Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Gadis itu memiliki siluet tubuh yang nyaris sempurna—lekuk pinggang yang ramping kontras dengan proporsi pinggul yang berisi dan menawan. Pemandangan itu, meski indah, terasa terlalu provokatif bagi seorang pemuda lugu seperti Zhang Yuze. Seketika, semburat merah menjalar di wajahnya, dan detak jantungnya berpacu liar, menghantam rongga dada dengan ritme yang tidak beraturan.
Namun, kekaguman bawah sadar Zhang Yuze justru menjadi bumerang. Tatapannya yang intens, yang mungkin bagi orang lain tampak seperti tatapan penuh nafsu, membuat sang gadis merasa sangat tidak nyaman. Gadis itu merasa seolah sepasang mata pemuda itu memiliki kekuatan untuk menembus helai demi helai pakaian yang ia kenakan. Rasa amarah bercampur ketidakberdayaan menyergap hatinya. Ingin rasanya ia menjauh, namun di dalam bus yang sesak ini, tidak ada ruang sejengkal pun untuk melarikan diri. Ia terperangkap tepat di depan pemuda yang ia labeli sebagai "si mesum."
Tak lama kemudian, bus berhenti di halte berikutnya. Seorang kakek tua yang diperkirakan berusia hampir tujuh puluh tahun menaiki bus dengan langkah gemetar. Tubuhnya tampak begitu rapuh; seolah guncangan kecil saja mampu membuatnya tumbang. Dalam keadaan normal, Zhang Yuze, yang meski bukan pahlawan kebajikan namun masih memiliki nurani dan moralitas dasar, pasti akan segera berdiri dan memberikan kursinya.
Akan tetapi, hari ini adalah pengecualian yang sangat memalukan.
Zhang Yuze sedang mengenakan "celana belah tengah"—sepotong pakaian masa kecil yang hanya pantas dikenakan balita berusia tiga tahun. Itu adalah sebuah kesalahan berpakaian yang fatal. Jika ia berani berdiri sekarang, rahasia memalukan di balik celananya akan terekspos ke seluruh dunia. Ia akan menjadi bahan tertawaan atau bahkan dianggap orang gila.
"Anak muda, tidak bisakah kau memberikan kursimu? Apa kau tidak melihat kakek ini kesulitan berdiri?" Suara dingin sang gadis tiba-tiba memecah keheningan, matanya menatap tajam ke arah Zhang Yuze.
Wajah Zhang Yuze seketika memanas. Hal yang paling ia takuti akhirnya terjadi. Dalam sekejap, pasang mata dari seluruh penjuru bus tertuju padanya, menghakiminya dengan diam. Zhang Yuze membalas tatapan gadis itu dengan sisa-sisa harga diri yang terluka. Sialan! Ada begitu banyak orang di bus ini, kenapa harus aku yang kau sasar? pikirnya berang. Namun, ia melihat secercah kemenangan dan seringai puas di wajah gadis itu. Jelas sekali, ini adalah aksi balas dendam karena tatapannya tadi.
Melihat Zhang Yuze yang masih bergeming, para penumpang lain yang berdiri mulai kehilangan kesabaran. Komentar-komentar sarkastik mulai terlontar, tajam dan menyakitkan. Di bawah tekanan massa yang kian memanas, Zhang Yuze tidak memiliki pilihan lain. Dengan perasaan hancur, ia terpaksa menyerahkan kursinya.
Namun, demi menutupi "bagian yang terbuka" pada celananya, Zhang Yuze melakukan satu-satunya hal yang masuk akal: ia memepetkan tubuhnya rapat-rapat di belakang gadis itu. Ia menggunakan tubuh ramping gadis itu sebagai tameng manusia untuk menutupi celah di celananya agar tidak terlihat oleh orang lain.
Sang kakek, yang akhirnya duduk, menatap Zhang Yuze dengan pandangan penuh rasa terima kasih. Melihat betapa rapuhnya kakek itu saat duduk, kebencian di hati Zhang Yuze sedikit mereda. Ia merasa setidaknya pengorbanannya memiliki tujuan mulia.
Tetapi bagi sang gadis, situasi ini adalah mimpi buruk. Saat merasakan tubuh Zhang Yuze menempel erat di belakangnya, ia tersentak kaget. Pikirannya langsung melompat pada kesimpulan bahwa pemuda ini sedang melakukan pelecehan sebagai balasan atas tegurannya tadi. Ia mencoba menciutkan tubuh, berusaha menciptakan jarak, namun jam sibuk ini tidak memberi ruang bagi privasi. Bus itu seperti kaleng sarden yang penuh sesak. Ke mana pun ia bergerak, ia tetap terjebak dalam dekapan jarak yang terlalu intim itu.
Sebenarnya, Zhang Yuze tidak memiliki niat picik untuk membalas dendam. Ia hanya ingin bertahan hidup dari rasa malu yang mengancam reputasinya. Namun, saat aroma harum bunga anggrek yang menguar dari tubuh gadis itu menyentuh indra penciumannya, dan melihat ekspresi ketakutan yang samar di wajah cantik itu, sebuah seringai aneh muncul di sudut bibirnya.
Apa aku harus benar-benar melakukan sesuatu? Sebuah pemikiran nakal sempat melintas, namun segera ia tepis. Meski ia mengakui dirinya adalah pria normal yang terkadang mencari hiburan di situs dewasa, ia tetaplah pria yang memiliki harga diri. Ia merasa rendah jika harus mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini.
Sayangnya, meski pikirannya mencoba tetap jernih, tubuhnya memiliki reaksi yang berbeda. Karena lekuk pinggul gadis itu yang sangat menonjol, setiap kali bus bergoyang mengikuti irama jalan, bagian bawah perut Zhang Yuze tak sengaja bergesekan dengan area sensitif sang gadis. Sentuhan yang penuh elastisitas itu mengirimkan gelombang kejutan yang dahsyat. Sesuatu di dalam diri Zhang Yuze bereaksi secara naluriah, bangkit dengan penuh gairah di luar kendalinya. Meski merasa sangat malu, gelombang stimulasi itu terus menghantam jiwanya, membuatnya berada di ambang kewarasan.
Zhang Yuze berusaha keras untuk mundur, tetapi kursi pengemudi tepat berada di belakangnya. Tidak ada ruang untuk mundur. Ia terpaksa menerima hantaman sensasi aneh yang terus berulang setiap kali bus mengerem atau berbelok.
"Ah...!" Sebuah desahan tertahan lolos dari bibir sang gadis. Wajahnya merah padam. Beruntung bagi dirinya, suara itu tertelan oleh kebisingan mesin bus dan riuh percakapan penumpang. Namun, wajahnya kian memanas, dan perlahan-lahan, napasnya mulai memberat dengan rona merah muda yang kian pekat menghiasi pipinya akibat stimulasi yang tak terhindarkan tersebut.
Beberapa halte kemudian, kepadatan bus mulai berkurang. Ruang yang tadinya sempit kini sedikit melonggar. Sang gadis akhirnya terlepas dari himpitan tubuh Zhang Yuze. Namun, hal pertama yang ia lakukan saat berbalik adalah melayangkan sebuah tamparan keras.
Plakk!
Suara tamparan itu menggema. Zhang Yuze, yang tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak dalam jarak sedekat itu, merasakan pedasnya "lima jari" mendarat telak di pipinya.
"Apa yang kau inginkan?!" teriak Zhang Yuze sambil memegangi pipinya yang membara. Amarahnya meledak seketika. Ia menatap gadis itu dengan tatapan tajam dan suara yang berat.
"Dasar mesum! Kau masih berani bertanya apa mauku?" Gadis itu gemetar karena malu dan amarah yang meluap. Ia mengangkat tas kulitnya, bersiap untuk menghantamkan benda itu ke wajah Zhang Yuze.
Kali ini, Zhang Yuze tidak tinggal diam. Ia menangkap tas itu dengan cepat. "Apa kau gila? Siapa yang mesum? Jika kau terus begini, jangan salahkan aku jika aku bertindak kasar!"
Teriakan gadis itu dan balasan Zhang Yuze segera memancing perhatian. Para penumpang yang masih tersisa segera memfokuskan pandangan penuh penghinaan ke arah pemuda itu. Sialnya, saat itu mereka melihat sekelebat warna biru—pakaian dalam Zhang Yuze yang terlihat melalui celah celananya. Pikiran massa langsung menyimpulkan hal yang paling buruk: pemuda ini telah mengeluarkan "senjatanya" di depan umum untuk melecehkan sang gadis. Di zaman sekarang, pelaku pelecehan di transportasi umum adalah musuh masyarakat nomor satu.