"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Munculnya Sang Pengawas
Bab 31: Munculnya Sang Pengawas
Udara di taman belakang kediaman Wijaya terasa statis, seolah-olah oksigen di sana telah dikuras habis oleh kehadiran sosok yang berdiri di bawah pohon beringin. Vero, dengan senyum tipis yang tampak seperti luka sayatan di wajahnya, melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia mengenakan seragam sopir baru—kamuflase yang terlalu rapi untuk situasi di mana seluruh staf domestik telah melarikan diri dalam kepanikan.
Kenzi tidak bergerak, namun seluruh sarafnya berada dalam mode high-alert. Ia memosisikan tubuhnya sedemikian rupa sehingga Alana sepenuhnya tertutup dari garis pandang langsung Vero.
"097," suara Vero halus, hampir seperti bisikan teman lama, namun mengandung resonansi logam yang mematikan. "Kau terlihat... berbeda. Apakah udara di rumah mewah ini membuat sistem analisismu berkarat?"
Kenzi melakukan pemindaian visual instan. Vero tidak membawa senjata laras panjang, namun tonjolan kecil di balik saku jaketnya menunjukkan keberadaan pistol semi-otomatis berperedam.
Jari-jarinya yang terus memainkan pisau lipat taktis menunjukkan kesiapan motorik tingkat tinggi.
> Subjek: Vero (Unit 002).
> Klasifikasi: Pengawas Lapangan/Algojo.
> Probabilitas Kemenangan dalam Duel Jarak Dekat: 48%.
> Variabel Penghambat: Perlindungan Alana (Mengurangi mobilitas sebesar 60%).
>
"Aku tidak tahu pusat mengirim unit pengawas secepat ini," Kenzi menjawab dengan nada yang sama dinginnya. "Misiku masih berjalan sesuai jadwal. Target finansial sudah dilumpuhkan."
Vero tertawa kecil, melangkah mendekat dengan santai. Setiap langkahnya terukur, tanpa suara.
"Finansial hanyalah makanan pembuka, Kenzi. Kau terlalu asyik bermain rumah-rumahan dengan putri kecil ini sampai lupa bahwa organisasi menuntut pembersihan total. Kau membiarkannya hidup di rubanah? Itu bukan efisiensi. Itu keraguan."
Alana, yang masih berada dalam kondisi shock akibat kehancuran mental di bab sebelumnya, hanya bisa mencengkeram kain kemeja Kenzi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak memahami kode "097" atau "Unit 002", namun instingnya sebagai manusia mengatakan bahwa pria yang tersenyum itu jauh lebih berbahaya daripada ribuan demonstran yang menjebol gerbang depan.
"Kenzi... siapa dia?" bisik Alana dengan suara parau.
Vero menghentikan langkahnya sekitar tiga meter di depan mereka. Ia menatap Alana dengan tatapan predator yang sedang mengamati mangsa yang terluka. "Oh, perkenalkan, Nona. Saya sopir baru Anda. Tugas saya adalah memastikan Anda sampai ke 'tujuan akhir' dengan selamat."
"Dia bukan siapa-siapa, Alana. Tetap di belakang saya," potong Kenzi cepat. Matanya tidak sekalipun beralih dari tangan Vero.
"Pusat merasa kau mulai melunak, Kenzi," Vero melanjutkan, kini suaranya lebih tajam. "Mereka melihatmu membelokkan algoritma sabotase untuk menyisakan dana di akun rahasia. Mereka melihatmu menaruh tubuhmu di depan batu demi seorang target. Itu bukan protokol kita."
Kenzi menyadari bahwa jika ia melawan Vero di sini sekarang, peluang keselamatan Alana mendekati nol. Vero tidak datang sendirian; Kenzi yakin ada tim penembak jitu yang mungkin sudah membidik dari jarak jauh, menunggu instruksi melalui alat komunikasi di telinga Vero.
Satu-satunya opsi logis adalah diplomasi dalam ancaman.
"Saya hanya menjaga agar variabel Alana tetap stabil sampai semua data aset luar negeri Tuan Wijaya bisa diekstraksi secara manual," Kenzi berbohong dengan presisi seorang sosiopat. "Membunuhnya sekarang akan mengunci akses ke server cadangan yang membutuhkan verifikasi retina miliknya."
Vero menyipitkan mata. Ia mencari celah dalam ekspresi Kenzi, namun Kenzi telah melatih otot wajahnya untuk tidak pernah mengkhianati pikirannya.
"Alasan yang masuk akal," gumam Vero. "Tapi Pusat ingin aku memantau eksekusi fase terakhir secara langsung. Mulai saat ini, aku akan berada di sampingmu. Aku sopirnya, kau pengawalnya. Kita akan membawa Nona Alana dan ayahnya ke lokasi aman yang sudah ditentukan organisasi."
Kenzi tahu "lokasi aman" itu berarti tempat eksekusi massal. Namun, ia tidak punya pilihan selain mengangguk.
"Baik," ujar Kenzi.
"Bagus." Vero menutup pisau lipatnya dengan dentingan tajam. "Bawa dia ke mobil. Tuan Wijaya juga. Kita tidak punya banyak waktu sebelum polisi atau musuh bisnis ayahnya menemukan lubang tikus ini."
Saat Kenzi menuntun Alana menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggu, Alana menatap Kenzi dengan tatapan yang menghancurkan.
Gadis itu tidak bodoh. Ia menyadari bahwa ia baru saja diserahkan ke tangan monster lain.
"Kau berbohong padaku lagi, kan?" bisik Alana saat mereka berjalan di kegelapan taman. "Kau dan dia... kalian berada di pihak yang sama."
Kenzi tidak menjawab. Ia tidak bisa memberikan kenyamanan palsu. Dalam logikanya, setiap kata yang ia ucapkan sekarang bisa menjadi variabel yang membuat Vero menarik pelatuknya. Ia harus tetap menjadi mesin yang dingin, meski di dalam dadanya, konflik antara dendam masa lalu dan tanggung jawab baru mulai menciptakan retakan permanen.
Kenzi membukakan pintu mobil untuk Alana, sementara Vero masuk ke kursi pengemudi dengan seringai kemenangan.
Kenzi duduk di kursi belakang di samping Alana, tangannya tetap memegang senjata di bawah jaketnya. Ia tahu, mulai detik ini, satu gerakan salah darinya tidak hanya akan mengakhiri nyawa Alana, tapi juga mengubur kebenaran tentang kematian orang tuanya selamanya.