Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Retakan kian menganga.
Sabtu malam yang penuh drama itu menyisakan keheningan yang menyesakkan di kediaman mewah keluarga Tusi. Rumah yang dibelikan oleh Aska itu biasanya terasa hangat, namun kini seolah diselimuti es. Tusi duduk termenung menatap kotak beludru merah berisi cincin tunangan yang dikembalikan Nana.
Pikirannya kalut. Sebagai seorang ibu, Tusi sangat menyukai Nana. Gadis itu penurut, rajin, dan tulus mencintai adiknya, setidaknya itulah yang ia lihat selama setahun terakhir. Namun, pemandangan Nana yang berdiri tegak di samping Aska, dengan tatapan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya, terus menghantui tidurnya.
"Tris," panggil Tusi pelan saat melihat putra bungsunya itu turun dari tangga dengan wajah kusut, bersiap untuk pergi.
Tris menghentikan langkahnya, tangannya sibuk membetulkan kerah jaket kulitnya. "Ya, Bu? Aku buru-buru. Elli sudah menunggu."
"Duduk sebentar. Ibu mau bicara," nada suara Tusi tidak bisa dibantah.
Tris mendesah kasar, namun ia tetap menarik kursi di depan ibunya. "Kalau soal Nana lagi, tolong hentikan. Dia cuma sedang cari perhatian. Dia tahu aku sedang dekat lagi dengan Elli, jadi dia membuat drama seolah-olah dia yang mencampakkan aku. Paling besok atau lusa dia akan menelepon sambil menangis."
Tusi menggeleng perlahan, jarinya mengusap permukaan kotak cincin itu. "Ibu tidak rasa begitu, Tris. Mata Nana kemarin ... itu bukan mata orang yang sedang merajuk. Itu mata orang yang sudah menyerah. Dan kau lihat sendiri, dia sekarang sudah bekerja di Stellar Komik. Dia tidak lagi bergantung pada siapa pun."
Tris tertawa meremehkan, sebuah tawa yang terdengar dipaksakan untuk menutupi kegelisahan di hatinya. "Kerja di studio komik? Paling cuma jadi asisten tukang sapu atau tukang raut pensil. Dia itu tidak punya bakat apa-apa selain memasak dan mengeluh, Bu. Jangan tertipu oleh penampilannya yang pakai blazer itu. Dia cuma ingin terlihat setara dengan Bang Aska supaya bisa menempel terus padanya."
"Justru itu yang Ibu takutkan!" Tusi memajukan tubuhnya. "Kenapa Nana jadi begitu dekat dengan abangmu? Aska itu orangnya sulit dipahami. Dia tidak akan membiarkan sembarang orang masuk ke ruang pribadinya jika tidak ada alasan penting. Dan kemarin, dia membela Nana habis-habisan di depanmu."
Tris terdiam sejenak. Ingatan tentang Aska yang menatapnya dengan pandangan rendah semalam membuat rahangnya mengeras. "Bang Aska cuma kasihan, Bu. Dia kan memang suka membantu orang-orang yang dianggapnya 'lemah' dan 'bodoh' supaya dia merasa lebih berkuasa. Nana adalah target empati yang pas bagi orang kaku seperti dia."
"Cukup, Tris! Ibu akan mencoba menghubungi Nana lagi. Kita harus meluruskan ini. Kalian sudah bertunangan setahun lebih, tidak bisa berakhir begitu saja hanya karena kalung dan jaket!"
Tris berdiri, tidak mau mendengar lebih lama. "Terserah Ibu. Tapi jangan salahkan aku kalau Nana nanti besar kepala karena merasa dikejar-kejar oleh keluarga kita."
Kenyataannya, di sisi lain kota, Nana sama sekali tidak merasa sedang "dikejar". Ia justru sedang menikmati setiap detik kesibukannya di Stellar Komik Studio. Hari-harinya diisi dengan riset karakter, memperbaiki anatomi yang sulit, dan berdiskusi dengan tim kreatif.
Namun, ada satu kendala kecil. Proyek Psychological Thriller yang ia pegang membutuhkan detail hukum yang sangat akurat untuk adegan persidangan di bab-bab mendatang.
"Nana, bagian ini harus benar-benar realistis," ujar Hadi sambil menunjuk papan tulis. "Bagaimana prosedur penangkapan tersangka korupsi jika ada barang bukti yang disembunyikan di luar negeri? Kita butuh konsultasi hukum."
Nana tertegun. Di kepalanya hanya ada satu nama: Aska. Tapi ia tahu, Aska adalah pengacara mahal dengan jadwal yang lebih padat dari antrean sembako. Terakhir kali ia bertemu di kantor untuk mengambil ponsel, Aska sudah memperingatkannya untuk tidak mengganggu jam kerjanya.
Malam itu, Nana memberanikan diri mengirim pesan singkat.
Nana: [Bang, kalau ada waktu luang, mungkin sepuluh menit, aku ingin bertanya soal prosedur hukum untuk riset komikku. Tapi kalau Abang sedang ada kasus besar, abaikan saja pesan ini.]
Pesan itu baru dibalas empat jam kemudian, tepat saat jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Aska: [Aku sedang menangani kasus merger perusahaan manufaktur di Singapura. Tidak ada waktu untuk riset komik konyolmu. Tanya saja pada Google. Jangan manja.]
Nana menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi kerjanya yang penuh dengan kertas sketsa. "Khas Bang Aska," gumamnya. Meskipun ditolak, anehnya Nana tidak merasa sakit hati seperti saat Tris mengabaikannya. Setidaknya Aska jujur dan tidak memberinya harapan palsu.
Nana kembali menatap layar tabletnya. Sejak kejadian di rumah Ibu Tusi, ia merasa ada sesuatu yang bergeser di hatinya. Kekagumannya pada Aska mulai tumbuh, bukan lagi sekadar sebagai sosok abang yang protektif, tapi sebagai pria yang memiliki prinsip hidup yang teguh. Pria yang meski kasar, tidak pernah sekalipun berbohong padanya.
Esok paginya, ponsel Nana terus bergetar. Sebuah nomor yang sangat ia kenal: Ibu Tusi.
Nana sempat ragu, namun ia akhirnya mengangkatnya. "Halo, Bu?"
"Nana ... ini Ibu. Bisa kita bicara sebentar? Ibu sedang di dekat kantormu, Ibu bawakan bekal kesukaanmu," suara Tusi terdengar memohon.
Nana memijat pelipisnya. Ia tidak enak hati menolak wanita yang selama ini baik padanya. Akhirnya, mereka bertemu di sebuah taman kecil di samping gedung studio. Tusi membawa kotak bekal, namun matanya terus tertuju pada Nana dengan penuh selidik.
"Nana, Ibu minta maaf soal Tris. Dia memang keras kepala, tapi dia masih anak-anak. Ibu yakin dia sangat menyesal. Cincin itu... Ibu simpan di laci kamar Ibu. Kembalilah, ya? Pesta pernikahan kalian kan tinggal beberapa bulan lagi persiapannya," bujuk Tusi sambil memegang tangan Nana.
Nana menarik tangannya perlahan, memberikan senyum sedih. "Bu, cincin itu bukan sekadar perhiasan. Bagi Tris, itu adalah rantai untuk memastikanku tetap di dapur sementara dia bersenang-senang dengan orang lain. Dan bagiku, cincin itu sekarang hanya pengingat akan kebodohanku selama setahun ini."
"Tapi Nana, bagaimana dengan masa depanmu? Ayahmu tidak peduli, ibu tirimu jahat. Siapa yang akan menjagamu kalau bukan keluarga kami?"
"Aku akan menjaga diriku sendiri, Bu. Dan aku punya pekerjaan sekarang," jawab Nana tegas. "Tolong sampaikan pada Tris, jangan kirim pesan lagi soal jaket, sepatu, atau apa pun. Aku bukan pelayannya lagi."
Sementara itu, di kantor firma hukumnya, Aska benar-benar tenggelam dalam tumpukan dokumen setinggi gunung. Kasus merger yang ia tangani sangat rumit, melibatkan banyak aset tersembunyi. Matanya merah karena kurang tidur, dan kopinya sudah dingin di atas meja.
Ponselnya bergetar lagi. Bukan dari klien, melainkan dari Tris.
Tris: [Bang, tolong suruh Nana balik ke rumah. Ibu jadi susah makan karena memikirkan dia. Nana itu cuma mau mendengar kata-katamu. Bilang padanya jangan kekanak-kanakan.]
Aska membaca pesan itu dengan tatapan membunuh. Ia melempar ponselnya ke sofa dengan kasar. "Bajingan kecil ini benar-benar tidak punya otak," desis Aska.
Bagaimana mungkin Tris masih menganggap Nana remeh? Aska yang kaku dan logis bisa melihat perubahan itu dengan sangat jelas. Nana yang sekarang memiliki aura kemandirian yang belum matang namun kuat. Sedangkan Tris? Masih saja mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalah pribadinya.
Aska kembali fokus pada dokumen di depannya. Baginya, urusan Nana dan Tris hanyalah gangguan kecil dibandingkan dengan angka-angka miliaran rupiah yang sedang ia pertaruhkan di meja hijau. Namun, entah kenapa, wajah Nana yang tampak serius menggambar saat di apartemen kemarin terus melintas di benaknya.
"Sepuluh menit?" gumam Aska mengingat pesan Nana tadi malam.
Ia melirik jam tangannya. Masih ada waktu satu jam sebelum rapat pemegang saham dimulai. Dengan gerakan cepat yang tidak biasa, Aska meraih gagang telepon kantornya.
"Siska, sambungkan saya ke nomor kantor Stellar Komik Studio. Cari tahu bagian divisi kreatif. Sekarang."
Lima menit kemudian, Nana yang sedang sibuk mewarnai sketsa dikagetkan oleh telepon internal kantornya yang berdering.
"Nana, ada telepon dari... kantor hukum Aska & Co? Katanya penting," ujar resepsionis kantornya melalui sambungan telepon.
Nana mengangkat gagang telepon dengan bingung. "Halo?"
"Kau punya sepuluh menit. Datang ke kafetaria gedungmu dalam lima menit atau kesempatan riset ini hilang selamanya. Aku sedang lewat di daerah sana untuk rapat," suara berat Aska terdengar sangat terburu-buru dan tidak sabaran.
Nana tersentak. Ia langsung menyambar buku catatan dan lari menuju lift secepat kilat.
Di kafetaria, Aska duduk dengan jas hitam yang sangat rapi, menatap jam tangannya setiap tiga detik. Saat Nana muncul dengan napas terengah-engah dan rambut yang sedikit berantakan karena berlari, Aska tidak memberinya waktu untuk duduk manis.
"Cepat tanya. Waktumu tinggal delapan menit," ujar Aska dingin.
Nana segera membuka catatannya, bertanya dengan cepat tentang pasal-pasal penyitaan aset. Aska menjawab dengan sangat efisien, memberikan penjelasan hukum yang sangat tajam dan akurat, jauh melampaui apa yang bisa ia temukan di internet.
"Sudah? Sepuluh menit habis," Aska berdiri bahkan sebelum Nana selesai menulis kalimat terakhirnya.
"Bang, tunggu!" Nana ikut berdiri. "Terima kasih. Aku tahu Abang sibuk sekali."
Aska berhenti sejenak, menatap Nana dari balik kacamata bacanya yang belum sempat dilepas. Ia melihat ada sisa tinta di pipi Nana, bekas kerjanya sejak pagi. Tanpa sadar, tangan Aska bergerak maju, namun ia segera menariknya kembali sebelum menyentuh pipi gadis itu.
"Jangan buat komik yang memalukan hukum Indonesia. Kalau kau salah tulis pasal, aku yang akan menuntut studiomu karena menyebarkan informasi menyesatkan," ancam Aska, meski suaranya tidak setajam biasanya.
Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi dengan langkah lebar yang gagah, meninggalkan Nana yang terpaku dengan jantung berdebar kencang.
Nana menyentuh pipinya yang tadi hampir disentuh Aska. Ia menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak lagi memendam kebencian pada Tris. Kebencian itu telah digantikan oleh rasa penasaran yang mendalam pada pria kaku bernama Aska. Pria yang memberinya sepuluh menit berharganya di tengah kasus miliaran rupiah, hanya agar riset komiknya tidak berantakan.
"Mungkin benar kata Ibu Tusi," bisik Nana pada dirinya sendiri sambil berjalan kembali ke lift. "Aska itu sulit dipahami. Tapi dialah satu-satunya pria yang membuatku merasa berharga sebagai seorang profesional, bukan sebagai pelayan."
Di balik kaca jendela lift yang bergerak naik, Nana menatap mobil hitam mewah Aska yang melesat pergi. Di hatinya, sebuah benih baru mulai tumbuh, sebuah ambisi yang bukan lagi soal membalas dendam pada Tris, melainkan soal menjadi wanita yang pantas berdiri di samping pria sehebat Aska.
Bersambung....