mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Garis Waktu yang Bersinggungan
Jakarta, pukul 09.15, macet seperti biasa.
Kalara menjepit ponsel di antara telinga dan bahu sambil tetap fokus pada jalan. Sebuah truk tiba-tiba memotong jalannya tanpa memberi isyarat—ia membunyikan klakson panjang, tapi pengemudi truk itu hanya melambaikan tangan dengan santai seolah memotong jalur orang adalah hal lumrah di ibukota.
"Iya, Ren, gue lagi di jalan. Iya, janji bakal dateng tepat waktu. Iya, gue tahu dia terkenal rese kalau ada yang telat."
Renata, sahabat sekaligus partner bisnisnya, tertawa di ujung sambungan. "Lo udah siap mental ketemu manusia es batu itu?"
"Es batu?"
"Arsya Wiraguna. Lo belum lihat fotonya? Wajahnya tuh kayak lagi marah terus. Mungkin karena kebanyakan botox."
Kalara tertawa. "Ren, orang kaya gitu masa botox-an?"
"Masa iya orang kaya gitu nggak bisa senyum? Udah, hati-hati di jalan. Dan ingat: lo orang hebat. Jangan biarin ketampanannya—maksudnya, kedinginannya—bikin lo grogi."
"Lo bilang ketampanan?"
"Gue gak bilang apa-apa. Udah, tutup. Kabarin nanti."
Sambungan terputus. Kalara tersenyum sendiri. Renata adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya lupa sejenak pada beban hidup. Sahabat sejak kuliah, partner bisnis yang bisa diandalkan, dan kadang-kadang terapis dadakan saat Kalara mulai galau karena pesan-pesan Mama.
Pukul 09.45, Kalara memasuki kawasan Menteng. Jalanan mulai sepi, digantikan deretan rumah-rumah tua berarsitektur klasik dengan halaman luas dan pagar tinggi. Beberapa sudah berubah fungsi jadi kantor atau galeri, beberapa masih tampak dihuni, dan beberapa lainnya terbengkalai dengan rumput liar yang menjulang tinggi.
Nomor 27.
Kalara memperlambat laju mobilnya saat mendekati pagar besi hitam yang mulai berkarat. Dan di sanalah—rumah itu. Rumah dalam mimpinya malam tadi.
Ia memarkir mobil di pinggir jalan, turun, dan berdiri mematung di depan pagar. Rumah itu persis seperti dalam mimpi: dinding putih kusam, jendela-jendela kaca patri, dan di halaman samping—pohon beringin raksasa dengan akar gantung menjuntai seperti tirai.
Kara...
Kalara menggeleng keras. Itu hanya mimpi. Hanya kebetulan. Banyak rumah tua di Menteng yang punya pohon beringin.
Tapi jantungnya tetap berdebar tak karuan saat ia membuka pagar dan melangkah masuk.
Arsya sudah berada di sana sejak pukul 09.00.
Bukan karena ia ingin terlihat profesional—ia memang selalu datang lebih awal ke setiap pertemuan. Tapi hari ini, kedatangannya yang terlalu pagi punya alasan lain: foto di sakunya.
Sejak kemarin, foto itu tidak pernah lepas dari dirinya. Ia menaruhnya di saku jas, dan sesekali merabanya seperti jimat. Malam tadi, ia memandanginya lama sebelum tidur, mencoba mencocokkan setiap detail wajah wanita itu dengan ingatan samarnya tentang Ibu.
Ibu dalam ingatannya selalu berkabut. Wajahnya tidak jelas, hanya senyumnya yang hangat dan wangi melatinya yang tersisa. Tapi foto ini—foto ini membuat kabut itu mulai menyingkir.
Wanita di foto itu tersenyum sedih. Ada kerinduan di matanya, kerinduan yang dalam dan tak terucap. Dan di sudut kanan bawah foto, ada tulisan tangan kecil yang hampir pudar:
"Untuk buah hatiku. Ibu akan selalu pulang."
Arsya membaca tulisan itu berkali-kali semalam. Ibu akan selalu pulang. Tapi Ibu tidak pernah pulang. Tidak di peron stasiun itu, tidak di hari-hari berikutnya, tidak pernah.
Lalu apa artinya ini? Apa yang dilakukan foto Ibu di rumah ini? Dan siapakah wanita yang disebut Pak Willem sebagai pembantu yang punya anak laki-laki?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak, membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Dan kini, berdiri di ruang tamu rumah itu, ia merasa rumah ini menyimpan terlalu banyak rahasia.
"Bapak Arsya?"
Suara dari belakang membuatnya menoleh. Seorang pria paruh baya dengan kemeja batik—Pak Willem—masuk sambil membawa dua cangkir kopi.
"Ah, Anda sudah datang. Saya kira masih pagi. Ini kopi untuk Anda."
Arsya menerima cangkir itu. "Terima kasih. Saya... memang biasa datang lebih awal."
"Bagus, bagus." Willem duduk di kursi tua yang berderit. "Saya senang Anda antusias dengan proyek ini. Rumah ini butuh perhatian khusus. Butuh... orang yang peduli."
Arsya mengangguk. Ia hampir bertanya lagi tentang pembantu itu, tentang wanita dalam foto, tentang anak laki-laki yang disebut Willem kemarin. Tapi urung.
Belum waktunya.
Pintu depan berderit, dan langkah kaki masuk.
"Ccuit... cuiiit..."
Arsya menoleh. Seorang wanita berdiri di ambang pintu, mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah seperti mengusir sesuatu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai lepas dan menempel di pelipis. Celana jeans dan kemeja putih lengan digulung, tas selempang besar menjuntai di pinggul.
"Maaf, laba-laba," katanya sambil tersenyum canggung. "Tadi di pagar. Besar banget. Kayak laba-laba mutan."
Arsya mengernyit.
Wanita itu menoleh, dan mata mereka bertemu.
Dan untuk sepersekian detik—sesingkat kilat—Arsya merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang familiar. Tapi ia tidak bisa menempatkannya.
Wanita itu juga terdiam. Matanya membelalak sedikit, lalu berkedip cepat.
"Eh, maaf. Saya Kalara Asmara. Desainer interior." Ia melangkah maju, mengulurkan tangan. "Anda pasti Bapak Arsya Wiraguna."
Arsya menjabat tangannya sebentar. "Arsya."
"Senang bertemu."
"Senang bertemu."
Kalimat formal yang diucapkan dengan nada canggung. Tangan mereka berpisah. Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Willem tertawa kecil memecah keheningan. "Ah, generasi muda. Langsung kaku kalau bertemu profesional lain. Mari, silakan duduk dulu. Saya panggilkan asisten saya untuk mencatat."
Mereka duduk di ruang tamu yang luas. Kalara di satu kursi, Arsya di kursi lain, Willem di kursi tengah seperti wasit dalam pertandingan tinju. Kopi dan teh disajikan, buku catatan dibuka, dan percakapan dimulai dengan basa-basi tentang cuaca dan kemacetan Jakarta.
Tapi Kalara tidak benar-benar mendengarkan. Pikirannya masih berkutat pada detik ketika matanya bertemu dengan Arsya.
Apa itu tadi?
Mata Arsya dingin, ya—seperti yang dikatakan Renata. Tapi di balik dingin itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang... Kalara tidak tahu. Yang ia tahu, untuk sesaat, ia merasa seperti baru saja bertemu dengan orang yang sudah lama ia kenal. Padahal jelas ini pertama kalinya.
Mungkin karena fotonya yang sering muncul di majalah. Mungkin karena ia sudah membaca banyak artikel tentangnya tadi pagi. Mungkin hanya sugesti.
Tapi perasaan itu tetap ada, mengganggu.
"Jadi, Ibu Kalara," suara Willem memecah lamunannya. "Saya sudah lihat portofolio Anda. Sangat mengesankan. Saya suka pendekatan Anda pada ruang—bagaimana Anda selalu mempertahankan karakter asli bangunan sambil memberikan sentuhan modern."
Kalara tersenyum profesional. "Terima kasih, Pak Willem. Saya percaya setiap bangunan punya jiwa. Tugas kita bukan mengubah jiwa itu, tapi memastikan ia bisa bernapas di zaman yang baru."
Arsya, yang sejak tadi diam, tiba-tiba bicara. "Menurut Anda, jiwa rumah ini apa?"
Kalara menoleh padanya. "Maaf?"
"Jiwa rumah ini." Suara Arsya datar. "Anda bilang setiap bangunan punya jiwa. Menurut Anda, jiwa rumah ini apa?"
Pertanyaan itu seperti ujian. Kalara bisa merasakannya. Arsya tidak hanya bertanya—ia menguji, mengukur, menilai.
Kalara menatap sekeliling. Ruang tamu yang luas, plafon tinggi, jendela-jendela besar, perabotan antik yang berdebu. Lalu matanya beralih ke tangga menuju lantai dua, ke lorong gelap di ujung ruang tamu, ke pintu-pintu tertutup di lantai atas.
"Rumah ini..." Kalara mulai, mencari kata-kata. "Rumah ini punya banyak luka."
Arsya mengernyit. "Luka?"
"Ya. Luka." Kalara berdiri, berjalan ke arah dinding yang kusam. "Lihat retakan ini. Bukan hanya karena usia. Ini seperti... seperti ada kesedihan yang merambat dari dalam, meretakkan cat, meretakkan dinding. Dan di sana—" ia menunjuk ke jendela kaca patri yang berkilau "—kaca itu indah, tapi kalau diperhatikan, motifnya tidak simetris. Seperti sengaja dibuat tidak sempurna. Seperti pengakuan bahwa tidak semua hal harus sempurna."
Ia berbalik menghadap Arsya. "Rumah ini ditinggalkan, Pak Arsya. Ditinggal lama sekali. Tapi tidak mati. Ia menunggu. Menunggu seseorang yang mau mendengar ceritanya."
Keheningan mengikuti kata-katanya.
Willem tersenyum lebar. "Luar biasa. Saya tinggal di rumah ini sebentar waktu kecil, tapi saya tidak pernah bisa merasakannya sedalam itu."
Arsya tidak bicara. Ia hanya menatap Kalara dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tapi di dalam dadanya, sesuatu bergetar.
Luka.
Kata yang tepat. Rumah ini penuh luka. Sama seperti dirinya. Sama seperti—ia curiga—wanita di hadapannya ini.
"Bagus," kata Arsya akhirnya, suaranya masih datar. "Setidaknya Anda punya visi."
Kalara mengangkat alis. "Hanya itu? 'Bagus, setidaknya Anda punya visi'? Saya harap Anda punya komentar yang lebih... membangun, Pak Arsya."
"Saya akan memberi komentar saat melihat rancangan Anda."
"Jadi Anda tidak percaya kata-kata? Hanya gambar?"
"Gambar tidak bisa berbohong."
"Kata-kata juga tidak, kalau diucapkan dengan jujur."
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa tegang. Willem melihat dari satu ke yang lain, matanya berbinar-binar seperti menonton pertandingan tenis.
"Baiklah," Willem memotong. "Mari kita lihat rumahnya langsung. Saya akan antar berkeliling."
Tur rumah itu berlangsung dalam keheningan yang canggung.
Willem memimpin di depan, menjelaskan sejarah ruangan demi ruangan. Kamar tidur utama dengan lemari pakaian besar berukir. Ruang keluarga dengan perapian yang sudah tidak berfungsi. Dapur dengan kompor raksasa dari besi tempa. Kamar mandi dengan bak porselen yang mulai menguning.
Kalara mendengarkan dengan setengah telinga. Ia sibuk mengamati detail-detail kecil: ubin yang retak, gagang pintu yang berkarat, noda air di langit-langit. Di kepalanya, gambar-gambar mulai terbentuk—bagaimana ia akan menata ulang ruang ini tanpa menghilangkan karakternya.
Tapi matanya terus tertarik ke lantai atas.
Ke kamar di ujung lorong.
"Kamar itu?" tanyanya, menunjuk.
Willem menoleh. "Ah, itu. Kamar kecil. Dulu—" ia ragu sebentar "—dulu kamar pembantu."
Kalara merasakan sesuatu. Firasat. Atau mungkin hanya rasa ingin tahu.
"Boleh lihat?"
"Mari."
Willem membuka pintu kamar itu. Kamar yang sama yang dimasuki Arsya kemarin. Sama, tapi berbeda—karena kini ada Kalara di sana, dan ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia masuk. Kamar itu kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur, satu lemari kecil, dan satu jendela menghadap ke halaman belakang. Di ambang jendela, botol-botol parfum bekas berjejer rapi.
Kalara mendekati jendela. Tangannya meraih salah satu botol, memutar-mutarnya. Parfum itu sudah lama menguap, tapi aromanya masih samar—melati.
Melati.
Ibunya juga suka melati. Setiap pagi, Ibu selalu memetik bunga melati dari halaman belakang rumah di kampung, merangkainya, dan menaruhnya di vas kecil di ruang tamu. Katanya, melati mengingatkannya pada sesuatu. Pada siapa? Kalara tidak pernah tahu.
Tangannya meraih botol lain. Lalu berhenti.
Di antara botol-botol itu, ada sebuah kotak kayu kecil. Kosong. Tapi di tutupnya, terukir ukiran sederhana: dua hati yang menyatu, dan di bawahnya, tulisan tangan yang nyaris pudar.
"Untuk selamanya."
Kalara menatap ukiran itu, dadanya sesak tanpa sebab.
Di belakangnya, Arsya diam-diam mengamati. Ia melihat Kalara memegang kotak itu, melihat ekspresinya berubah, melihat matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca.
Dan ia tahu. Wanita ini juga merasakan sesuatu. Sesuatu tentang rumah ini.
Tapi apa?
"Kita lanjut?" suara Willem memecah keheningan.
Kalara menoleh. "Ya. Ya, tentu."
Ia meletakkan kotak itu kembali, tapi tangannya ragu sejenak, seolah tak ingin melepaskan.
Dan dalam sekejap, Arsya mengambil keputusan. Setelah tur nanti, ia akan bertanya pada Willem lebih banyak tentang pembantu itu. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin tahu: siapa sebenarnya wanita yang berdiri di hadapannya ini, dan mengapa rumah ini memanggilnya dengan cara yang sama seperti rumah ini memanggil Arsya?
Tur selesai. Mereka kembali ke ruang tamu, di mana Willem menyodorkan dokumen-dokumen proyek.
"Jadi, bagaimana?" tanya Willem. "Tertarik?"
Kalara mengangguk. "Saya sangat tertarik, Pak. Tapi saya perlu waktu untuk merumuskan konsep. Mungkin seminggu?"
"Seminggu cukup?" tanya Arsya tiba-tiba. "Rumah ini kompleks. Butuh lebih dari sekadar konsep cepat."
"Saya tidak membuat konsep cepat, Pak Arsya. Saya meresapi. Dan meresapi butuh waktu yang berbeda untuk setiap orang. Untuk rumah ini—" Kalara menatap sekeliling "—mungkin butuh lebih dari seminggu. Tapi untuk proposal awal, seminggu cukup."
Arsya menatapnya lama. Lalu mengangguk. "Baik. Saya tunggu."
"Jangan terlalu berharap. Saya mungkin mengejutkan Anda."
"Saya tidak suka kejutan."
"Sayang sekali. Karena hidup ini penuh kejutan."
Willem tertawa terbahak-bahak. "Wah, kalian berdua ini seperti kucing dan anjing. Tapi saya suka dinamikanya. Saya yakin kerja sama ini akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa."
Kalara dan Arsya saling pandang. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Hanya semacam kesepakatan diam-diam: mereka akan bekerja sama, tapi tidak harus saling menyukai.
Di luar, matahari mulai meninggi. Kalara berjalan menuju mobilnya, membuka pintu, dan duduk di dalam. Ia tidak segera menyalakan mesin. Tangannya merogoh saku, mencari ponsel, dan tanpa sadar, jarinya menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Sebuah kotak kayu kecil.
Ia mengeluarkannya, terkejut. Kotak dari kamar pembantu itu—entah bagaimana, tanpa sadar, ia membawanya pergi.
"Ya ampun," bisiknya.
Ia harus mengembalikannya. Tapi saat tangannya meraih gagang pintu untuk keluar, ia berhenti. Ada sesuatu di dalam kotak itu. Sesuatu yang bergerak saat ia menggoyangkannya.
Ia membuka tutup kotak.
Di dalamnya, terlipat rapi, ada selembar kertas tua. Kalara mengeluarkannya dengan hati-hati, membukanya.
Ini bukan surat. Ini gambar anak-anak. Krayon di kertas buram, gambar seorang wanita dengan gaun panjang dan rambut panjang, sedang memegang tangan seorang anak kecil. Di bawah gambar, ada tulisan tangan anak-anak yang miring-miring:
"Ibu, pulanglah. Aku tunggu di stasiun."
Tanggal di sudut kertas: 15 November 1999.
Kalara menatap gambar itu, jantungnya berdebar kencang. 1999. Ia baru berusia empat tahun saat itu. Dan di tahun yang sama, ayahnya pergi.
Ia tidak tahu mengapa, tapi air matanya tiba-tiba jatuh.
Di dalam rumah, di balik jendela lantai dua, Arsya berdiri mematung.
Ia melihat mobil Kalara yang belum juga bergerak. Ia melihat Kalara duduk di dalam dengan kepala tertunduk, memegang sesuatu di tangannya.
Dan di saku jasnya, foto ibunya terasa begitu berat, begitu panas, seperti ingin bicara.
Dua garis waktu. Dua luka lama. Satu rumah tua.
Dan takdir sedang memilin mereka menjadi satu, pelan-pelan, tanpa mereka sadari.