.
Sekar mendekap kaki Lukas, menangis sejadi-jadinya. Ia telah menemukan anaknya, ia telah merebutnya kembali dari tangan monster, namun ia menyadari bahwa ia mungkin hanya memenangkan hak untuk melihat anaknya mati di pelukannya sendiri, bukan di laboratorium.
Di tengah pelarian itu, ponsel Sekar bergetar di dalam sakunya. Sebuah panggilan video dari Alvin. Sekar mengangkatnya dengan tangan gemetar.
Layar menunjukkan Alvin yang sedang duduk santai di sebuah jet pribadi, menyesap sampanye.
"Ah, Sekar. Aku dengar kamu berhasil keluar dari gereja itu. Kerja bagus," kata Alvin tanpa dosa.
"Kamu mengkhianati kami, Alvin! Kamu membiarkan orang-orang Von Hess tahu lokasi kami!" teriak Sekar.
"Jangan naif, Cantikku. Aku butuh konflik itu terjadi. Aku butuh polisi Jerman menemukan mayat para penjaga Von Hess dan senjata milik keluarga Wijaya di sana. Sekarang, saham Wijaya sudah nol, dan Von Hess sedang menghadapi penyelidikan pembunuhan internasional," Alvin tersenyum lebar.
"Terima kasih atas bantuannya. Oh, dan tentang Lukas... jika dia meninggal, pastikan kamu mengambil sampel darahnya sebelum dikubur. Aku masih butuh bukti serum itu," ujarnya penuh dengan kelakar yang kejam.
Sekar mematikan ponsel itu dan melemparnya ke sungai. Rasa mual yang hebat menghantamnya.
Manusia-manusia di sekelilingnya benar-benar lebih berbahaya daripada penyakit medis mana pun. Mereka membedah kehidupan orang lain tanpa anestesi, hanya untuk memuaskan ambisi mereka.
Fajar mulai menyingsing saat perahu mereka bersandar di sebuah gudang tua di Amsterdam, tempat persembunyian yang disiapkan Steiner.
Mereka memindahkan Lukas ke dalam sebuah ruangan yang telah disulap menjadi ruang perawatan darurat.
Lukas sadar sesaat. Ia menatap langit-langit gudang yang kusam, lalu menoleh pada Sekar yang duduk di sampingnya.
"Ibu..." suaranya sangat kecil, nyaris seperti embusan angin.
"Ibu di sini, Lukas. Jangan bicara dulu, simpan tenagamu."
"Taman itu..." Lukas tersenyum lemah. "Taman yang ada di mimpiku... Apa kita akan ke sana?"
Sekar menggenggam tangan kecil Lukas yang kini terasa sangat ringan. "Iya, Sayang. Kita akan ke taman yang sangat luas. Di sana tidak ada dokter, tidak ada selang, tidak ada rasa sakit. Hanya ada bunga dan matahari."
Lukas menutup matanya perlahan. "Apa Ibu akan ikut?"
Sekar mencium kening Lukas yang hangat karena demam. "Ibu akan selalu ada di belakangmu, Sayang. Selalu."
Dr. Steiner yang berdiri di sudut ruangan memalingkan wajah, menyeka air mata yang jatuh ke pipinya yang keriput.
Sebagai dokter yang terlibat dalam kelahiran dan penderitaan anak ini, ia tahu bahwa ini adalah akhir dari perjalanan Lukas.
Di luar, berita internasional mulai meledak. Foto Sekar muncul di layar televisi sebagai "Buronan Internasional", sementara Rahman Wijaya dikabarkan menyerahkan diri ke polisi Hamburg atas tuduhan penembakan.
Keluarga Wijaya runtuh dalam semalam, namun bagi Sekar, runtuhnya kerajaan bisnis itu tidak lebih berarti daripada satu helai rambut Lukas.
Ia duduk di sana, dalam keheningan gudang Amsterdam yang dingin, menunggu waktu yang tak terelakkan.
Ia telah membalas dendamnya—ia telah menghancurkan Wijaya, ia telah mempermalukan Von Hess—namun harganya adalah separuh dari jiwanya yang kini sedang berjuang di ambang maut.