Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Pukul 15.00 WIB
Shelter Kilometer Lima
Lima Belas Menit Sebelum Melanjutkan
Salsabilla duduk sedikit terpisah dari yang lain. Kamera berada di tangannya, layar kecilnya menyala menampilkan rekaman hari ini.
Ia sedang melakukan kebiasaannya: spot check.
Memastikan tidak ada footage yang terpotong, tidak blur karena tangan goyang, dan exposure tidak terlalu gelap. Baginya, mendokumentasikan perjalanan sama pentingnya dengan perjalanan itu sendiri.
Video diputar dari awal.
Momen di depan minimarket pagi tadi. Suasana di dalam minibus. Rehan yang menyentuh pohon puspa dengan ekspresi serius. Runa berdiri di antara dua pohon dengan latar lembah. Yazid menunjuk tanda jalur di persimpangan. Zidan menatap cahaya matahari yang menembus kanopi.
Salsabilla tersenyum kecil.
Hari itu terlihat indah dari sudut kamera.
Lalu footage berganti ke rekaman sekitar kilometer tiga setengah.
Jalur mulai menanjak saat itu. Tangannya memegang kamera, tapi fokus matanya ada di tanah, sehingga kamera merekam agak menyamping ke arah hutan di sisi jalur.
Pohon-pohon tinggi. Bayangan gelap. Cahaya matahari masuk melalui celah sempit.
Ia hampir melewati klip itu.
Namun jarinya berhenti.
Di latar belakang frame, jauh di antara pepohonan, ada sesuatu yang bergerak.
Bukan daun.
Bukan ranting tertiup angin.
Sesuatu yang berdiri tegak.
Salsabilla memperlambat video menjadi 0.25x. Layar kamera ia dekatkan ke wajahnya.
Siluet.
Diam selama beberapa frame, lalu bergerak.
Gerakannya aneh.
Bukan langkah pendaki yang menyesuaikan tanjakan. Tidak ada ayunan tubuh. Tidak ada ketidakseimbangan alami manusia yang berjalan di medan sulit.
Gerakannya terlalu lurus. Terlalu stabil.
Seperti garis yang berpindah tempat.
“Mungkin pendaki lain,” gumamnya pelan.
Tapi kenapa berada di dalam hutan? Bukan di jalur?
Ia memperbesar gambar sebisanya. Resolusi kameranya bagus, tapi jarak terlalu jauh. Detail tetap kabur.
Hanya bentuk tegak yang bergerak dengan cara yang salah… lalu menghilang di balik pohon.
Salsabilla memutar ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Hasilnya sama.
“Ru.”
Runa yang sedang menghitung sisa air mengangkat kepala. “Hm?”
“Ke sini bentar.”
Nada suara Salsabilla membuat Runa langsung berdiri. Bukan panik. Justru terlalu datar.
Runa duduk di sampingnya.
Video diputar lagi.
“Di situ,” kata Salsabilla pelan. “Liat gerakannya.”
Runa menatap layar.
Diam.
Video dimundurkan. Diputar ulang.
Matanya bergerak cepat, memeriksa frame seperti mencari jawaban dalam soal rumit.
Diputar lagi.
Dan lagi.
Runa tetap diam lebih lama dari biasanya.
Biasanya ia sudah memberi penjelasan dalam hitungan detik. Selalu ada hipotesis. Selalu ada alasan logis.
Kali ini tidak.
Saat akhirnya ia berbicara, suaranya tetap tenang tapi berbeda.
“Itu manusia,” katanya pelan.
“Tapi… kenapa dia tidak bergerak seperti manusia?”
Pukul 15.18 WIB
Zona Barat-Laut, Hutan Lindung Ciremai
Empat Hari Setelah Fajar Anggara Hilang
Di hutan yang tidak tercatat di peta pendaki mana pun, Fajar Anggara berdiri di tepi sungai kecil.
Airnya jernih. Dingin. Ia tidak memilih berada di sana. Kakinya yang membawanya.
Empat hari sejak ia memetik jamur kecil di pangkal akar pohon. Empat hari sejak tidur di dekat api redup dan bangun dengan dunia terasa berbeda bukan secara visual, tapi pada sesuatu yang tidak memiliki nama.
Fajar menatap tangannya.
Kulit di punggung tangan dan pergelangan berubah warna abu-abu kekuningan, warna di antara hidup dan mati. Di sela jarinya muncul guratan gelap seperti akar pohon kering, mengikuti jalur pembuluh darah dengan pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Di beberapa bagian, kulitnya terangkat halus dari dalam. Seolah ada sesuatu yang tumbuh di bawah permukaan.
Ia masih bisa merasakan dinginnya udara.
Masih bisa merasa.
Namun ia tidak bisa menggerakkan tangannya sesuai kehendak.
Ini tanganku.
Ini tubuhku.
Tidak ada jawaban.
Yang bergerak di dalam dirinya tidak menggunakan kata.
Hanya impuls.
Perintah.
Kakinya melangkah.
Satu langkah.
Berhenti.
Berpindah arah.
Gerakan terarah, seperti sesuatu yang sedang memetakan lingkungan.
Di bawah tanah, jaringan miselium menyebar luas, lebih tua dari hutan itu sendiri. Ophiocordyceps bukan organisme tunggal melainkan bagian dari sistem yang telah hidup jutaan tahun tanpa disadari manusia.
Dan Fajar kini menjadi bagian dari jaringan itu.
Suara langkah terdengar.
Empat orang.
Mendekat.
“Saudara! Fajar Anggara!”
Suara manusia.
“Tim SAR! Kami datang membantu!”
Tubuh Fajar memproses suara itu bukan sebagai bahasa, melainkan data: jarak, jumlah, ritme napas.
“Balik ke arah kami!”
Satu impuls muncul.
Fajar berbalik.
Pak Rudi, dua puluh tahun di SAR, langsung tahu ada yang salah.
Gerakan itu terlalu cepat.
Tidak wajar bagi orang yang hilang empat hari.
Hendra tanpa sadar mundur setengah langkah.
Mata Fajar bukan mata manusia yang sama lagi. Irisnya tertutup warna gelap yang bergerak perlahan seperti tinta hidup.
Guratan di kulitnya kini jelas terlihat, menjalar di leher dan tangan.
“Fajar. Nama saya Rudi. Kami bantu turun. Kamu aman.”
Tidak ada respons.
Pak Rudi mendekat.
Sepuluh meter.
“Kamu dengar saya?”
Jarak cukup.
Fajar bergerak.
Terlalu cepat.
Gigitan menancap di lengan Pak Rudi.
“PAK RUDI!”
Tim SAR menariknya mundur, mendorong Fajar dengan trekking pole.
Fajar berhenti. Diam lagi. Kepala sedikit miring.
Saat gigitan terlepas, kulit ikut terangkat bukan robek, melainkan terkelupas seperti lapisan yang sudah longgar dari dalam.
Di bawahnya bukan jaringan merah muda normal.
Ada garis putih kekuningan, halus dan teratur.
Seolah sesuatu sudah tumbuh di sana.
Hendra menatap luka itu.
“Pak…”
Pak Rudi ikut melihat.
Baru dua jam ia berada di hutan.
Kapan itu masuk?
Fajar berdiri diam kembali, seolah tugasnya selesai.
Di udara dingin, satu kesimpulan muncul tak seorang pun berani mengucapkannya.
Gigitan itu bukan serangan.
Itu penularan.
Shelter Kilometer Lima Waktu yang Sama
Runa masih menatap layar kamera.
Rehan memperhatikan ekspresinya ekspresi yang belum pernah ia lihat selama enam tahun berteman.
Bukan bingung.
Bukan takut.
Tapi sesuatu yang lebih buruk: mengetahui sesuatu tanpa jawaban aman.
“Ru… ada apa?” tanya Rehan.
Runa tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke arah jalur atas… lalu ke hutan di sisi barat.
Ke arah siluet itu.
“Kita lanjut sesuai rencana,” katanya akhirnya.
Suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Kita jaga formasi. Tidak ada yang keluar jalur.”
Ia menatap Salsabilla.
“Dan jangan hapus footage itu.”
Salsabilla mengangguk pelan.
Yazid diam sejak tadi. Ia belum menceritakan suara aneh yang ia dengar dari arah barat-laut saat istirahat bukan binatang, bukan angin.
Sesuatu yang ritmenya salah.
Langit di luar shelter mulai berubah. Kabut tipis bergerak perlahan dari barat.
Menuju timur.
Menuju jalur Linggarjati.
Menuju mereka.
Ada sesuatu yang lebih berbahaya dari predator yang mengejar.
Yaitu sesuatu yang menunggu
karena ia sudah tahu kamu akan datang,
jauh sebelum kamu sendiri mengetahuinya.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪