NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesadaran yang Rapuh

Malam pertama di rumah sakit terasa seperti keabadian bagi Isaac. Ia menolak untuk pulang, bahkan menolak untuk duduk. Ia terus berdiri di depan kaca ruang ICU, memerhatikan setiap naik-turunnya dada Luna yang dibantu oleh alat pernapasan.

Di tangannya, ia meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Hendra, asistennya, kembali mendekat dengan langkah hati-hati.

“Pak, kami menemukan sesuatu,” bisik Hendra. “SUV hitam itu ditemukan ditinggalkan di sebuah gang sempit pinggiran kota. Mesinnya sengaja dirusak untuk menghilangkan jejak, tapi…” Hendra ragu sejenak. “Mobil itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang yang pendanaannya berasal dari rekening luar negeri keluarga Clara.”

Rahang Isaac mengeras. Tatapannya yang tadi penuh kesedihan kini berubah menjadi dingin dan mematikan. “Clara. Aku sudah menduganya. Wanita itu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti.”

“Apa kita akan melapor ke polisi sekarang, Pak?”

“Jangan dulu,” desis Isaac. “Polisi butuh waktu lama untuk prosedur. Aku ingin dia merasakan ketakutan yang sama seperti yang dirasakan Luna saat mobil itu melaju ke arahnya. Pantau dia, jangan biarkan dia keluar negeri.”

Baru saja Isaac menyelesaikan kalimatnya, suara alarm dari dalam ruang ICU berbunyi nyaring. Perawat dan dokter berlari masuk. Isaac mematung, jantungnya seolah berhenti berdetak melihat tubuh Luna yang sedikit kejang.

“Nyonya Luna! Bisa dengar suara saya?” suara dokter terdengar samar dari balik kaca.

Isaac menempelkan wajahnya ke kaca, matanya terbelalak. Setelah beberapa menit yang menegangkan, dokter melakukan pemeriksaan pada pupil mata Luna. Perlahan, jemari Luna yang terpasang alat pulse oximeter bergerak sedikit. Matanya yang terpejam rapat perlahan-lahan terbuka, meski tampak sangat berat dan sayu.

Isaac segera merangsek masuk ke dalam ruangan saat dokter memberinya tanda. Ia berlutut di samping ranjang Luna, meraih tangan wanita itu dan menciumnya berulang kali.

“Luna… Luna, ini aku, Isaac,” bisik Isaac dengan suara pecah.

Luna menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong selama beberapa detik, sebelum matanya perlahan beralih ke arah Isaac. Tidak ada lagi dinding es yang kaku, tidak ada lagi sikap apatis yang dingin. Yang ada hanyalah ketakutan yang murni dan air mata yang mengalir dari sudut matanya.

“I-Isaac…” suara Luna nyaris tidak terdengar, tertutup oleh masker oksigen. “Gelap… tadi sangat gelap…”

“Sshh, tidak apa-apa. Aku di sini. Kau aman sekarang,” ujar Isaac sembari mengusap dahi Luna dengan lembut.

Luna mencoba mencengkeram tangan Isaac dengan sisa tenaganya. Ingatan tentang mobil yang melaju ke arahnya membuat napasnya tidak teratur. “Dia… dia ingin membunuhku, Isaac…”

Isaac terpaku. Jadi Luna sempat melihat siapa di balik kemudi itu sebelum benturan terjadi?

“Siapa, Luna? Siapa yang kau lihat?” tanya Isaac hati-hati.

Luna memejamkan matanya rapat-rapat, tubuhnya gemetar hebat. “Clara… aku melihat rambutnya… dia tersenyum padaku…”

Mendengar itu, kemarahan Isaac mencapai puncaknya. Ia mengepalkan tangan hingga gemetar, namun berusaha tetap tenang di depan Luna agar tidak menakutinya. “Istirahatlah, sayang. Aku bersumpah, dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Kali ini, aku yang akan membalas setiap tetes darah yang kau keluarkan.”

Kondisi Luna berangsur stabil, namun ketakutan masih membekas jelas di wajahnya. Setiap kali pintu kamar rawat inapnya terbuka, ia akan tersentak hebat, mengira Clara datang untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai.

Isaac yang melihat hal itu merasa hatinya tersayat. Ia tidak pernah meninggalkan sisi ranjang Luna, bahkan memindahkan semua pekerjaan kantornya ke kamar rumah sakit. Ia ingin Luna tahu bahwa satu-satunya orang yang akan ia lihat saat membuka mata adalah dirinya.

“Luna, makanlah sedikit lagi,” bujuk Isaac sembari menyuapkan sesendok bubur hangat.

Luna menggeleng pelan. Ia menatap Isaac dengan mata yang masih menyimpan sisa trauma. “Isaac… apa dia akan kembali? Aku melihat matanya tadi, dia benar-benar ingin aku mati.”

Isaac meletakkan mangkuk bubur itu, lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih kedua tangan Luna dan menggenggamnya erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya. “Dengarkan aku, Luna. Aku sudah menempatkan penjaga di depan pintu ini 24 jam. Dan soal Clara… dia tidak akan punya kesempatan untuk melihat matahari besok dengan tenang.”

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Luna cemas.

Isaac hanya memberikan senyum dingin yang belum pernah dilihat Luna sebelumnya. “Aku akan membiarkan dia merasa bahwa dia berhasil melarikan diri, sebelum aku menjatuhkannya dari puncak yang paling tinggi.”

Malam itu, Isaac menghubungi Hendra. “Kirimkan rekaman CCTV dan bukti aliran dana itu kepada kepolisian, tapi pastikan mereka bertindak tepat saat Clara berada di bandara. Aku tahu dia sudah memesan tiket pelarian ke London malam ini.”

“Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan ayahnya?” tanya Hendra.

“Tuan Waren sudah menarik semua investasinya dari keluarga mereka. Mereka sedang hancur sekarang, Hendra. Clara adalah satu-satunya yang tersisa untuk membayar semua ini.”

Dua jam kemudian, Isaac berdiri di balkon rumah sakit, memandang jalanan kota. Ponselnya bergetar. Sebuah video dikirimkan oleh Hendra—rekaman Clara yang sedang diborgol di terminal keberangkatan internasional, berteriak histeris saat polisi menyeretnya di depan umum.

Isaac mematikan layar ponselnya dengan puas. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan mendapati Luna sedang tertidur lelap. Ia mengusap pipi Luna yang mulai kembali berwarna.

“Dia sudah pergi, Luna. Selamanya,” bisik Isaac.

Perlahan, Luna membuka matanya. Ia mendengar bisikan itu. Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu yang lalu, dinding es di matanya benar-benar mencair. Ia tidak lagi melihat Isaac sebagai pria egois yang meninggalkannya, melainkan sebagai pria yang rela menjadi iblis demi melindunginya.

“Isaac…” panggil Luna lirih.

“Ya, sayang?”

“Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku sendirian di kegelapan seperti dulu,” ucap Luna dengan suara serak karena tangis yang akhirnya pecah.

Isaac segera memeluk Luna. Kali ini Luna membalas pelukan itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada Isaac.

“Aku berjanji, Luna. Meskipun seluruh dunia mencoba memisahkan kita, aku akan tetap di sini. Kau adalah rumahku, dan aku baru saja pulang.”

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!