Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suara deru motor yang sudah mulai kukenal terdengar di depan pagar tepat pukul 06.30 pagi. Aku menatap pantulan diriku di cermin sekali lagi. Rambutku yang biasanya hanya diikat asal, hari ini kubiarkan terurai rapi. Hanya sedikit perubahan, tapi rasanya seperti pengkhianatan terhadap diriku yang dulu.
"Nara! Itu Arkan sudah di depan!" seru Mama dari ruang makan. Suaranya terdengar jauh lebih ceria dari biasanya.
Aku turun dengan tas ransel tersampit di bahu. Di meja makan, kulihat Kak Pandu sedang asyik mengunyah roti lapis sambil nyengir lebar ke arahku.
"Hati-hati, Ra. Arkan itu kalau bawa motor suka miring-miring, alasannya sih biar yang dibonceng pegangan erat," goda Kak Pandu.
"Berisik, Kak," jawabku ketus, walau pipiku terasa panas.
Aku melangkah keluar dan menemukan Arkan sudah berdiri menyandar di motornya. Ia mengenakan seragam yang rapi—tumben sekali—dan sebuah helm cadangan sudah ia siapkan di atas jok.
"Pagi, Tuan Putri. Siap buat cicilan kebahagiaan hari ini?" sapa Arkan dengan kedipan mata yang membuat pertahananku nyaris runtuh seketika.
Aku hanya diam, tapi tanganku menerima helm itu. Saat aku naik ke boncengannya, Arkan melirik melalui spion.
"Pegangan, Nara. Gue nggak mau asuransi gue lecet sebelum sampai tujuan."
Kali ini, aku tidak membantah. Aku memegang ujung jaketnya, merasakan embusan angin pagi yang dingin, namun anehnya, punggung Arkan terasa seperti tempat paling aman yang pernah kutemui.
Perjalanan menuju sekolah terasa lebih singkat dari biasanya. Entah karena kecepatan motor Arkan atau karena pikiranku yang terlalu sibuk meredam debaran jantung. Saat motor besar itu memasuki gerbang SMA Garuda, suasana yang awalnya riuh mendadak sunyi sejenak, sebelum akhirnya berubah menjadi kasak-kusuk yang riuh.
Arkan, sang kapten basket yang biasanya berangkat bersama gerombolannya, kini datang membawa seorang "penumpang tetap".
Begitu motor berhenti di parkiran khusus siswa, Arkan mematikan mesinnya dan turun lebih dulu. Ia tidak langsung pergi; ia berdiri di sampingku, menunggu aku melepas helm yang sialnya mendadak macet di bagian pengaitnya.
"Sini, biar gue bantu," ucap Arkan pelan. Ia mendekat, tangannya terampil menarik tuas pengait helm di bawah daguku. Jarak kami begitu dekat sampai aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang segar bercampur sisa parfum semalam.
"CIEEEEEE! Duniaku runtuh, kapten kita sudah ada yang punya!" sebuah teriakan cempreng memecah suasana.
Aku menoleh cepat dan menemukan gerombolan tim basket—Rian, Dimas, dan kawan-kawannya—sedang berdiri di koridor parkiran, bersandar pada pilar sambil bertepuk tangan heboh.
"Pantesan kemarin latihan basket semangat banget, ternyata bensinnya dari kelas Kimia toh!" sahut Rian sambil tertawa lebar.
"Nara, bagi tips dong! Gimana caranya bikin es kutub utara ini mau jemput pagi-pagi?" timpal Dimas yang langsung dihadiahi lemparan kunci motor oleh Arkan, meski Arkan sendiri tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.
"Berisik lo semua! Sana masuk, mumpung Pak Satpam belum keliling!" seru Arkan, suaranya tegas tapi nada bercandanya kental.
Aku merasa wajahku sudah matang sempurna. "Gue... gue masuk kelas dulu," pamitku buru-buru tanpa berani menatap Arkan.
Namun, baru dua langkah berjalan, Arkan meraih pergelangan tanganku sebentar. "Ra, tunggu."
Ia mengacak rambutku yang hari ini kubiarkan terurai, membuat usahaku untuk tampil rapi tadi pagi sedikit berantakan, tapi entah kenapa aku tidak marah. "Nanti istirahat gue ke kelas lo. Jangan kabur ke perpustakaan, oke?"
"Ehem! Permisi, 'Tuan Putri' mau lewat, tolong kasih jalan buat pasangan paling fenomal tahun ini!" Tasya, teman sebangkuku, tiba-tiba muncul dari balik mobil guru dan merangkul bahuku erat, ikut-ikutan menggoda.
"Tasya, apaan sih!" protesku pelan.
"Halah, pipi lo nggak bisa bohong, Ra. Merah banget kayak tomat ceri," bisik Tasya sambil menarikku menjauh dari parkiran, sementara di belakang sana, Arkan masih berdiri memperhatikan kami sambil melambaikan tangan.
Sepanjang koridor menuju kelas, bisikan-bisikan senada terus mengikuti. Nara si "Gadis Es" dan Arkan si "Matahari Sekolah". Sebuah kombinasi yang menurut mereka mustahil, tapi pagi ini, kenyataan itu terpampang nyata di depan gerbang sekolah.
Aku tahu, mulai hari ini, hidupku yang tenang dan "datar" sudah resmi berakhir. Dan anehnya, saat aku melirik Tasya yang terus menggodaku, aku menyadari bahwa pajak kebahagiaan yang dikatakan Arkan mungkin tidak seburuk yang kubayangkan.